Cerpen

Telur Naga

Pagi ini, seperti selalu, aku berjalan-jalan ke hutan untuk mencari berbagai jenis flora yang belum masuk ke dalam direktori “Tanaman-tanaman Berkhasiat dan Berbahaya”, buku yang sedang kutulis.

Aku seorang tabib. Mereka bilang aku terlalu muda untuk menjadi tabib, ilmuku belum mencukupi. Jika orang lain begitu memeluk usia mudanya erat-erat dan tak ingin beranjak tua, aku sebaliknya. Usia memberikan tambahan lain bagi profesiku. Mereka lebih memercayai tabib berumur yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Ah asam garam kehidupan. Apa gunanya hidup lama-lama jika kau tidak pernah beranjak dari titik awal kau berjalan? Kau tidak pernah belajar dan mengenali hal-hal baru. Aku muda dan penuh inovasi. Seharusnya mereka mengenali kelebihanku itu.

Sebagai tabib, tak banyak orang yang datang dan meminta obat dariku. Tidak masalah. Kelak mereka akan tahu keistimewaanku. Untuk saat ini, aku menjadi peneliti saja. Pergi ke hutan setiap pagi, mencatat semua flora yang ada di hutan belakang pondokku.

Pagi ini pun sama seperti pagi-pagiku selama satu tahun terakhir. Aku mengenakan jubah dan sepatu bot selututku dan mulai berjalan. Kali ini aku menjelajah lebih jauh, menyisir wilayah baru yang belum pernah kujamah. Hingga akhirnya, aku sampai di sebuah bukaan yang aneh. Pohon-pohon seolah enggan tumbuh di bidang itu, hanya ada rerumputan membentang tumbuh rata di tanah lapang kotak sempurna itu. Dan yang lebih aneh, hujan turun di dalam kotak tersebut.

Di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar. Aku yakin jika aku membuat garis diagonal dari sudut-sudutnya, batu itu tepat berada di tengah. Aku memasang capuchon jubahku dan berlari ke menuju batu tersebut.

Sesuatu yang kuanggap batu itu ternyata semacam kubah pelindung transparan. Dari kejauhan memang tampak seperti batu besar. Namun, jika kau mendekati dan melihatnya dengan saksama, itu adalah penutup kaca. Seperti tudung saji. Aku mengetuk-ngetuknya. Tidak ada yang terjadi. Aku berusaha mengangkatnya, ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Benda itu tidak bergeser sama sekali.

Aku menendangnya. Tudung itu menjerit. Maksudku, benar-benar menjerit. Seperti suara pekikan burung yang kesakitan. Kemudian aku mengelus-elusnya dengan maksud meminta maaf. Terdengar suara klik. Benda itu terlempar terbalik seperti tutup bedak. Nampak di dalamnya:

Lima butir telur.

Satu telur raksasa ditemani empat butir sebesar telur ayam. Telur raksasa itu berwarna hijau mengilap, urat-urat menonjol di permukaannya, membuat pola-pola melingkar membentuk rupa sesosok makhluk. Sementara empat telur lain tampak begitu biasa dan tidak penting dibandingkan kemegahan telur ini.

Aku mengeluarkan kantung kain kosong dari saku jubahku dan memasukkan keempat telur itu. Mungkin ini telur naga, pikirku.

Aku pulang dengan hati senang. Penemuan ini luar biasa. Jika aku bisa menjadi pelatih naga, karirku akan cepat menanjak. Otakku sudah berpikir macam-macam. Telur-telur lainnya bisa kumasak, kujadikan telur dadar. Sudah lama aku tidak makan telur. Ayam susah ditemukan akhir-akhir ini. Begitu pun dengan telur-telur burung lain. Hmmm, pasti enak.

Langkahku agak berbeda ketika pulang ke pondokku. Kakiku menari-nari tanpa diperintah. Senyum pun terpancar di wajahku seperti matahari terbit. Begitu sampai di rumah, aku langsung menaruh telur raksasa di tempat aman dan menyalakan tungku. Aku hanya akan memasak satu telur saja. Tiga telur lainnya kusimpan di atas mangkuk di meja makan.

Telur dadar yang sangat lezat. Tentu saja, karena sudah lama aku tidak makan telur dadar. Rasanya sangat istimewa. Berbeda dari telur dadar yang pernah kurasakan. Lagi-lagi aku menambah umbi-umbian di piringku agar telurku tidak cepat habis. Aku makan banyak sekali, hingga perutku rasanya mau meletus. Dan mataku cepat sekali mengantuk.

Matahari sedang di puncak ketika kantuk menyerangku. Angin sepoi dari hutan membuat mataku semakin berat. Aku tertidur di meja kerjaku dengan pena di tangan. Aku bahkan tidak peduli tintanya merembes ke kertas di meja.

***

“Pencuri!” suara mendesis itu tepat di telingaku.

Aku tergeragap. Ketika aku membuka mata, separuh pondokku telah terbakar. Aku berlari mencari telur hijauku yang berharga dan lega ketika melihat telur itu tidak apa-apa. Aku berlari keluar membawa telur dan semua manuskripku.

“Pembunuh!” suara itu kembali mendesis, seperti dari dalam kepalaku.

Api berkeretak memakan dinding pondokku yang terbuat dari kayu. Panasnya menyeruak ke tubuhku hingga keringat tak henti keluar dari poriku. Bolak-balik aku menyelamatkan semua yang dapat kuselamatkan. Ketika aku menyelamatkan barang-barang yang ada di dapur yang belum terbakar, sekilas aku melihat ketiga telur menghilang dari mangkuknya.

Api semakin berkobar, melahap apa pun yang dilaluinya. Dari atas pondokku, seekor naga menyembur-nyemburkan api.

#15harimenulisdiblog #telurdadar

Advertisements

1 thought on “Telur Naga”

Comments are closed.