Mantan

Mantan pacarku yang pernah jadi mahasiswa salah satu institut kesenian di Jakarta, senang bercerita. Dia selalu mendatangiku di hari kerja, setiap kali dia tidak syuting di luar kota ataupun di studio. Kami akan duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja kaca bundar di tengah-tengah ruanganku. Tanganku mengepit buku, salah satu jariku menandai bagian yang sedang kubaca, buku yang kusisihkan beberapa saat untuk mendengar ceritanya.

Sebagai tukang cerita, dia sungguh ahli. Meskipun aku tidak terlalu percaya akan apa yang dikatakannya, namun aku selalu senang mendengar cerita-ceritanya. Mungkin latar belakang pendidikannya yang pernah kuliah di Fakultas Ilmu Pertunjukan Jurusan Teater – walaupun tidak lulus – yang membuatnya tampak menawan ketika bercerita. Terkadang, dia begitu teatrikal, seolah-olah aku sedang menyaksikan pertunjukan di panggung.

Semua hal tentang dia seperti mimpi. Dia adalah seseorang yang akan kautemukan di buku-buku, dalam roman-roman picisan. Bagaimana aku bertemu dengannya, itu juga cerita yang begitu khayali, yang saking berlebihannya, terlalu fantastis untuk dituliskan menjadi sebuah cerita. Aku pernah membaca perkataan seorang penulis besar yang aku tak ingat siapa, kalau kisah fiksi itu harus dibuat senyata mungkin, meski realitas mungkin lebih ajaib daripada fiksi.

Kami bertemu pada sebuah malam cerah bertabur bintang dan kembang api, di atas kolam renang, di hadapan sebuah panggung besar yang di atasnya, Ira Swara sedang berjoget heboh, sementara orang-orang mabuk vodka jeruk yang diracik seorang lelaki berambut gondrong di salah satu meja hidangan. Kembang api baru saja dilesatkan ke langit dan meledak warna-warni ketika kami saling memancang tatap. Benar, kan? Hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam dongeng.

Setelah itu, kami bertukar sajak dalam seratus enam puluh karakter sms, dan aku berbunga-bunga seperti seorang Juliet. Esoknya kami menjadi sepasang kekasih. Sekilat proses pendekatannya, kami putus seminggu kemudian. Bosan, kami berkilah. Tetapi setelah itu dia masih sering mengunjungiku, dan bercerita.

Ceritanya yang paling kuingat adalah tentang seorang teman yang menggorok lehernya sendiri. Ah ya, dia memang segila itu. Aku tidak tahu mengapa dia mengambil setting di bekas kosku di kota tempatku kuliah. Aku tidak yakin dia tahu aku pernah tinggal di sana. Dari deskripsinya, aku bisa membayangkan bangunan dua lantai berisi dua puluh empat kamar itu, berbentuk u, dan ada sederet kamar-kamar menghadap matahari terbit. Aku pernah tinggal di salah satu kamar yang menghadap selatan, hanya tiga bulan selama aku menyusun skripsi dan mengkhawatirkan adikku yang tiba-tiba divonis skizofrenia.

Alkisah, pada salah satu hari libur, mantan pacarku pergi ke kota itu untuk bertemu temannya. Semalaman mereka mengobrol, sempat memesan indomie telur kornet keju sebelum mereka pulang dini hari ke kosan temannya.

Subuh, dia menemukan temannya bersimbah darah. Lehernya tergorok oleh sebuah pisau cutter tajam.

Aku tidak pernah memercayai cerita ini, sama seperti aku tidak memercayai kisah dia yang lain. Tidak tentang pelacur di kota T, tidak juga tentang anak sakit jiwa yang dia sembuhkan di kota S. Namun, aku setia mendengar cerita-ceritanya yang tak pernah masuk akal itu. Bahkan masih mengingatnya walaupun lima tahun telah berlalu.

Hal yang akan kuceritakan berikut ini adalah kisahnya yang paling fantastis. Pada awal bulan Juni di tahun ketiga perkenalan kami, dia mengajakku kencan. Aku setuju untuk bertemu di Kebun Raya Bogor. Kami melewati beberapa rimbun semak dan pasangan-pasangan yang bersembunyi di dalamnya, bercinta.

“Konon, kalau mengajak pacar ke Kebun Raya, akan cepat putus,” katanya padaku di atas jembatan.

“Kalau mengajak mantan?” aku bertanya.

“Mungkin jadian lagi.”

Aku berderai dalam tawa.

Kami berkeliling-keliling hingga sampai di area hening tertutup yang dikelilingi pepohonan. Masuk ke sana seperti disedot ke dunia lain. Suara bising jalanan dan kendaraan seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Aku dan dia duduk di salah satu bangku semen yang menghadap kuburan-kuburan tua orang Belanda. Dia bercerita tentang keinginannya menikah dan memiliki anak-anak lucu. Aku terlongo-longo mendengarnya, karena setahuku dia bukan seseorang yang tahan berlama-lama dalam sebuah hubungan. Kemudian dia mulai membicarakan berbagai macam hal yang tak ada hubungannya dengan kami.

Suara burung dan tonggeret menambah aura mistis tempat itu ketika dia mulai menggebu-gebu bicara tentang perang, tentang bagaimana anak muda Indonesia akan berhenti berpangku tangan dan mulai mengangkat senjata demi Indonesia yang lebih baik. Aku memutar mata. Aku tak pernah suka perang.

“Satu-satunya cara untuk membuat bangsa kita bersatu adalah perang!” ujarnya berapi-api. “Karena agama tidak menyatukan kita, suku-suku tidak menyatukan. Penderitaan perang akan menyatukan kita semua. Karena perang akan membuat para pemuda bangkit dari tidur surinya. Para pemuda yang cuma bisa leha-leha sambil senang-senang ongkang kaki itu, akan berpikir untuk kesejahteraan. Kita butuh perang!”

Aku terdiam, mulai bosan.

“Apa kau pikir Hitler adalah penjahat?”

“Apakah kau membicarakan Hitler karena baru membaca Mein Kampf?”

“Menurutku Hitler adalah seorang yang genius.”

“Memangnya kita tak bisa membicarakan hal yang lain, ya?” keluhku sambil bangkit dari bangku dan memungut daun kering di tanah. Aku meninggalkannya bicara sendiri dan masuk area pemakaman untuk membaca nisan-nisan mereka dengan tubuh memunggungi mantan pacarku.

Suaranya semakin lama semakin sayup, seperti menjauh. Kemudian dia memanggilku. “MIAAAA!”

Aku menoleh, ada lubang portal besar di belakangku, hitam bulat dan berpusar-pusar, menarik tubuh mantan pacarku, sementara tangannya menggapai-gapai ke arahku. Aku berlari, mencoba menariknya, tetapi pusaran itu terlalu kuat. Aku melepaskan tangannya.

Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan mantan pacarku lagi.

Kemang, 11 Oktober 2011

#15harimenulisdiblog #mantan

Advertisements