Badai

on

Malam ini listrik tidak menyala. Barangkali PLN sengaja mematikannya karena hujan badai. Gemuruh angin membawa air menampar-nampar jendela kamarku, dan seperti ada cakar-cakar berkuku tajam yang mencungkili atap, ingin masuk dan menguasai tempat persembunyianku.

Dan aku teringat padamu, separuh berharap kau di sini.

Dahulu kita pernah menghabiskan malam seperti ini. Angin laut menderu-deru membawa angin garam yang lengket ke pipiku. Kita duduk bersebelahan tak saling menyentuh. membicarakan topik-topik aman. Hal-hal yang kini sudah kulupakan.

Apa yang kita bicarakan dahulu? Pada malam-malam pertama kita bertemu?

Aku hanya ingat suara angin dan debur ombak itu. Dan malam gulita yang memberi mataku hanya siluetmu, dan dingin yang merayap di kulitku. Listrik yang tidak kunjung menyala sampai pagi, kemudian rengkuhmu.

Pelukan pertama yang terasa bagai sarang nyamanku. Aku tidak ingin direnggutkan dari hangat itu sampai mati. Aku sudah menemukan rumahku.

Malam ini guruh dan sambaran petir mengingatkanku padamu. Aku menggigil dibungkus selimut, kedinginan dan diserang takut. Bagaimana jika aku ingin pulang, sementara ombak telah meruntuhkan rumahku? Aku tidak tahu kalau pondasi rumahku ternyata hanyalah pasir-pasir putih yang mudah goyah.

Begitu keji kenangan, membawaku kembali padamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s