Jalan Kaki

This slideshow requires JavaScript.

Saya mendapatkan hiburan kecil menyenangkan sejak bertemu dengannya.

Jalan kaki.

Kami bisa berjam-jam menyusuri kota Bandung, berjalan santai seperti sepasang pengantin baru, tangan saling menggamit tak ingin lepas.

Di Jakarta, saya tidak bisa mendapatkan hiburan sederhana seperti ini meskipun saya suka. Panas, berdebu, dan tak ada trotoar. Bukan pilihan menyenangkan untuk berjalan kaki. Lagi pula, saya sudah terlalu lelah melakukan ini itu hanya untuk berjalan kaki.

Dia senang berjalan kaki sendiri. Dahulu saya juga begitu. Dia senang melamun sendiri dan berjalan berkilo-kilo meter sampai sepatunya tipis. Saya lupa terakhir kali menikmati berjalan kaki sendiri dengan bahagia. Sewaktu kuliah, mungkin?

Kami berjalan kaki mengunjungi taman-taman dan memeluk pohon-pohon besar sambil mendengarkan apa yang mereka katakan, walau seringnya, saya hanya mendengar hening, karena saya memeluk pohon sambil menempelkan telinga ke kulit pohonnya yang retak-retak itu hanya agar terlihat eksotis, sambil berharap saya mendapatkan sedikit kekuatan superhero untuk bisa mendengar bahasa pohon. Tidak berhasil, saudaraku sekalian.

Kami berjalan kaki dan duduk di atas rumput sambil bercerita, mendendangkan masa lalu dalam suara menyerupai bisik, atau bersemangat membahas masa depan.

“Suatu hari, ketika kita sudah sama-sama keriput dan rambut kita sudah rontok, kita masih akan berpegangan tangan seperti ini, berjalan pelan karena kita sudah tidak kuat lagi, dan anak-anak muda menatap kita dengan iri.”

“Kita akan tinggal di hutan, tinggi di atas rumah pohon.”

“Kita akan menjauh dari manusia-manusia lain, dan hidup egois serta bahagia sebagai sepasang manusia hutan.”

Kami saling berbagi cerita, dan jalan-jalan aspal itu diam-diam mendengar kami, dan menyebarkannya kepada pohon-pohon, debu-debu, kerikil yang menempel di sela sepatu kami, daun-daun kering yang berguguran, mobil-mobil fiat tua yang diparkir di Taman Balai Kota, papan-papan reklame, dan mengamini doa-doa kami sebagai semesta yang berkonspirasi.

Berjalan kaki selalu menjadi hiburan kami yang paling menyenangkan, karena mata kami menjadi lebih awas menatap hal-hal yang menarik, karena kecepatan laju kami sangat pas untuk mendadak berhenti dan mengkhidmati sesuatu yang kami temukan di jalan raya.

Ada kalanya kami bertemu hujan, dan meskipun saya membencinya, saya mensyukurinya karena saya bersamanya, menggenggam tangan saya.

Berjalan kaki melepaskan sedikit keresahan saya. Setiap langkahnya, ada yang berjatuhan lalu menghilang diserap tanah. Meskipun di langkah-langkah terakhir kaki saya mulai panas dan pegal, tetapi hati saya semakin ringan dan senang.

Saya berbagi tawa yang menyehatkan di antara langkah-langkah kami. Dan meskipun saya terus-menerus kepingin bepergian jauh tapi enggak bisa karena kerjaan ga kelar-kelar, setidaknya, hiburan sederhana ini selalu menjaga saya tetap waras setiap minggunya.

Advertisements
Categories Uncategorized

One thought on “Jalan Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s