Bawah Sadar Kolektif

Setelah bertahun-tahun, saya menganggap bahwa dia mendoakan saya agar cepat punya pacar adalah cara dia mengejek saya. Baiklah, barangkali dia tidak membutuhkan pacar atau semacamnya, dan saya lemah karena tidak bisa bertahan sendirian tanpa pacar. Selalu membutuhkan orang lain untuk bahagia.

Barangkali benak saya sendiri yang sedang mengejek. Barangkali benar kalau saya tidak bisa bertahan sendirian.

Hari ini kami berbincang lagi. Dan untuk sebuah momen yang jarang, saya tidak menganggapnya sedang mengejek. Dia pernah membuat penelitian kecil untuk filmnya tentang status. Maksud saya, status lajang atau menikah. Penelitian kecilnya itu mengarah pada kesimpulan bahwa perempuan lebih menghormati perempuan lain yang sudah berpasangan.

Blam.

Pantas saja.

Kita memang dilarang hidup melajang.

Saya sempat memutuskan untuk tidak menikah karena berbagai alasan. Tetapi segera setelah saya punya pacar lagi, saya berubah pikiran. Bukan, bukan karena memikirkan betapa nikmatnya menikah bahwa saya melakukan ibadah dan sejenisnya, tetapi karena takut. Atau cemas.

Saya mengkhawatirkan orang tua saya sebenarnya, dan saya belum bisa membayangkan hidup terasing karena tidak mengikuti apa yang normal dalam masyarakat. Saya bekerja di rumah saja nenek saya bertanya-tanya khawatir. Apa yang akan dikatakan oleh mereka kalau anak gadisnya tidak mau menikah, tapi mau-mau saja tinggal bareng pacar?

Well, saya tidak tinggal bareng pacar saya sih.

Barangkali ketika membaca ini pun banyak yang mengernyit tidak setuju. Tapi, hasil penelitian dia itu beneran bikin saya ngeri sendiri. Barangkali ini alam bawah sadar kolektif, bahwa dahulu perempuan adalah hak milik, oleh karenanya, jika tidak ada yang memiliki berarti barangnya ga oke, dia bilang. Hmmm, dulu saya selalu bertanya-tanya seperti itu. Apa yang salah dengan saya? Kenapa enggak ada yang mau?  Haha.

Buat saya sih, hubungan romantis lelaki dan perempuan, bukanlah perbudakan. Maksudnya, enggak ada siapa memiliki siapa. Ini adalah kesadaran kalau kami saling terikat dan saling percaya. Teman hidup sebenernya. Pelipur lara. Teman sepi. Tempat kita membicarakan hal-hal tertentu yang tidak akan kita bagi ke orang lain. Orang yang paling tahu gilanya kita, sakitnya kita, dan tetep ada buat kita. Orang yang mengerti. Orang yang bersedia. Orang yang ikhlas buat sama-sama kita sampai sepuluh, dua puluh, lima tahun kemudian, jika ada umurnya. Atau sepuluh-lima belas tahun kemudian, jika kami berencana meninggal pada usia empat puluh tahun.

Dan jika suatu hari saya menikah, saya enggak mau menikah karena dipaksa. Dipaksa keadaan, dipaksa umur, dipaksa keluarga, dipaksa masyarakat. Saya ingin menikah karena siap, karena saya bersedia berbagi seluruh kehidupan saya dengannya. Hmmm, semua orang juga gitu kali, ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s