Eksistensi

Sudah hampir pukul dua. Saya tidak bisa tidur. Tadi hampir dua jam berbaring dalam gelap, dengan mata terpejam, tetapi tidak juga tidur. Jadi ya sudahlah, saya kembali menyalakan lampu dan laptop. Dengan perut keroncongan, dan mata yang seperti bisa dipastikan, besok akan berkantung hitam.

Megang buku, biar ngantuk, tapi baru baca sebaris ga ngerti-ngerti itu apaan. Seakan bakal bisa nulis aja ya nyalain laptop pada saat tubuh sedang lelah dan kepala sudah dipakai ngedit sebuku dan nerjemahin sekian halaman.

Tiba-tiba teringat pertama kalinya saya menangis dengan sukses di hadapan seseorang selain anggota keluarga. Sampai sesenggukan. Gara-gara apa, coba? Gara-gara mikirin eksistensi.

Atuhlah. Sebenarnya saya sudah selesai dengan urusan eksistensi. Seharusnya. Sejak bertahun-tahun lalu waktu masih asyik bergelut dengan para pemikir eksistensialisme. Siapa namanya? Kierkegaard? Camus? Sartre?

Tapi waktu itu saya menangis sejadi-jadinya, memikirkan eksistensi manusia. Pertanyaan yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah terjawab. Untuk apa kita hidup di dunia ini? Setelah kematian, lalu apa? Apa tujuannya? Terus tuhan ngapain nyiptain kita? Yah, jenis-jenis pertanyaan seperti itu lah… pertanyaan yang terngiang sejak saya kecil sampai sekarang.

Dan waktu itu, menyadari betapa sia-sianya kehidupan ini, saya menangis tersedu-sedu di pundaknya. Sampai terisak-isak dan bicara pun tersengal-sengal. Aneh sekali. 

Tetapi setelah itu tangis saya mereda dan saya mulai tertawa-tawa lepas tanpa beban. Terlalu memusingkan sih mencoba menjawab pertanyaan itu. Pada akhirnya, lebih baik kira menjalani kehidupan sekarang ini sebaik-baiknya sebahagia-bahagianya. Sejujur-jujurnya. Setinggi-tingginya. 

Toh, keinginan kita, perasaan kita, target dan segala macam, sebenarnya apa sih? Kita hanya senoktah kecil dalam gambaran semesta raya yang luasnya entah sampai mana. 

Begitulah. Semoga setelah ini saya tidur. 

Advertisements

Foto di Restoran Cepat Saji

Kuperhatikan televisi tanpa suara. Kupasang mode bisu. Aku gentar mendengar apa yang dikatakan para pembawa acara berita itu tentang kekasihku. Satu-satunya foto tampak depan yang berhasil mereka dapatkan terpampang besar di layar televisi. Terduga teroris. Dan nama lengkapnya. Nama yang kubisik-bisikkan setiap malam. Nama yang kuselip-selipkan dalam setiap doaku. Nama yang kuucapkan dalam geletar bibir, berharap dia akan balas mencintaiku.

Aku tahu foto itu. Aku yang mengambilnya di sebuah restoran cepat saji. Kami baru saja pulang menonton film dan kelaparan. Dia memesan dua potong ayam dan nasi. Ditambah sup dan perkedel. Dia menghabiskannya tanpa sisa dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Aku meledeknya dan dia hanya nyengir. Pada saat itulah dunia membeku. Kerutan di sudut mata dan bibirnya, matanya yang menyipit, dan geliginya yang rapi dan kecil, membuatku ingin mengabadikannya. Aku mengeluarkan ponselku dan menangkap gambarnya. Dia memprotes ketika tahu aku memotretnya dan merebut ponsel dari tanganku, kemudian mengembalikannya setelah menghapus foto terakhir.

“Nih, ayo foto lagi,” ujarnya.

“Dih, yang tadi dihapus, ya? Padahal bagus.”

“Jelek,” jawabnya singkat, lalu memasang tampang serius. “Ayo, foto lagi. Udah pose, nih.”

Aku memotretnya. Kami tertawa terbahak-bahak menertawakan posenya yang seperti seorang tersangka kejahatan pidana. Dia mengunggahnya di facebook sebagai bahan lelucon. Aku tidak mengira kalau foto itu akan beredar di televisi dengan tulisan terduga teroris di bawahnya.

Gambar di televisi berubah kembali ke perkelahiannya dengan petugas keamanan bandara yang didapatkan dari cctv dan video amatir. Gambar yang diulang-ulang bersamaan dengan fotonya. Dia sempat mendaratkan pukulan di wajah sang petugas keamanan hingga hidungnya berdarah sebelum akhirnya dia roboh.

Jantungku mencelus. Rasanya seperti tubuhku yang dipukuli begitu. Hatiku terasa memar.

Dia kekasihku. Kekasihku selamanya. Tak ada seorang pun yang bisa mencintainya sebesar aku. Bahkan ketika dia berpaling kepada perempuan lain, ketika dia datang padaku untuk meminta maaf karena urung mempersuntingku demi artis sinetron yang belum tentu mencintainya seperti aku mencintainya, hatiku tetap miliknya.

Tidak ada kemarahan dalam hatiku, karena aku tahu cinta tak harus memiliki. Aku bahkan memberinya sebuah bungkusan sebagai oleh-oleh untuk kekasihnya itu. Kemarin aku melepasnya. Aku memeluknya erat sambil tersenyum tulus dan berucap semoga bahagia. Aku tidak tahu kalau kedatangannya ke kota ini bukan untuk berpamitan denganku, melainkan hanya urusan kantor. Aku hanyalah urutan kesekian dari begitu banyak kesibukannya. Barangkali dia hanya tiba-tiba teringat padaku. Barangkali dia tidak pernah berniat bertemu denganku.

Televisi menyiarkan kembali adegan ketika dia berhasil dilumpuhkan. Tiba-tiba gambar berpindah kembali ke studio, memperlihatkan wajah pembaca berita yang cemas, kemudian kembali ke bandara. Kemudian dalam gerakan lambat, aku melihatnya roboh dan melemparkan bungkusan hitam yang kuberikan ke lantai. Dia jatuh bersimbah darah, kemudian bungkusan itu meledak. Potongan-potongan beton bertebaran berantakan.

Jantungku berhenti berdetak. Darah naik ke kepalaku. Ada yang panas menggenangi mataku. Aku jatuh terduduk dan memindahkan saluran televisi secara acak. Acara infotainment. Artis sinetron kekasihnya itu di televisi, bergenggaman tangan dengan rekan aktingnya di salah satu sinetron, saling memandang mesra, mengonfirmasi pertunangan mereka.

Aku tak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku tak bisa mengingat apa pun, kecuali penyesalan. Seharusnya dia tidak mengubah rencana perjalanannya. Seharusnya dia tetap menggunakan bus alih-alih pesawat. Seharusnya bom rakitan itu meledak di tangan perempuan sundal itu. Seharusnya bukan dia yang mati.

Seharusnya….