Talkshow “Better Home for Our Children”

eFlyerMeetGreetExpert_520x697-2

Saya enggak pernah dateng ke talkshow yang membahas interior rumah. Well, saya enggak pernah datang ke talkshow lain yang tidak berhubungan dengan buku dan nulis sih — segitu enggak gaulnya saya. Maka, ketika ada ajakan untuk datang ke talkshow bertema “Better Home for Our Children”, saya langsung sigap. Ayok!

Kenapa?

Karena saya lagi tergila-gila sama keinginan akan rumah sendiri. Paling enggak, saya punya tambahan ide tentang bagaimana rumah saya nanti. Apalagi temanya rumah impian buat anak-anak. Saya kan, pengin punya anak juga nanti — kalau udah nikah sih (kalau udah nikah, lah).

Acara yang diselenggarakan oleh Jotun @WarnaImpian (www.warnaimpian.com) ini menghadirkan Ary Indra, arsitek, dan praktisi feng shui, Bunda Fira dan SiOomLurry dari Geomancy Elements.

 

Talkshow dibuka dengan presentasi dari Ary Indra, menampilkan foto-foto desain sebuah rumah hasil karyanya di Serpong. Buat saya sih highlightnya adalah perosotan semen di dalam rumah, dan semacam rumah pohon. Ack! Dari dulu kepingin banget punya rumah dengan rumah pohon. Trus ini lagi ada perosotan. Ibu bapaknya juga pasti ikutan maen perosotan.

Perosotan Semen *foto diambil dari website Ary Indra http://aboday.com

Selama ini, saya selalu mengira bahwa desain (apa pun) untuk anak-anak harus melibatkan warna warni terang yang mencolok mata, karena anak-anak identik dengan warna warni (liat aja deh di TK).  Tetapi, Ary Indra memiliki konsep lain sehubungan rumah dengan anak-anak. Dia menggunakan warna-warna monokrom seperti putih, krem dan abu-abu dan lebih mengedepankan tekstur. Beberapa bagian rumah karyanya sengaja berupa bata telanjang (haduhlah saya enggak tahu istilahnya). Selain itu ada perbedaan tekstur lantai, jadi anak bisa merasakan benda bertekstur kasar maupun halus. Rumah dengan banyak tekstur di berbagai permukaan dapat merangsang jiwa anak dan melatih sensor motorik anak. Jadi, rancang rumah yang eksploratif, agar ada ruang bagi anak menemukan sesuatu yang baru di rumah. Iya sih, seru kalau rumah itu selalu menerbitkan jiwa petualang di hati anak-anak. Sebagai calon ibu penyuka cerita-cerita fantasi ya… #errr

Saat tidak dikacaukan oleh warna, anak-anak akan mulai belajar soal bentuk.

Selain itu, Ary juga berani membuat tangga-tangga unik. Enggak ada pegangannya lah… atau kelihatannya sempit dan berbahaya lah…. Kalau bukan penjelasan dari arsitek, saya pasti langsung menyanggah dan bilang: “lah kalau tangga ga ada pegangannya tar anak-anak jatoh dong.” Tapi, anak-anak itu harus dilatih daya survival sejak kecil. Iya juga sih. Kalau kita terlalu melindungi anak-anak, yang ada kita jadi penakut dan sulit beradaptasi kalau berhadapan dengan lingkungan yang tidak dia kenali.

Rumah itu harus menjadi tempat pertama anak-anak belajar. Jadi kalau bisa, rumah didesain untuk kepentingan itu juga. Namun, bukan berarti kita harus mendesain rumah hanya untuk anak-anak, karena yang tinggal di rumah itu kan ga hanya anak-anak.

Rumah harus bisa berfungsi bagi semua orang yang tinggal di sana.

***

Sesi kedua diisi oleh pakar Fengshui, Bunda Fira dan SiOomLury. Saya enggak terlalu merhatiin fengshui sih, jadi penjelasan pertama kemaren ga cukup bikin saya ngerti soal itu. Misalnya, kalau saya bikin rumah, kayaknya ga bisa sepenuhnya ngikutin fengshui banget sih kalaupun mau. Hahaha. Pengin nanya sih sebenernya, karena rumah saya memanjang seperti gerbong kereta api, semua ruangan berada di ruas yang sama, dihubungkan oleh pintu-pintu. Tar kalau nanya takut mendengar sesuatu yang buruk sih karena ga semua aspek dalam feng shui bisa diterapkan dengan bentuk tanah tertentu.

Idealnya, rumah itu harus dibangun di bidang persegi (bujur sangkar). Kalau misalnya bentuknya jadi trapesium, ada bagian yang kepotong.

Hmmm, kalau soal fengshui sih lebih personal ya kayaknya, sesi ini lebih banyak diisi oleh tanya jawab yang sangat personal, karena tanggal lahir semua anggota keluarga di rumah itu harus disebutin, jadi bisa milih warna cat apa yang cocok, kamar sebelah mana paling pas buat si anak A dan si anak B sebaiknya di mana. Ya kalau rumahnya udah jadi sih menurut saya agak ribet, ya?

Dan kalau belum punya rumah keluarga dan masih jauh dari itu ya… percuma juga ya nanya.

Tapi saya seneng sih liat peserta yang datang ke Nanny Pavillons Library ini. Barangkali — sekali lagi — karena saya enggak pernah dateng ke acara talkshow seperti ini, crowdnya beda banget lah sama acara yang biasa saya datengin. Ibu-ibu muda cerdas, dateng sama suami dan anak-anaknya yang masih balita. Baru punya rumah atau baru mau beli rumah. Rasanya… jadi pengin… menikah.

Hmmm, biarkanlah harapan itu menggantung dulu untuk diwujudkan kemudian. Yang penting sih, saya pulang dengan ilmu baru dan perut kenyang.

Advertisements

Rumah

Sejak berencana pindah ke Bandung pertengahan 2012, saya rajin sekali mengumpulkan ide-ide interior untuk tempat tinggal saya kelak, ketika saya berhasil mengundurkan diri dari tempat kerja dan tinggal di Bandung. Awalnya saya pengin ngekos aja di daerah Dago. Eh, nyewa rumah deng. Trus tinggal bareng temen-temen yang sama-sama sudah muak sama Jakarta dan pengin di Bandung aja. 

Namun, keinginan itu ditentang keras sama Papah. Lah ada rumah kosong di Bandung kok malah nyewa rumah. Mendingan melihara rumah yang udah ada aja sambil nabung buat beli rumah lagi di tempat yang saya inginkan daripada uangnya dipake buat ngontrak. Secara waktu itu saya lagi nyebelin total, saya langsung menolak ide itu dan marahan sama Papah (errr, Jie…).

Terus… saya pun mulai cari-cari rumah di daerah yang saya inginkan. Mau beli gitu ceritanya…. Dan ternyata, seperti sudah dapat diperkirakan, saya belum mampu beli rumah di daerah sana. Akhirnya, saya pindah ke rumah (yang emang dibangun buat saya seandainya saya pengin pindah ke Bandung) di daerah Ujungberung. Dan demi menghibur hati yang lara karena kepingin rumah bagus, saya pun mulai aktif liat-liat pinterest. 

Rencananya sih, sebelum pindahan, pengin bikin jendela dulu di dapur. Benerin kabel-kabel listrik yang putus di dalam tembok karena orang yang ngontrak rumah ini sebelumnya memperlakukan tempat ini dengan ngaco. Ngecat rumah, ngehias dindingnya pake foto-foto unyu dan lukisan-lukisan, beli furniture-furniture keren, dll dll.

Namunnnnnn… seperti dapat diperkirakan: Ruang tamu dan seluruh ruangan lain belum dicat. Kecuali kamarku. Kamar deket ruang tamu yang rencananya mau dibikin ruang kerja, malah dipasangin ranjang kalau-kalau si adik mau nginep, dan saya kerja di kamar — yang kalau lagi males tiba-tiba gulingan ke kasur di sebelah, dan nyalain tivi. 

Blaaah. Bubar sudah *lempar meja*

Akhirnya, sekarang sih berencana buat rumah baru lagi ntar. Insyaallah kalau menikah kelak kami (saya) enggak mau tinggal di rumah ini. Penginnya sih punya rumah bangun dari awal, jadi terkonsep gitu peruntukannya. Pengin rumah kecil dengan jumlah kamar sedikit– sesuai jumlah anggota keluarga yang dikehendaki, banyak kacanya, banyak pohonnya, ada tamannya, ada rumah pohon. 

Huh-hah!

Rumah yang saya tempati sekarang dari luar keliatan kayak rumah kosong. Saya juga jarang beresinnya karena ga sempet. Apalagi masih ada iklan “Rumah ini Dikontrakan. Hubungi bla bla bla” (kurang k, itu– harusnya dikontrakkan),  karena saya enggak punya tangga buat nurunin iklan itu. Dan sekarang, lampu yang nyala cuma lampu kamar. Gara-gara ujan deras berhari-hari kemarin, lampu ruang tamu pun padam. Yang akhirnya, saya ga bisa beraktivitas di dapur karena gelap. (ruang tamu sebelahan sama dapur, red. Sumpah deh rumah ini interiornya aneeeeh banget. Karena ngikutin bentuk tanah, jadinya memanjang gitu. 

Beginilah kira-kira: Image

Begitulah… semoga cepat berjodoh dengan rumah baru deh 

setiap hari adalah pekan raya

fireflies

:nr

setiap hari adalah pekan raya. adalah pesta rakyat. setiap malam kita menyambut bintang pecah jadi kembang api, dengan dentum mirip letusan senapan. karena setiap hari adalah perang. kau mengemut permen kapas sementara sebelah kakimu terpincang-pincang terkena ledakan ranjau darat. dan kepalaku berdarah-darah tersambar peluru. tetapi senyum tidak pernah lenyap dari wajah kita. karena setiap hari adalah pekan raya, dan ada peniti tajam menarik ujung bibir ke ujung telinga kita.

dan selama kita masih bisa menangkap kunang-kunang dan menyekapnya sebentar dalam stoples, kita akan selalu bahagia.

air mata

:nr

1.

sebelumnya kita menanam bulir-bulir air mata di sepasang bantal yang tergeletak bisu. kita memperhatikannya di langit-langit kamar sambil berharap dari bulir air mata itu merambat pelangi yang wangi stroberi. 

sore itu kita disekap air mata. 

dan aku mengenangnya kembali setiap kali lalu menusuk dadaku sendiri dengan jarum. kuharap aku menjahitnya. aku hanya pura-pura luka itu tak pernah ada.

dan tidak apa-apa. karena kita bahagia. 

2.

sebelumnya aku menanam bulir air mata di sela rambut hitammu, menyembunyikan gigi-gigi taring dalam gelembungnya, seperti siap mengigit lehermu, dan meracuni nadimu. jantungmu gunung berapi siap memuntahkan lava. dan napasmu panas di leherku, tatapmu panas menembus mataku yang terpejam. 

aku mengoyak-ngoyak kenangan dan mempersembahkannya padamu. aku ingin punya lubang hitam di kepalaku seperti yang kaumiliki. tempat menyimpan benda-benda yang sudah tidak kita inginkan lagi. ingatan-ingatan yang tak mau lagi kita tengok. kenangan yang bukan milik kita.

3. 

setelah air mata menenggelamkan kita dalam kumparan asing yang kita ingin melarikan diri, cahaya mengecup ubun-ubun kita. mengirim dingin yang nyaman sampai ke hati, sampai ke ujung kaki. setetes cahaya yang terbang dan sembunyi. kuning fosfor yang melukis senyum.

cahaya beraroma tubuhmu yang ingin kuhirup dalam-dalam hingga semua milikku.