air mata

:nr

1.

sebelumnya kita menanam bulir-bulir air mata di sepasang bantal yang tergeletak bisu. kita memperhatikannya di langit-langit kamar sambil berharap dari bulir air mata itu merambat pelangi yang wangi stroberi. 

sore itu kita disekap air mata. 

dan aku mengenangnya kembali setiap kali lalu menusuk dadaku sendiri dengan jarum. kuharap aku menjahitnya. aku hanya pura-pura luka itu tak pernah ada.

dan tidak apa-apa. karena kita bahagia. 

2.

sebelumnya aku menanam bulir air mata di sela rambut hitammu, menyembunyikan gigi-gigi taring dalam gelembungnya, seperti siap mengigit lehermu, dan meracuni nadimu. jantungmu gunung berapi siap memuntahkan lava. dan napasmu panas di leherku, tatapmu panas menembus mataku yang terpejam. 

aku mengoyak-ngoyak kenangan dan mempersembahkannya padamu. aku ingin punya lubang hitam di kepalaku seperti yang kaumiliki. tempat menyimpan benda-benda yang sudah tidak kita inginkan lagi. ingatan-ingatan yang tak mau lagi kita tengok. kenangan yang bukan milik kita.

3. 

setelah air mata menenggelamkan kita dalam kumparan asing yang kita ingin melarikan diri, cahaya mengecup ubun-ubun kita. mengirim dingin yang nyaman sampai ke hati, sampai ke ujung kaki. setetes cahaya yang terbang dan sembunyi. kuning fosfor yang melukis senyum.

cahaya beraroma tubuhmu yang ingin kuhirup dalam-dalam hingga semua milikku. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s