setiap hari adalah pekan raya

fireflies

:nr

setiap hari adalah pekan raya. adalah pesta rakyat. setiap malam kita menyambut bintang pecah jadi kembang api, dengan dentum mirip letusan senapan. karena setiap hari adalah perang. kau mengemut permen kapas sementara sebelah kakimu terpincang-pincang terkena ledakan ranjau darat. dan kepalaku berdarah-darah tersambar peluru. tetapi senyum tidak pernah lenyap dari wajah kita. karena setiap hari adalah pekan raya, dan ada peniti tajam menarik ujung bibir ke ujung telinga kita.

dan selama kita masih bisa menangkap kunang-kunang dan menyekapnya sebentar dalam stoples, kita akan selalu bahagia.

Advertisements

3 thoughts on “setiap hari adalah pekan raya

    1. hai-hai… sebenarnya saya terinspirasi dari kunang-kunang yang berkelap-kelip di belakang rumah saya. karena motret enggak berhasil melulu, akhirnya googling foto ilustrasi deh 😀

  1. Senja
    Sepotong senja kemerahan yang kauberikan padaku
    Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu
    Masih belum bisa kuterjemahkan sebagai puisi
    Senyummu terlalu jenaka untuk seorang Rabi’ah
    Dan punggungmu belum cukup bungkuk untuk tertatih
    Menyusuri lorong-lorong Basrah dengan tongkat tua
    Bagiku, kesepian belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi
    Sebab kita belum cukup terbakar dalam api

    Berkali-kali kausebut aku Hamlet yang gila
    Hanya karena keraguanku menafsirkan sorot matamu
    Karena begitu lama kubutuhkan waktu untuk terus berlari
    Sebelum kulumuri kanvas-kanvasku dengan airmata
    Mungkin aku lebih mirip Sisifus yang terkutuk
    Atau Narsisus yang mabuk? Sepotong senja yang kauberikan
    Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu
    Masih belum bisa kuungkapkan sebagai lukisan

    Di terowongan-terowongan kota Mekkah
    Aku tidak menulis apa-apa, juga tidak melukis siapa-siapa
    Di gurun-gurun pasir yang garang, di bukit-bukit batu
    Aku tidak meratap atau menyanyi, hanya sekedar membaca sunyi
    Aku bukanlah Bilal yang nyaring mengumandangkan azan
    Juga bukan Hamzah yang lantang di garis paling depan
    Bukan siapa-siapa. Kepenyairan hanya berlangsung dalam hatiku
    Dan aku terus berlari dengan sepotong senja yang kauberikan

    Di kanal-kanal Venezia, di relung-relung jembatan yang renta
    Di antara para pelancong dan penziarah, juga para pelacur dan pastor
    Aku tidak pernah lupa memanggil namamu, juga tidak pernah lupa
    Menyumpahimu. Kubuka sebuah peta kuno di meja restoran
    Sambil membayangkan pasukan kuda berderap dari arah selatan
    Lalu kanvas-kanvas kosong kugelar sepanjang trotoar, kertas-kertas
    Kutempel sepanjang terowongan. Ternyata aku tidak pernah lupa
    Pada rambut ikalmu, pada hijau pupus kerudungmu

    Sekali waktu kau mengejekku pengecut yang saleh
    Ketika aku tersentak mendengar keinginanmu pergi ke Aceh
    Mengikuti jejak Cut Nyak Dien dengan sebuah lentera kecil
    Apakah kau mencari sesuatu yang paling ujung, paling tepi
    Paling sunyi? Tapi alis matamu terlalu indah untuk rimba-rimba
    Untuk perburuan makna di tengah dahsyatnya belantara
    Ah, mungkin Lhok Nga akan menyambutmu dengan rebana
    Atau malah menimbunmu dengan karangan bunga

    Tiba-tiba aku tersungkur di lembah Mina
    Jasadku yang telanjang hanya dibalut selembar kain putih
    Seperti matahari, seperti udara, seperti tenda-tenda semuanya
    Memutih. Apakah domba-domba mendengar jerit suaraku yang perih
    Dan memberikan darahnya untuk mengentalkan lukaku? Apakah
    Unta-unta mencium bau anyir kesakitanku? Apakah bukit-bukit batu
    Membaca kerinduanku dan menggelindingkan satu bongkahannya
    Untuk menindihku? Apakah gurun-gurun pasir memahami serapahku?

    Sepotong senja kemerahan yang kauberikan padaku
    Segulung mega serta segenggam kabut yang memabukan itu
    Masih belum bisa kuterjemahkan sebagai puisi
    Payudaramu terlalu lunak untuk seorang Madonna
    Dan bibirmu, belum cukup tebal untuk selalu tersenyum
    Sambil melambai-lambaikan tangan dengan sebatang cerutu

    Bagiku, keindahan belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi
    Sebab kita, belum cukup tenggelam dalam sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s