Sore yang Cerah untuk Berjalan-jalan Bersama Pacar

Zaman SMA dulu, saya selalu menganggap kalau sore yang cerah adalah waktu paling cocok untuk berjalan-jalan bersama pacar; berjalan kaki sambil saling menggenggam tangan di bawah rindang dedaunan pohon beringin yang berjajar mengelilingi alun-alun kota Garut, mengenakan sundress tipis berkibar-kibar tertiup angin sejuk.

Dahulu, saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal romantis seperti itu, dan adegan itu hanya sekadar mimpi, sesuatu yang tanpa sadar saya tulis berulang-ulang di cerpen-cerpen saya semasa SMA. Yeah, menulis adalah salah satu sarana mewujudkan harapan yang ga kesampaian. Paling tidak, tokoh yang saya ciptakan merasakan hal seperti itu. Hahaha.

Dahulu, Jalan Kiansantang, Jalan Kabupaten, Jalan Siliwangi dan Jalan Dewi Sartika adalah tempat ideal untuk berjalan kaki. Enggak ada pedagang kaki lima, belum ada pasar swalayan, dan alun-alun kota Garut masih sepi, enggak ada orang-orang menyewakan deldom (delman yang ditarik domba Garut — eh ditarik sama mamang-mamangnya sih sebenarnya, dombanya cuma ngikut jalan aja), sepeda roda tiga, mobil-mobilan yang dikayuh, becak mini, sepeda motor mini, kolam ikan plastik, untuk anak-anak. Pohon-pohon pun masih besar-besar, tak muat sepelukan tangan.

Sekarang, sepanjang jalan Siliwangi yang sejuk itu penuh dengan pedagang. Boneka, cireng, pakaian, lidi pedas, cimol, dan aneka jajanan ber-MSG. Penuh sekali. Apalagi setelah ada toko Yogya dan toko cokelat khas Garut, Chocodot.

Tapi kemarin, tanpa direncanakan, saya malah merasakan jalan-jalan di hari cerah di bawah rimbun pepohonan sambil bergenggaman tangan dengan pacar. Kemudian, tanpa direncanakan pula, jalan-jalan kaki itu jadi kayak tur turis dengan guide. Bedanya, kalau tur dengan guide biasa, yang ditunjukkan adalah tempat-tempat bersejarah di kota itu, ini malah tur masa lalu. Haha.

“Di sebelah kanan kamu, adalah rumah RS, gebetan saya yang fenomenal itu. Saya suka dia sejak SMP, terus enggak berani ngomong, sampai akhirnya dia nikah.”

*errr banget, kan?

“Nah, belok kiri, adalah bekas rumah saya. Sebelum saya pindah ke Proklamasi. Kumuh kan ya daerahnya?” saya bilang ketika kami melewati gang-gang mungil yang cuma muat dua badan.

“Nah kalau rumah kecil itu, rumah gebetan saya waktu kelas satu SMP. Dia guru ngaji gitu… ganteng deh. Tapi sekarang udah nikah sih, dan ga tau gimana kabarnya.”

Penting banget deh keterangannya. Hahaha. Trus pacar saya cuma bisa senyum-senyum aja, dan mau ga mau terus ngikutin. Soalnya kalau ditinggalin, tar dia bingung gimana caranya balik ke Bandung. Bwahahaha.

“Nah, kalau sepanjang jalan Dewi Sartika ini, saya belajar jalan sama Papah.” Tampaknya, acara jalan kaki ngelilingin kota Garut itu sangat berkesan di benak papah, soalnya tiap ketemu, pasti cerita soal itu.  Kemarin pun, cerita itu diulang.

“Toko Swalayan Yogya ini, dulunya rumah Raden Ajoe Lasminingrat. Harusnya ini dijadiin cagar budaya karena tempat bersejarah.”

Dan si pacar pun mengeluarkan garingan andalannya: “Kenapa di Garut ada toko Yogya tapi di Yogya ga ada toko Garut?”

*baiklah*

Kami berjalan kaki sampai kaki saya pegal dan terasa panas, tapi hati senang. Ada wilayah baru  yang diinjak kaki kami bersama-sama.

 

ps: saya lupa foto-foto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s