Mad Girl’s Love Song

I shut my eyes and all the world drops dead;
I lift my lids and all is born again.
(I think I made you up inside my head.)

The stars go waltzing out in blue and red,
And arbitrary blackness gallops in:
I shut my eyes and all the world drops dead.

I dreamed that you bewitched me into bed
And sung me moon-struck, kissed me quite insane.
(I think I made you up inside my head.)

God topples from the sky, hell’s fires fade:
Exit seraphim and Satan’s men:
I shut my eyes and all the world drops dead.

I fancied you’d return the way you said,
But I grow old and I forget your name.
(I think I made you up inside my head.)

I should have loved a thunderbird instead;
At least when spring comes they roar back again.
I shut my eyes and all the world drops dead.
(I think I made you up inside my head.)

Sylvia Plath

Advertisements

kontributor kliping

hai,

ini dia kontributor tantangan menulis kliping. enggak sebanyak yang #nguping sih (ternyata lebih suka nguping ya daripada baca koran. hahaha).

  1. konde – @jiahjava
  2. kartini kecil – @dhaniramadhani
  3. cokelat – @franc3ssa
  4. ninan – @daynif
  5. jangan runtuhkan rumah kami – @mandewi
  6. perempuanku – @rindrianie
  7. pukul sembilan – @rizkymamat
  8. ariah@shantyadhitya
  9. hukuman mati@poetrazaman

 

review #nguping

saatnya mereview tulisan-tulisan #nguping yang masuk!

deg-degan, ga? enggak? baiklah.

 

saya enggak akan ngereview semua, ya, hanya tulisan yang berkesan aja. yang saya masih inget gimana ceritanya.

makhluk kecil penghuni kamar mandi – @acturindra

dari judul aja, sebenarnya udah ketahuan siapa penutur dalam cerita ini: kecoak. saya udah seriiiing banget baca cerpen dari sudut pandang kecoak. jadinya ga terlalu istimewa sih. bagian bersyukur menjadi kecoak mendingan dihilangkan, karena permasalahan hidup kecoak pun menurut saya sama peliknya dengan kehidupan manusia. lah baru dilihat dikit aja udah dilempar sandal, bukan?

secara teknis, ada beberapa ejaan yang masih salah ditulis.

misalnya, penggunaan imbuhan me-kan di kata menjijikkan. penulis kurang menambahkan satu huruf. beda lho artinya menjijikan dan menjijikkan. malah menurut saja, menjijikan malah ga ada artinya.

juga, penulisan huruf kapital. seharusnya, setelah tanda kutip, menggunakan koma dan huruf kecil. gini misalnya:

“Halo… iya, Om, sebentar lagi Helen sampai, kok. Ini lagi di jalan. Macet. Sabar ya, Om. Love you too. Muuuaaachh,” ucap perempuan yang tadi terburu-buru.

(lihat bagian yang digarisbawahi)

penggunaan om dan oom juga enggak konsisten. (yang benar om, btw, bukan oom).

makhluk, bukan mahluk.

itu aja sih. tulisannya asyik dibaca, menurutku 🙂

sang korban – @ry4nn

dari awal baca, saya sudah terganggu dengan kata antri (maklum editor, banyak terganggu sama kata ga baku. blah). seharusnya antre.

selain penulisan kata, menurut saya tulisan ini udah cukup oke. cuma bagian ini aneh:

Aku terbujur kaku di satu ruangan lembab dan gelap. Tanganku terikat ke belakang kursi.

terbujur, menurut kbbi, artinya adalah membaring atau tergeletak. bagaimana bisa kau terbujur sekaligus terikat ke belakang kursi? bagaimana cara dia membujur? di mana letak kursinya?

ter·bu·jur v terletak membujur; terbaring (menggeletak);

berminyak – @siputriwidi

dari judulnya saja saya sudah tergiring. ini tentang apa? kenapa judulnya seperti itu? ketika baca kalimat pertamanya, saya langsung penasaran

Aku memandangi sebuah stoples kaca berkilau yang berisi sepotong telinga.

membaca cerita bolak-balik antara tahun 2013 dan 2214, penulisnya berusaha mengkritik kebiasaan orang-orang yang senang bergunjing dan memfitnah orang. kelak di 2214, kisah di 2013 menjadi asal muasal virus fitnah yang membuat orang-orang jeri.

yang membuat saya agak terganggu, sih, penggunaan sapaan “mbak” di 2214 walau enggak menutup kemungkinan di tahun segitu masih manggil perempuan dengan panggilan mbak. terus, saya masih merasa kisah di 2013 masih belum selesai. melompat dibiarkan bolong karena takut merusak twist.

orang baru – @noichil

ini keren. penulis mengggiring pembacanya untuk mengira-ngira tempat baru seperti apa yang dimaksud narator. saya enggak langsung tahu dia di mana…

bendera merah – @poetrazaman

penulis membuat saya terkesiap tegang sepanjang membaca cerita ini. walaupun sejak narator menceritakan marni saya tahu ke mana penulis membawa ceritanya, tetapi cerita ini masih enak dinikmati sampai selesai. kisah ini agak mengingatkan saya pada novel “the boy in striped pajamas” (ada filmnya juga). apakah penulisnya pernah membaca/menonton film ini?

malaikat pengganti – @astriiavistaa

ini juga keren, walaupun twistnya seperti pernah baca entah di mana. tapi bukankah tidak ada cerita yang orisinal? cara menulisnya lumayan asyik, walaupun soal ejaan masih ada beberapa yang salah.

terus, tulisan siapa yang saya pilih?

(beneran bingung)

bikin poling aja apa, ya?

polling ditutup besok ya….

ps: maaf untuk para penulis jika merasa tersinggung dengan review saya.

penulis yang egois

pembicaraan di twitter sama @benzbara_ dan @adelliarosa sore ini menarik sekali. tentang “tidak memaksakan diri tulisan dimengerti sama pembaca.”

bara berkata, pernyataan itu menjebak. jangan-jangan itu cuma keegoisan si penulis.

pada masanya, saya pernah terjebak dalam pemikiran seperti itu. “yang ngerti cerpenku berarti cerdas.” bacaan tertentu terkadang memberikan kesombongan tertentu. tapi, bener enggak sih begitu? bener ga kalau kita berkilah, “i write for myself.”

ya bener-bener aja sih. pada awalnya, bukankah kita memang menulis untuk diri sendiri? menulis catatan harian misalnya….

sebatas menulis untuk diri sendiri, memang tidak ada masalah. beda lagi kalau tulisan itu sudah disebarluaskan. penulis punya banyak tanggung jawab pada pembaca. jangan dululah tanggung jawab menyebarkan kebenaran atau hal-hal berat seperti moralitas, kritik sosial dan lain-lain. paling enggak, jangan sampai penulis menghabiskan waktu si pembaca untuk membaca sesuatu yang enggak memberikan apa pun, termasuk sekadar hiburan, dan malah memberikan kepusingan.

beberapa tulisan yang memusingkan bisa jadi menghibur. tapi kalau tulisan memusingkan dan juga enggak menghibur, kan, kasian pembacanya.

kalau menurut saya sih, tulisan-tulisan memusingkan yang hanya dimengerti si penulisnya bisa jadi karena sebab-sebab ini:

si penulis gagal menuliskan hal krusial yang seharusnya ada dalam tulisannya. bisa jadi karena penulis itu enggak nguasain apa yang dia ceritakan, atau kurang diksi. soalnya saya suka begini. udah tahu mau nulis apa di awal, tengah, akhir, twistnya seperti apa (jika ada twistnya), tetapi unsur-unsur itu malah berseberangan yang kalau dimasukkan semua malah jadi ga masuk akal. jadinya, saya suka milih skip dan langsung ke ending. ini yang bikin tulisan ga dimengerti. plot bolong.

lagi-lagi, saran saya adalah, sebaiknya tinggalkan dulu naskah itu dan kembali lain kali, ketika pikirannya udah lebih jernih. terus edit deh. ada beberapa tulisan yang memang butuh waktu sangat lama untuk selesai.

lalu, banyak-banyak baca. baca apa pun. buku bagus maupun buku jelek. keduanya sama-sama sumber ilmu. dari buku bagus, kita bisa mempelajari teknik menulis, penuturan, diksi, dll dll. dari buku jelek, kita bisa mempelajari tulisan yang enggak oke biar kita ga mengikuti jejak itu.

ps: saya bisa sharing ini itu soal nulis di blog ini berkat naskah yang buruk (naskah buruk yang saya tulis, maupun naskah buruk yang saya baca).

ps ps: penulis egois lainnya adalah mereka yang enggak mau belajar bahasa dengan baik. mau nulis dalam bahasa indonesia atau bahasa lain pun, gunakan aturan-aturan dalam bahasa tersebut dengan baik. perhatikan ejaan, penulisan kata baku, penggunaan imbuhan, gunakan kata yang benar.

ps ps ps: blog post ini sengaja menggunakan huruf kecil semua, bukan karena saya enggak ngerti huruf kapital.

Tantangan Menulis “Kliping”

Image

Hai teman-teman,

Terima kasih sudah mengikuti tantangan menulis #nguping minggu lalu. Masih semangat menulis, kan? Sambil menunggu milih pemenangnya (saya belum selesai baca semua), saya akan melempar ide untuk tantangan menulis minggu ini. Kamu sudah baca judul postingan ini, kan? Kira-kira kebayang ga apa tantangan nulisnya?

Yup. Berita dari koran.

Dan ini adalah ketentuannya:

1. Pilih satu berita di surat kabar (berita apa pun, surat kabar apa pun, tanggal berapa pun, tahun berapa pun) dan menulislah dari berita tersebut. Atau, kalau  ga nemu koran, kamu ambil berita dari media online, trus capture.

2. Tulis cerpen atau flashfiction-mu di blog, menyertakan foto atau scan dari potongan berita tersebut. Panjang tulisan standar aja ya… kalau cerpen sekitar 5-8 halaman a4, kalau flashfiction sekitar 1 halaman a4 (margin standar ya).

3. Mention link tulisanmu ke akun twitterku dengan format sebagai berikut: Judul Cerpen – link – @JiaEffendie #Kliping

4. Tulisanmu ditunggu paling lambat tanggal 17 Mei 2013 pukul 12.00 WIB

Cukup jelas kan, ya?

Selamat menulis.

Cups,

Image

orang-orang yang menguping

sssst… di sini saya kumpulkan tulisan orang-orang yang senang menguping… semoga mereka tidak tahu kalau saya diam-diam membaca juga catatan mereka.

1. tolong – @naztaaa

2. suatu hari di sebuah kantin  – @sazaleaa

3. makhluk kecil penghuni kamar mandi – @acturindra

4. cinta (baru) bagi jiwa yang hampir mati@momo_dm

5. sang korban @ry4nn

6. di sebuah halte@rindrianie 

7. nguping – @ara_damiril 

8. petuah minggu pagi@galrev2013

9. suara-suara yang aku dengar bukanlah suara yang aku rindu@mandewi

10. tante jetset@galoeh11

11. suara tuhan@tuannico

12. hilang tak pulang@franc3ssa

13. berminyak@siputriwidi

14. pulang@_bianglala

15. percakapan @adrianaprima

16. rasa tak terucap@jiahjava

17. di salah satu sudut kafe, hari ini @ayuaara

18. ayah dan wanitanya@sindyasta

19. bunuhdiri@mentionsari

20. kau dan aku di ruang hampa udara@hanaber

21. aku ini kekasih afgana – @mareretha

22. bendera merah @poetrazaman

23. orang baru@noichil

24. kisah pembunuh bayaran@malatsih

25. malaikat pengganti@astriiavistaa

26. #nguping@dianmariani

ps: tulisan orang ini sungguh mencurigakan: http://www.jiaeffendie.com/2013/05/suara/

Menyunting Sendiri Tulisanmu

Oke, jadi kamu bisa menulis.

Kamu jago bikin cerita orisinal, twist menarik, juga ending yang tak tertebak. Bukankah itu yang diinginkan pembaca? Ending yang tidak tertebak?

Tapi, apakah cuma sekadar itu yang kamu butuhkan? Enggak.

Terkadang, sebagai penulis baru yang punya banyak ide cemerlang, kita suka jadi sombong. Mentang-mentang nulisnya selesai, berhasil menyelesaikan novel setebal seratus lima puluh halaman dalam jangka waktu sebulan, belum tentu kamu jadi penulis yang oke.

Ada beberapa faktor lain.

Seratus lima puluh halaman itu isinya apa saja? Pengulangan-pengulangan adegan? Ungkapan-ungkapan yang tidak perlu? Kalimat yang membosankan? Miskin diksi? Kalau ketemu editor sih, bisa aja satu bab naskahmu dibabat habis. Mau?

Banyak penulis yang bilang kalau draf pertama bukanlah naskah final kamu. Serius deh. Jangan pernah kirim naskah (cerpen maupun novel) yang belum kamu baca ulang. Pastikan naskahmu (menurut pikiranmu sendiri) sudah cukup sempurna. Paling enggak, bebas typo, lah.

Ada blog memang suka bikin kita malas baca ulang. Nulis drafmu di blog dan langsung posting. Akhir-akhir ini, saya juga suka gitu sih… jangan ditiru.  Tapi, kalau kamu mau kirim naskah ke penerbit atau majalah, sebaiknya peram dulu tulisanmu.

Ketika kita baru menyelesaikan naskah, biasanya kita membuncah dengan perasaan bangga, lega, dan puas. Wah, akhirnya gue nyelesaiin satu cerita, nih. Ceritanya oke banget, pasti bakalan banyak yang suka. Nah… sebelum kirim naskah, endapkan beberapa hari, atau beberapa minggu. Dua minggu lah maksimal. Bebaskan pikiranmu dulu dari naskah itu, baru balik lagi.

Biasanya, ketika kita membaca lagi naskah, kita akan melihat kesalahan-kesalahan kecil yang tidak terlihat ketika kita menulis karena kita terlalu sibuk berbangga hati. Nah, yang harus kamu perhatikan ketika mengedit tulisan itu di antaranya:

1. Penulisan kata/ ejaan. Ada beberapa kata yang orang biasa salah kaprah dalam menuliskannya. Di antaranya:

  • Sekedar, seharusnya sekadar
  • Seksama, seharusnya saksama
  • Antri, seharusnya antre
  • Resiko, seharusnya risiko
  • Lembab, terjerembab, harusnya lembap, terjerembap
  • Hadang, hentak, hembus, hisap, harusnya adang, entak, embus, isap
  • Perduli, harusnya peduli
  • Ijin, seharusnya izin
  • Jaman, harusnya zaman

(selengkapnya, kamu cek KBBI Daring http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ atau beli KBBI dan tesaurus)

Selain itu, yang sering salah juga penggunaan imbuhan. Ada beberapa kata yang lesap ketika diberi awalan. Aturannya seperti ini:

  1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
  2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i →memfasilitasi.
  3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
  4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
  5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
  6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Jadi, kalau kamu bertemu dengan kata pesona, peduli, percaya, jadinya memesona, memedulikan, memercayai, bukan mempesona, memperdulikan, ataupun mempercayai.

Ada aturan khusus lain, kalau kamu bertemu dengan kata yang huruf pertama dan kedua kata dasarnya adalah konsonan, kata tersebut tidak lebur. Contohnya: memprotes, mengkritik, mentraktir.

(selebihnya kamu cari tahu sendiri, ya)

https://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Ada perbedaan fungsi di- sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan (begitu pula dengan ke-). Jika kamu bermaksud menunjukkan tempat (di mana, di situ, di depan, di sana, di rumah, dll) maka penulisan di- dipisah dengan kata yang mengiringinya. Kalau di- yang berhadapan dengan kata kerja, ditulis serangkai (dimakan, dihalau, dimatikan, disunting, dll). Ke mana juga sama, kecuali kemari sudah termasuk satu kata.

2. Ketika menyunting sendiri karyamu, pastikan kalimatnya mudah dimengerti, jangan memakai kalimat majemuk yang terlalu banyak. Kalau kamu menemukan kalimat terlalu panjang (sampai tiga baris misalnya), potong-potong aja jadi dua atau tiga kalimat. Ubah struktur kalimatnya. Gunakan metafor seperlunya.

3. Pastikan logika kalimat maupun ceritamu benar. Periksa kembali setting waktu, dll. Cek juga informasi yang kamu sampaikan dalam ceritamu. Jangan sampai menggunakan kata revolusi untuk menyebut reformasi. Atau menyebut matahari bergelantungan (logikanya, matahari kita kan cuma satu, kok bisa bergelantungan? bergelantungan itu kan kalau banyak). Pahami setiap kata, jangan sampai pake kata yang salah untuk menyampaikan sesuatu.

4. Hindari menggunakan kata yang sama berkali-kali dalam satu kalimat atau satu paragraf.  Manfaatkan tesaurus, cari padanan katanya.

5. Jika kamu sedang menyunting novelmu, gunakan track changes di microsoft word. Dengan begitu, kamu bisa tahu bagian mana saja yang berubah. Misalkan kamu pengin ngambil lagi bagian yang sudah kamu hapus, track changes bisa mengembalikannya. Canggih, kan?

ps: kalau naskahmu udah diterima untuk diterbitkan dan editor minta kamu revisi di naskah yang udah ada track changesnya, jangan sekali-kali ngedit dari file baru, karena editor pasti misuh-misuh. Pakai file yang sama, kamu tinggal mengganti tampilannya aja seandainya kamu terganggu dengan warna-warni dan berbagai macam garis petunjuk dalam track-changes. Buka “Review” di aplikasi microsoft word, cari yang ada track changes, trus ubah “Final: Showing Markup” jadi “Final” aja, tar si warna-warni itu akan menghilang.

track-changes

Segitu dulu aja ya… semoga bermanfaat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh banget, lho.