Menyunting Sendiri Tulisanmu

Oke, jadi kamu bisa menulis.

Kamu jago bikin cerita orisinal, twist menarik, juga ending yang tak tertebak. Bukankah itu yang diinginkan pembaca? Ending yang tidak tertebak?

Tapi, apakah cuma sekadar itu yang kamu butuhkan? Enggak.

Terkadang, sebagai penulis baru yang punya banyak ide cemerlang, kita suka jadi sombong. Mentang-mentang nulisnya selesai, berhasil menyelesaikan novel setebal seratus lima puluh halaman dalam jangka waktu sebulan, belum tentu kamu jadi penulis yang oke.

Ada beberapa faktor lain.

Seratus lima puluh halaman itu isinya apa saja? Pengulangan-pengulangan adegan? Ungkapan-ungkapan yang tidak perlu? Kalimat yang membosankan? Miskin diksi? Kalau ketemu editor sih, bisa aja satu bab naskahmu dibabat habis. Mau?

Banyak penulis yang bilang kalau draf pertama bukanlah naskah final kamu. Serius deh. Jangan pernah kirim naskah (cerpen maupun novel) yang belum kamu baca ulang. Pastikan naskahmu (menurut pikiranmu sendiri) sudah cukup sempurna. Paling enggak, bebas typo, lah.

Ada blog memang suka bikin kita malas baca ulang. Nulis drafmu di blog dan langsung posting. Akhir-akhir ini, saya juga suka gitu sih… jangan ditiru.  Tapi, kalau kamu mau kirim naskah ke penerbit atau majalah, sebaiknya peram dulu tulisanmu.

Ketika kita baru menyelesaikan naskah, biasanya kita membuncah dengan perasaan bangga, lega, dan puas. Wah, akhirnya gue nyelesaiin satu cerita, nih. Ceritanya oke banget, pasti bakalan banyak yang suka. Nah… sebelum kirim naskah, endapkan beberapa hari, atau beberapa minggu. Dua minggu lah maksimal. Bebaskan pikiranmu dulu dari naskah itu, baru balik lagi.

Biasanya, ketika kita membaca lagi naskah, kita akan melihat kesalahan-kesalahan kecil yang tidak terlihat ketika kita menulis karena kita terlalu sibuk berbangga hati. Nah, yang harus kamu perhatikan ketika mengedit tulisan itu di antaranya:

1. Penulisan kata/ ejaan. Ada beberapa kata yang orang biasa salah kaprah dalam menuliskannya. Di antaranya:

  • Sekedar, seharusnya sekadar
  • Seksama, seharusnya saksama
  • Antri, seharusnya antre
  • Resiko, seharusnya risiko
  • Lembab, terjerembab, harusnya lembap, terjerembap
  • Hadang, hentak, hembus, hisap, harusnya adang, entak, embus, isap
  • Perduli, harusnya peduli
  • Ijin, seharusnya izin
  • Jaman, harusnya zaman

(selengkapnya, kamu cek KBBI Daring http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ atau beli KBBI dan tesaurus)

Selain itu, yang sering salah juga penggunaan imbuhan. Ada beberapa kata yang lesap ketika diberi awalan. Aturannya seperti ini:

  1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
  2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i →memfasilitasi.
  3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
  4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
  5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
  6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Jadi, kalau kamu bertemu dengan kata pesona, peduli, percaya, jadinya memesona, memedulikan, memercayai, bukan mempesona, memperdulikan, ataupun mempercayai.

Ada aturan khusus lain, kalau kamu bertemu dengan kata yang huruf pertama dan kedua kata dasarnya adalah konsonan, kata tersebut tidak lebur. Contohnya: memprotes, mengkritik, mentraktir.

(selebihnya kamu cari tahu sendiri, ya)

https://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Ada perbedaan fungsi di- sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan (begitu pula dengan ke-). Jika kamu bermaksud menunjukkan tempat (di mana, di situ, di depan, di sana, di rumah, dll) maka penulisan di- dipisah dengan kata yang mengiringinya. Kalau di- yang berhadapan dengan kata kerja, ditulis serangkai (dimakan, dihalau, dimatikan, disunting, dll). Ke mana juga sama, kecuali kemari sudah termasuk satu kata.

2. Ketika menyunting sendiri karyamu, pastikan kalimatnya mudah dimengerti, jangan memakai kalimat majemuk yang terlalu banyak. Kalau kamu menemukan kalimat terlalu panjang (sampai tiga baris misalnya), potong-potong aja jadi dua atau tiga kalimat. Ubah struktur kalimatnya. Gunakan metafor seperlunya.

3. Pastikan logika kalimat maupun ceritamu benar. Periksa kembali setting waktu, dll. Cek juga informasi yang kamu sampaikan dalam ceritamu. Jangan sampai menggunakan kata revolusi untuk menyebut reformasi. Atau menyebut matahari bergelantungan (logikanya, matahari kita kan cuma satu, kok bisa bergelantungan? bergelantungan itu kan kalau banyak). Pahami setiap kata, jangan sampai pake kata yang salah untuk menyampaikan sesuatu.

4. Hindari menggunakan kata yang sama berkali-kali dalam satu kalimat atau satu paragraf.  Manfaatkan tesaurus, cari padanan katanya.

5. Jika kamu sedang menyunting novelmu, gunakan track changes di microsoft word. Dengan begitu, kamu bisa tahu bagian mana saja yang berubah. Misalkan kamu pengin ngambil lagi bagian yang sudah kamu hapus, track changes bisa mengembalikannya. Canggih, kan?

ps: kalau naskahmu udah diterima untuk diterbitkan dan editor minta kamu revisi di naskah yang udah ada track changesnya, jangan sekali-kali ngedit dari file baru, karena editor pasti misuh-misuh. Pakai file yang sama, kamu tinggal mengganti tampilannya aja seandainya kamu terganggu dengan warna-warni dan berbagai macam garis petunjuk dalam track-changes. Buka “Review” di aplikasi microsoft word, cari yang ada track changes, trus ubah “Final: Showing Markup” jadi “Final” aja, tar si warna-warni itu akan menghilang.

track-changes

Segitu dulu aja ya… semoga bermanfaat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh banget, lho.

Advertisements

7 thoughts on “Menyunting Sendiri Tulisanmu

  1. Terimakasih artikelnya. Naskahku sudah 2x edit, kok jelek amat ya ? Boleh tahu tidak, tulisanmu pertama kali itu diedit sampai berapa kali ?

    Terimakasih bin maturnuwun.

    • naskah yang saya tangani bisa sampai 4-5 kali revisi kok… bahkan ada yang sampai ditulis ulang. itu masih wajar.
      kalau saya sih biasanya nulis cerpen, yang dimuat media biasanya sudah saya sunting 1-2 kali

      • Saya mencoba menulis kisah perjalanan hidupku sendiri. Mungkin bagiku itu sangat luar bisa, tapi mungkin berbeda dimata editor atau membaca.

        Untuk sebuah tulisan yang dianggap inspirasi, apakah harus mendapat gelar “orang hebat” terlebih dahulu ?

        Kebetulan aku orang biasa biasa saja, dan bukan siapa siapa. Hanya seorang ayah yang mencoba berbuat baik.

  2. sering kali penulis mikir, “lho, ngapain repot menyunting? kan itu tugasnya editor.” padahal, kalau naskahnya bersih, alurnya rapi, dan minim typo, pasti didahulukan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s