penulis yang egois

pembicaraan di twitter sama @benzbara_ dan @adelliarosa sore ini menarik sekali. tentang “tidak memaksakan diri tulisan dimengerti sama pembaca.”

bara berkata, pernyataan itu menjebak. jangan-jangan itu cuma keegoisan si penulis.

pada masanya, saya pernah terjebak dalam pemikiran seperti itu. “yang ngerti cerpenku berarti cerdas.” bacaan tertentu terkadang memberikan kesombongan tertentu. tapi, bener enggak sih begitu? bener ga kalau kita berkilah, “i write for myself.”

ya bener-bener aja sih. pada awalnya, bukankah kita memang menulis untuk diri sendiri? menulis catatan harian misalnya….

sebatas menulis untuk diri sendiri, memang tidak ada masalah. beda lagi kalau tulisan itu sudah disebarluaskan. penulis punya banyak tanggung jawab pada pembaca. jangan dululah tanggung jawab menyebarkan kebenaran atau hal-hal berat seperti moralitas, kritik sosial dan lain-lain. paling enggak, jangan sampai penulis menghabiskan waktu si pembaca untuk membaca sesuatu yang enggak memberikan apa pun, termasuk sekadar hiburan, dan malah memberikan kepusingan.

beberapa tulisan yang memusingkan bisa jadi menghibur. tapi kalau tulisan memusingkan dan juga enggak menghibur, kan, kasian pembacanya.

kalau menurut saya sih, tulisan-tulisan memusingkan yang hanya dimengerti si penulisnya bisa jadi karena sebab-sebab ini:

si penulis gagal menuliskan hal krusial yang seharusnya ada dalam tulisannya. bisa jadi karena penulis itu enggak nguasain apa yang dia ceritakan, atau kurang diksi. soalnya saya suka begini. udah tahu mau nulis apa di awal, tengah, akhir, twistnya seperti apa (jika ada twistnya), tetapi unsur-unsur itu malah berseberangan yang kalau dimasukkan semua malah jadi ga masuk akal. jadinya, saya suka milih skip dan langsung ke ending. ini yang bikin tulisan ga dimengerti. plot bolong.

lagi-lagi, saran saya adalah, sebaiknya tinggalkan dulu naskah itu dan kembali lain kali, ketika pikirannya udah lebih jernih. terus edit deh. ada beberapa tulisan yang memang butuh waktu sangat lama untuk selesai.

lalu, banyak-banyak baca. baca apa pun. buku bagus maupun buku jelek. keduanya sama-sama sumber ilmu. dari buku bagus, kita bisa mempelajari teknik menulis, penuturan, diksi, dll dll. dari buku jelek, kita bisa mempelajari tulisan yang enggak oke biar kita ga mengikuti jejak itu.

ps: saya bisa sharing ini itu soal nulis di blog ini berkat naskah yang buruk (naskah buruk yang saya tulis, maupun naskah buruk yang saya baca).

ps ps: penulis egois lainnya adalah mereka yang enggak mau belajar bahasa dengan baik. mau nulis dalam bahasa indonesia atau bahasa lain pun, gunakan aturan-aturan dalam bahasa tersebut dengan baik. perhatikan ejaan, penulisan kata baku, penggunaan imbuhan, gunakan kata yang benar.

ps ps ps: blog post ini sengaja menggunakan huruf kecil semua, bukan karena saya enggak ngerti huruf kapital.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s