Muslihat Gajah Laut

Sebelumnya, aku tidak pernah menginjakkan kaki di ruang pengadilan. Tak satu pun anggota keluargaku diadili karena sesuatu hal, tidak pula kawan dan handai taulanku.

Aku pun tidak tahu mengapa tiba-tiba bisa berada di ruang pengadilan. Aku lupa bagaimana aku bisa duduk di antara perempuan-perempuan tambun berbau keringat dan berambut lepek itu. Wajah mereka mirip gajah laut. Terutama hidungnya, melengkung seperti kacang jambu mete. Pakaian mereka seperti berasal dari tahun delapan puluhan dan kekecilan sehingga daging mereka mendesak lewat celah-celah jahitannya.

Mereka berbisik-bisik. Dari perempuan-perempuan itu, aku mengetahui bahwa mereka mengadili seorang nenek yang mencuri sebatang singkong dari perkebunan tuan tanah. Sebatang singkong yang beracun ketika si nenek memasaknya. Sebelum diadili, dia menginap selama tiga hari di rumah sakit dan menambahkan daftar utangnya.

Kemudian,

Hakim memanggilku.

Aku tidak pernah ke ruang pengadilan sebelumnya. Aku tidak tahu apakah lazim seorang hakim memanggil pengunjung pengadilan. Barangkali dia memanggilku karena aku masuk tanpa izin? Apakah ada semacam buku absen yang berisi orang-orang yang boleh berada di ruang pengadilan?

Perempuan-perempuan tembam itu melirikku lalu memberi isyarat agar aku berdiri dan mendekati hakim. Aku memeluk tasku erat-erat dan berjalan dengan canggung sambil berpikir (apakah ketika kau dipanggil hakim, kau boleh membawa tasmu?). Kakiku seperti diberati sebongkah batu. Dan punggungku panas karena merasa mata-mata menusukku dari belakang, membolongi punggungku seperti pisau laser.

Sang Hakim menyuruhku duduk. Aku semakin erat memeluk tasku sambil kepalaku celingak celinguk, mencari pertolongan.

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

***

Saya satu-satunya penumpang perempuan di angkot ini. Di sebelah saya, duduk seorang lelaki kurus. Mulutnya agak manyun dan bagian atas bibirnya dihiasi kumis tipis panjang hingga mirip moncong tikus. Dia mengenakan kemeja flannel bertangan pendek dengan motif kotak-kotak merah yang warnanya sudah begitu pudar dan menguarkan aroma keringat tajam. Bukan bau yang enak dihirup di waktu sepagi ini—bahkan tidak enak di waktu apa pun. Rambutnya dipotong gaya punk yang bagian kanan-kirinya sudah tumbuh setebal satu sentimeter dan bagian tengahnya yang sudah memanjang jatuh. Kedua kakinya dibalut celana kulit ketat bertambalan dan ditutup sepasang sepatu bot berpaku.

Di depan lelaki itu, duduk lelaki lain bertubuh gempal. Meski ini masih begitu pagi, sudah ada noda keringat di bagian dada kaus partainya yang sudah berlubang-lubang. Wajahnya seperti gajah laut, hidungnya besar dan agak melengkung ke dalam. Lehernya berlipat-lipat dan ada daki di lipatannya. Matanya sipit dan agak bengkak.

Positif, kedua pria ini sudah berhari-hari tidak mandi. Selain mencium bau tidak sedap dari tubuh mereka, saya juga mencium niat busuk dari kepala kedua orang itu. Mereka mengobrol dalam bahasa Sunda kasar, sesekali ditimpali oleh sopir angkot di depan.

Pukul dua dini hari, bukan waktu yang tempat untuk gadis baik-baik seperti saya masih bertualang dalam angkutan kota. Seharusnya, kereta saya tiba di stasiun empat jam lalu seandainya tidak tiba-tiba mogok dan terjebak di antah berantah. Tidak ada yang bisa menjemput saya pagi ini. Ayah saya sudah tua dan tidak mungkin saya membangunkan beliau pagi buta hanya demi menjemput putrinya yang sudah dewasa. Menghabiskan waktu empat jam di stasiun bukanlah pilihan karena saya sudah kelelahan dan yang saya inginkan hanyalah mandi air hangat dan tidur memeluk boneka-boneka saya. Entah mengapa, kesialan saya berlipat ganda dengan tak ada satu pun taksi tepercaya hingga saya terpaksa pulang naik angkot.

“Neng, pagi amat pulangnya?” Si Lelaki Tikus berhenti mengobrol dengan kawannya dan mulai mengalihkan perhatiannya kepada saya.

Saya menoleh sekilas dan tersenyum malas. Tak berniat menjawab.

“Lagian sendirian aja. Nggak ada yang jemput?” Dia bertanya lagi. Bukan urusanmu. Saya memeluk tas ransel saya lebih erat, waspada.

“Tenang, Neng, aman sama Aa mah!” Si Sopir menimpali dari kursi depan, tertawa-tawa.

“Ati-ati Neng sama dia!” kata Si Lelaki Tikus lagi. “Kalau ada apa-apa, langsung turun aja di tempat yang terang, terus naik angkot yang penuh!”

Si Lelaki Tikus malah turun setelah memberiku petuah. Saya ingin menyanggahnya. Mana ada angkot yang penuh pada jam seperti ini. Tinggal saya dan Si Gajah Laut dan sopir angkot. Tujuan saya masih sekitar sepuluh kilometer lagi, dan saya sudah sangat gelisah. Rasanya, saya adalah salah satu tokoh dalam novel “And Then There Were None” karya Agatha Christie yang dibunuh satu demi satu di sebuah pulau. Angkot ini adalah pulaunya. Jika saya tidak segera turun, maka saya adalah korban berikutnya.

Baiklah, barangkali saya terlalu banyak membaca buku thriller dan berkhayal. Namun, Anda pasti setuju kalau ketakutan saya memang beralasan.

Angkot berbelok di sebuah pom bensin bercahaya temaram di sebelah rumah kosong dengan ilalang-ilalang tinggi. Haruskah dia mengisi bensin sekarang? Bukannya pom bensin ini sudah tutup? Saya sudah bersiap loncat dari angkot dan melarikan diri karena jelas tidak ada seorang pun di pom bensin itu. Ini bukan pom bensin di Amerika yang kau bisa mengisi sendiri bahan bakar kendaraanmu tanpa operator.

“Mau ke mana, Neng?” tanya Si Gajah Laut ketika saya beringsut pindah ke kursi yang menahan pintu angkot. Mata sipitnya yang bengkak mengedip. “Turun di mana, Neng?” Mulutnya meruapkan aroma alkohol.

“Di sini aja.” Saya berkata gusar.

“Tenang, nanti dianterin sampai rumah,” si sopir menimpali.

“Di sini aja.” Saya bersikeras, siap meloncat.

Namun, Si Gajah Laut lebih sigap. Tangannya menutupi pintu sebelum saya berhasil menjejakkan kaki di tanah, sebelah tangannya menarik lalu mengempaskan tubuh saya ke lantai angkot, sementara sopir angkot terus melajukan angkotnya ke belakang bangunan di pom bensin. Pepohonan agak rapat sehingga tak sedikit pun cahaya bertandang ke daerah ini. Saya meronta dan menendang, berusaha membidik selangkangannya.

Tolong jangan bilang ini akan terjadi kepada saya.

Seharusnya tadi saya mengikuti saran sahabat saya untuk menunggu di stasiun saja sampai matahari datang. Seharusnya saya tidak senekat ini. Seharusnya saya tidak sebodoh ini.

Saya berteriak sekencang-kencangnya. Saya menjerit meminta pertolongan. Saya menendang-nendang, memukulkan ransel saya ke kepalanya yang seperti gajah laut. Kedua tangannya menahan tangan saya di lantai angkot, sementara si sopir angkot sudah bergabung dengan temannya ke bagian belakang mobil dan menutup semua pintu.

***

Saya dibuang di pinggir jalan, tercabik-cabik dan tak berguna seperti seonggok kain perca limbah pabrik. Saya merasa sudah mati dan tidak sanggup lagi menangis ataupun merasa sakit. Sebelum angkutan kota berwarna hijau itu melesat membawa pergi ransel dan kehormatan saya, saya sempat mencatat nomor polisinya. Seandainya saya bertahan hidup dan masih waras, saya pasti akan memburu mereka dan membalas dendam.

Kedua kaki saya gemetaran dan seluruh tubuh saya dingin seakan nyawa ditarik pelan-pelan dari ujung kaki. Namun, saya berusaha berdiri, bertumpu pada dinding pagar pabrik tempat saya dicampakkan. Saya memeluk tubuh saya sendiri yang bergetar, tetapi bahkan pelukan itu tidak bisa menenangkan semua yang berkecamuk di kepala saya.

Sayup, terdengar suara mengaji dari pengeras suara masjid. Mendengarnya, rasanya hati saya seperti sedang disayat-sayat belati.

Sebuah angkutan kota berhenti di depan saya. Ada beberapa penumpang di dalamnya dan si sopir menyapa saya dengan ramah. “Ka mana, Neng?”

Saya menggeleng. Tanpa bisa dicegah, air mata mulai mengalir di pipi saya.

“Naik aja, Neng. Subuh gini mah angkotnya masih jarang.” Dia membujuk saya. Saya masih menggeleng dan mengarang alasan agar tidak usah menaiki angkotnya.

“Enggak, lagi nunggu teman,” saya menyahut lirih.

Kunaon leweh[1]?” Dia mulai terdengar cemas, tetapi dari nada suaranya jelas sekali kalau dia tidak menganggap saya serius. Orang-orang di dalam angkot mulai memalingkan perhatiannya kepada saya. Mereka seperti memanjangkan telinga dan mata mereka karena penasaran akan keadaan saya yang semrawut dan menyedihkan.

“Nggak apa-apa. Sa-sa-ya-la-gi-nung-gu-te-man.” Saya menggeleng kuat-kuat sementara napas mulai tersengal, terhalang oleh tangis yang mulai membanjir. Kenapa saya menangis? Pria-pria setan itu tak perlu ditangisi. Saya tidak boleh menangis karena saya akan membunuh mereka berdua.

Nya tapi kunaon bet leweh?” Dia bertanya lagi. Saya kembali menggeleng. Namun, semakin kencang gelengan saya, semakin tidak meyakinkan kelihatannya. “Sudah, masuk saja. Di depan ada pos polisi. Saya antar sampai sana.” Sang sopir berkata seolah tahu apa yang baru saja saya alami.

Saya duduk di sebelah sopir dan menyadari bahwa saya tak beralas kaki. Sepatu saya dilempar kedua bajingan itu entah ke mana. Sang sopir membujuk untuk bercerita, tetapi saya hanya bisa mengatakan kalau saya dirampok. Tak sudi mengakui kalau mereka juga melakukan hal yang lain.

“Saha? Angkot jurusan ini? Inget keneh teu platna[2]?”

  1. Dan ada stiker The Mi Is 3 di kaca belakangnya.

“1998? Demi Istri? Ah, kenal itu mah. Si Jek pasti. Atau Si Rambo? Kapan kejadiannya? Kenapa Eneng naik angkot pagi-pagi gini? Enggak ada yang jemput?” Dan serentetan pertanyaan lain. Tidak, saya tidak membutuhkan orang lain lagi menyalahkan saya. Saya sudah cukup menyalahkan kepandiran saya. “Gampang nyari Si Jek mah. Dia suka nongkrong di warkop yang deket terminal itu. Kurang ajar bener tuh Si Jek.”

Saya mencatat informasi itu, berniat mencari Si Gajah Laut atau Si Sopir Biadab itu. Karena saya akan menemukan mereka dan membuat mereka menyesal.

 ***

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

Aku menelengkan kepala, menatap Sang Hakim dengan pandangan penuh tanda tanya. Kenapa kita akan menentukan nasibku?

“Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dan seorang sopir odong-odong?” Dia bertanya. Alih-alih menjawab, aku malah menertawakan rambut palsunya yang keriting dan putih. Pak Hakim seperti kodok yang mengenakan wig dan itu lucu sekali.

Pak Hakim kembali bertanya. “Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dengan cara menggilasnya dengan traktor dan menguburnya di bawah aspal? Lalu apa benar, kau membunuh sopir odong-odong dengan cara melilitkan benang gelasan ke sekujur tubuhnya hingga dia mati kehabisan darah?”

Aku berhenti tertawa dan berubah serius karena tas dalam pelukanku tiba-tiba melesak ke dalam perut hingga menggembung dan jalanku jadi mengangkang seperti orang hamil. Aku memikirkan perkataan Pak Hakim sambil menggeleng. Bukannya yang benar buldozer, ya?

“Apakah benar?” Sang Hakim menghardik tidak sabar.

Aku menatap Pak Hakim, lalu perempuan-perempuan tembam mirip gajah laut di kursi pengunjung, dan menatap para jaksa, dan orang-orang di ruangan pengadilan ini. Terlalu aneh, pikirku. Seharusnya ruang pengadilan tidak seperti ini, dan pengadilan tidak berlangsung seperti ini.

Aku menutup mata dan mencubit-cubit pipiku. Ini terlalu aneh untuk jadi kenyataan.

 ***

Gadis itu sudah tidak berteriak-teriak lagi kini. Dia terkulai di tempat tidur dengan air mata mengering dan perut yang menggembung. Kedua tangannya diikat di pinggir ranjang, mencegahnya menyakiti diri sendiri.

Perempuan setengah baya berpakaian serbahijau itu menutup pintu perlahan. Jantungnya mencelus. Dia teringat kisah-kisah yang diceritakan berbarengan dengan kedatangan gadis itu di tempat ini. Diam-diam dia bersyukur, bukan dirinya yang ada di ranjang itu.

Jakarta, 11 November 2013

[1] Kenapa menangis? (sunda)

[2] Siapa? Angkot jurusan ini? Masih ingat tidak plat nomornya? (sunda)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s