menulis novel romance

waktu riset buat ngisi acara the secret of creative writing di gedung pos bandung tanggal 15 februari lalu, saya dikasih lihat lagi kalau romance memang genre paling juara secara penjualan. bukan hal baru, sih, sebenarnya. 

menurut penelitian dari Bowker Market Research tahun 2012 tentang survey pembelian buku baru dan pembaca novel romance, genre ini menghasilkan penjualan 1,438 miliar dolar amerika pada 2012. genre ini juga kategori best-seller paling tinggi berdasarkan New York Times, USA Today, dan Publishers Weekly. —ini perbandingan penjualannya di amerika dengan genre lain:

Image

mayan jauh kan, ya, perbandingannya?

*lap keringat*

*langsung nulis*

 

nah, buat kamu yang pengin nulis novel dengan spesialisasi genre romance, paling tidak, ada lima elemen penting dalam penulisan novel romance. ini dia:

 1. kedua tokoh utama harus disukai 

• tokoh utama cowok adalah jenis cowok yang bisa “melelehkan” hati pembaca (karena dia oh-so-hot!– ternyata tokoh utama cowoknya adalah kompor. oke jia jangan ngawur)

• tokoh utama ceweknya believable. sebisa mungkin, pembaca bisa membayangkan dirinya sebagai tokoh utama cewek yang disayangi tokoh utama cowok.

2. kedua tokoh utama harus dipertemukan di bagian-bagian awal cerita

kalau si tokoh utama cewek jadian sama tokoh cowok yang mendadak muncul di akhir cerita, udah bisa dipastikan bukumu dilempar. 

3. ada rintangan yang menghalangi kedua tokoh utama untuk bersatu

kalau adem ayem nggak ada konflik mah ya udah lah nggak usah ditulis. 

4. romantisme antara kedua tokoh harus terus meningkat seiring dengan berjalannya cerita

tahu lah ya, awalnya mungkin berantem-berantem, eh tapi kok… lama-lama makin romantis. lama-lama kok… ciuman? 

5. ending harus memuaskan

ini novel romance, jadi pembaca nggak berharap menemukan ending yang bikin syok terus stroke. hah, apa? endingnya ketabrak kuda trus jatoh ke jurang trus amnesia trus nggak jadi jadian? no no no no no. pembaca romance udah tahu apa yang akan mereka baca. yang mereka harapkan dari novel romance adalah adegan-adegan romantis yang membangun kisah cinta antara kedua tokoh utama. mereka tahu endingnya bakalan jadian. 

pokoknya, happy ending!

itu aja, semoga pengalaman menulismu juga happy ending, ya, diterima penerbit dan cepat terbit dan jadi best-seller.

selamat menulis dan semoga happy!

 

cups :*

 

Advertisements

menggambarkan emosi dalam cerita tanpa membuat karaktermu terlalu “sadar diri”

janice hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org. saya mencoba menerjemahkannya untuk teman-teman 🙂

 Image

emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter. 

jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca. 

contoh: 

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.” 

apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. mereka hanya merasakan dan bereaksi. 

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan duduk sebelum terjatuh. keringat menyengat mataku dan aku menyeka wajah dengan bajuku. hampir saja. seandainya saja aku tidak lari barusan… aku bergidik.”

kalimat kedua menunjukkan bagaimana perasaan si narator, apa yang sedang dipikirkannya ketika ketika dia merasakan itu, bagaimana tubuhnya bereaksi tanpa membuat dia terlihat sadar akan hal itu. perasaan itu keluar dari dalam dirinya, bukan ke dalam dirinya. kita tidak perlu menjelaskan bahwa dia baru saja mengalami kejadian-hampir-mati, karena kita telah memberikan cukup petunjuk. jadi, pembaca bisa dengan mudah menduga apa yang terjadi. 

berikut beberapa cara untuk menunjukkan emosi tanpa harus keluar dari karaktermu:

  1. gunakan gejala-gejala fisik yang mungkin dialami oleh tokohmu.

emosi memacu reaksi fisik. ini adalah petunjuk-petunjuk yang bisa digunakan pembaca untuk melihat bagaimana perasaan si karakter; jantung berdebar, jemari terasa membeku dan mati rasa, telapak tangan berkeringat adalah semua pertanda rasa takut (atau mungkin cinta pada kasus-kasus tertentu). gunakan juga reaksi refleks seperti pipi memanas atau terkesiap.

coba gunakan:

mereka tertawa terbahak-bahak dan dia berpaling dengan wajah yang seperti terbakar dan jemari yang terasa sedingin es.

alih-alih:

dia berpaling, wajahnya memerah karena malu.

 

  1. gunakan pikiran atau dialog untuk memperlihatkan emosi

emosi dapat memacu respons mental maupun verbal. kita bisa menulisnya dalam bentuk momen refleksi diri si tokoh (ditulis dengan huruf miring). misalnya, komentar “dasar berengsek” yang diucapkan dengan volume suara pelan dan cepat dapat menimbulkan emosi yang sama dengan mengerutkan kening, dan terasa lebih natural.

coba: dasar berengsek! “permisi, tadi bilang apa?”

daripada: dia mengerutkan kening karena laki-laki itu sangat berengsek.

 

  1. gunakan subteks untuk memperlihatkan emosi yang tidak ingin diperlihatkan

terkadang, apa yang tidak diucapkan oleh karakter malah lebih memperlihatkan apa yang terjadi.  sebuah keadaan mendesak yang berkontradiksi dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan bisa memperlihatkan berlapis-lapis emosi. subteks juga dapat menambahkan konflik dalam sebuah adegan dan membantu menaikkan ketegangan.

 

coba: “tentu saja kau boleh tinggal,” katanya sambil menyobek-nyobek tisu di tangannya menjadi potongan-potongan kecil.

daripada: dia tidak menjawab, walaupun dirinya tahu john ingin dia mengatakan iya.

 

  1. gunakan indra eksternal untuk memperkuat emosi

emosi yang tinggi juga dapat meningkatkan indra, jadi persepsi bisa menjadi lebih kuat. ketakutan bisa menimbulkan kewaspadaan berlebih, dan cinta bisa membuat hal-hal lebih sensual. ketakutan sering kali diperlihatkan dengan bagaimana perut atau tenggorokan bereaksi. tapi bagaimana dengan suara atau aroma? kamu bisa menunjukkannya dengan telinga berdenging, atau sesuatu terdengar jauh dan teredam. aroma juga bisa memicu jenis emosi yang ingin kamu perlihatkan.

coba:

ia tak hanya mendengar suara langkah di belakangnya—bau minyak wangi murah, bir yang sudah basi, dan keputusasaan yang merayap semakin dekat, menambah rasa jerinya. dia mempercepat langkahnya.

alih-alih:

rasa takut membuatnya mempercepat langkah. seseorang mengikutinya.

 

  1. gunakan majas

metafor, simile, dan jenis majas lain bisa efektif untuk memperlihatkan emosi tanpa harus menggunakan kata yang menunjukkan emosi secara spesifik.

cobalah:

dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah gemilang cahaya matahari. 

alih-alih:

dia sangat tampan hingga aku tak bisa memalingkan mataku.

 

setiap karakter akan bereaksi berbeda terhadap emosi yang sama. jadi, kita harus pahami bahwa bagaimana seorang karakter bereaksi bisa menggiring kita untuk bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan. beberapa orang merasakan sesuatu lebih eksternal, menolak menganggapnya sebagai emosi. beberapa lainnya berpikir terlalu banyak dan berusaha untuk menyangkal bahwa dirinya bereaksi terhadap hal-hal tertentu. dan ketika seseorang bereaksi dengan cara tertentu, menyediakan kesempatan bagi karakter lain untuk bereaksi, jadi emosi itu bisa saling dibangun.

jangan hanya mengatakan bagaimana perasaan tokohmu—buatlah pembaca merasakannya juga.

jika kita bisa menangkap emosi, maka kita bisa menangkap pembaca.

 

#tantangannulis offline bandung

Image

hai teman-teman di bandung yang ngebet banget pengin jadi penulis novel tapi bingung mulai dari mana,

ikutan #tantangannulis offline yuk. untuk kelas pertama ini, kita akan belajar cara bikin outline untuk novel.

“hah? nulis novel harus pake outline? aku sih biasanya nulis novel ya nulis aja, ga usah pake outline-outline segala.”

mungkin beberapa dari kamu akan bereaksi seperti itu. ya nggak apa-apa juga, sih. cuma, buat beberapa dari kita yang pelupa, outline itu perlu. kenapa?

1. outline itu blueprint dari cerita kita. ibarat bikin rumah, kita rencanakan dulu seperti apa bentuk rumah itu, mau dibangun berapa lantai, mau dibikin ruangan apa aja, mau ada berapa ruangan, dll dll dll. kan ga lucu kan, kalau tiba-tiba di tengah-tengah pembangunan, rumahmu bingung mau dibikin gimana?

jangan sampai lah pas awal-awal kamu berencana nulis cerita cinta, eh pas di tengah-tengah ada kasus pembunuhannya gitu. kamu jadi kayak nggak tahu gitu mau cerita apaan.

2. outline mencegahmu dari kebuntuan menulis. karena kamu sudah tahu mau dibawa ke mana ceritamu, kamu nggak akan mendadak mentok karena ga kepikiran mau digimanain ceritanya. dengan adanya outline juga kamu bisa menulis bagian mana saja dulu, lalu menjahit dan merapikannya.

3. outline juga mencegahmu menulis cerita dengan banyak plot bolong dan nggak masuk akal. ingat, karya fiksi itu penuh tuntutan. pembaca nggak akan mudah disenangkan, dan mereka cerdas serta kritis. mereka selalu menuntut cerita fiksimu masuk akal. sudah pada nonton the raid 2? ingat betapa kamu terganggu dengan adanya salju di jakarta?

dan lain lain dan lain lain.

nah terus, bikin outline itu seperti apa, sih?

yuk kita ikut kelas #tantangannulis offline yang pertama!

kapan?

sabtu, 12 april 2014 pukul 10.00 – 14.00 wib

di mana?

redaksi gagasmedia bandung

kompleks setra dago. jalan setra dago utama no. 31 antapani bandung.

kalau mau ikutan, caranya gimana?

daftar via email ke erlinberlin@gmail.com dengan subjek #tantangannulis outline sebelum tanggal 10 april 2014 pukul 23.59 wib. di badan email, ceritakan kenapa kami harus memilihmu menjadi peserta. jika kamu sudah punya ide cerita, boleh disertakan juga di emailmu.

saya penginnya sih, semua peserta #tantangannulis ini selesai nulis novel dan diterbitkan. jadi, kalau yang kira-kira nulisnya malas-malasan dan cuma iseng-iseng, nggak usah ikutan. 

sepuluh orang terpilih akan dihubungi oleh @erlinberlin13 dengan rundown, alamat, dan apa saja yang harus kamu bawa pas kita sama-sama belajar nulis tanggal 12 april 2014 nanti.

sampai ketemu!