Writing

menggambarkan emosi dalam cerita tanpa membuat karaktermu terlalu “sadar diri”

janice hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org. saya mencoba menerjemahkannya untuk teman-teman 🙂

 Image

emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter. 

jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca. 

contoh: 

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.” 

apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. mereka hanya merasakan dan bereaksi. 

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan duduk sebelum terjatuh. keringat menyengat mataku dan aku menyeka wajah dengan bajuku. hampir saja. seandainya saja aku tidak lari barusan… aku bergidik.”

kalimat kedua menunjukkan bagaimana perasaan si narator, apa yang sedang dipikirkannya ketika ketika dia merasakan itu, bagaimana tubuhnya bereaksi tanpa membuat dia terlihat sadar akan hal itu. perasaan itu keluar dari dalam dirinya, bukan ke dalam dirinya. kita tidak perlu menjelaskan bahwa dia baru saja mengalami kejadian-hampir-mati, karena kita telah memberikan cukup petunjuk. jadi, pembaca bisa dengan mudah menduga apa yang terjadi. 

berikut beberapa cara untuk menunjukkan emosi tanpa harus keluar dari karaktermu:

  1. gunakan gejala-gejala fisik yang mungkin dialami oleh tokohmu.

emosi memacu reaksi fisik. ini adalah petunjuk-petunjuk yang bisa digunakan pembaca untuk melihat bagaimana perasaan si karakter; jantung berdebar, jemari terasa membeku dan mati rasa, telapak tangan berkeringat adalah semua pertanda rasa takut (atau mungkin cinta pada kasus-kasus tertentu). gunakan juga reaksi refleks seperti pipi memanas atau terkesiap.

coba gunakan:

mereka tertawa terbahak-bahak dan dia berpaling dengan wajah yang seperti terbakar dan jemari yang terasa sedingin es.

alih-alih:

dia berpaling, wajahnya memerah karena malu.

 

  1. gunakan pikiran atau dialog untuk memperlihatkan emosi

emosi dapat memacu respons mental maupun verbal. kita bisa menulisnya dalam bentuk momen refleksi diri si tokoh (ditulis dengan huruf miring). misalnya, komentar “dasar berengsek” yang diucapkan dengan volume suara pelan dan cepat dapat menimbulkan emosi yang sama dengan mengerutkan kening, dan terasa lebih natural.

coba: dasar berengsek! “permisi, tadi bilang apa?”

daripada: dia mengerutkan kening karena laki-laki itu sangat berengsek.

 

  1. gunakan subteks untuk memperlihatkan emosi yang tidak ingin diperlihatkan

terkadang, apa yang tidak diucapkan oleh karakter malah lebih memperlihatkan apa yang terjadi.  sebuah keadaan mendesak yang berkontradiksi dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan bisa memperlihatkan berlapis-lapis emosi. subteks juga dapat menambahkan konflik dalam sebuah adegan dan membantu menaikkan ketegangan.

 

coba: “tentu saja kau boleh tinggal,” katanya sambil menyobek-nyobek tisu di tangannya menjadi potongan-potongan kecil.

daripada: dia tidak menjawab, walaupun dirinya tahu john ingin dia mengatakan iya.

 

  1. gunakan indra eksternal untuk memperkuat emosi

emosi yang tinggi juga dapat meningkatkan indra, jadi persepsi bisa menjadi lebih kuat. ketakutan bisa menimbulkan kewaspadaan berlebih, dan cinta bisa membuat hal-hal lebih sensual. ketakutan sering kali diperlihatkan dengan bagaimana perut atau tenggorokan bereaksi. tapi bagaimana dengan suara atau aroma? kamu bisa menunjukkannya dengan telinga berdenging, atau sesuatu terdengar jauh dan teredam. aroma juga bisa memicu jenis emosi yang ingin kamu perlihatkan.

coba:

ia tak hanya mendengar suara langkah di belakangnya—bau minyak wangi murah, bir yang sudah basi, dan keputusasaan yang merayap semakin dekat, menambah rasa jerinya. dia mempercepat langkahnya.

alih-alih:

rasa takut membuatnya mempercepat langkah. seseorang mengikutinya.

 

  1. gunakan majas

metafor, simile, dan jenis majas lain bisa efektif untuk memperlihatkan emosi tanpa harus menggunakan kata yang menunjukkan emosi secara spesifik.

cobalah:

dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah gemilang cahaya matahari. 

alih-alih:

dia sangat tampan hingga aku tak bisa memalingkan mataku.

 

setiap karakter akan bereaksi berbeda terhadap emosi yang sama. jadi, kita harus pahami bahwa bagaimana seorang karakter bereaksi bisa menggiring kita untuk bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan. beberapa orang merasakan sesuatu lebih eksternal, menolak menganggapnya sebagai emosi. beberapa lainnya berpikir terlalu banyak dan berusaha untuk menyangkal bahwa dirinya bereaksi terhadap hal-hal tertentu. dan ketika seseorang bereaksi dengan cara tertentu, menyediakan kesempatan bagi karakter lain untuk bereaksi, jadi emosi itu bisa saling dibangun.

jangan hanya mengatakan bagaimana perasaan tokohmu—buatlah pembaca merasakannya juga.

jika kita bisa menangkap emosi, maka kita bisa menangkap pembaca.

 

Advertisements

7 thoughts on “menggambarkan emosi dalam cerita tanpa membuat karaktermu terlalu “sadar diri””

  1. Reblogged this on greysanagata and commented:
    Di saat yang tepat aku menemukan postingan ini!

    Aku sedang belajar penulis, seorang pesulap pemula. Tulisanku adalah panggung sulap, hitam dan monoton. Aku menamakan diri si pemuncul kelinci, tapi tak ada seekor kelincipun terlihat di seluruh panggung.

    Tadinya aku bicara panjang lebar dan bergaya di hadapan penonton yang sudah pesimis dengan trik yang kugembar-gemborkan karena nyatanya aku belum mengeluarkan kelinci dari manset tanganku walaupun sudah ada berpuluh-puluh kelinci yang kuucapkan.

    Nah begitu membaca postingan ini, tanpa kusadari kelinci yang dari tadi kusebut-sebut muncul di balik asap di atas tanganku, jadi aku bisa menyakinkan penonton bahwa aku benar-benar pesulap. Aku bisa mengeluarkan kelinci dari udara kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s