ketumbi

 

Tujuh hari yang lalu, aku jatuh ke sebuah sumur di hutan kecil belakang kampus.

Bagaimana aku bisa sampai jatuh, aku akan menceritakannya. Barangkali kau akan menganggap ceritaku tak masuk akal, tapi kau boleh percaya atau tidak… aku mengatakan yang sesungguhnya.

Tujuh hari lalu, seusai kuliah jam terakhir, aku membuka ponselku dan membaca sebuah pesan keji dari kekasihku. Perempuan manis yang kejam itu mendadak ingin berpisah dariku. Alasannya sungguhlah klise dan menyebalkan.

“Sayang, aku ingin berkonsentrasi dengan kuliahku dulu. Rasanya, kita tidak akan bisa sering bertemu. Daripada kamu galau kangen padaku terus menerus, lebih baik kita berpisah saja. Nanti, setelah aku lulus, barulah kamu cari aku lagi. Kita akan berpacaran lagi.” Aku bisa membayangkan bibir merah jambunya yang mungil mengatakan omong kosong itu, tak lupa mata bulan sabitnya menatapku penuh rayuan.

Alasan macam apa itu? Sungguh tidak masuk akal. Memangnya aku bocah SMA yang bisa dengan mudahnya percaya dengan alasan ingin berkonsentrasi pada studi?

Lalu, setelah menerima WhatsApp terkutuk itu, aku pun mengurungkan niatku berjalan ke gerbang kampus dan memutuskan untuk melangkah ke arah sebaliknya. Ke arah hutan belakang kampus. Kupikir, jika aku berada dekat-dekat pohon, hatiku yang panas ini akan dingin oleh rindangnya dedaunan.

Kami menyebutnya hutan. Luasnya sekitar delapan hektar dan ditanami berbagai macam vegetasi untuk penelitian, mengelilingi sebuah bukaan sebesar enam kali lapangan bola. Bukaan itu sering dipakai untuk bumi perkemahan mahasiswa baru, dan jarang sekali ada orang mau datang ke sana kecuali ada hubungannya dengan penelitian, atau bersembunyi. Seperti aku.

Laki-laki macam apa aku ini? Bersembunyi setelah dicampakkan kekasihnya? Bapakku pasti malu jika mendengar anak lelaki satu-satunya bersembunyi ke hutan setelah menerima pesan pendek dari kekasihnya yang meminta putus. Tapi, tanpa kejadian ini pun, bapak sudah malu kepadaku. Banyak hal yang tidak mampu kupersembahkan kepadanya. Alih-alih mengikuti keinginannya untuk kuliah Perminyakan biar aku cepat mendapatkan pekerjaan yang memberikan penghasilan besar, aku malah mendaftar kuliah Ilmu Perpustakaan. Bapak mencibir dan berhenti menanggung pendidikan dan biaya hidupku begitu aku diterima kuliah.

Mau kerja apa, kau? Aku ingat dia berkata. Kalau hanya ingin tahu bagaimana cara menggunakan kemoceng, tak usahlah kau kuliah. Aku tak pernah mendengar siapa pun kaya raya karena kerja di perpustakaan. Perpustakaan hanya tempat buangan buat orang-orang tercampakkan. Siapa yang masih datang ke perpustakaan? Para kutu buku itu hanya menghabiskan waktunya untuk berkhayal.

Tentu saja aku tak bisa menyangkal. Bukan karena aku setuju dengan ucapannya, tetapi karena aku tahu Bapak. Mau sampai berbusa pun mulutmu mencoba menjelaskan, akan percuma jika dia tidak menyediakan ruang untuk pengetahuan baru. Berkuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan adalah satu-satunya pembangkanganku. Dan karena itu, aku dicoret dari daftar anaknya.

Jadi, jika sekarang aku bersembunyi seperti pengecut, aku tidak perlu takut bapakku malu karena aku sudah bukan anaknya lagi. Aku bebas merana dan patah hati. Aku bebas meratap.

Gadis bermuka bulat dengan noda-noda hitam samar bekas jerawat di pipinya itu pertama kali mengganggu hatiku tiga tahun lalu. Kami sama-sama berbaris di tengah bukaan hutan yang dikelilingi tenda-tenda. Senior sedang meneriakkan sesuatu yang tidak penting, dan pada saat itulah seorang gadis terjatuh tak sadarkan diri. Kami semua menoleh ke sumber keributan. Dan di sanalah, berdiri di belakang gadis yang pingsan itu, gadisku bermuka bulat.

Aku melihatnya bergerak dengan slow-motion, berjongkok, mengibaskan poninya yang sudah terlalu panjang dan menghalangi matanya, memegangi kawannya yang pingsan, lalu bola matanya bergerak ke arahku. Ke mataku. Aku menatapnya tak berkedip, mengabadikan momen sepanjang sepuluh detik ini sebelum matanya kembali pada kawannya dan adegan slow-motion ini berubah menjadi hiruk pikuk.

Dia tidak cantik. Kau pun setuju denganku. Namun, ada sesuatu dengan bola mata hitam legamnya dan mata bulan bulan sabitnya yang membuatku tak bisa memalingkan pandangan. Kekagumanku berubah menjadi obsesi begitu perkuliahan dimulai. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah kutu buku yang rakus dan rendah hati. Kebahagiaannya adalah mencium aroma buku, dan laki-laki tercampakkan seperti aku tidak masuk dalam daftar kebahagiaannya.

Namun, aku tidak sepenuhnya lemah. Aku bukan anak bapak lagi. Aku adalah lelaki yang bisa membangkang. Mengapa aku tak bisa mendapatkan sang dewi buku? Tiga tahun aku bergerilya, hingga terang-terangan bersikap seperti pengemis cinta, menurunkan swahargaku[1] begitu rendahnya sampai ke inti bumi, membuat diriku seorang jelata yang tidak memiliki keistimewaan. Demi dia! Gadisku yang kurang ajar.

Belum sebulan hubungan kami, mendadak dia mengirimkan WhatsApp tanpa dosa, mengatakan bahwa ia ingin putus dariku. Konsentrasi dengan kuliah, ha! Bahkan semua orang pun tahu betapa omong kosongnya alasan itu. Dia begitu cerdas hingga dia bisa saja menghabiskan waktu hanya satu semester untuk seratus empat puluh SKS perkuliahan jurusan ini dengan IPK 4. Dia hanya menghabiskan waktunya saja di jurusan ini.

Tiga tahun usaha yang dikalahkan oleh sebaris pesan WhatsApp. Sudah selayaknya aku berjalan gontai seperti prajurit kalah perang. Apa lagi yang bisa kulakukan sehabis ini?

Aku melangkahkan kakiku mengikuti jalan utama kampus dan memasuki jalan setapak ke hutan hingga matahari terus bergeser ke barat dan kulitku tak lagi merasakan terik. Kerongkonganku mulai kering, dan kakiku mulai pegal, tapi aku tidak punya niat apa pun lagi selain terus berjalan. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan sesampainya di sana.

Jangan pertanyakan logika cerita ini dan apakah yang kukatakan masuk akal atau tidak. Aku ini pria patah hati. Barangkali aku hanya berhalusinasi, siapa tahu sejak tadi aku hanya berputar-putar di belakang gedung kuliahku, tidak berjalan sampai ke hutan. Tapi, anggap saja aku memang berjalan ke hutan. Karena itulah yang kupercayai. Kakiku menuju hutan, tidak ke mana-mana. Apalagi ke perempuan paling jahat sedunia itu.

Pada saat aku mempertanyakan kewarasanku sendirilah, aku terperosok ke dalam lubang. Lubang ini berada di jalur setapak, tertutupi oleh daun-daun kering waru yang besar. Seingatku, dahulu tak ada lubang di tengah jalur ini. Buat apa orang menggali lubang di tengah jalan setapak? Sekitar lima menit yang terasa bagai seumur bumi kemudian, bokongku jatuh berdebam di dasar lubang yang dihampari daun-daun kering.

Aku mengelus-elus pantatku yang terasa pedas. Mataku jelalatan meneliti keadaan di dasar lubang. Lubang ini seperti sebuah sumur kering. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi lumut tebal berwarna biru. Entah pengaruh zat apa hingga lumut itu berwarna biru. Cahaya mulai menyembunyikan diri dan pelan-pelan bergulir menjauh dari bibir sumur, dan aku ditelan kegelapan.

Aku menyeru ke bibir sumur, berharap seseorang mendengar teriakan keturunan Yusuf nan rupawan ini, tetapi aku hanya dibalas gema suaraku sendiri. Tanganku mencari-cari sesuatu yang bisa kujadikan pijakan untuk memanjat ke atas dan tidak menemukan apa pun kecuali lumut biru dingin yang bertekstur lembut seperti kue bolu.

Kampret! seruku.

Seekor kampret langsung melintas di atas langit malam yang mulai diterangi temaram sinar rembulan. Aku terbahak-bahak. Kebetulan macam apa itu, seekor kampret tiba-tiba melintas saat kupanggil? Bodoh sekali.

Bodoh sekali. Kenapa sejak tadi tak terlintas di pikiranku untuk mengeluarkan telepon genggam dan meminta bantuan seseorang? Kurasa patah hati bisa menurunkan IQ-mu hingga rendah sekali. Buru-buru, kuambil ponsel dan langsung mengumpat serta meninju dinding dengan kesal ketika melihat bar sinyal hanya berupa x berwarna merah.

Tinjuku yang tak seberapa kuat itu menggoyangkan batu bata hingga terlepas satu ke arah sebaliknya. Cahaya lemah menyeruak menyinari dasar lubang. Ini membuatku penasaran, dan aku sudah tidak lagi memikirkan mantan kekasihku yang tidak berperasaan itu.

Aku mengintip lewat lubang sebesar batu bata itu.

Kalian boleh menebak apa yang kulihat di sana.

Ayo tebak….

Bukan, rongga itu bukan lemari tempat penyimpanan emas. Kau salah besar.

RONGGA ITU RUANGAN BESAR PENUH EMAS PERMATA!

Aku berseru kesetanan. “Kaya raya! Aku akan kaya raya! Dan bapak juga gadis kurang ajar itu tidak bisa lagi meremehkanku. Aku akan menjadi raja di tempat ini dan semua orang akan tunduk pada perintahku!” Aku kembali tertawa terbahak.

Kali ini aku meninju dinding sumur dengan sekuat tenaga. Batu bata rapuh langsung berjatuhan, memperbesar lubang di dinding. Pemandangan yang kulihat semakin menarik saja. Ini seperti gua harta karun naga Smaug. Aku terkikik. Bedanya, aku yakin di tempat ini tidak ada naga. Para kurcaci itu sungguh malang. Mereka menghabiskan sebuah buku tebal dan tiga film dengan durasi panjang hingga bisa sampai ke istana harta karun Smaug. Sementara aku, hanya tinggal patah hati dan jatuh ke dalam lubang. Seperti Alice in Wonderland yang sangat beruntung.

Aku melempar ranselku terlebih dulu dan bergerak melata ke ruangan di seberang. Semakin masuk ruangan itu, semakin silau mataku. Hampir seluruh ruangan itu ditutupi oleh benda berkilauan. Ukurannya hanya sebesar kamarku, tetapi emas menggunung di sana. Koin-koin emas berjatuhan dari atap yang tidak terlalu tinggi, hingga membuat ruangan itu semakin rendah.

Saat seluruh tubuhku berhasil masuk, kulempar laptopku keluar ransel dan menggantinya dengan emas permata.

Aku tertawa puas.

Ranselku kini berat dengan logam mulia. Siapa bilang orang sepertiku tidak bisa tamak? Siapa pun bisa menjadi tamak ketika dihadapkan dengan seruangan penuh emas.

Sekarang, bagaimana caranya kembali ke peradaban?

Aku harus menemukan pintu. Kuketuk-ketuk dinding-dindingnya yang berlapis emas, berusaha menemukan sisi yang bisa didorong. Kudobrak setiap sisinya dengan lenganku, dan pada percobaan kesekian, tubuhku terlempar keluar.

Aku keluar dari sebuah pintu dan terjatuh di depan ranjang yang sangat kukenali. Ranjang di kamar kosku. Kupastikan aku masih membawa ransel berisi emas permata itu dan segera membukanya. Benda-benda berkilauan itu masih terdiam manis di dalamnya, dan aku tertawa lagi.

Ini benar-benar mukjizat. Aku tidak memercayai keberuntunganku. Kuambil permata paling indah dan cemerlang dari ranselku, memasukkannya ke dalam kotak, lalu menyembunyikan ranselku di dalam lemari terkunci. Aku harus menemui perempuan itu. Akan kuberikan permata terindah ini agar ia menyesal telah mencampakkan pemuda setampan dan sekaya aku. Setelah itu, aku akan mencampakkannya juga. Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun yang kuinginkan dengan semua permata yang kumiliki.

Langkahku lebar dan percaya diri ketika mendatangi rumah kos mantan kekasihku. Dia berada di kamarnya dan sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kaku dengan khusyuk. Gadis itu tampak kaget melihatku, tetapi dia segera menguasai diri setelah kelihatan berpikir bahwa wajar saja aku mendatanginya. Pasti aku ingin meminta kejelasan darinya.

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, aku memberikan kotak berisi permata sebesar bogem itu kepadanya.

Matanya membelalak ketika menerima kotak itu dariku. Namun, ekspresinya tak seperti yang kuinginkan waktu ia membuka kotaknya. Ia menjerit histeris dan melempar kembali hadiahku ke mukaku. Mulutnya yang merah jambu dan mungil itu menceracaukan semua makian kotor yang tidak layak keluar dari mulutnya yang manis.

“Kau jauh lebih hina daripada ketumbi[2] tahi ayam!” serunya, tanpa aku mengerti apa itu ketumbi.

Aku tidak peduli. Permataku masih banyak. Aku bisa melakukan banyak hal dengan permata-permata itu.

Pertama-tama, aku akan mendatangi induk semangku dan membayar kamar kosanku yang sudah menunggak dua bulan dengan sebongkah emas batangan. Kalau bisa, kubeli sekalian rumah kos-kosannya.

Namun, reaksi ibu kosku tidak jauh beda dari mantan kekasihku.

Begitu pun ketika aku pulang dan ingin memamerkan kekayaanku yang baru ini kepada Bapak.

Reaksi Bapak jauh lebih buruk dari mantan kekasih dan ibu kosku. Dia mengacung-acungkan golok sambil berteriak: Dasar anak tak tahu diuntung. Kenapa kau memberiku tahi? Anak kurang ajar!, kemudian terjatuh pingsan karena serangan jantung.

Terakhir, ketika aku mencoba membayar laptop baru dengan sebongkah emas. Mereka malah memanggil satpam.

Sekarang, tidak ada lagi yang mau berbicara kepadaku.

 

Antapani, 16 Mei 2014

 

*ditulis dalam rangka #tantangannulis satu jam dan bermain-main dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia bersama Nico Rosady, Erlin Natawiria, dan Andi @SuaraSuaraHujan

 

[1] Swaharga a rasa harga diri (kbbi)

[2] Ke.tum.bi n tahi yg penghabisan; — tahi ayam, ki orang yang sangat hina (kbbi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s