Writing

[menulis] dialog

beberapa hari ini dapat email dari creative-writing-now yang menawarkan kelas menulis dialog yang asyik. terus, jadi nyari-nyari, gimana sih, dialog yang bagus itu? berapa banyak porsi dialog dalam novel? gimana menulis dialog yang efektif? dll dll.

dari pengalamanku membaca banyak novel (dan buku-buku panduan menulis), jadi tahu kalau fungsi dialog antara lain adalah untuk menciptakan suara masing-masing karakter, untuk memperlihatkan perkembangan dan kedalaman sifat si tokoh, memajukan cerita (mempercepat pace, terutama), menciptakan ketegangan, juga memperlihatkan emosi, sikap, dan tujuan/keinginan karakter.

jadi, dialog bukan sekadar chit-chats antartokoh.

kalau enggak ada dialog, novel kamu bisa jadi membosankan karena terlalu banyak narasi. tapiii, kalau kebanyakan dialog pun, novel kamu jadi berasa kayak naskah drama. naskah drama yang kacau pula! jadi, kita harus pintar-pintar membagi porsi antara narasi (dan deskripsi), adegan (aksi), dan dialog.

ini tip menyeimbangkan porsi narasi, adegan, dan dialog menurut gloria kempton di writerdigest.com

tanya dirimu sendiri:

  • apakah ceritamu bergerak terlalu pelan dan perlu dipercepat? (gunakan dialog)

  • apakah ini waktunya memberi pembaca latar belakang karakter agar mereka merasa lebih simpati kepada karakter-karakternya? (gunakan narasi, dialog, atau gabungan keduanya)

  • apakah kamu terlalu banyak menulis dialog? (gunakan adegan atau narasi)

  • apakah karaktermu terus-menerus memberi tahu karakter lain tentang hal-hal yang seharusnya hanya ada di kepala mereka? (gunakan narasi)

  • sebaliknya, apakah karaktermu selalu berada di kepalanya (melamun, berpikir, membuat dialog imajiner yang nggak perlu) ketika percakapan akan membuat ceritanya lebih efektif dan nyata? (gunakan dialog)

  • apakah karaktermu memberikan terlalu banyak detail tentang latar belakang karaktermu ketika mengobrol? (gunakan narasi)

***

Writing dialogue isn’t about replicating real-life conversations. It’s about giving an impression of them… and also of improving them.

kata monica wood di buku “the pocket muse”, ketika menulis dialog, hilangkan sapaan-sapaan karena kalimat sapaan biasanya nggak memajukan cerita ataupun memperlihatkan kedalaman karakter.

dialog dari penulis kurang berpengalaman sering kali seperti ini:

“Halo.”

“Mira, kamukah itu?”

“Ya, ini aku.”

“Ada apa?”

“Si Empus pipis di sofa lagi.”

dan bla bla bla… hingga membekukan momentum. ketika membuat adegan telepon berdering, tulislah langsung ke poin utamanya, karena pembaca pun tahu apa yang lazim dikatakan orang ketika mengangkat telepon.

Ronny mengangkat telepon dan mendengar suara Mira mencerocos kesal di ujung sana. “Aku udah nggak bisa ngurus dia lagi. Kamu buruan ke sini jemput dia.”

“Aku masih ujian, Mir. Nggak ada yang bisa ngurus dia di sini. Tolonglah, dua hari lagi.” Ronny mengiba.

“Pokoknya, kalau kamu nggak dateng hari ini, aku tinggalkan Empus di luar rumah,” ancam Mira.

nah, untuk menutup percakapan ini, alih-alih menggunakan sapaan lagi, gunakan aksi.

Ronny dan Mira berdebat sampai lima menit berikutnya, memutuskan siapa yang akan mengurus empus selama dua hari ke depan. Hingga akhirnya, Ronny menutup telepon, mengambil kunci mobil, dan menyetir ke rumah Mira.

 

***

untuk membuat dialog terasa nyata, coba ucapkan dialog yang sudah kamu buat dengan suara keras. jika terdengar kaku dan terlalu panjang, cobalah ubah kalimatnya.

dialog boleh menggunakan kata yang tidak baku (tapi jangan banyak-banyak juga, sih. usahakan buat dialog tetap asyik meski dengan kata-kata baku). dialog juga boleh menggunakan struktur kalimat bahasa daerah (jika cerita berlangsung di daerah tertentu atau kamu sedang berusaha menunjukkan kalau karakter A berasal dari daerah tertentu), dan menggunakan beberapa kosakata bahasa daerah/bahasa asing.

  1. Dialogue is set apart or identified with quotation marks. Words spoken.”
  2. Words spoken by a character in a story do not have to be in complete sentences
  3. People in conversations do not always speak in complete sentences or use proper grammar
  4. In a story, make sure your dialogue sounds like what a person would say in conversation.

(Terry W. Ervin II di http://www.fictionfactor.com)

***

penulisan dialog

meski sebagian besar dari kalian sudah tahu, enggak ada salahnya kalau dibahas, ya. soalnya, sering kali saya suka dapat naskah dan penulisan dialognya bermasalah. kan enak kalau editor nggak perlu mengganti semua titik di kalimat langsung jadi koma.

contohnya gini:

SALAH: “Aku tidak tahu harus gimana.” Katanya bingung.  | BENAR: “Aku tidak tahu harus gimana,” katanya bingung.  (gunakan koma sebelum tanda kutip jika kamu mau menambahkan keterangan).

SALAH: “Apa maksudmu?” Tanyanya. | BENAR: “Apa maksudmu?” tanyanya. (setelah tanda tanya, tanda seru dalam kalimat langsung, pakai huruf kecil).

SALAH BANGET: “Aku benci kamu!”. (setelah tanda seru atau tanda tanya nggak usah pakai titik lagi, karena mereka udah menutup kalimat).

terima kasih dan selamat menulis 🙂

love,

jia

bacaan tambahan:

How to Balance Action, Narrative and Dialogue in Your Novel

http://www.novel-writing-help.com/writing-dialogue.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://bubblecow.net/how-to-write-effective-dialogue-in-your-novel/

 

Advertisements

7 thoughts on “[menulis] dialog”

  1. Bermanfaat banget, Kak. Soalnya aku sering mati gaya kalau nulis percakapan di telepon. Dengan membaca tulisan ini, aku jadi tahu cara memperbaikinya 🙂
    Oya, mohon maaf lahir dan bathin ya, Kak. Selamat berpuasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s