[menulis] suara dalam novel

Seorang penulis berencana untuk membuat novel dengan dua narator dari sudut pandang orang pertama dan bertanya: “Mbak, kalau POV beberapa orang pertama, tokoh A pakai kata “gue-lo” sedangkan tokoh B pakai “aku-kamu” bisakah?”

Jawaban saya? Tentu bisa!

Namun, menulis dengan dua pov orang pertama tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang dinamakan “suara” atau “voice”. Sederhananya, “suara” adalah sesuatu yang membedakan tokoh satu dengan tokoh lainnya. Sesuatu yang membedakan pengarang satu dengan pengarang lain. Kita akan segera mengenali tulisan seseorang ketika sang pengarang memiliki “suara” yang khas. “Suara” adalah sebuah kepribadian.

Kita bisa saja menulis tokoh A yang bernarasi dengan “lo-gue”, tetapi jika pembaca tidak bisa membedakan si tokoh A dengan tokoh B, apa gunanya? Ketika menggunakan POV 1 dengan beberapa narator, kita harus memasukkan kepribadian si narator ke dalam cerita (bagaimana cara dia berpikir, bagaimana dia memilih kata, gestur apa yang sering dia gunakan, dari kelas mana dia berasal, apakah dia perempuan atau laki-laki, berapa usianya, kehidupan seperti apa yang dijalaninya, dll, dll). Sama halnya dalam hidup, setiap orang akan bereaksi berbeda terhadap satu hal, begitu pun tokoh-tokoh dalam cerita kita. Suara akan membuat mereka hidup dan lebih mudah dimengerti. Contohnya di twitter, deh, setiap orang memiliki suara berbeda-beda, jadi ketika dia membuat alter-ego tapi nggak mengubah suaranya, kita akan dengan mudah mengenali ini alter-ego dari akun mana. Iya, kan?

Jadi, nggak semudah itu membuat novel dengan beberapa sudut pandang orang pertama. Maka, biasanya, saya akan menyarankan para penulis yang sedang menulis novel pertamanya untuk menggunakan POV 3, karena paling mudah. Menurut saya, novel dengan narator beberapa orang pertama itu sulit, karena sering kali kita terjebak dan lupa, menggunakan suara tokoh B di bagian tokoh A, misalnya.  Nah, daripada berkutat lama dengan suara-suara itu, lebih baik gunakan suara penulisnya saja dahulu. Untuk novel pertama, itu tidak apa-apa. Kita bisa bereksplorasi di tulisan berikutnya, karena kita harus selalu berkembang, kan? Nggak mau, kan, dibilang setelah novel kelima, keenam, ketujuh, kok gitu-gitu aja.

Jika kamu yakin bisa menulis dengan dua suara (atau lebih), pastikan kamu benar-benar mengenal tokoh-tokohmu. Kamu bisa membuat catatan dari kedua karakter ini sebagai panduan biar nggak tersesat.

Selamat menulis 🙂

bacaan tambahan:

Advertisements

Saya, #Twitter, dan Lelaki Seberang Pulau

I don’t write much about him, but when i do, i post it in Cosmopolitan magazine.

2014-09-17 10.44.38

Sebelum benar-benar bertemu, kami sudah saling mengenal melalui media sosial. Kami terhubung oleh sebuah cerita pendek yang saya tulis di Facebook sebagai hadiah ulang tahun sahabat saya. Di tahun 2009-an, kado berupa cerita pendek memang sedang booming di kelompok kecil kami. Dia membacanya dan dia mengaku dia jatuh cinta kepada tulisan saya.

Waktu itu, saya belum mengetahuinya. Yang pasti, kami mulai berinteraksi di Twitter, saling mention dan saling menggombali dengan tagar #anjinggombal. Saat itu memang musimnya menggombal. Tidak serius, tentu saja. Tagar itu dibuat untuk mengasah kreativitas menyusun kata, bukan untuk mencari pacar. Walaupun, ada yang membawanya terlalu serius, hingga istri seorang teman kami menyuruhnya berhenti main Twitter.

Dia tidak pernah masuk dalam radar pencarian pasangan hidup saya, sementara buat dia pada saat itu, saya “terlalu tinggi”. Bagaimana bisa seorang penggemar di seberang pulau bisa mendekati idolanya di antara gemintang?

Saya tidak pernah merasa menjadi penulis terkenal atau penulis yang baik. Saya menulis justru karena kekurangan-kekurangan saya sebagai manusia. Hal-hal yang terkadang ingin saya lenyapkan dari diri saya, karena saya tidak pernah menjadi cukup baik sebagai manusia. Namun, ternyata, nun jauh di sana, ada seseorang yang menganggap itu sebagai keistimewaan. Ada seseorang yang tersentuh oleh omong kosong yang saya tulis dan mengembangkan kecintaannya pada tulisan saya, menjadi sesuatu yang lebih jauh.

Dia mengaku kalau dia menghindari mencari tahu soal pribadi sang idola karena itu akan merusak imajinasinya tentang sang idola. Saya setuju dengannya. Dahulu, saya memiliki beberapa penulis idola dan menjadi kecewa ketika mengetahui pribadi sang penulis tidak sekeren tulisannya. Tentu saja, karya dan pribadi adalah hal yang berbeda. Tetapi, dia berkata, ketika idolanya itu saya, dia mencari tahu. Dia memperhatikan. Dia mencatat. Dia memupuk kekagumannya.

Namun, saya berada di jalan setapak yang lain, dan dia jauh dari pandangan saya. Saya bertemu orang lain di Twitter. Seseorang yang memenuhi lini masa Twitter saya dengan puisi. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya teman-teman kami mengenali kami berdua sebagai sepasang kekasih. Too obvious. Balas-berbalas puisi itu terlalu sering, dan terkadang, dua orang kasmaran ini tidak bisa menahan diri.

Beberapa orang di Twitter menikmatinya sebagai hiburan. Seorang penyanyi terkenal yang mengikuti kami bahkan berkata bahwa kami adalah pasangan favoritnya di Twitter. Namun, lelaki di seberang pulau, melihatnya sebagai Public Display Affection yang membuat iritasi mata. Twitter tidak lagi menjadi tempat bermain yang mengasyikkan baginya.

Lelaki di seberang pulau menghilang, dan saya tidak menyadarinya. Saya masih asyik dengan kekasih saya yang romantis itu.

Hubungan saya dan lelaki romantis kandas secepat kami membangunnya. Hubungan jarak jauh yang hanya dibangun oleh kata-kata indah di media sosial ibarat istana pasir di tepi pantai berombak. Indah, megah, tapi mudah runtuh. Kemudian, harapan yang tadinya membubung tinggi pun jatuh tanpa ampun, meninggalkan saya berkubang dalam kesedihan dan amarah.

Saya menghapus akun Twitter dengan sejumlah pertanyaan dari para teman dan followers. Saya ingin melarikan diri dan sembunyi. Lebih sulit melupakan hubungan yang diketahui dan dipantau banyak orang. Beberapa bulan setelah kami putus, masih banyak orang yang tidak saya kenal tiba-tiba menyapa saya dengan nyonya lelaki romantis. Sungguh menyakitkan dan memalukan.

Demi menghalau perasaan nyeri itu, saya menulis lebih banyak puisi dan mengirimnya ke berbagai media. Beberapa dimuat, lebih banyak lagi hanya tersimpan di akun Posterous yang kini sudah tiada. Bahkan, saya membacakan puisi-puisi itu di SoundCloud dan menularkan kesedihan saya kepada semua orang.

***

Setahun kemudian, saya menghadiri acara gathering gerakan di Twitter yang bernama 30 hari menulis surat cinta. Ratusan peserta menulis surat cinta selama tiga puluh hari, berdasarkan tema yang diberikan oleh para admin yang disebut tukang pos.

Lelaki seberang pulau adalah salah satu tukang pos. Saya datang terlambat karena sebelumnya harus mengisi sebuah acara sharing menulis. Karena saya tidak mendaftar, saya celingak-celinguk di meja pendaftaran, mencari seseorang yang saya kenal.

Dia yang pertama mengenali saya, meski kami tak pernah bertemu sebelumnya. Lelaki seberang pulau menyambut saya dengan senyum yang sangat lebar dan mengajak saya masuk tanpa melepas genggamannya dari tangan saya. Kami mengobrol sebentar, lalu dia pamit untuk mengurus sesuatu. Setelah itu, hingga acara selesai, dia tidak pernah jauh dari sisi saya.

Pada saat itulah, dia berkata kepada saya kemudian, ketika dia menyadari bahwa dia jatuh cinta kepada saya, bukan sekadar kekaguman seorang penggemar kepada idolanya. Bahkan, salah satu alasan dia datang ke acara itu adalah untuk memastikan perasaannya yang sebenarnya kepada saya. Untuk meyakinkan dirinya sendiri. Pada saat itu juga, telah ditorehkan sebuah janji di benaknya: ‘saya akan membuat perempuan ini bahagia.’

Tidak pernah sedetik pun dia mengingkari janji tersebut.

***

Dia menyeberang pulang selepas acara tersebut. Namun, perpisahan itu adalah awal sebuah pertemuan. Kami mulai intens berkomunikasi via Whatsapp dan sama-sama merencanakan untuk pindah ke Bandung. Saya sudah jenuh dengan kemacetan Jakarta dan kepenatan yang menyertainya. Dengan gagah berani, saya melepaskan posisi saya sebagai managing editor sebuah penerbitan dan memilih untuk menjadi penulis dan penerjemah freelance. Lagi pula, saya butuh suasana baru untuk melupakan kegagalan hubungan asmara saya sebelumnya.

Kami bertemu lagi tiga bulan kemudian, dan rencana pindah ke Bandung semakin tak terelakkan lagi. Saya mulai nyaman berada di dekatnya, meski saya tidak berniat untuk menjadi kekasihnya. Saat itu, saya sedang giat-giatnya berpikir bahwa saya tidak perlu menikah untuk bahagia. Sementara, dia pun seseorang yang tidak ingin menikah seumur hidupnya. Kami bisa berteman, saling memedulikan dan saling menyayangi, tetapi pernikahan bukanlah tujuan utama kami. Kami asyik-asyik saja seperti ini.

Namun, semua pemikiran itu menjadi omong kosong ketika kami sama-sama pindah ke Bandung, dan untuk kali pertama, saya tak lagi menjalani hubungan jarak jauh. Untuk kali pertama, saya menjalani sebuah hubungan normal! Memang, kami masih membutuhkan media sosial untuk berkomunikasi. Namun, bertemu langsung dan bertatap muka membuat kami lebih cepat saling mengenal, dan kami tidak membutuhkan Twitter untuk mengekspresikan perasaan cinta. Saya belajar dari pengalaman. PDA di media sosial itu sungguh mengganggu, meski sebenarnya kami juga selalu ingin memamerkan kebahagiaan kami.

Saya tidak pernah bertemu siapa pun yang memuja saya sebesar dirinya. Bahkan, ketika dia mengenal saya lebih dalam dan mengetahui sifat-sifat buruk yang tidak bisa diterima sebagian besar orang, dia tetap mencintai saya.

Dia adalah anugerah yang dikirim Tuhan ketika saya berada di titik terendah, dan menggamit tangan saya mengajak saya bangkit. Dia adalah lelaki yang tidak mudah menyerah, meski harus menunggu bertahun-tahun hingga saya sekadar meliriknya. Namun, semua itu tidak sia-sia karena saya juga mencintainya.

Saya tidak menyesali semua luka yang pernah saya alami sebelum saya bertemu dengannya, karena itu menguatkan saya dan menjadikan saya manusia yang lebih baik. Semua kesalahan yang saya lakukan di masa lalu, menjadi pelajaran agar saya tidak melakukannya lagi. Dan kini, saya yakin, saya telah memberikan diri saya yang terbaik, untuk sang lelaki seberang pulau, suami saya.

Cosmopolitan Edisi Khusus Ulang Tahun, September 2014