8 Hal yang Sebaiknya Kaulakukan Sebelum Mengirim Naskah Novelmu ke Penerbit

Ingat, kalau kata Hemingway, the first draft of anything is shit. Jadi, jangan langsung kirim naskah ke penerbit begitu kamu selesai menulis. Pastikan naskah yang kamu setorkan sudah bersih. Bersih dari apa saja, sih? Salah ketik, logika bolong, karakter datar, deskripsi membosankan, dll dll. Kan sayang, sudah capai-capai menulis, tapi enggak ada satu pun penerbit yang mau mengadopsi naskahmu.

images-2

Jadi, ritual apa, sih yang harus dilakukan sebelum mengirim naskah ke penerbit? Yang pasti, tidak perlu gosok-gosok batu akik dulu biar dibantu jin di dalamnya.

  1. Peram naskahmu

Ketika kamu mengetik huruf terakhir dari karya masterpiece-mu, peram selama beberapa hari. Jika kamu “tahan” berpisah darinya, simpan selama seminggu atau lebih. Setiap hari menulis dan bergelut dengan karakter dan semua hal dalam naskahmu membuat kamu tidak berjarak dengannya, sehingga kamu tidak bisa melihat kesalahan-kesalahan kecil yang ada di dalamnya.

Memeram naskah juga membuatmu melupakan semua yang telah kautulis, jadi ketika kamu melakukan swasunting, buku itu menjadi seolah-olah ditulis oleh orang lain.

  1. Cetak naskahmu atau bacakan keras-keras

Sering kali, membaca di atas kertas membuatmu lebih teliti ketimbang menatap layar komputer. Bagi sebagian lainnya, mendengarkan teks keras-keras membuat kesalahan itu terasa.

Membacakan teks keras-keras bisa kamu lakukan jika kamu cukup sabar dan punya persediaan segalon air.

  1. Cari kata-kata yang sering bermasalah

Banyak penulis yang salah kaprah menuliskan kata bahasa Indonesia, atau tidak bisa membedakan di- sebagai preposisi dan di- sebagai imbuhan, atau tidak bisa memberikan imbuhan yang tepat untuk sebuah kata.

Di bawah ini, saya tuliskan kata-kata yang sering kali salah.

Benar/baku Salah/tidak baku
andal handal
adang hadang
analisis analisa
aktif aktiv
aktivitas aktifitas
antre antri
apotek apotik
apalagi apa lagi
astronaut astronot
batin bathin
beledu beludru
berengsek brengsek
beterbangan berterbangan
cedera cidera
cengkeram cengkram
cicip icip
daripada dari pada
di mana dimana
di sana disana
ekstrem ekstrim
energi enerji
familier familiar
frustrasi frustasi
hafal hapal
hipotesis hipotesa
imbau himbau
ingar hingar
impit himpit
izin ijin
jerembap jerembab
jadwal jadual
kacamata kaca mata
kantong kantung
ke mana kemana
kemari ke mari
khusyuk khusyu’
kreativitas kreatifitas
kuitansi kwitansi
lembap lembab
makhluk mahluk
menyontek (kata dasar sontek) mencontek
menerjemahkan menterjemahkan
memperhatikan memerhatikan
miliar milyar
nomor nomer
objek obyek
orisinal orisinil
paham faham
peduli perduli
personel personil
rapi rapih
risi risih
resek rese
respons respon
risiko resiko
serdawa sendawa
saksama seksama
sekadar sekedar
saraf syaraf
semringah sumringah
sopir supir
sirop sirup
sutra sutera
tampak nampak
telantar terlantar
telanjur terlanjur
telentang terlentang
tenteram tentram
ubah rubah
… dan masiiih banyak lagi

Lengkapnya, belilah buku EYD (Ejaan yang Disempurnakan), biasanya ada di rak-rak bahasa di rantai toko buku terbesar di Indonesia itu. Jika kamu belum punya EYD, Tesaurus, atau KBBI Edisi IV, tapi ada koneksi internet, kamu bisa mencarinya secara daring di laman KBBI atau kateglo. Jika tidak ada koneksi internet dan kamu tidak yakin apakah kata yang kamu tulis sudah benar, gunakan kata yang lain.

  1. Hapus atau ganti kata yang seriiing sekali kamu gunakan

Apa kamu tahu 10 kata yang paling sering kamu gunakan dalam naskahmu? (ini minus preposisi dan kata-kata penting lain). Kamu mungkin terkejut melihat kata yang sering sekali kamu gunakan. Inilah pentingnya memiliki KBBI dan Tesaurus. Kata yang terlalu sering muncul itu bisa kamu ganti dengan sinonimnya.

  1. Hapus semua spasi ganda

Seperti   ini, contohnya.

Ganggu, kan?

Jika kamu menggunakan Microsoft Word dan kesulitan (baca: malas) mencari satu-satu, gunakan find-and-replace. Ketik dua kali spasi di “find”, dan satu spasi di “replace”, lalu tekan enter. Ini biar kamu enggak usah menghapus spasinya satu per satu.

  1. Cari tanda baca bermasalah

Saya sering menemukan kalimat yang panjaaaaang sekali, dan dipisahkan dengan koma-koma-koma sampai saya koma membacanya. Padahal, kalimat tersebut sudah tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya, kamu memenggal kalimat-kalimat panjang itu. Ganti koma dengan titik.

Selain itu, hindari menggunakan terlalu banyak tanda seru. Kalimatmu tidak perlu dikasih pagar banyak-banyak.

  1. Format naskahmu sesuai persyaratan dari penerbit.
  • Kirim naskahmu dalam format Word (.doc atau .docx, jangan .rtf)
  • Ketik satu kali spasi setelah titik.
  • Gunakan font Times New Roman, 12, hitam. Dan jangan. Jangan-jangan-jangan pakai font Comic Sans apalagi font aneh-aneh lainnya.
  • Untuk memudahkan layouter/setter/penata letak, jangan membuat paragraf baru dengan menggunakan tombol “tab”. Lebih baik, gunakan penggaris di menu Word. Di ruler itu kan ada segitiga terbalik, tuh, geser bagian atasnya hingga membentuk paragraf baru. Atau, pilih semua teks (Ctrl+A), format paragraf menggantung dengan menggunakan Format > Paragraph. Di bawah “Indentation” dan “Left”, ketik .5. Di bawah “Special”, pilih “First line”
  • Gunakan page breaks di antara bab. Tempatkan kursor di bagian akhir bab, lalu klik “Insert > Break > Page Break”
  1. Jangan mengedit berlebihan

Kenapa? Segala yang berlebihan itu enggak baik kan, ya? Mengedit berlebihan malah membuat novelmu terlalu “diatur” dan terasa kaku.

Advertisements

4 thoughts on “8 Hal yang Sebaiknya Kaulakukan Sebelum Mengirim Naskah Novelmu ke Penerbit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s