menulis review novel

menyambung tulisan sebelumnya soal review buku, jadi kepikiran nulis tip, apa aja yang sebaiknya ditulis. soalnya, ada (banyak) reviewer yang menulis tinjauan buku, tapi isinya cuma quotes atau kutipan dari buku itu. errrr. eh, emang enggak boleh, ya nulis kutipan buku? boleh aja, sih. cuma, jangan sampai mendominasi review bukumu.

waktu saya kerja di penerbitan dulu, reviewer kayak gini nih paling malesin. udah mah reviewnya enggak membantu calon pembaca buat tahu kelebihan dan kekurangan buku itu, terus, suka belagu dengan colek-colek editor minta gratisan.

paling tidak, poin-poin ini yang sebaiknya ada dalam review novel yang kamu tulis:

  1. sinopsis

sinopsis ini berbeda dengan sinopsis yang dikirim penulis ke penerbit untuk menyertai naskahnya. isinya, garis besar cerita. singkat aja, jangan sampai menyebutkan spoiler. jangan terlalu mendetail.

2. hal-hal yang kamu sukai dalam novel itu

fokus pada apa yang kamu pikirkan atau rasakan ketika membaca buku. kamu bisa mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

siapa tokoh favoritmu? kenapa?

apakah tokohnya terasa nyata?

apakah ceritanya membuat kamu bertanya-tanya?

bagian mana favoritmu? kenapa?

adakah adegan-adegan yang ditulis bagus banget?

apakah buku itu membuatmu tertawa atau menangis? atau geram?

apakah buku itu bikin kamu enggak bisa ngapa-ngapain karena penginnya baca terus?

3. hal-hal yang tidak kamu sukai

4. menutup reviewnya, misalnya dengan menyarankan siapa saja yang sebaiknya membaca buku ini.

Advertisements

tentang menulis review

kalau kamu penulis dan sering ngecek rating dan review di goodreads, pasti udah paham banget, ya, gimana perilaku (sebagian) reviewer di sana. alih-alih memberikan review membangun, banyak dari mereka yang mencela penulisnya.

lho, kok penulisnya yang dicela? yang harusnya dibahas kan bukunya?

jangan salah, bukan hanya penulisnya kok yang dicela, kadang editor sama layouternya juga kena. dibilangin magabut, lah, atau ngelayout sambil tutup mata, lah. kayaknya, kalau kepikiran, mereka juga bakal nyela orang keuangan penerbitnya, direkturnya, salesnya, marketingnya, dan semua yang terlibat di dalamnya.

kasihan, mungkin mereka kurang piknik. atau, waktu kuliah enggak ngambil matakuliah penulisan artikel dan resensi buku (lo pikir semua orang kuliah di tempat yang sama kayak elo? *inner-self marahin diri sendiri*)

sebagai penulis yang butuh masukan, kalau review jahat itu enggak sengaja terbaca, boleh bete sebentar aja, tapi abis itu lupakan. anggap aja kerikil kecil yang menghalangi perjalanan.

kalau kamu termasuk dalam kelompok reviewer yang kalau nulis review out of context, ini waktunya introspeksi diri. atau mulai piknik. atau, sederhana aja, jangan baca atau beli buku yang bakal bikin kamu marah-marah di goodreads. hey, baca buku yang enggak kamu suka itu capek, marah-marah bikin kamu lebih capek lagi. rugi marah-marah begitu, apalagi pas penulisnya dapat royalti dan banyak banget royaltinya. mereka tinggal kipas-kipas uang sambil menjulurkan lidah ke kamu. nih, hasil jerih payahku yang mau kamu lempar ke bantar gebang.

padahal, ya, kalau nulis review dengan baik, banyak keuntungan yang kamu dapat. penerbit bakal memperhatikan kamu, terus mulai mengirimi buku baru setiap kali terbit, buat direview. terus, kamu mulai kenal editor-editornya. kalau kamu berniat masuk dunia penerbitan, ini salah satu cara jitu buat memulainya.

sebelum jadi editor, saya adalah pustakawan di sctv. karena sering enggak ada kerjaan, saya nulis review di multiply dan buletin internal kantor. di multiply, saya berteman dengan editor-editor dan penerjemah biar sekalian belajar soal penerbitan. tahun 2009, penerbit atria buka lowongan jadi editor, saya melamar dan diterima. sejak saat itulah saya menjalani pekerjaan impian.

***

melihat fenomena review semena-mena ini, teman saya nadya punya ide buat bikin klub buku yang positif. anggotanya (yang boleh siapa aja), diharapkan bisa menulis review membangun. enggak, bukan berarti semua buku dipuja-puji, ya, tapi kritis. kalau ada kelemahannya ya diungkapkan, tapi dengan cara yang benar, bukan mencela.

buku yang dibahas di pertemuan pertama klabaku

buku yang dibahas di pertemuan pertama klabaku

nama klub buku ini, klabaku. sementara, pertemuannya baru diadakan di bandung, karena kami tinggal di bandung. pertemuan pertama membahas buku helene wicker, the golem and the jinni (dan ups, saya masih utang nulis reviewnya). pertemuan berikutnya akan dilangsungkan tanggal 10 oktober 2015 pukul 13.00 di daerah dago. menurut saya sih, bakal lebih seru karena bukan cuma satu buku yang dibahas. kami akan membahas novel thriller yang ditulis cewek-cewek. judul-judul buku yang akan dibahas: The Shining Girls (Lauren Beukes), The Girl on the Train (Paula Hawkins), Dark Places (Gillian Flynn), dan Misteri Patung Garam (Ruwi Meita). tapi, kalau kamu pengin  membaca dan membahas buku selain judul-judul di atas boleh juga, biar lebih seru bincang-bincang bukunya.

berhubung tempatnya agak terbatas, bila ada yang bersedia datang, silakan mendaftarkan diri ke klabakubdg@gmail.com.

akan ada buku gratis untuk peserta yang mendaftar dan datang.

yuk, baca dari sekarang.

Klabaku

FB: https://www.facebook.com/klabaku?fref=ts

Instagram: Klabaku

Twitter: @klabaku

Menulis Bagian Awal Novel: 9 Hal yang Sebaiknya TIDAK Dilakukan

Walaupun sudah enggak bekerja di satu penerbitan lagi, saya masih membantu beberapa penerbit dan penulis memoles naskah novel. Dari naskah-naskah yang saya terima, bagian yang paling menentukan adalah bab-bab awal. Paling tidak, tiga bab pertama. Tiga bagian ini bukan hanya membantu naskahmu diterima penerbit untuk diterbitkan, tetapi juga mengikat pembaca.

Berbeda dengan editor bayaran (seperti saya) yang dipaksa membaca sampai akhir, pembaca enggak akan repot-repot meneruskan baca kalau bab-bab awalnya enggak menarik. Enggak menarik, enggak majuin cerita, enggak ngasih petunjuk ini mau nyeritain apa, enggak jelas nyeritain siapa.

Nah, saya baru mengerjakan naskah yang fokus ceritanya muluuuuuuuuur banget sampai ke halaman 100. *fiuh*. Seratus halaman pertama ngalor-ngidul nyeritain macam-macam, padahal fokusnya bukan itu. Bagian awal atau perkenalan ini sebaiknya hanya 3-4 bab, enggak lebih dari 40-50-an halaman.

Gara-gara itu, saya jadi googling soal menulis bagian awal novel dan dapat artikel dari blog Natasha Lester. Ini adalah sembilan hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika menulis bagian awal novelmu. Kalau kamu pengin lebih lengkap, kamu bisa googling sendiri soal menulis bagian awal novel, tapi menurutku, enggak akan jauh-jauh beda dari yang ditulis Mbak Lester ini, sih.

  1. Backstory

Backstory adalah informasi tentang latar belakang karaktermu, bisa jadi latar belakang peristiwa dari ceritamu, atau latar belakang hubungan utama dalam cerita.

Pembaca ingin mengenal tokoh-tokoh dalam novel seperti kita mengenal orang sungguhan. Kita tidak mengenal semua hal tentang seseorang pada pertemuan pertama. Mencari tahu dan menemukan hal-hal menarik dari kenalan kita adalah bagian menyenangkan dari sebuah hubungan. Ga seru juga sih, ketemu sama calon pacar yang kita udah tahu luar-dalam soal dia. Apanya yang bikin penasaran?

Backstory melambatkan cerita. Gunakan itu ketika kamu membutuhkan momen untuk menurunkan ketegangan. Awal novelmu harus aksi yang terus maju.

2. Mimpi

Tidak ada yang lebih buruk ketika kau membaca sebuah bab, dengan mencekam, dan tiba-tiba si tokoh terbangun di bab dua dan mengatakan kalau semua itu hanyalah mimpi. Mimpi tidak bisa membuat pembaca membentuk koneksi dengan karakter-karaktermu ataupun kejadian-kejadian dalam cerita.

3. Deskripsi berlebihan

Pembaca tidak membutuhkan deskripsi mendetail tentang seting dan wilayah di tiga bab pertama. Sebar informasi soal ini lewat sudut pandang si karakter ketimbang memperlihatkannya dari mata segala tahu, karena paling tidak, kita akan mempelajari soal si tokoh dari caranya mendeskripsikan seting.

4. Gagal fokus

Hal-hal yang bisa menyebabkan kurang fokus antara lain:

  • kebanyakan tokoh
  • terlalu banyak peristiwa, misalnya pindah ke narasi lain terlalu cepat sebelum menguatkan untaian narasi sebelumnya.
  • pindah-pindah antara satu pov ke pov lain.
  • terlalu banyak lokasi/tempat

Kamu pengin pembaca kamu betah di tiga bab pertama daripada bikin mereka bosan dan disorientasi tanpa tahu harus fokus ke karakter mana dan kejadian-kejadian apa yang penting.

5. Membuat daftar belanjaan

Eh, apa-apaan kok nulis daftar belanjaan di novel? Gini contohnya:

Rambutnya yang sedikit panjang dan bergelombang selalu dia biarkan terurai. Poninya tebal, wajahnya bulat. Bibirnya kecil, selalu dilapisi dengan lipstik merah muda yang segar. 

Daripada menulis daftar sifat semacam itu, lebih baik informasi tersebut dimasukkan ke aksi. Contohnya gini:

Gadis itu itu menoleh, rambut panjangnya yang bergelombang terayun. Matanya menyipit saat dia mencari sumber suara, hingga membuat wajahnya yang dibingkai poni tebal tampak semakin imut. Bibirnya yang dipulas lipstik merah muda langsung membentuk garis lengkung begitu dia menyadari akulah yang memanggilnya.

(ini juga sejalan dengan konsep show don’t tell)

6. Tokohnya tidak melakukan apa pun

Mencuci piring, menatap jendela, memandang pantulan diri di cermin; tindakan-tindakan ini sebaiknya tidak ada di tiga bab pertama novelmu.

Pikirkan kehidupan nyata. Memangnya kamu mau memperhatikan orang mencuci piring? Males, kan? Jadi, kenapa pembaca mau?

Pastikan tiga bab pertama ini berisi hal-hal penting. Tindakan-tindakan yang akan berlanjut/berpengaruh pada cerita berikutnya. Ya, kecuali habis mencuci piring, alien tiba-tiba muncul di dapur dan dari situlah ceritanya bermula. Si mbak-mbak lagi cuci piring, alien muncul di dapur, kemudian si mbak diculik untuk menjadi tukang cuci piring di piring terbang. *eh*

7. Si tokoh sedang melamun di masa sekarang

PERLIHATKAN situasi mereka. Jika si tokoh berada dalam hubungan penuh kekerasan, perlihatkan ketika pasangannya melakukan kekerasan dan perlihatkan efek yang ditimbulkan kepada si tokoh. Jika mereka malu, dapatkah kamu memperlihatkan rasa malu itu kepada pembaca?

Jadi, bukan adegan si tokoh melamun sambil memikirkan hubungan abusive itu, yaps.

8. Flashback

Ini nanti aja. Jangan di tiga bab pertama. Pembaca butuh mengenal si tokoh pada masa sekarang sebelum meloncat ke masa lalu.

9. Menyuapi pembaca

Percayalah kepada pembacamu. Mereka enggak perlu tahu segalanya di tiga bab pertama. Bahkan, mereka enggak mau tahu segalanya. Alasan mereka membaca bukumu adalah mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena membaca tiga bab pertama yang keren.

Simpan informasi, kasih sedikit-sedikit. Pastikan ini menciptakan pertanyaan dramatis yang kepengin banget terjawab–di akhir buku!

Jadi, apakah bagian awal novelmu mengandung hal-hal itu? Kalau iya, sebaiknya revisi segera, sebelum dikirim ke penerbit. Jika tidak yakin, kamu bisa mengonsultasikan naskahmu via jiaeffendie@gmail.com
~Jia

life, lately

Akhirnya, saya memutuskan resign.

Well, that was 3 months ago.

Mengundurkan diri dari pekerjaan adalah keputusan sulit. Bodoh, mungkin. Namun, meninggalkan si penunggang naga untuk bekerja, tentunya bukan pilihan. Saya pengin merawat dia dengan baik dan benar.

image

Dua bulan pertama kacau sekali. Saya bahkan sampai jualan buku-buku kesayangan. Huhuhu.

Nah, sahabat saya sejak SMA menikah 12 September kemarin. Mereka sudah pacaran 16 tahun, sejak kami sama-sama SMA. Makanya, saya enggak mau melewatkan momen penting ini. Saya harus datang. Namun, acaranya malam dan saya bingung kalau harus naik turun angkot tiga kali (enam kali pulang pergi). Melihat kondisi saya, dia sampai bilang: “Bill me the cab,” dan mengatakannya sampai 3 kali di berbagai kesempatan karena kasihan kalau si penunggang naga harus ngangkot malam-malam (ya, risiko juga sih rumah jauh dari pusat kota).

Untungnya, keadaan kayak gitu enggak berlangsung lama. Pekerjaan mulai mengalir deras sampai begadang-begadang dan pegal-pegal dan mules-mules karena begadang. Apalagi, hidup sekarang ini kebantu banget sama teknologi (dan promo bwahaha).  Pas lagi enggak punya cash, sih, kebantu banget sama aplikasi taksi Uber buat bepergian. Ya, walaupun sekarang masih riweuh gitu enggak jelas perizinannya dan mereka diuber-uber polisi kayak penjahat, tapi beneran, Uber ini menolong banget kalau saya ke daerah Dago bawa-bawa bayi dan segala gembolannya (tolonglah baikan sama polisi).

Jadi, dengan pertolongan Uber dan satu aplikasi lain, yaitu Hotel Quickly, saya pun berhasil datang ke nikahan sahabat saya itu tanpa naik turun angkot. Berkat diskon yang diberikan dan potongan credit sebesar 130.000, kami pun menginap di hotel dekat  venue tanpa keluar uang banyak.

Jadi, sesuai namanya, kalau butuh kamar hotel cepat, hari ini banget,  Hotel Quickly menyediakan daftar hotel yang tersedia dengan harga paling murah. Hotel-hotel ini terdapat di berbagai kota di Australia, Kamboja, Hongkong, Indonesia, Laos, Macau, Malaysia, Myanmar, New Zealand, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Tar tinggal lihat aja, deh, di aplikasinya. Asyiknya aplikasi-aplikasi gini seneng nyediain potongan harga, atau credit untuk pemakaian pertama kali. Jadi, lumayan banget, lah.

Aplikasi Hotel Quickly tersedia di appstore, googleplay, dan blackberry juga, cenah. Kalau belum butuh hotel, unduh aplikasinya dulu juga enggak apa-apa. Daftar pakai Facebook biar gampang. Ada tambahan credit Rp 130.000 buat kamu yang redeem kode dari saya. Caranya:

  1. Klik menu di kiri atas
  2. Klik Credits
  3. Klik Redeem voucher, masukkan kode JEFFE11

Sudah!

image

bisa sampai 30rb!

Kalau udah punya credit gitu, lihat harga hotel kok bisa sampai 50-60 ribu gitu, kok jadi pengin check in, terus nyelesain deadline di hotel yang internetnya kenceng, ya. Hahaha.

Jadi, gimana hidup setelah punya anak dan resign? Hmmm, gimana, ya. Seru, sih. Di rumah aja, tapi bisa seru. Lihat perkembangan si penunggang naga day by day itu sesuatu yang enggak bisa diraih kembali. Jadi, saya bersyukur masih bisa merawat penunggang naga sambil bekerja di rumah.

image

working space

Nanti, kalau ada rezeki dan umur panjang dan otak cemerlang, semoga masih dikasih kesempatan sekolah lagi di Inggris, ya.

~Jia*

*dalam upaya kembali ngeblog