tanah yang menumbuhkan kebahagiaan

2015-12-30 17.38.41

ini adalah novel pertama yang saya baca tahun 2016.

membelinya tidak sengaja, walaupun sudah berniat sejak lama dan mencari tahu soal penulisnya dengan meramban internet. namanya ziggy zezsyazeoviennazabrizkie (there, akhirnya saya hafal namanya), dan awalnya terkejut ketika mendapati itu adalah nama asli. pada kesan pertama, saya sangsi, agak mencibir, malah, dengan seseorang bernama seperti itu. bertanya-tanya apa yang dipikirkan orangtuanya saat menamainya demikian. namun, ketika saya mencari tahu lebih dalam, saya harus meminta maaf kepada zezsya dan keluarganya karena pernah berpikir demikian.

kalimat pertama novel ini membuat saya langsung ditarik ke universe salva. saya membacakannya keras-keras di depan suami dan anak saya sambil cekikikan, terkesima dan senang. novel ini asyik. saya bahkan membacakan kalimat berikutnya sampai dua halaman–sampai tenggorokan agak terasa kering.

saya tidak akan menceritakan plotnya karena kalian bisa mencari dan menemukannya di review-review lain. saya hanya akan menceritakan perasaan-perasaan saya ketika membaca buku ini.

ini adalah jenis novel yang akan saya tulis. saya bahkan punya draf yang agak mirip dengan ini, walau tidak persis sepenuhnya. ketika saya membacanya, saya menyesali diri karena tidak terpikir sebelumnya menulis seperti ini.

dituturkan dalam pov salva, gadis 6 tahun yang terobsesi dengan kamus dan mengonsultasikan kata apa pun ke kamus umum bahasa indonesia, novel ini penuh racauan yang kadang tidak berhubungan, tetapi jika kita jeli, racauannya adalah petunjuk pada cerita berikutnya. ziggy memperkenalkan tokoh-tokohnya dengan berbagai cara, termasuk dialog, tidak pernah dengan cara memperkenalkan dan mendeskripsikan diri sendiri yang sudah basi dan membosankan.

contohnya, kita tahu usia ava dari pertengkaran helen dan doni, ibu bapaknya.

jika ini ditulis oleh orang lain, kemungkinan besar informasi-informasi macam itu akan diulang kembali lewat narasi, hingga membuat novelnya tebal berlarut-larut.

beberapa bagian mungkin membuat kita bertanya seraya mengerutkan kening, kok gini, kok ini nggak masuk akal, sih? kok enggak sinkron? namun, jika kita ingat-ingat lagi siapa naratornya, kita akan segera maklum, karena cerita ini dituturkan lewat pola pikir anak umur 6 tahun, oleh karenanya, tidak bisa dipercaya. dan hal-hal tidak masuk akal itu, saya maafkan.

hubungan ava dan p, anak lelaki yang ditemuinya di rusun nero, sungguhlah manis. dialog-dialog mereka romantis tanpa menjadi giung. dan bagaimana mereka menyimpulkan sesuatu dengan pemahaman logika mereka yang masih linier, sungguhlah menggemaskan.

contohnya, betapa p dan ava tidak ingin p menjadi papa, karena papa itu jahat. oleh karenanya, mereka memilih untuk menjadi kakek saja, karena kakek baik.

hal lainnya yang saya senangi adalah betapa satu kata atau kalimat bisa bermakna macam-macam dan memberikan petunjuk-petunjuk yang saling berkaitan. dari judulnya saja, di tanah lada, barangkali orang-orang akan mengira ini ada hubungannya dengan lampung, yang dijuluki tanah lada (karena suami saya langsung berkata demikian ketika kali pertama saya menyebutkan judul tersebut–dia dari lampung). lada, adalah pepper, nama yang disematkan ava kepada p, karena p tidak tahu siapa namanya, selain p saja. dan lada, yang menimbulkan hangat. yang membuat ava merasa hangat setiap kali berada di dekat p. dan betapa tanah lada adalah tanah yang menimbulkan kebahagiaan, karena mereka berakhir di tanah lada.

ini buku yang sangat sederhana, dibaca dengan sangat cepat, di beberapa bagiannya membuat saya tertawa-tawa. namun, banyak juga yang saya pikirkan selesai membacanya. ini bukan jenis buku yang begitu ditutup membuatmu lupa. ini jenis buku yang ingin dituliskan kembali.

karena buku ini, sepertinya, saya akan meneruskan draf yang tertunda tentang meta nikalanta. gadis yang menghilang di pasar malam. mungkin kali ini saya akan lebih menyelami dunia anak-anak, mencari tahu dari sudut pandang mereka.

-jia-

 

 

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. Dian Rustya says:

    *Menunggu kisah meta nikalanta* 🙂

  2. BaRTZap says:

    Sepertinya kisah Meta Nikalanta bakal menarik.

  3. denaldd says:

    Aku menunggu buku Jia keluar, meskipun musti nunggu teman yang bisa dititipin ke Belanda 🙂

  4. rahneputri says:

    Reiew kamu jadi pengen baca! Apalagi nama yang bikin banyak huruf “Z” nya (tergila gila ama huruf Z)

  5. aulia says:

    Kayaknya bagus. Catet! Makasih mbak atas reviewnya.

  6. rannasubhan says:

    Langsung masuk ke book list yang kudu dibaca tahun ini. Thanks reviewnya, Teh!

  7. jampang says:

    Novel ini bisa jadi pemicu melanjutkan draft yg sudah ada yah… Semoga segera terealisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s