belajar hidup dari ove, si lelaki tua penggerutu

misalnya dia tetangga saya, saya akan membencinya.

kenapa? karena dia jenis bapak-bapak tua yang mencibir para freelancer yang kerja di rumah. dia juga orang yang menganggap kalau komputer itu seperangkat sistem unit (cpu dan teman-temannya), monitor, dan keyboard–oleh karenanya, iPad tidak termasuk di dalamnya. dia orang yang menganggap mobil paling bagus adalah merek Saab, sehingga mobil jenis lain adalah sampah. dia laki-laki yang menegakkan peraturan. kau harus buang sampah di tempat yang benar. kalau dia sampai pergi ke Indonesia dan melihat orang buang sampah sembarangan, pastilah dia langsung kena serangan jantung karena enggak tahu lagi harus marah kayak gimana. lah wong kamu masukin sampah organik ke kaleng sampah nonorganik aja dia misuh-misuh.

namun, di bukan tetangga saya. dan kamu tidak tahu apa yang dialami seseorang sampai dia bisa menjadi seperti ini.

syukurlah dia karakter dalam novel, karena dengan begitu, kamu bisa membaca lebih banyak tentang latar belakang orang ini. lalu kamu akan mengerti kenapa dia bisa seperti itu. meski saya tidak yakin juga sih kalau saya bakal tahan bertetangga dengan orang yang senang marah-marah.

namanya ove. usianya lima puluh sembilan tahun. dia baru dipecat dan dia kepengin mati. namun, bukan ove namanya kalau dia tidak “mati” dengan benar. dia menyiapkan diri untuk itu. namun, perempuan asing mungil yang sedang hamil dan karavannya menggores tamannya itu selalu mengganggu rencananya.

jika kamu membaca sampai akhir, niscaya kamu tahu kalau ove sebenarnya penyayang. dia memang keras, tapi begitu dia bertemu sonja, hatinya dilembutkan. dia yang hitam-putih mendadak berwarna dengan kehadirannya.

jadi, masuk akal, sih, ketika sonja tak ada, dan ove tak lagi punya pekerjaan, dia kehilangan alasan untuk tetap hidup. keputusasaan sering kali mengeliminasi alasan-alasan untuk tetap hidup. padahal, jika kita mau melihat dari sudut pandang lain, selalu ada, sekecil apa pun, hal yang patut disyukuri. kopi enak di pagi hari, misalnya.
image

dalam kasus ove, hal yang patut disyukurinya adalah gangguan parvaneh, si perempuan hamil dari iran dan kedua putrinya. juga kucing kampung yang suka nongkrong di depan rumahnya. gangguan konstan yang membuat ove kesal karena dia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. karena ove punya prinsip. dan gangguan seperti itu dari mereka, mengisi celah kosong ove.

maka, jika saat ini kamu merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupmu, beri kesempatan pada gangguan-gangguan. buka diri dan isi celah kosongmu. mulai dengan hal-hal kecil. mulai sedikit-sedikit.

selalu ada alasan untuk tetap hidup.
berbahagialah.

—-
a man called ove
fredrik backman
nourabooks

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s