Malam Tahun Baru dan Tujuh Pertanyaan

Pada malam tahun baru yang tidak ada kerjaan, saya goler-goleran di kasur sambil memikirkan apa yang sebaiknya saya lakukan. Kemudian, tercetuslah gagasan ini: bagaimana kalau mewawancarai para penulis #BlueValley, saja? Nanti, hasil wawancara itu akan ditulis di blog ini sambil pura-puranya semua penulis itu berkumpul di rumah Amaya sambil minum teh.

Eh tapi, jangan di rumah Amaya. Soalnya rumah itu ruang privat. Nah, bagaimana kalau para penulis ini berkumpul di Uno saja, kafe milik Dinda. Itu jenis tempat yang dewasa ini sering dikunjungi para penulis untuk menulis atau sekadar ketemuan.

Lalu, siapa yang wawancara mereka? Teman-temannya Miya cocok mungkin, ya? Bagaimana kalau Nana?

Lalu, dua puluh hari kemudian, saya tidak berhasil menemukan jawaban akan seting wawancara tersebut. Akhirnya, saya menuliskannya dengan cara seperti ini.

Saya bertanya kepada Bara, Erlin, Tia, Dyah, dan Robin mengenai sejumlah hal. Soal kehilangan, menulis, dan editor, dan ini jawaban mereka. Postingan ini akan cukup panjang šŸ˜€

Saat pertama mendapatkan tawaran menulis ini, apa yang kamu bayangkan soal kehilangan. Bagaimana interpretasi kalian tentang kehilangan?

Tia:

Kehilangan adalah sesuatu yang natural (seperti yang Saddam bilang ke Ian). Sesuatu yang pasti terjadi. Sesuatu yang enggak bisa dihindari. Sekali merasa memiliki, kehilangan pasti bakal mengikuti. Pandangan seperti itu bikin aku sulit memberi nilai lebih pada sebuah kehilangan dibanding dengan event-event lainnya dalam hidup.

Terlebih, sekitar setahun sebelum tawaran ini datang, ayahku meninggal dunia. Di momen itu, justru aku merasa lega. Setelah dua tahun menderita stroke (meski kondisi beliau bisa dibilang baik) dan tidak bisa berpikir dengan lurus lagi, aku lega beliau bisa lepas dari penderitaan tersebut. Apa aku menangis di pemakaman beliau? Tidak.

Jadi, ketika dapat tawaran yang langsung kupikirkan: kehilangan seperti apa yang ingin aku tulis. Karena kematian adalah kehilangan yang mutlak, kamu enggak bisa membuat yang mati hidup lagi. Kehilangan harta, bisa dicari lagi. Kehilangan kekasih, tinggal balas dendam atau cari yang lain. Akhirnya, aku pilih kehilangan yang punya dampak besar bukan hanya ke yang si hilang, tapi juga orang-orang yang ditinggalkan. Itu merupakan kehilangan yang lukanya begitu nyata dan menganga.

Buatku, kehilangan yang terjadi pada Prisma adalah luka yang enggak akan sembuh selamanya. Plus, luka itu akan tampak. Akan selalu diulang-ulang oleh orang lain kepada Prisma, Ian, Niko, dan mungkin Rory. Kalau suatu hari masalah itu selesai dan yang hilang dapat ditemukan, hubungan mereka pun mungkin enggak akan sama lagi. Ada rasa dikhianati. Ada rasa tidak percaya. Ada rasa benci karena tidak diabaikan, karena yang ditinggalkan berhenti mencari. Membayangkan aja bikin aku merinding.

Robin:

To be honest, langsung terpikir tentang pasangan yang meninggal. Saya adalah tipe penulis gampang galau. Memikirkan kehilangan membuat saya menjadi emosional. Mungkin karena pengalaman hidup saya pernah ditinggal oleh dua orang yang paling saya cintai. Kalau intepretasi saya sendiri lebih kepada a moment after. Bagaimana mengelola rasa sakit pasca kehilangan tersebut.

Bara:

Mungkin ini agak klise, tapi aku membayangkan hidup setiap manusia seperti satu gambar puzzle yang utuh. Setiap hal yang pernah ia alami menjadi kepingan yang membentuk keseluruhan dirinya. Di antara hal-hal itu adalah orang-orang yang berarti baginya: ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, tante, sepupu, pacar, dan lain-lain. Jika di suatu titik dalam hidup seseorang, salah satu dari orang-orang yang berarti itu pergi atau menghilang karena suatu sebab, rasanya seperti satu kepingan puzzle menghilang. Gambar hidup yang tadinya utuh menjadi tidak utuh. Berlubang. Tidak genap. Hidup yang tadinya seimbang menjadi timpang, dan manusia selalu melakukan pencarian untuk mengisi lubang dalam hidupnya.

Dyah:

Aku mencari cerita kehilangan yang paling dekat dan paling aku pahami. Dan di antara semua tema (kehilangan orang tua, anak, pasangan), aku merasa mungkiiiin paling bisa memahami kehilangan pasangan. Waktu itu, aku membuat konsep yang kehilangan pasangan justru cowok (Elang) sementara yang kehilangan orang tua adalah si cewek (Ayuni, walau dulu belum aku kasih nama Ayuni). Aku sempat membaca sedikit buku tentang grieving, jadi aku membuat si karakter cewek karena kehilangan ayahnya jadi nggak ingin meneruskan karirnya sebagai pattisiere. Dan aku membuat karakter Elang yang begitu romantis dengan istrinya malah menemukan istrinya menyimpan rahasia dengan cowok lain. Tapi akhirnya ide ini dicoret gara-gara terlalu standar dan aku nggak bisa mengembangkan ide ini menjadi lebih dalam lagi.

Erlin:

Saat mendapatkan tawaran menulis untuk serial ini, aku langsung ingat uakku yang meninggal beberapa bulan lalu (April 2016). Almarhum adalah sosok yang sangat dekat dengan keluarga dan saudara-saudaranya. Kepergiannya adalah salah satu kehilangan terbesar bagi kami. Untuk beberapa saat, kami berkabung. Tapi tak lama berselang, aku menyaksikan perubahan dari istri dan anak-anaknya. In a good way.

Dari sana aku menangkap bahwa kehilangan adalah salah satu momen menyakitkan yang dapat mengubah pribadi seseorangā€”entah untuk menjadi lebih baik atau buruk. Itu kembali lagi ke tiap-tiap orang dalam menyikapi kehilangan dalam hidupnya.

Apa kesulitan terbesar yang kamu alami saat menulis novel ini?

Robin:

Pertama adalah kesulitan menulis dari 2 sudut pandang (lelaki dan perempuan). Ini adalah kali pertama saya menulis novel dengan sudut pandang dari 2 gender yang berbeda. Berpikir dari sisi lelaki dan perempuan sama sekali tidak mudah. Kedua,Ā  soal manajemen waktu dan persisten. Membagi waktu dan fokus untuk menulis sampai bisa menyelesaikannya hingga tuntas adalah tantangan luar biasa buat saya.

Erlin:

Kesulitan saat menulis Lara Miya cukup banyak. Ini kali pertama aku mengonsep cerita dengan unsur drama yang lebih dominan ketimbang romance-nya. Aku juga harus bisa membangun suasana sendu yang enggak kelewat cengeng. Terus ada Amaya yang memberikan pengalaman perdana bagiku untuk menuturkan kisah dari sudut pandang wanita yang usianya nyaris menyentuh kepala lima. Bikin stres, tapi memberiku banyak pelajaran dan pengalaman.

Dyah:

Waktu. Kurasa karena temanya sangat nggak familier bagiku (domestic drama), aku membutuhkan waktu lebih lama untuk riset soal beragam hal: mulai dari grieving itu sendiri, sindrom Asperger yang dimiliki Revaldi, masalah cicilan rumah sampai kue tradisional. Karena waktunya lumayan terbatas, jadi semoga aku nggak membuat kesalahan fatal dalam menulis ^_^

Tia:

Memasukkan diri ke situasi kehilangan. Kehilangan anak, seperti apa rasanya? Menghilangkan anak orang, seperti apa rasanya? Kehilangan harapan atas masa depan, seperti apa rasanya?

Bara:

Tenggat waktu. Aku mengerjakan naskah Elegi Rinaldo tepat selama 30 hari. Meskipun bukan hal baru bagiku (naskah Cinta dengan Titik aku tulis dalam tiga minggu) tetap saja tenggat waktu yang sangat singkat jadi sebuah kesulitan. Terlebih karena pada periode tersebut aku sedang melakukan hal lain. Jadi aku harus mengumpulkan fokus untuk berkonsentrasi mengerjakan Elegi Rinaldo. Hal-hal lain seperti ide, plot, dan penulisan secara umum tidak ada kesulitan yang sangat berarti.

Dengan kesulitan-kesulitan yang kamu alami saat menulis, apakah pernah terpikir untuk menyerah?

Bara:

Kalau perasaan ingin menyerah, sih, enggak ada. Yang ada malah perasaan menyerah sebelum memulai. Ha, ha, ha. Jia Effendie (Associate Editor Falcon Publishing, mentor proyek novel Blue Valley) mengajak aku menulis sejak pertengahan tahun 2016, tapi aku masih terus menimbang-nimbang dan baru memberi keputusan jelang Oktober. Pada periode menimbang-nimbang itu aku sempat ingin menolak ajakan Jia. Namun, akhirnya aku putuskan untuk mulai menulis. Aku menganggapnya sebagai tantangan. Tantangan untuk fokus mengerjakan satu naskah novel dalam waktu singkat, dan aku penasaran ingin melihat hasilnya.

Tia:

Menyerah sih enggak. Tapi masuk lagi ke situasi kehilangan (meski sadar betul kalau ngedit harusnya dalam kondisi sadar dan tidak terbuai cerita), itu berasa berat. Jadi, sempat agak lama menunda-nunda. Cari-cari alasan.

Alasan meneruskan, aku enggak suka mengerjakan sesuatu dan meninggalkannya begitu aja. Apalagi kalau menyangkut nasib orang lain (hahaha).

Aku tulis di ucapan terima kasih, salah satu momen yang bikin aku bergerak meneruskan. Inspirasinya dari komik yang kubaca, berjudul Kingdom. Berkisah mengenai seorang remaja yang ingin jadi jenderal pada masa Warring States Period di Tiongkok Kuno. Di salah satu bagian, ada momen ketika si karakter utama malah disuruh pergi sewaktu hendak menolong seorang jenderal besar. Keputusan hidup dan mati.

Dan kemudian aku sadar, si jenderal besar memilih keputusan itu bukan untuk si karakter utama sendiri, tapi demi masa depan negeri. Kematian dia memberi posisi kosong yang akan diisi orang lain, dan akhirnya nanti suatu hari si remaja itu. Aku seperti itu diteriaki, disuruh maju. Selain itu, momen tersebut juga mengajari aku bahwa kematian (atau kehilangan) memberi jalan tumbuh dan kehidupan untuk orang lain.

Jadi, balik lagi ke pandanganku tadi: kehilangan adalah siklus.

Dyah:

Tentu saja ada saat ingin menyerah, terutama setelah diberi tahu editor bahwa naskah harus direvisi sekitar 50%nya. Rasanya ingin banget membuang naskahnya terus terbang ke Hawaii buat having fun, hohoho. Namun, kemudian aku sadar bahwa ini pembelajaran baru buat aku. Bukan berarti aku ingin mengalaminya lagi, tetapi aku sadar bahwa nggak ada proses kreatif yang lurus-lurus aja. Setiap proyek penulisan itu unik dan masalahnya juga beda-beda. Dan kalau aku ingin terus bertahan jadi penulis, aku harus siap menghadapi beragam risikonya. Hanya dengan melampaui tantangan, seseorang bisa berkembang. Lagi pula, tanggung juga kalau naskah nggak diperbaiki. Terus naskah mau diapain? Jadi, ya, begitu. Meski sambil bercucuran air mata (lebay sih), aku merevisi naskah.

Robin:

Bukan menyerah, tapi memikirkan, ini biar cepat selesai dan mudah dikerjakan bagaimana, ya? Hahaha. Saya selalu menegaskan ke diri sendiri, apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan. Jadi, sesulit apapun, sepusing apapun, harus saya hadapi. Lagi pula, kalau enggak selesai, saya malah jadi kepikiran terus.

Erlin:

Aku cukup tertekan saat merampungkan draf satu. Jadi keinginan untuk menyerah atau mundur kadang muncul. Nah, yang membuatku akhirnya bertahan sampai garis akhir adalah rasa penasaran yang sangat besar. Aku penasaran bagaimana cerita ini berakhir di tanganku, meski aku tahu nanti revisinya pasti gila-gilaan.

(berikutnya: momen emosional para penulis saat menulis novel blue valley mereka dan bagaimana editor ideal menurut mereka)

 

Advertisements
Categories Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s