Brankas

Tuan Sidik duduk di depan meja makan rumahnya pada pukul 10.00. Di atas meja makan, terdapat seperangkat tea-set Inggris bermotif bunga-bunga. Cangkir-cangkir lain tertutup. Hanya ada satu cangkir terbuka, kosong. Tidak ada yang mengepul dari moncong poci.

Kautahu, ini bukan jam biasanya Tuan Sidik minum teh.

Jadi, Tuan Sidik hanya duduk di sana, dengan satu cangkir terbuka dan lima cangkir lain menelungkup di pisin mereka. Dan poci porselen yang tertutup, tidak berisi teh. Dia menunggu datangnya pukul empat. Dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain duduk di depan meja makan, di hadapan seperangkat cangkir teh peninggalan istrinya, untuk sebuah ritual yang dijalaninya sejak bertemu dengan seorang Inggris berpuluh-puluh tahun lalu.

Seharusnya, dia berada di depan meja kerjanya saat ini, menginput angka-angka. Dia baru akan sampai di rumah pukul tiga sore, menjerang air dan membuat teh. Teh melati kesukaannya. Kadang-kadang, jika suasana hatinya sedang sangat baik, dia akan menyeduh teh merek Inggris yang dibelinya di toko swalayan impor.

Sore kemarin sebelum dia mengemasi tas kerjanya, Pak Manager memanggil Tuan Sidik ke ruangannya, berkata kalau tidak ada tempat lagi untuknya. Perusahaan mereka telah membeli sistem keuangan baru yang bisa memangkas satu pekerjaan, lebih hemat, lebih cepat. Dan pegawai tua yang tidak ambisius seperti Tuan Sidik tentulah yang lebih dulu didepak. Pak Manager berkata kalau dia sangat menyesal memecat Tuan Sidik yang loyal. Waktu kerjanya di perusahaan ini bahkan lebih tua daripada umur Pak Manager sendiri. Namun, Tuan Sidik memang sudah terlalu tua. Seandainya perusahaan itu tidak membeli sistem keuangan baru pun, Tuan Sidik memang sudah harus pensiun.

Tuan Sidik memang akan pensiun, tapi itu baru tahun depan. Tuan Sidik belum menyiapkan apa yang akan dilakukannya jika pensiun tahun ini. Dia menyiapkan apa yang akan dilakukan untuk pensiun tahun depan.

Jangan salah, Tuan Sidik bukanlah seseorang yang kekurangan uang. Di rumah kecilnya yang hanya terdiri atas satu kamar, satu ruang tengah, satu dapur, dan satu kamar mandi, dia menyimpan sebuah brankas berisi harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Dia tidak memercayai bank. Dia hanya pergi ke sana untuk menukarkan uang di brankasnya yang sudah tidak berlaku lagi. Tuan Sidik pindah ke rumah yang lebih kecil setelah istrinya meninggal dua puluh tahun lalu. Merawat rumah besar dengan kebun sungguhlah merepotkan, jadi dia memilih pindah.

Tuan Sidik pergi ke kantor hanya untuk rutinitas. Bahwa dia bangun pukul setengah lima pagi untuk salat Subuh, menjerang air untuk mandi dan teh pagi, memasukkannya ke termos, berganti pakaian olah raga, berlari mengitari lapangan dekat rumahnya lima kali, pulang seraya mengeringkan keringat, mandi, membuat teh, kemudian berangkat tepat pukul tujuh pagi.

Dia selalu tiba di kantor pukul setengah delapan, setengah jam lebih cepat dari jam kantor. Dia bekerja dengan giat dan tekun hingga jam makan siang, makan menu yang hampir tidak pernah berubah di kantin kantor, bekerja dengan giat dan tekun hingga pukul 3, dan pulang tepat waktu. Menjerang air lagi setibanya di rumah, dan kembali minum teh.

Di lingkungan rumahnya, Tuan Sidik dikenal tidak suka bersosialisasi. Dia hanya akan muncul saat Ramadan, salat Tarawih setiap malam, tidak pernah absen. Dan dia adalah orang yang memberikan THR paling banyak untuk anak-anak di RT-nya yang mayoritas tidak mampu.

Salim adalah salah satu anak itu. Tahun ini usianya sembilan belas tahun. Sudah lulus SMA. Tuan Sidik tidak lagi memberikan THR untuk anak-anak di atas tujuh belas tahun atau sudah lulus SMA. Mereka seharusnya sudah mandiri, jadi tidak berhak lagi akan THR.

Namun, Salim sama sekali tidak mandiri. Orangtuanya yang tersisa cuma Bapak, meninggal seminggu lalu karena TBC. Bapak Salim mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga setiap subuh, dan demi menghangatkan diri, dia merokok. Sebenarnya, tidak menghangatkan diri pun, bapaknya Salim merokok. Sehari, dia bisa habis dua bungkus Dji Sam Soe, yang jika uangnya dia kumpulkan sejak Salim lahir, dia bisa membiayai anak itu kuliah. Namun, bapaknya Salim sama sekali tidak terpikir sampai ke sana.

Jadi, karena rokok dan udara dingin itu, TBC bapak Salim semakin parah, dan puncaknya, dia meregang nyawa. Meninggalkan Salim sendiri, mewariskan rumah yang hampir runtuh, dan pekerjaan sebagai tukang sampah, serta kebiasaan merokok.

Salim termasuk anak yang pintar, sama seperti banyak anak pintar lain yang terbentur biaya dan pola pikir orangtua yang kurang cerdas, dia pun putus sekolah saat SMA. Tidak apa-apa putus sekolah saat SMA, toh, dia bisa sekolah sampai SMA. Benar, tidak?

Namun, sebenarnya Salim ingin kuliah. Bukan demi gaya-gayaan seperti banyak orang-orang kaya. Dia ingin menjadi ilmuwan. Seperti Einstein, Newton, atau Hawking. Dan dia yakin dia bisa jika dia kuliah.

Akan tetapi, seperti yang kita semua sudah tahu, dia tidak memiliki biaya.

Tadi pagi, saat dia mendorong gerobak sampahnya di gang-gang sepanjang rumah, mengumpulkan sampah-sampah, dia melihat pintu rumah Tuan Sidik terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah lukisan abstrak berukuran 60×70 sentimeter menutupi dinding di seberang pintu.

Salim pernah membaca, lukisan abstrak semacam itu bisa berharga puluhan juta, jika dia tahu ke mana harus menjualnya. Jika nama pelukisnya cukup terkenal. Namun, tak mungkin orang yang tinggal di lingkungan kumuh seperti Tuan Sidik memiliki lukisan berharga puluhan juta, pikir Salim.

Dia mendorong gerobak sampahnya, tetapi pikirannya tak bisa lepas dari Tuan Sidik. Salim mengingat bahwa sejak kecil, dia selalu mendapatkan uang THR dari Tuan Sidik. Hingga tahun ini, tahun ini dia tidak akan mendapatkan apa pun. Dia sama sekali tidak punya uang untuk lebaran, apalagi untuk kuliah.

Salim pernah mendengar desas-desus kalau di rumahnya yang kecil itu, Tuan Sidik menyimpan sebuah brankas. Dia tahu Tuan Sidik hanyalah pegawai administrasi dengan gaji kecil, tidak mungkin dia bisa memberikan THR sebanyak itu untuk sekitar tiga puluhan anak di RT ini. Tuan Sidik pasti memiliki harta berlimpah. Dan di balik lukisan abstrak yang sepertinya bernilai jutaan rupiah itu, Tuan Sidik menyimpan semua uangnya.

Semalaman Salim memikirkan itu sambil mengasah golok. Dia tidak tahu untuk apa mengasah golok. Dia juga tanpa sadar menaruh linggis di salah satu sudut gerobaknya.

Keesokan paginya, tekad Salim sudah bulat. Dia akan mencuri isi brankas Tuan Sidik. Tuan Sidik sangat mudah ditebak karena jadwalnya selalu sama setiap hari. Dia akan membongkar pintu Tuan Sidik saat orangnya sedang lari pagi. Itu rencana yang cukup brilian.

Namun, satu hal yang dia tidak ketahui, bahwa pagi itu Tuan Sidik merasakan sakit tak tertahankan di dadanya, hingga dia absen lari pagi. Barangkali karena seharian kemarin semua rutinitasnya berubah, dan dia merasakan seluruh tubuhnya sakit.

Tuan Sidik berbaring di kegelapan kamarnya, merasakan nyeri berdenyut-denyut di dadanya saat dia mendengar kerosak di depan pintu. Dia tidak melakukan apa pun karena dia benar-benar tidak beminat melakukan apa pun. Bisa dibilang, dia kehilangan semangat hidup.

Kemudian, dia mendengar pintu depan terbuka.

Jantung Tuan Sidik berdentum-dentum. Ada seseorang di rumahnya, dan dia sedang menurunkan lukisan abstrak dari dinding. Kemudian, Tuan Sidik mendengar suara kesiap tertahan, seperti semburan kegembiraan yang diredam.

Orang itu menemukan brankasnya.

Namun, dia tidak akan bisa membukanya, karena hanya Tuan Sidik yang mengetahui kodenya.

Orang itu meninju pintu brankas, kesal.

Tuan Sidik mendengar suara kursi diseret dari meja, dan seseorang dengan tubuh ringan duduk di atasnya. Orang itu mengembuskan napas panjang lalu berjalan mondar-mandir, panik. Dia berjalan menuju kamar Tuan Sidik….

Tuan Sidik menahan napas.

Orang itu mengarahkan senter ke ruangan mencari stop kontak dan menyalakan lampu. Dia terkejut saat melihat Tuan Sidik berbaring di ranjang besinya. Dia berusaha menenangkan diri, tetapi malah semakin panik dan mengarahkan golok ke leher Tuan Sidik.

“Berapa kodenya?” desis orang itu, yang akhirnya dikenali Tuan Sidik sebagai Salim, anak si tukang sampah yang mati seminggu lalu.

“Tidak apa-apa di dalam sana,” ujar Tuan Sidik.

Ketenangan Tuan Sidik membuat Salim semakin panik.

“Berikan kodenya, atau aku akan menggorok lehermu!” Salim mengancam.

“Silakan saja, jika memang ini waktunya aku mati, aku harus mati sekarang.”

Golok tajam Salim mulai menyayat leher Tuan Sidik. Salim semakin panik melihat darah merembes dari luka tipis di leher Tuan Sidik. “Berikan kepadaku!” Dia mulai membentak.

“Baiklah, jika kau memaksa.”

“Delapan….”

Tuan Sidik malah tersenyum menggoda. Dia sungguh-sungguh tidak ingin hidup lagi, rupanya. Tampak begitu tenang di bawah todongan golok.

Salim menunggu Tuan Sidik menyebutkan semua kodenya, menghafalnya, dan pada angka terakhir, karena terlalu bersemangat, entah bagaimana Salim malah menebaskan goloknya ke leher Tuan Sidik, membuat darah membuncah menggelegak menyembur ke seluruh ruangan, ke wajah Salim, ke tangannya, panas di matanya, bau logam di mulutnya. Salim terduduk mundur, wajah Tuan Sidik masih tenang, tetapi dia mendengar suara grok-grok darah mengalir dari leher seperti sapi yang dipenggal. Tubuh Tuan Sidik terguncang-guncang, mengeluarkan darah yang tidak lagi menyembur, kemudian tidak bergerak lagi.

Salim menangis tersedu-sedu di sudut ruangan. Tidak mengerti apa yang baru saja dilakukannya.

Setelah sekitar lima menit, dia mulai tenang dan berdiri, berjalan ke brankas Tuan Sidik dan menekan kode yang tadi diberikannya.

Pintu brankas langsung terbuka.

Namun, tak ada tumpukan uang di sana. Tidak ada batangan-batangan emas.

Hanya ada sebuah bingkai foto tua. Seorang perempuan cantik mengenakan pakaian yang populer di tahun delapan puluhan, tersenyum melelehkan hati.

Salim menangis lagi.

Dia tidak tahu harus melakukan apa. Fajar sudah datang. Orang-orang pasti tahu pintu rumah Tuan Sidik rusak, dan jika dia tidak segera lari, dia akan tertangkap dan dipenjara sampai mati.

Dia tidak mau dipenjara sampai mati.

Lebih baik dia mati sekarang.

Ya, pikir Salim, lebih baik aku mati sekarang.

Dengan linggis yang dipakainya mendobrak pintu, Salim menusuk jantungnya, menekannya hingga tembus ke punggung.

Dia menderita, kesakitan selama beberapa saat sebelum meregang nyawa. Sempat berteriak karena tidak tahan dengan sakitnya, mengundang tetangga-tetangga untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Pagi itu, rumah Tuan Sidik penuh orang-orang. Para polisi. Wartawan. Tetangga yang menggeleng-gelengkan kepala.

Jika pikiran Salim cukup jernih, dia akan melihat kalau di bawah bingkai foto istri Tuan Sidik, ada lubang yang membuka ke kompartemen di bawah brankas.

Di sana, ada bergepok-gepok uang ratusan juta, dan dua kilogram emas batangan.

Barangkali, jika dia melihatnya, dia bisa berhasil melarikan diri di kota lain, dan hidup bahagia sampai beberapa tahun ke depan.

 

30 Juni 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s