Pitching Your Book Idea

Serial TV yang lagi kusuka banget saat ini adalah “Younger”. Aku nunggu setiap Kamis pagi demi nonton episode terbarunya. Younger bercerita tentang ibu 40-an yang baru bercerai lalu jatuh miskin, dan dia harus membiayai anaknya kuliah. Liza, diperankan oleh Sutton Foster, melamar pekerjaan di beberapa penerbitan (karena 15 tahun lalu, waktu dia resign, dia adalah editor buku). Namun, tidak satu pun mau menerimanya karena dia sudah tua. Akhirnya, karena dia masih cocok sebagai cewek akhir 20-an, dia menyamar jadi cewek 26 tahun dan melamar jadi asisten direktur marketing di Empirical Publishing dan keterima!

Selama 4 season, aku dimanjakan sama trivia-trivia dunia penerbitan di Amerika karena aku relate banget sama pekerjaan mereka. Rebut-rebutan copyright sama penerbit lain, “rebutan” penulis, susahnya nyari penulis bagus eh giliran dapat ternyata dia plagiat–duh, juga bagaimana sosial media sangat berperan. Hal lainnya tentu saja romansa antara Liza-Josh (aheum si ganteng), dan Charles, juga drama-drama kecil antara semua tokohnya.

fever pitch1

Penulis lagi pitching ide sama Liza Miller. Yang ini agak creepy.

Nah, yang mau kuceritakan di sini adalah PitchFest di episode 7 season 7.  Kalau kata Kelsey, editor di Millenial, impritnya Empirical, PitchFest ini semacam audisi The Voice, tapi kamu enggak bisa memutar kursi. Seringnya, yang pitching ide novel di situ hancur semua. Contoh di episode itu: ada cewek yang pitching novel mirip sama The Girl on The Train, tapi setingnya dalam bus. Waktu Liza bilang, itu ceritanya kok sama banget? Si cewek yang pitching bilang: beda, laaah… ini kan dalam bus!

Oke. Terserah lo, deh.

Namun, bukan itu inti blog ini.

Mari berandai-andai. Misalkan di Indonesia ada PitchFest kayak gitu, bagaimana kamu menjual ide ceritamu ke editor?

Selain mengirim sinopis dan naskahmu, kamu harus melampirkan juga semacam proposal. Isinya apa?

 

  • Siapa target pembaca bukumu?
  • Apa yang unik dalam bukumu?
  • Bukumu bakal ditaruh di rak berisi buku-buku apa?
  • Apa judul buku/pengarang yang “mirip” dengan naskahmu? (mirip ini maksudnya setipe, ya)
  • Bagaimana kamu membantu penerbit menjual bukumu?
  • Apa tagline bukumu?
  • Apa kamu bisa menjelaskan bukumu dengan ringkas dan jelas (di sini perlunya punya premis)
  • Kenapa kamu milih setingnya seperti itu?
  • Bagaimana kamu dapat ide bukumu?
  • Siapa pengarang yang menginspirasimu/siapa pengarang-pengarang favoritmu?
  • Apakah bukumu ada yang pernah diterbitkan, ataukah kamu pernah memenangi lomba menulis?
  • Kenapa penerbit harus membaca bukumu?
  • Apa konflik utama dalam bukumu?

Kalau kamu bisa menjawab semua pertanyaan di atas, mulailah menulis proposalnya (kalau di luar disebutnya query letter).

Ini tip menulis proposalnya:

  • Mulai dengan “hook”, sesuatu yang mengikat. Ini bisa saja ide unik atau sebuah pertanyaan
  • Perkenalkan protagonis dan seting lewat penjelasan terperinci yang menghubungkan semuanya
  • Tulis hal-hal yang baik saja, berhenti saat kamu memberi alasan agar penerbit tidak menerimanya
  • Judul itu penting
  • Spesifik: apa genre bukumu
  • Bahasa yang digunakan harus membujuk, hidup, dan canggih. Suara tulisannya boleh berhubungan dengan suara dalam buku, tapi jangan menulis proposal dengan gaya tulisan di buku.
  • Tulis sinopsis dengan jelas (siapa saja tokohnya, apa latar belakang tokoh, lalu apa yang membuat hidup si tokoh berubah (konflik utama), bagaimana si tokoh menyelesaikan konflik).
  • Bedakan blurb dan sinopsis.

Ok, siap jualan ke penerbit?

 

ps: pitching apa sih bahasa Indonesianya?

 

 

Advertisements

Lakukan Ini untuk Menambah Peluang Novelmu Diterima

Kata E.B. White, penulis buku Charlotte’s Web, Stuart Little, dan buku-buku lainnya, “The best writing is rewriting.” Dengan kata lain, tulisan yang baik adalah tulisan yang sudah melewati proses editing.

Kamu boleh saja mengirim draf 1 naskahmu ke penerbit. Bebas. Namun, jangan salahkan editor kalau naskah masterpiece-mu itu tidak jelas nasibnya. Kata Ernest Hemingway, draf 1 itu sampah. Ya, menyakitkan memang, naskah kebanggaan yang kamu tulis sampai begadang-begadang sampai lupa mengerjakan hal lain kok disebut sampah. Namun, apa yang harus dilakukan ketika kenyataan berkata demikian?

alasan nolak

Tenang … draf 1 jelek itu bukan milik kamu saja. Saya pernah kok, mengedit draf 1 penulis berpengalaman yang pas dibaca masih berantakan. Tidak apa-apa. Draf 1 masih bisa diperbaiki. Justru, draf 1 ada untuk diperbaiki. Kalau draf 1-nya enggak ada, apa yang mau diedit, coba? Paling tidak, bersyukurlah karena kamu sudah punya draf 1.

Jadi, apa yang harus dilakukan begitu naskah selesai ditulis?

Peram naskahmu. Diamkan. Beri hadiah pada diri sendiri karena sudah menyelesaikan naskah itu. Beli buku, nonton, makan es krim, makan enak. Makan sushi. Pacaran. Main. Menjauh sebentar. Satu minggu cukup. Saat kamu kembali membacanya, kamu akan melihat naskah itu dengan sudut pandang baru. Kamu akan melihat kekurangan-kekurangan dalam naskahmu. Salah ketik. Kalimat tidak padu. Adegan yang tidak nyambung, dan lain-lain.

Apa saja yang harus diperhatikan selama proses swasunting tersebut?

Baca ulang.

Pertama, lihat isinya.

Apakah plot kamu sudah benar? Apa semua konflik dan pertanyaan yang kamu munculkan dalam sekujur cerita sudah dijawab dan diselesaikan? Jika belum, jawab dan selesaikan bagian-bagian kosong itu.

Apakah tokoh yang kamu buat sudah tiga dimensi? Apakah si tokoh terasa seperti manusia sungguhan yang seolah-olah benaran ada dan hidup di dunia ini, ataukah seperti sesuatu yang dikarang-karang? Kalau tokoh kamu masih terasa datar, perbaiki. Beri tokoh kamu back-story. Pernah nonton serial Westworld, ga? Robot-robot atau host di serial itu terasa manusiawi karena mereka punya back story. Ingatan. Memori. Ketakutan. Luka. Masa lalu.

Baca lagi. Apakah tokoh kamu berkembang? Misalkan tokoh kamu adalah perempuan manja yang tergantung sama orang-orang di sekelilingnya. Beri dia cobaan. Konflik. Di ending, apakah dia tetap manja dan tergantung? Kalau iya, berarti tokohmu tidak tumbuh. Revisi lagi.

Apakah adegan-adegan yang kamu tulis berpengaruh pada jalannya cerita? Kalau tidak, hapus, ganti.

Kedua. Lihat lebih detail. Apakah kalimatnya sudah betul? Kata yang ditulis tidak salah kaprah? Ejaan sudah benar?

Baca lagi. Apakah kamu tersendat-sendat saat membacanya kembali? Apakah kamu membaca semua katanya atau kamu melewatinya? Kalau kamu melewati beberapa kata atau kalimat, berarti kalimat yang kamu tulis tidak efektif atau tidak bagus. Atau, deskripsi yang kamu tulis terasa membosankan dan terlalu melelahkan untuk dibaca. Perbaiki kalimatnya.

 

Apakah masih ada salah ketik? Apakah kamu yakin telah menulis sebuah kata dengan benar? Risiko atau resiko? Lagi pula atau lagipula? Namun ditulis di awal kalimat atau di tengah? Pengen atau pengin? Antri atau antre? Buka KBBI. Sekarang gampang, kok, sudah ada versi daringnya. Kamu tidak perlu membeli buku KBBI yang supertebal itu. Unduh PUEBI dan buku-buku tentang tata bahasa Indonesia yang disediakan pusat bahasa. Kamu bisa mengambilnya di sini.

Ketiga, teliti penerbit yang kamu tuju. Ikuti persyaratan yang mereka minta. Sesuaikan genre tulisan dengan permintaan penerbit. Jika tidak ada petunjuk soal format, gunakan ini. Jangan memakai tab atau mengetik enter dua kali ketika membuat paragraf baru, karena itu akan menyulitkan layouter (dia harus ngetik back-space sejumlah paragraf yang ada dalam novel itu. Bayangkan pegalnya!)

gabungan kata

Selanjutnya, jika kamu merasa naskah kamu sudah cukup layak untuk dibaca editor penerbitan dan punya kesempatan buat diterbitkan, kirim. Siapkan mental. Misalkan naskahmu diterima sekalipun, editor akan memberi catatan revisi. Dan catatan itu, bisa saja membuatmu harus menulis ulang keseluruhan ceritanya. Terima saja. Apalagi, jika kamu merasa saran-saran dari editor masuk akal. Lagi pula, editor enggak akan bikin naskah kamu jadi lebih buruk daripada sebelumnya, kok.

Ceklis buat self-editing

Namun, jika setelah melakukan self-editing kamu masih merasa belum puas, hubungi saya. Saya membuka jasa pendampingan menulis novel, editing, dan review. Info lebih lengkap di sini.