Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm

Yaw, tumben-tumbenan saya menulis dua post dalam dua hari berturut-turut. Biasanya nunggu berbulan-bulan baru inget, eh, udah lama nggak nulis. Setelah sebelumnya membahas basic plot point dalam novel romance, sekarang kita bahas caranya.

Ada beberapa metode menulis novel romance dan kita bebas mau pilih metode mana pun, tergantung yang paling cocok buat kita.

Bagaimana menciptakan plot romance yang kuat? Pertama-tama, kita harus memastikan bagaimana romansa diperkenalkan, dibangun, dan diselesaikan dengan cara yang masuk akal dan menarik secara emosional. Ada beberapa penulis yang memilih mengikuti three-act paradigm atau metode five-act structure. Ada yang menggunakan metode The Hero’s Journey.

Selain ketiga metode di atas yang ada di buku Plot Development for Romance Novels, ada juga metode DABGA (Denial, Anger, Bargaining, Guilt, Acceptance) yang saya dapatkan dari Christian Simamora waktu masih ngantor di GagasMedia.

Kita bahas satu-satu, ya.

Three-Act Paradigm

Sederhananya, novel memiliki tiga komponen: awal, tengah, dan akhir.

Pada novel romance, pembagian ketiga komponen itu tidak sama besar. Bahkan, bagian kedua mengambil porsi yang paling banyak. Berikut pembagiannya:

Act One – Perkenalan

  • Konflik tokoh utama cewek dan cowok (konflik eksternal, internal, dan konflik romantis) diperkenalkan di bagian ini, atau setidaknya dikasih kisi-kisi.
  • Masukkan first turning point yang akan menjadi Cute Meet.

Act Two – Pengembangan Romansa

  • Tokoh utama cewek dan cowok mulai jatuh cinta
  • Konflik sekunder dikeluarkan dan diselesaikan, sementara konflik utamanya tidak (karena ini tentu saja akan diselesaikan di akhir)
  • Di bagian ini juga ada major turning point, biasanya adegan pertama keintiman emosional maupun fisik si tokoh-tokoh utamanya.
  • Masukkan second turning point yang akan meningkatkan risiko hubungann percintaan si tokoh utama dan juga memberi kisi-kisi akan adanya Dark Moment (momen-momen gelap) di bagian berikutnya.

Act Three – Resolusi atau ending

  • Masukkan Dark Moment ketika konflik utama meledak dan sepertinya si tokoh utama tidak akan bersatu
  • Penyelesaian akhir, yang juga disebut Happily Ever After (HEA)

Five-Act Structure

Metode ini biasanya dipakai dalam pertunjukan teater. Dramawan Jerman, Gustav Freytag, mengembangkan five-act structure yang sering dipakai saat ini untuk menganalisis drama-drama klasik Shakespeare. Polanya dapat dilihat dalam diagram berikut.

sumber: https://www.storyboardthat.com/articles/e/five-act-structure

Act One

  • Konflik tokoh utama cewek dan cowok diperkenalkan (atau menebar petunjuk tentang adanya konflik antara mereka di bagian berikutnya)
  • Subplot utama mulai diperkenalkan (misalnya: elemen suspens)
  • Masukkan juga plot point pertama yang akan menjadi Cute Meet.
  • Jangan lupa tulis di mana cerita mengambil tempat dan kapan.

Act Two

  • Tokoh utama cewek dan cowok mulai jatuh cinta
  • Perkenalkan karakter-karakter pendukung dan subplot sekunder. Tujuannya, biar ada hambatan dalam hubungan percintaan si tokoh utama.

Act Three

  • Beberapa konflik sekunder dan karakter pendukung dikonfrontasi dan konflik sekunder diselesaikan
  • Masukkan mid-point atau major turning point (adegan yang memperlihatkan kemesraan fisik maupun emosional)
  • Major turning point untuk subplot utama

Act Four

  • Konfrontasi dan penyelesaian konflik sekunder dan memberi kisi-kisi akan adanya konfrontasi yang tidak bisa dihindari dari konflik subplot utama dan romance utama.
  • Second turning point yang membuat romance kedua tokoh utama harus dipertaruhkan dan memberi kisi-kisi akan adanya Dark Moment di bagian berikutnya

Act Five

  • Penyelesaian semua konflik sekunder yang melibatkan karakter pendukung, juga penyelesaian subplot utama
  • Dark Moment (Momen Gelap); konflik utama meledak dan kisah percintaan tokoh utama tampaknya tidak punya harapan lagi
  • Penyelesaian final konflik percintaan, Happily Ever After

Postingan berikutnya, kita akan bahas The Hero’s Journey, ya. Ingatkan saya kalau nggak posting-posting. Nyahahaha.

Published by Jia

what if my whole existence were only a figment of your imagination?

2 thoughts on “Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: