Dialog

Salah satu hal paling penting dalam sebuah novel adalah dialog. Dialog akan membantu menggerakkan cerita, menutupi atau mengungkapkan kebenaran, memperlambat atau mempercepat pace, juga menyebabkan atau bikin konflik selesai. Dialog juga akan membantu pembaca memahami karakter. Dengan fungsi sebanyak dan sepenting itu, jadi sayang nggak sih kalau menulis dialog yang tidak bagus?

foto: canva.com

Hindari menulis dialog yang plek-plekan sama kehidupan nyata

Ada yang pernah membuat transkrip wawancara? Pasti banyak kata-kata yang nggak penting atau struktur kalimatnya berantakan. Kamu akan mendengar beberapa orang mengucapkan “Ee … eee … ehh” berkali-kali atau “ngerti, kan?” atau “ya udah” atau hal-hal lain yang nggak sengaja terucap karena sudah kebiasaan. Itu wajar dalam ragam lisan, tapi nggak wajar dalam tulisan. Pembaca nggak mau terus-terusan baca “eh anu” dalam dialog.

Agar dialog yang kamu tulis nggak membosankan, kamu harus merapikan tuturan. Arahkan dialognya agar bisa menggerakkan cerita dan melukiskan si karakter. Hal-hal macam “Kamu sudah makan belum?” , kata “Halo” sebelum mengangkat telepon, atau “Ya udah”, bisa kamu pangkas sebanyak-banyaknya. Jika dialog tersebut tidak memajukan cerita, buang saja.

Jangan mengulang informasi

Informasi yang sudah kamu sampaikan di narasi, jangan sampai kamu tulis lagi di dialog. Buat apa? Pembaca sudah tahu informasi tersebut. Contoh: coba baca berita-berita di media online. Kebanyakan polanya kayak gitu biar artikelnya agak panjang. Setelah dibahas dalam bentuk dialog, si penulis artikel akan menuliskannya lagi di narasi (atau sebaliknya).

Sesekali, boleh pakai kode-kodean

Sering kali, kita mengatakan A dengan maksud B. Kita menggunakan kalimat-kalimat tertentu sebagai perisai untuk hal-hal yang tidak ingin kita bahas. Hal-hal seperti ini menarik perhatian pembaca karena membuat mereka ingin menguping.

Misalnya, tokohmu yang bernama Mira, baik di kehidupan nyata maupun dalam buku tidak akan secara gamblang mengatakan: “Hubungan kita membuatku stres dan tertekan.”

Alih-alih, ungkapkan dalam dialog-dialog seperti:

“Kerja aja terus. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Sebaiknya kamu makan dulu sebelum pulang. Aku tidak akan masak dan menungguimu pulang.”

“Terserah kamu. Aku mah bebas kamu cuekin juga.”

Tulis dialog yang ringkas

Salah satu cara membuktikan kalau dialog udah ditulis dengan baik adalah dengan membacanya keras-keras. Dialog yang terlalu panjang (apalagi nggak pakai titik koma) akan membuatmu terengah-engah dan nggak semua tokoh bisa mencerocos panjang lebar.

Kalau kamu kehabisan napas setelah berusaha membacakan dialog yang kamu tulis, ubah struktur kalimatnya, tambahkan tanda baca (titik dan koma) di tempat-tempat yang benar. Beri jeda dengan narasi adegan.

Jangan membuat pembaca bingung

Saya pernah menyunting sebuah naskah yang dialognya membingungkan. Sebut saja tokohnya Mawar dan Melati. Penulis tersebut menuliskan dialog Mawar dan Melati dalam satu baris tanpa memberikan keterangan, siapa yang sebenarnya sedang bicara.

Jika kita tidak akan memberikan attribution tag atau keterangan siapa yang sedang bicara, paling tidak pisahkan dialognya dengan baris baru.

Di bawah ini, saya menerjemahkan petikan dialog dari buku How to Write a Damn Good Novel karya James N. Frey.

“Hai,” kata Joe kepada Mary.

Mari mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya. “Hai,” katanya.

Joe memindahkan beban di kakinya dengan gugup. Dia yakin semua orang di kantin sekolah sedang memperhatikannya. “Sedang apa?” tanyanya.

“Membaca.”

“Oh. Baca apa?”

“Moby Dick.”

“Bagus?”

“Cuma cerita soal memancing.”

Joe duduk. Ia menyapu kerah kemejanya untuk menyeka keringat yang menetes di lehernya.

“Ah, aku mau menanyakan sesuatu kepadamu,” katanya.

“Ya?”

“Euh, apa kau sudah punya teman kencan untuk prom?”

“Aku nggak akan pergi ke prom.”

“Semua orang pergi ke prom. Kamu mau pergi denganku?”

“Hmm. Aku pikir-pikir dulu, ya?”

“Jangan pikir-pikir, lakukan saja! Aku akan membawa mobil ayahku dan aku bawa banyak uang.”

Dialog tersebut sudah dalam bentuk yang dramatis. Ia memiliki konflik inti karena ada keinginan yang bertolak belakang (si cowok pengin ngajak si cewek pergi ke pesta prom, ceweknya nggak mau). Namun, dialognya tetep kurang oke. Kenapa?

Pertama-tama, dialognya nggak menginspirasi karena langsung. Dialog langsung memperlihatkan apa yang ada di kepala si tokoh tanpa memberi kesempatan agar si tokoh bisa mempertunjukkan keberatan, kebohongan, tampak cerdas, dll.

Dialog yang baik mengekspresikan keinginan si karakter secara tidak langsung. Berikut adalah adegan yang sama tetapi ditulis dengan dialog tidak langsung.

“Aku harus duduk di sini. Ini adalah tugasku,” kata Joe.

“Oh ya?” kata Mary sambil mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.

“Ya. Sekolah membayarku satu setengah dolar sejam untuk belajar di kantin dan memperlihatkan contoh baik.”

“Duduk saja di mana pun kamu mau, ini negara bebas.”

Joe tersenyum kepadanya dan berkata, “Aku tahu masa depanmu.”

“Kok bisa?”

“Aku membaca kartu Tarot.”

“Aku nggak percaya Tarot.”

Joe mengeluarkan setumpuk kartu dari kantong dan mengocoknya. Dia menaruh kartu pertama di meja. “Kamu akan dijemput mobil Chevy Nova hijau pukul delapan malam.”

“Masa?”

“Seorang cowok tampan luar biasa yang mengendarai mobil itu akan mengenakan tuksedo putih.”

“Benarkah?”

“Dia akan membawamu ke pesta prom di gimnasium sekolah ini.”

“Wah, kartu-kartu itu bilang begitu?”

“Itu, dan satu hal lagi.” Joe menyingkirkan kartu-kartunya. “Aku tidak mau mengacaukan kejutannya.”

“Apa kau sedang mengajakku kencan?”

“Maukah kau pergi denganku?”

Adegannya sama, tapi feelnya beda. Contoh pertama membuat kita, oh, oke, dia diajak kencan. Dialog kedua bikin kita bersemangat karena tokoh cowoknya sok kepedean, dan itu membuat tokohnya jadi lebih menarik. Dialog yang asyik bisa memperlihatkan bagaimana sifat dan pemikiran tokoh-tokohnya.

Jadi, apakah kamu sudah menulis dialog yang asyik, ataukah novelmu hanya berisi dialog membosankan dan tidak ada narasi?

Baca juga: https://jiaeffendie.wordpress.com/2014/05/30/menulis-dialog/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.