Menulis Seting: Kapan dan di Mana Cerita Berlangsung

Alkisah, saya pernah membaca naskah dengan tokoh yang berkuliah di Paris, di Kota Melbourne. Barangkali, dia menganggap Paris adalah negara yang salah satu kotanya adalah Melbourne. Naskah itu begitu absurd sehingga saya bingung, apa yang membuat penerbit memutuskan menerbitkan naskah tersebut? Peristiwa menyunting naskah itu sudah bertahun-tahun lalu dan saya bahkan lupa judul dan penulisnya. Namun, Paris di Kota Melbourne itu sungguhlah~ *speechless

Mungkin kalian tahu kalau kekacauan tersebut disebabkan oleh tidak riset dan tidak tahu bagaimana menulis seting. Seting merupakan salah satu elemen fiksi selain karakter, plot, sudut pandang, dialog, dan adegan. Tanpa seting, mungkin cerita yang kita tulis terasa mengawang-awang dan jadinya senandika doang.

Seting merupakan panggung tempat cerita kita berlangsung. Seting mengarahkan pembaca pada geografi, iklim, konteks sosial, peristiwa tertentu dalam kurun waktu tertentu, sebagai ancang-ancang terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, memperlihatkan arsitektur, dll. Penting juga untuk memilah bagaimana kita mendeskripsikan seting. Jika tidak berhati-hati, terlalu banyak deskripsi seting akan membuat pace cerita melambat dan tak jarang bikin bosan sehingga pembaca frustrasi dan melempar bukunya *sering terjadi.

Jika ditulis dengan baik dan benar, seting akan bisa memengaruhi pikiran pembaca dan membuat karakter beraksi sehingga akan memajukan cerita.

Detail yang kamu tulis soal seting haruslah penting bagi cerita.

Mary Buckham, Writing Active Setting

Ketika menulis seting cerita, berikut tiga elemen penting yang harus kita perhatikan:

  • Kita harus menciptakan dunia dalam cerita kita –> pembaca tidak pernah berada dalam universe tempat karakter kita berada walaupun setingnya di Jakarta, misalnya, dan kamu tinggal di Jakarta. Dunia tempat karakter kita berbeda dengan dunia nyata kita.
  • Setiap tokoh dalam ceritamu mengalami dunia dalam cerita secara berbeda –> tentu saja. Kalau kamu punya saudara kembar, mungkinkah kamu dan saudara kembarmu mengalami dunia yang persis sama? Tidak, kan? Setiap karakter mengalami hal berbeda meskipun berada dalam peristiwa yang sama di tempat dan waktu yang sama. Ini akan berpengaruh juga sama bagaimana kamu memilih sudut pandang karena alur cerita akan berubah ketika kamu mengganti viewpoint character.
  • Dunia dalam ceritamu melibatkan lebih dari satu indra –> iya, kan? kita mengalami sesuatu di suatu tempat dengan berbagai indra. Misalnya, kita memasuki sebuah kedai kopi. Indra penglihatan akan memberi kita informasi soal keadaan kedai tersebut (ada berapa orang, ukuran kedainya segede apa, ada berapa kursi, dll). Indra penciuman kita mungkin akan menghidu aroma kopi baru digiling. Indra pendengaran kita mendengar suara mesin kopi, percakapan orang-orang, denting gelas dan sendok, dll. Indra peraba memberikan informasi tekstur gelas misalnya, atau tekstur meja (plastik atau kayu atau apa?), lalu indra pengecap mengetahui seperti apa rasa kopi (lidah akan bisa langsung membedakan esspresso dan cappucinno, kan?). Lalu indra keenam, ketika di kedai kopinya ada sudut bakekok dan kamu melihat … (oke, saya mulai ngawur).

Menulis seting yang baik akan banyak melibatkan showing. Nah tapi, banyak miskonsepsi soal showing. Pernah ada seorang penulis yang menganggap kalau showing akan membuat ceritanya jadi dragging. Padahal, seharusnya nggak gitu, Ferguso! (Ferguso itu siapa, sih?). Deskripsi showing yang baik adalah ketika kita nggak menumpuk informasi. Pembaca nggak perlu dikasih tahu si Anggia sedang mencuci piring kalau adegan itu tidak memajukan cerita (Contoh memajukan cerita: Anggia sedang mencuci piring dan cincinnya melorot kena sabun cuci terus jatuh ke lubang sink dan dia terpaksa harus manggil tukang ledeng buat mencari cincin tersebut. Ternyata tukang ledengnya ganteng dan dia naksir, lalu terjadi romansa antara mereka berdua).

Kalau cuma bercerita dia mencuci piring menggunakan tangan kanan, informasi tersebut nggak berguna. MEMANGNYA KENAPA KALAU DIA CUCI PIRING PAKAI TANGAN KANAN, KISANAK? TANGAN KIRINYA DIPAKAI NGAPAIN?

Informasikan dia cuci piring pakai tangan kanan kalau: tangan kirinya digips sehingga dia nggak bisa menggunakannya. Karena dia mencuci piring cuma pakai satu tangan, piringnya nggak bersih. Dia frustrasi dan tiba-tiba piringnya melorot karena licin. Piringnya pecah. Dia nutup keran dan memerosot di dapur. Dia memikirkan betapa hidupnya nggak berguna. Cuci piring aja ga becus, apalagi main piano lagi (ceritanya Anggia ini pianis). Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat menyeberang beberapa detik untuk mengagumi bunga yang tumbuh di pinggir jalan sehingga dia tertabrak sepeda dan mengakibatkan tulang jari-jemari kirinya retak dan tidak bisa digunakan.

Kan, kalau seting dan adegan dan informasi ada fungsinya, kita bisa memasukkan emosi ke dalamnya. Lagi cuci piring aja bisa frustrasi dan bisa memunculkan emosi macam-macam. Informasi penggunaan kanan dan kiri jadi relevan dan penting.

Nah, apakah kamu sudah memastikan semua adegan dan deskripsi seting dalam ceritamu memang penting dan harus diinformasikan kepada pembaca?

Belum? Ini waktu yang tepat untuk kembali menyisir naskahmu dan melakukan self-editing! Pengin tahu lebih banyak soal active setting, ikutan kelas “Membangun Dunia Fiksi dengan Active Setting” tanggal 10 Oktober 2021 nanti.

Published by Jia

what if my whole existence were only a figment of your imagination?

One thought on “Menulis Seting: Kapan dan di Mana Cerita Berlangsung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: