Struktur Cerita Barat vs. Timur

Sejak tahu struktur Save the Cat, saya jadi menemukan dan mempelajari beberapa struktur lain. Kemudian, dari baca-baca sekilas, ternyata ya sama-sama aja, cuma beda nama. Intinya, pasti ada perkenalan/setup, lalu inciting incident/peristiwa pemicu/ catalyst, midpoint (tokoh mengalami kekalahan/kemenangan palsu), dark moment/all is lost/catasthrope, lalu resolusi/penyelesaian.

Save the Cat

Pola itu awalnya dari Drama 3 Babak yang tujuan utamanya adalah konflik yang menyebabkan tokoh bertumbuh. Si tokoh punya kelemahan atau masalah yang harus diselesaikan, ia punya goal atau wants, dan pada akhirnya ia mendapatkan needs atau kebutuhannya (ia berhasil mengatasi kelemahan atau masalah dan bahwa keinginan bukanlah hal yang ia butuhkan).

Drama 3 Babak

Struktur drama 3 babak ini berkembang menjadi berbagai metode, di antaranya The Hero’s Journey

Dalam buku Hero with Thousand Faces, Joseph Campbell menganalisis berbagai kisah mitologi klasik dan menemukan kalau cerita-cerita tersebut memiliki 17 beat yang dimulai dengan hero berada dalam dunia normal, mendapatkan panggilan aksi, menolak aksi, berada dalam petualangan, hingga akhirnya ia kembali ke titik awal dalam keadaan bertransformasi.

Christopher Vogler, sineas dari Disney (penulis The Lion King) menyederhanakannya menjadi 12 beat seperti ini.

Struktur lain dengan penggerak cerita adalah konflik di antaranya grafik yang dimodifikasi dari piramida Freytag ini:

Selain yang di atas, ada juga Dan Harmon’s Story Circle yang menyederhanakan 12 beat The Hero’s Journey jadi 8 beat saja (contoh bisa cek serial Community dan Rick and Morty).

Kemudian, sama halnya dengan Save the Cat yang bagaikan katalis terhadap apa yang kupikirkan tentang menulis cerita, saya bertemu dengan struktur yang bernama Kishōtenketsu, sebuah struktur cerita yang datang dari timur.

Awalnya adalah struktur dari Cina qi cheng zhuan he yang dipakai untuk puisi, juga diinterpretasikan di Korea (Gi Seung Jeon Gyeol), dan Jepang jadi Ki (introduction/pengenalan), Shoku (development/perkembangan), ten (twist), ketsu (conclusion/kesimpulan).

Berbeda dengan struktur barat yang pendorong ceritanya adalah konflik dan pertumbuhan karakter, struktur Asia Timur ini pendorong ceritanya adalah self realization dan self development buat pembaca. Jadi, karakter membantu pembaca mengenali dirinya. 

Secara struktur, twist atau hal yang meluncurkan cerita pada struktur barat berada di awal cerita (biasanya di 10-15% awal). Dalam struktur timur ini, twist ada di 75% akhir. Cerita-cerita yang menggunakan struktur ini di antaranya adalah film-film Ghibli. Kalau pernah nonton, pasti bakal ngerasain feelnya beda banget sama yang datang dari Hollywood. 

Selain itu, dalam cerita-cerita kishōtenketsu, nggak selalu ada feel selesai/masalah ditutup semua kayak cerita-cerita barat. Sering kali, karena twistnya ada di menjelang akhir, kisah ditutup dengan perasaan: eh, kok begitu?

Film terakhir yang menyisakan perasaan seperti itu ketika selesai menonton adalah Earwig and the Witch yang ada Sherina-nya. Saya nggak bisa bilang ceritanya jelek, tetapi ada perasaan: aduh, saya ingin tahu terusannya gimana, kenapa selesainya di sini, sih?

Nah, untuk lebih memahami soal struktur kishōtenketsu, silakan cek grafik di bawah.

Sumber: Kim Yoon Mi

Dalam blognya, Kim Yoon Mi, seorang lulusan antropologi yang mempelajari berbagai struktur naratif, contoh drama Korea yang menggunakan struktur Kishōtenketsu (Gi Seung Jeon Gyeol) di antaranya: serial Reply (akhirnya mengerti mengapa capek banget dengan berbagai perkenalan di episode-episode awal dan hal menariknya baru muncul menjelang akhir) juga serial Under the Queen’s Umbrella. Kemudian, kalau yang dari Jepang, hampir semua film Ghibli, juga Botchan karya Natsume Soseki (jadi harus bacain novel-novel Jepang lagi, nih).

Terus jadi inget kalau dulu pernah dapat klien mentoring yang ceritanya Jepang banget dan saya nggak bisa bacanya karena fokusnya cerita yang bagus itu STC. Padahal, ada struktur-struktur bercerita lain di dunia ini selain dari barat doang. Kemarin nemu juga artikel kalau di daerah anu struktur dan penggerak ceritanya beda dan itu bukan berarti nggak bagus. 

Kesimpulan: struktur itu membantu kita menulis cerita dengan baik, tetapi kalau cuma berfokus pada struktur dan nggak punya kemampuan menyentuh hati pembaca, jadinya ya ceritanya formula banget. 

Kesimpulan lain: sungguhlah banyak sekali hal yang tidak saya ketahui.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: