Muslihat Gajah Laut

Sebelumnya, aku tidak pernah menginjakkan kaki di ruang pengadilan. Tak satu pun anggota keluargaku diadili karena sesuatu hal, tidak pula kawan dan handai taulanku.

Aku pun tidak tahu mengapa tiba-tiba bisa berada di ruang pengadilan. Aku lupa bagaimana aku bisa duduk di antara perempuan-perempuan tambun berbau keringat dan berambut lepek itu. Wajah mereka mirip gajah laut. Terutama hidungnya, melengkung seperti kacang jambu mete. Pakaian mereka seperti berasal dari tahun delapan puluhan dan kekecilan sehingga daging mereka mendesak lewat celah-celah jahitannya.

Mereka berbisik-bisik. Dari perempuan-perempuan itu, aku mengetahui bahwa mereka mengadili seorang nenek yang mencuri sebatang singkong dari perkebunan tuan tanah. Sebatang singkong yang beracun ketika si nenek memasaknya. Sebelum diadili, dia menginap selama tiga hari di rumah sakit dan menambahkan daftar utangnya.

Kemudian,

Hakim memanggilku.

Aku tidak pernah ke ruang pengadilan sebelumnya. Aku tidak tahu apakah lazim seorang hakim memanggil pengunjung pengadilan. Barangkali dia memanggilku karena aku masuk tanpa izin? Apakah ada semacam buku absen yang berisi orang-orang yang boleh berada di ruang pengadilan?

Perempuan-perempuan tembam itu melirikku lalu memberi isyarat agar aku berdiri dan mendekati hakim. Aku memeluk tasku erat-erat dan berjalan dengan canggung sambil berpikir (apakah ketika kau dipanggil hakim, kau boleh membawa tasmu?). Kakiku seperti diberati sebongkah batu. Dan punggungku panas karena merasa mata-mata menusukku dari belakang, membolongi punggungku seperti pisau laser.

Sang Hakim menyuruhku duduk. Aku semakin erat memeluk tasku sambil kepalaku celingak celinguk, mencari pertolongan.

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

***

Saya satu-satunya penumpang perempuan di angkot ini. Di sebelah saya, duduk seorang lelaki kurus. Mulutnya agak manyun dan bagian atas bibirnya dihiasi kumis tipis panjang hingga mirip moncong tikus. Dia mengenakan kemeja flannel bertangan pendek dengan motif kotak-kotak merah yang warnanya sudah begitu pudar dan menguarkan aroma keringat tajam. Bukan bau yang enak dihirup di waktu sepagi ini—bahkan tidak enak di waktu apa pun. Rambutnya dipotong gaya punk yang bagian kanan-kirinya sudah tumbuh setebal satu sentimeter dan bagian tengahnya yang sudah memanjang jatuh. Kedua kakinya dibalut celana kulit ketat bertambalan dan ditutup sepasang sepatu bot berpaku.

Di depan lelaki itu, duduk lelaki lain bertubuh gempal. Meski ini masih begitu pagi, sudah ada noda keringat di bagian dada kaus partainya yang sudah berlubang-lubang. Wajahnya seperti gajah laut, hidungnya besar dan agak melengkung ke dalam. Lehernya berlipat-lipat dan ada daki di lipatannya. Matanya sipit dan agak bengkak.

Positif, kedua pria ini sudah berhari-hari tidak mandi. Selain mencium bau tidak sedap dari tubuh mereka, saya juga mencium niat busuk dari kepala kedua orang itu. Mereka mengobrol dalam bahasa Sunda kasar, sesekali ditimpali oleh sopir angkot di depan.

Pukul dua dini hari, bukan waktu yang tempat untuk gadis baik-baik seperti saya masih bertualang dalam angkutan kota. Seharusnya, kereta saya tiba di stasiun empat jam lalu seandainya tidak tiba-tiba mogok dan terjebak di antah berantah. Tidak ada yang bisa menjemput saya pagi ini. Ayah saya sudah tua dan tidak mungkin saya membangunkan beliau pagi buta hanya demi menjemput putrinya yang sudah dewasa. Menghabiskan waktu empat jam di stasiun bukanlah pilihan karena saya sudah kelelahan dan yang saya inginkan hanyalah mandi air hangat dan tidur memeluk boneka-boneka saya. Entah mengapa, kesialan saya berlipat ganda dengan tak ada satu pun taksi tepercaya hingga saya terpaksa pulang naik angkot.

“Neng, pagi amat pulangnya?” Si Lelaki Tikus berhenti mengobrol dengan kawannya dan mulai mengalihkan perhatiannya kepada saya.

Saya menoleh sekilas dan tersenyum malas. Tak berniat menjawab.

“Lagian sendirian aja. Nggak ada yang jemput?” Dia bertanya lagi. Bukan urusanmu. Saya memeluk tas ransel saya lebih erat, waspada.

“Tenang, Neng, aman sama Aa mah!” Si Sopir menimpali dari kursi depan, tertawa-tawa.

“Ati-ati Neng sama dia!” kata Si Lelaki Tikus lagi. “Kalau ada apa-apa, langsung turun aja di tempat yang terang, terus naik angkot yang penuh!”

Si Lelaki Tikus malah turun setelah memberiku petuah. Saya ingin menyanggahnya. Mana ada angkot yang penuh pada jam seperti ini. Tinggal saya dan Si Gajah Laut dan sopir angkot. Tujuan saya masih sekitar sepuluh kilometer lagi, dan saya sudah sangat gelisah. Rasanya, saya adalah salah satu tokoh dalam novel “And Then There Were None” karya Agatha Christie yang dibunuh satu demi satu di sebuah pulau. Angkot ini adalah pulaunya. Jika saya tidak segera turun, maka saya adalah korban berikutnya.

Baiklah, barangkali saya terlalu banyak membaca buku thriller dan berkhayal. Namun, Anda pasti setuju kalau ketakutan saya memang beralasan.

Angkot berbelok di sebuah pom bensin bercahaya temaram di sebelah rumah kosong dengan ilalang-ilalang tinggi. Haruskah dia mengisi bensin sekarang? Bukannya pom bensin ini sudah tutup? Saya sudah bersiap loncat dari angkot dan melarikan diri karena jelas tidak ada seorang pun di pom bensin itu. Ini bukan pom bensin di Amerika yang kau bisa mengisi sendiri bahan bakar kendaraanmu tanpa operator.

“Mau ke mana, Neng?” tanya Si Gajah Laut ketika saya beringsut pindah ke kursi yang menahan pintu angkot. Mata sipitnya yang bengkak mengedip. “Turun di mana, Neng?” Mulutnya meruapkan aroma alkohol.

“Di sini aja.” Saya berkata gusar.

“Tenang, nanti dianterin sampai rumah,” si sopir menimpali.

“Di sini aja.” Saya bersikeras, siap meloncat.

Namun, Si Gajah Laut lebih sigap. Tangannya menutupi pintu sebelum saya berhasil menjejakkan kaki di tanah, sebelah tangannya menarik lalu mengempaskan tubuh saya ke lantai angkot, sementara sopir angkot terus melajukan angkotnya ke belakang bangunan di pom bensin. Pepohonan agak rapat sehingga tak sedikit pun cahaya bertandang ke daerah ini. Saya meronta dan menendang, berusaha membidik selangkangannya.

Tolong jangan bilang ini akan terjadi kepada saya.

Seharusnya tadi saya mengikuti saran sahabat saya untuk menunggu di stasiun saja sampai matahari datang. Seharusnya saya tidak senekat ini. Seharusnya saya tidak sebodoh ini.

Saya berteriak sekencang-kencangnya. Saya menjerit meminta pertolongan. Saya menendang-nendang, memukulkan ransel saya ke kepalanya yang seperti gajah laut. Kedua tangannya menahan tangan saya di lantai angkot, sementara si sopir angkot sudah bergabung dengan temannya ke bagian belakang mobil dan menutup semua pintu.

***

Saya dibuang di pinggir jalan, tercabik-cabik dan tak berguna seperti seonggok kain perca limbah pabrik. Saya merasa sudah mati dan tidak sanggup lagi menangis ataupun merasa sakit. Sebelum angkutan kota berwarna hijau itu melesat membawa pergi ransel dan kehormatan saya, saya sempat mencatat nomor polisinya. Seandainya saya bertahan hidup dan masih waras, saya pasti akan memburu mereka dan membalas dendam.

Kedua kaki saya gemetaran dan seluruh tubuh saya dingin seakan nyawa ditarik pelan-pelan dari ujung kaki. Namun, saya berusaha berdiri, bertumpu pada dinding pagar pabrik tempat saya dicampakkan. Saya memeluk tubuh saya sendiri yang bergetar, tetapi bahkan pelukan itu tidak bisa menenangkan semua yang berkecamuk di kepala saya.

Sayup, terdengar suara mengaji dari pengeras suara masjid. Mendengarnya, rasanya hati saya seperti sedang disayat-sayat belati.

Sebuah angkutan kota berhenti di depan saya. Ada beberapa penumpang di dalamnya dan si sopir menyapa saya dengan ramah. “Ka mana, Neng?”

Saya menggeleng. Tanpa bisa dicegah, air mata mulai mengalir di pipi saya.

“Naik aja, Neng. Subuh gini mah angkotnya masih jarang.” Dia membujuk saya. Saya masih menggeleng dan mengarang alasan agar tidak usah menaiki angkotnya.

“Enggak, lagi nunggu teman,” saya menyahut lirih.

Kunaon leweh[1]?” Dia mulai terdengar cemas, tetapi dari nada suaranya jelas sekali kalau dia tidak menganggap saya serius. Orang-orang di dalam angkot mulai memalingkan perhatiannya kepada saya. Mereka seperti memanjangkan telinga dan mata mereka karena penasaran akan keadaan saya yang semrawut dan menyedihkan.

“Nggak apa-apa. Sa-sa-ya-la-gi-nung-gu-te-man.” Saya menggeleng kuat-kuat sementara napas mulai tersengal, terhalang oleh tangis yang mulai membanjir. Kenapa saya menangis? Pria-pria setan itu tak perlu ditangisi. Saya tidak boleh menangis karena saya akan membunuh mereka berdua.

Nya tapi kunaon bet leweh?” Dia bertanya lagi. Saya kembali menggeleng. Namun, semakin kencang gelengan saya, semakin tidak meyakinkan kelihatannya. “Sudah, masuk saja. Di depan ada pos polisi. Saya antar sampai sana.” Sang sopir berkata seolah tahu apa yang baru saja saya alami.

Saya duduk di sebelah sopir dan menyadari bahwa saya tak beralas kaki. Sepatu saya dilempar kedua bajingan itu entah ke mana. Sang sopir membujuk untuk bercerita, tetapi saya hanya bisa mengatakan kalau saya dirampok. Tak sudi mengakui kalau mereka juga melakukan hal yang lain.

“Saha? Angkot jurusan ini? Inget keneh teu platna[2]?”

  1. Dan ada stiker The Mi Is 3 di kaca belakangnya.

“1998? Demi Istri? Ah, kenal itu mah. Si Jek pasti. Atau Si Rambo? Kapan kejadiannya? Kenapa Eneng naik angkot pagi-pagi gini? Enggak ada yang jemput?” Dan serentetan pertanyaan lain. Tidak, saya tidak membutuhkan orang lain lagi menyalahkan saya. Saya sudah cukup menyalahkan kepandiran saya. “Gampang nyari Si Jek mah. Dia suka nongkrong di warkop yang deket terminal itu. Kurang ajar bener tuh Si Jek.”

Saya mencatat informasi itu, berniat mencari Si Gajah Laut atau Si Sopir Biadab itu. Karena saya akan menemukan mereka dan membuat mereka menyesal.

 ***

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

Aku menelengkan kepala, menatap Sang Hakim dengan pandangan penuh tanda tanya. Kenapa kita akan menentukan nasibku?

“Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dan seorang sopir odong-odong?” Dia bertanya. Alih-alih menjawab, aku malah menertawakan rambut palsunya yang keriting dan putih. Pak Hakim seperti kodok yang mengenakan wig dan itu lucu sekali.

Pak Hakim kembali bertanya. “Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dengan cara menggilasnya dengan traktor dan menguburnya di bawah aspal? Lalu apa benar, kau membunuh sopir odong-odong dengan cara melilitkan benang gelasan ke sekujur tubuhnya hingga dia mati kehabisan darah?”

Aku berhenti tertawa dan berubah serius karena tas dalam pelukanku tiba-tiba melesak ke dalam perut hingga menggembung dan jalanku jadi mengangkang seperti orang hamil. Aku memikirkan perkataan Pak Hakim sambil menggeleng. Bukannya yang benar buldozer, ya?

“Apakah benar?” Sang Hakim menghardik tidak sabar.

Aku menatap Pak Hakim, lalu perempuan-perempuan tembam mirip gajah laut di kursi pengunjung, dan menatap para jaksa, dan orang-orang di ruangan pengadilan ini. Terlalu aneh, pikirku. Seharusnya ruang pengadilan tidak seperti ini, dan pengadilan tidak berlangsung seperti ini.

Aku menutup mata dan mencubit-cubit pipiku. Ini terlalu aneh untuk jadi kenyataan.

 ***

Gadis itu sudah tidak berteriak-teriak lagi kini. Dia terkulai di tempat tidur dengan air mata mengering dan perut yang menggembung. Kedua tangannya diikat di pinggir ranjang, mencegahnya menyakiti diri sendiri.

Perempuan setengah baya berpakaian serbahijau itu menutup pintu perlahan. Jantungnya mencelus. Dia teringat kisah-kisah yang diceritakan berbarengan dengan kedatangan gadis itu di tempat ini. Diam-diam dia bersyukur, bukan dirinya yang ada di ranjang itu.

Jakarta, 11 November 2013

[1] Kenapa menangis? (sunda)

[2] Siapa? Angkot jurusan ini? Masih ingat tidak plat nomornya? (sunda)

Advertisements

Foto di Restoran Cepat Saji

Kuperhatikan televisi tanpa suara. Kupasang mode bisu. Aku gentar mendengar apa yang dikatakan para pembawa acara berita itu tentang kekasihku. Satu-satunya foto tampak depan yang berhasil mereka dapatkan terpampang besar di layar televisi. Terduga teroris. Dan nama lengkapnya. Nama yang kubisik-bisikkan setiap malam. Nama yang kuselip-selipkan dalam setiap doaku. Nama yang kuucapkan dalam geletar bibir, berharap dia akan balas mencintaiku.

Aku tahu foto itu. Aku yang mengambilnya di sebuah restoran cepat saji. Kami baru saja pulang menonton film dan kelaparan. Dia memesan dua potong ayam dan nasi. Ditambah sup dan perkedel. Dia menghabiskannya tanpa sisa dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Aku meledeknya dan dia hanya nyengir. Pada saat itulah dunia membeku. Kerutan di sudut mata dan bibirnya, matanya yang menyipit, dan geliginya yang rapi dan kecil, membuatku ingin mengabadikannya. Aku mengeluarkan ponselku dan menangkap gambarnya. Dia memprotes ketika tahu aku memotretnya dan merebut ponsel dari tanganku, kemudian mengembalikannya setelah menghapus foto terakhir.

“Nih, ayo foto lagi,” ujarnya.

“Dih, yang tadi dihapus, ya? Padahal bagus.”

“Jelek,” jawabnya singkat, lalu memasang tampang serius. “Ayo, foto lagi. Udah pose, nih.”

Aku memotretnya. Kami tertawa terbahak-bahak menertawakan posenya yang seperti seorang tersangka kejahatan pidana. Dia mengunggahnya di facebook sebagai bahan lelucon. Aku tidak mengira kalau foto itu akan beredar di televisi dengan tulisan terduga teroris di bawahnya.

Gambar di televisi berubah kembali ke perkelahiannya dengan petugas keamanan bandara yang didapatkan dari cctv dan video amatir. Gambar yang diulang-ulang bersamaan dengan fotonya. Dia sempat mendaratkan pukulan di wajah sang petugas keamanan hingga hidungnya berdarah sebelum akhirnya dia roboh.

Jantungku mencelus. Rasanya seperti tubuhku yang dipukuli begitu. Hatiku terasa memar.

Dia kekasihku. Kekasihku selamanya. Tak ada seorang pun yang bisa mencintainya sebesar aku. Bahkan ketika dia berpaling kepada perempuan lain, ketika dia datang padaku untuk meminta maaf karena urung mempersuntingku demi artis sinetron yang belum tentu mencintainya seperti aku mencintainya, hatiku tetap miliknya.

Tidak ada kemarahan dalam hatiku, karena aku tahu cinta tak harus memiliki. Aku bahkan memberinya sebuah bungkusan sebagai oleh-oleh untuk kekasihnya itu. Kemarin aku melepasnya. Aku memeluknya erat sambil tersenyum tulus dan berucap semoga bahagia. Aku tidak tahu kalau kedatangannya ke kota ini bukan untuk berpamitan denganku, melainkan hanya urusan kantor. Aku hanyalah urutan kesekian dari begitu banyak kesibukannya. Barangkali dia hanya tiba-tiba teringat padaku. Barangkali dia tidak pernah berniat bertemu denganku.

Televisi menyiarkan kembali adegan ketika dia berhasil dilumpuhkan. Tiba-tiba gambar berpindah kembali ke studio, memperlihatkan wajah pembaca berita yang cemas, kemudian kembali ke bandara. Kemudian dalam gerakan lambat, aku melihatnya roboh dan melemparkan bungkusan hitam yang kuberikan ke lantai. Dia jatuh bersimbah darah, kemudian bungkusan itu meledak. Potongan-potongan beton bertebaran berantakan.

Jantungku berhenti berdetak. Darah naik ke kepalaku. Ada yang panas menggenangi mataku. Aku jatuh terduduk dan memindahkan saluran televisi secara acak. Acara infotainment. Artis sinetron kekasihnya itu di televisi, bergenggaman tangan dengan rekan aktingnya di salah satu sinetron, saling memandang mesra, mengonfirmasi pertunangan mereka.

Aku tak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku tak bisa mengingat apa pun, kecuali penyesalan. Seharusnya dia tidak mengubah rencana perjalanannya. Seharusnya dia tetap menggunakan bus alih-alih pesawat. Seharusnya bom rakitan itu meledak di tangan perempuan sundal itu. Seharusnya bukan dia yang mati.

Seharusnya….

Mantan

Mantan pacarku yang pernah jadi mahasiswa salah satu institut kesenian di Jakarta, senang bercerita. Dia selalu mendatangiku di hari kerja, setiap kali dia tidak syuting di luar kota ataupun di studio. Kami akan duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja kaca bundar di tengah-tengah ruanganku. Tanganku mengepit buku, salah satu jariku menandai bagian yang sedang kubaca, buku yang kusisihkan beberapa saat untuk mendengar ceritanya.

Sebagai tukang cerita, dia sungguh ahli. Meskipun aku tidak terlalu percaya akan apa yang dikatakannya, namun aku selalu senang mendengar cerita-ceritanya. Mungkin latar belakang pendidikannya yang pernah kuliah di Fakultas Ilmu Pertunjukan Jurusan Teater – walaupun tidak lulus – yang membuatnya tampak menawan ketika bercerita. Terkadang, dia begitu teatrikal, seolah-olah aku sedang menyaksikan pertunjukan di panggung.

Semua hal tentang dia seperti mimpi. Dia adalah seseorang yang akan kautemukan di buku-buku, dalam roman-roman picisan. Bagaimana aku bertemu dengannya, itu juga cerita yang begitu khayali, yang saking berlebihannya, terlalu fantastis untuk dituliskan menjadi sebuah cerita. Aku pernah membaca perkataan seorang penulis besar yang aku tak ingat siapa, kalau kisah fiksi itu harus dibuat senyata mungkin, meski realitas mungkin lebih ajaib daripada fiksi.

Kami bertemu pada sebuah malam cerah bertabur bintang dan kembang api, di atas kolam renang, di hadapan sebuah panggung besar yang di atasnya, Ira Swara sedang berjoget heboh, sementara orang-orang mabuk vodka jeruk yang diracik seorang lelaki berambut gondrong di salah satu meja hidangan. Kembang api baru saja dilesatkan ke langit dan meledak warna-warni ketika kami saling memancang tatap. Benar, kan? Hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam dongeng.

Setelah itu, kami bertukar sajak dalam seratus enam puluh karakter sms, dan aku berbunga-bunga seperti seorang Juliet. Esoknya kami menjadi sepasang kekasih. Sekilat proses pendekatannya, kami putus seminggu kemudian. Bosan, kami berkilah. Tetapi setelah itu dia masih sering mengunjungiku, dan bercerita.

Ceritanya yang paling kuingat adalah tentang seorang teman yang menggorok lehernya sendiri. Ah ya, dia memang segila itu. Aku tidak tahu mengapa dia mengambil setting di bekas kosku di kota tempatku kuliah. Aku tidak yakin dia tahu aku pernah tinggal di sana. Dari deskripsinya, aku bisa membayangkan bangunan dua lantai berisi dua puluh empat kamar itu, berbentuk u, dan ada sederet kamar-kamar menghadap matahari terbit. Aku pernah tinggal di salah satu kamar yang menghadap selatan, hanya tiga bulan selama aku menyusun skripsi dan mengkhawatirkan adikku yang tiba-tiba divonis skizofrenia.

Alkisah, pada salah satu hari libur, mantan pacarku pergi ke kota itu untuk bertemu temannya. Semalaman mereka mengobrol, sempat memesan indomie telur kornet keju sebelum mereka pulang dini hari ke kosan temannya.

Subuh, dia menemukan temannya bersimbah darah. Lehernya tergorok oleh sebuah pisau cutter tajam.

Aku tidak pernah memercayai cerita ini, sama seperti aku tidak memercayai kisah dia yang lain. Tidak tentang pelacur di kota T, tidak juga tentang anak sakit jiwa yang dia sembuhkan di kota S. Namun, aku setia mendengar cerita-ceritanya yang tak pernah masuk akal itu. Bahkan masih mengingatnya walaupun lima tahun telah berlalu.

Hal yang akan kuceritakan berikut ini adalah kisahnya yang paling fantastis. Pada awal bulan Juni di tahun ketiga perkenalan kami, dia mengajakku kencan. Aku setuju untuk bertemu di Kebun Raya Bogor. Kami melewati beberapa rimbun semak dan pasangan-pasangan yang bersembunyi di dalamnya, bercinta.

“Konon, kalau mengajak pacar ke Kebun Raya, akan cepat putus,” katanya padaku di atas jembatan.

“Kalau mengajak mantan?” aku bertanya.

“Mungkin jadian lagi.”

Aku berderai dalam tawa.

Kami berkeliling-keliling hingga sampai di area hening tertutup yang dikelilingi pepohonan. Masuk ke sana seperti disedot ke dunia lain. Suara bising jalanan dan kendaraan seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Aku dan dia duduk di salah satu bangku semen yang menghadap kuburan-kuburan tua orang Belanda. Dia bercerita tentang keinginannya menikah dan memiliki anak-anak lucu. Aku terlongo-longo mendengarnya, karena setahuku dia bukan seseorang yang tahan berlama-lama dalam sebuah hubungan. Kemudian dia mulai membicarakan berbagai macam hal yang tak ada hubungannya dengan kami.

Suara burung dan tonggeret menambah aura mistis tempat itu ketika dia mulai menggebu-gebu bicara tentang perang, tentang bagaimana anak muda Indonesia akan berhenti berpangku tangan dan mulai mengangkat senjata demi Indonesia yang lebih baik. Aku memutar mata. Aku tak pernah suka perang.

“Satu-satunya cara untuk membuat bangsa kita bersatu adalah perang!” ujarnya berapi-api. “Karena agama tidak menyatukan kita, suku-suku tidak menyatukan. Penderitaan perang akan menyatukan kita semua. Karena perang akan membuat para pemuda bangkit dari tidur surinya. Para pemuda yang cuma bisa leha-leha sambil senang-senang ongkang kaki itu, akan berpikir untuk kesejahteraan. Kita butuh perang!”

Aku terdiam, mulai bosan.

“Apa kau pikir Hitler adalah penjahat?”

“Apakah kau membicarakan Hitler karena baru membaca Mein Kampf?”

“Menurutku Hitler adalah seorang yang genius.”

“Memangnya kita tak bisa membicarakan hal yang lain, ya?” keluhku sambil bangkit dari bangku dan memungut daun kering di tanah. Aku meninggalkannya bicara sendiri dan masuk area pemakaman untuk membaca nisan-nisan mereka dengan tubuh memunggungi mantan pacarku.

Suaranya semakin lama semakin sayup, seperti menjauh. Kemudian dia memanggilku. “MIAAAA!”

Aku menoleh, ada lubang portal besar di belakangku, hitam bulat dan berpusar-pusar, menarik tubuh mantan pacarku, sementara tangannya menggapai-gapai ke arahku. Aku berlari, mencoba menariknya, tetapi pusaran itu terlalu kuat. Aku melepaskan tangannya.

Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan mantan pacarku lagi.

Kemang, 11 Oktober 2011

#15harimenulisdiblog #mantan

Telur Naga

Pagi ini, seperti selalu, aku berjalan-jalan ke hutan untuk mencari berbagai jenis flora yang belum masuk ke dalam direktori “Tanaman-tanaman Berkhasiat dan Berbahaya”, buku yang sedang kutulis.

Aku seorang tabib. Mereka bilang aku terlalu muda untuk menjadi tabib, ilmuku belum mencukupi. Jika orang lain begitu memeluk usia mudanya erat-erat dan tak ingin beranjak tua, aku sebaliknya. Usia memberikan tambahan lain bagi profesiku. Mereka lebih memercayai tabib berumur yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Ah asam garam kehidupan. Apa gunanya hidup lama-lama jika kau tidak pernah beranjak dari titik awal kau berjalan? Kau tidak pernah belajar dan mengenali hal-hal baru. Aku muda dan penuh inovasi. Seharusnya mereka mengenali kelebihanku itu.

Sebagai tabib, tak banyak orang yang datang dan meminta obat dariku. Tidak masalah. Kelak mereka akan tahu keistimewaanku. Untuk saat ini, aku menjadi peneliti saja. Pergi ke hutan setiap pagi, mencatat semua flora yang ada di hutan belakang pondokku.

Pagi ini pun sama seperti pagi-pagiku selama satu tahun terakhir. Aku mengenakan jubah dan sepatu bot selututku dan mulai berjalan. Kali ini aku menjelajah lebih jauh, menyisir wilayah baru yang belum pernah kujamah. Hingga akhirnya, aku sampai di sebuah bukaan yang aneh. Pohon-pohon seolah enggan tumbuh di bidang itu, hanya ada rerumputan membentang tumbuh rata di tanah lapang kotak sempurna itu. Dan yang lebih aneh, hujan turun di dalam kotak tersebut.

Di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar. Aku yakin jika aku membuat garis diagonal dari sudut-sudutnya, batu itu tepat berada di tengah. Aku memasang capuchon jubahku dan berlari ke menuju batu tersebut.

Sesuatu yang kuanggap batu itu ternyata semacam kubah pelindung transparan. Dari kejauhan memang tampak seperti batu besar. Namun, jika kau mendekati dan melihatnya dengan saksama, itu adalah penutup kaca. Seperti tudung saji. Aku mengetuk-ngetuknya. Tidak ada yang terjadi. Aku berusaha mengangkatnya, ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Benda itu tidak bergeser sama sekali.

Aku menendangnya. Tudung itu menjerit. Maksudku, benar-benar menjerit. Seperti suara pekikan burung yang kesakitan. Kemudian aku mengelus-elusnya dengan maksud meminta maaf. Terdengar suara klik. Benda itu terlempar terbalik seperti tutup bedak. Nampak di dalamnya:

Lima butir telur.

Satu telur raksasa ditemani empat butir sebesar telur ayam. Telur raksasa itu berwarna hijau mengilap, urat-urat menonjol di permukaannya, membuat pola-pola melingkar membentuk rupa sesosok makhluk. Sementara empat telur lain tampak begitu biasa dan tidak penting dibandingkan kemegahan telur ini.

Aku mengeluarkan kantung kain kosong dari saku jubahku dan memasukkan keempat telur itu. Mungkin ini telur naga, pikirku.

Aku pulang dengan hati senang. Penemuan ini luar biasa. Jika aku bisa menjadi pelatih naga, karirku akan cepat menanjak. Otakku sudah berpikir macam-macam. Telur-telur lainnya bisa kumasak, kujadikan telur dadar. Sudah lama aku tidak makan telur. Ayam susah ditemukan akhir-akhir ini. Begitu pun dengan telur-telur burung lain. Hmmm, pasti enak.

Langkahku agak berbeda ketika pulang ke pondokku. Kakiku menari-nari tanpa diperintah. Senyum pun terpancar di wajahku seperti matahari terbit. Begitu sampai di rumah, aku langsung menaruh telur raksasa di tempat aman dan menyalakan tungku. Aku hanya akan memasak satu telur saja. Tiga telur lainnya kusimpan di atas mangkuk di meja makan.

Telur dadar yang sangat lezat. Tentu saja, karena sudah lama aku tidak makan telur dadar. Rasanya sangat istimewa. Berbeda dari telur dadar yang pernah kurasakan. Lagi-lagi aku menambah umbi-umbian di piringku agar telurku tidak cepat habis. Aku makan banyak sekali, hingga perutku rasanya mau meletus. Dan mataku cepat sekali mengantuk.

Matahari sedang di puncak ketika kantuk menyerangku. Angin sepoi dari hutan membuat mataku semakin berat. Aku tertidur di meja kerjaku dengan pena di tangan. Aku bahkan tidak peduli tintanya merembes ke kertas di meja.

***

“Pencuri!” suara mendesis itu tepat di telingaku.

Aku tergeragap. Ketika aku membuka mata, separuh pondokku telah terbakar. Aku berlari mencari telur hijauku yang berharga dan lega ketika melihat telur itu tidak apa-apa. Aku berlari keluar membawa telur dan semua manuskripku.

“Pembunuh!” suara itu kembali mendesis, seperti dari dalam kepalaku.

Api berkeretak memakan dinding pondokku yang terbuat dari kayu. Panasnya menyeruak ke tubuhku hingga keringat tak henti keluar dari poriku. Bolak-balik aku menyelamatkan semua yang dapat kuselamatkan. Ketika aku menyelamatkan barang-barang yang ada di dapur yang belum terbakar, sekilas aku melihat ketiga telur menghilang dari mangkuknya.

Api semakin berkobar, melahap apa pun yang dilaluinya. Dari atas pondokku, seekor naga menyembur-nyemburkan api.

#15harimenulisdiblog #telurdadar

Sirama-rama dan Kunang-kunang

Seseorang pernah bercerita tentang makhluk yang sudah langka. Bukan, aku tidak sedang membicarakan naga. Ini tentang makhluk-makhluk di belakang rumah. Sirama-rama dan kunang-kunang. Kupu-kupu dan kuku-kuku orang mati. Dahulu, mereka biasa berseliweran di antara pokok-pokok perdu di halaman rumah. Atau hinggap di dahan pohon jambu, bersembunyi di balik daun-daunnya.

Dia bercerita padaku tentang sirama-rama dan masa kecilnya yang indah. Sebelum pindah ke kota besar dan menjadi orang membosankan yang terkurung dalam kubikel dua kali dua di atas karpet abu-abu yang tak pernah dicuci, dia adalah jenderal perang.

Dahulu ketika tanah lapang masih luas dan pohon-pohon jambu masih tumbuh di setiap halaman rumah, dia sudah pergi berperang. Mereka membagi dua kelompok anak-anak yang tinggal di perkampungan yang berbatasan dengan kompleks perumahan itu. Hampir bisa dipanggil anak kompleks, karena jaraknya yang begitu dekat. Namun ada anak-anak sombong yang senang membeda-bedakan anak kompleks dan anak kampung, yang tidak mau bermain dengan anak kampung. Dia bukan salah satunya. Maka dia diangkat jadi jenderal mereka.

Mereka membuat senjata dari bambu, ranting dan karet gelang, dengan peluru pentil jambu air. Jika kau tertembak, kulit yang terkenai peluru jambu-jambu itu akan berwarna merah keunguan selama beberapa hari. Tapi itu sepadan dengan kesenangannya.

Di antara dua kubu anak-anak yang bermain perang-perangan, ada satu anak perempuan. Cantik. Dia tidak pernah ikut berlarian mengangkat senjata. Dia senang berdiam saja di istananya — angkot milik ayahnya yang sedang tidak beroperasi. Dia membentangkan peta yang dia gambar sendiri di lantai angkot dan menyusun strategi. Setiap kali anak-anak laki-laki kembali untuk menambah peluru, mereka menyembah takzim pada sang ratu. Betapa semua anak laki-laki itu memujanya.

Di kelompok mana pun sang ratu ikut berperang, kelompok itu selalu menang. Gadis itu selalu diikuti sirama-rama. Tak peduli sirama-rama selalu terbang hanya muncul ketika bulan mengambil alih dunia, kupu-kupu itu selalu tampak terbang di sekelilingnya. Anak-anak itu menganggap kalau sirama-ramalah yang menyebabkan kemenangan di pihak sang ratu. Mereka berhenti bermain perang-perangan ketika ratu mereka tersayang pindah rumah. Sirama-rama itu pun jadi jarang terlihat di perkampungan itu.

Sejak ratunya pergi, dia menjadi bocah lelaki yang murung. Setiap kali purnama, dia selalu duduk di teras rumahnya sambil memandangi bulan bulat, mencari jejak-jejak sang ratu sirama-rama. Pada salah satu malam seperti itulah dia mulai memperhatikan kedatangan kunang-kunang. Awalnya hanya satu, berkelap-kelip dalam cahaya samar. Kemudian mereka datang bergerombol seperti dikerahkan oleh yang tak kasat mata dari kegelapan.

Dia mulai menangkapi kunang-kunang itu dan memasukkannya ke dalam stoples bekas selai roti dari dapur kemudian menutupnya dengan plastik bening yang diikat dengan karet gelang. Kunang-kunang itu berkerlipan dalam stoplesnya. Dia membawanya masuk ke kamar, mematikan lampu, dan memandangi kunang-kunang sampai tertidur.

Keesokan harinya serangga-serangga itu mati. Dia menangis menyesal dan menguburkan kunang-kunang itu. Malamnya kunang-kunang datang lebih banyak lagi. Kali ini dia membiarkannya bebas.

Belasan tahun setelah itu, aku mendengarkan ceritanya, lalu memohon padanya agar mengajakku yang tidak pernah beranjak dari belantara semen ini untuk pergi berburu sirama-rama dan kunang-kunang. Dia mengabulkan permintaanku meskipun sebelumnya berkali-kali memperingatkan bahwa aku mungkin saja tidak akan bertemu makhluk-makhluk ini.Aku pergi ke kampung halamannya dengan perasaan meluap-luap. Aku tidak pernah melihat sirama-rama dan kunang-kunang secara langsung. Aku ingin merasakan bagaimana jika kupu-kupu raksasa itu nemplok di punggungku, atau merasa takjub akan keberadaan serangga bercahaya.

Aku turun dari mobilnya dan terkejut.
Gedung-gedung menjulang telah menghilangkan tempat untuk makhluk-makhluk lain.

Kemang, 4 Oktober 2011

#5 #hilang #15harimenulisdiblog

benang-benang dalam kantung kain

ini hari keempat kau mengajakku bermain.

kita bertemu di puncak bukit tempat dedalu yang kesepian itu tumbuh sendiri, seperti kepala seorang laki-laki yang penuh dengan bulu. alisnya lebat, cambangnya lebat, poninya lebat, dan ia seperti sedang menangis karena daun-daunnya yang menjuntai dengan cara seperti itu. makanya dinamakan dedalu menangis, kau berkata begitu ketika aku bertanya heran.

di lehermu tergantung kantung kain bertali. di wajahmu terdapat cengiran khas ketika kau hendak melakukan kejahatan bodoh. aku sudah curiga.

kemudian kau menggamit tanganku dan membawaku berlari menuruni bukit itu. “cepat,” kau berkata. “kita harus bersembunyi,” katamu sambil terus berlari menuju sebuah gudang terbengkalai.

kau menutup pintu di belakangmu. napas kita bersahut-sahutan dalam sengal, tetapi mata jahilmu belum pula redup. ketika kau berhasil menangkap kembali udara. kau berkata penuh semangat.

“aku habis mencuri.”

aku masih terengah hingga tak dapat mengatakan apa pun.

“tadi aku mendatangi tempat tiga saudari dan mencuri benang-benang takdir. aku tidak tahu ini benang siapa. aku asal saja mencabutnya dari alat pintal clotho.”

aku terkesiap. “mau kau apakan?”

“bukankah menyenangkan bermain-main dengan takdir orang? lihat!” kau mengeluarkan seutas benang dari kantong kain di lehermu. benang itu cukup panjang. warnanya merah mengilat dan tebal. “jika aku memotongnya di sini, ia tidak akan mengalami sisa hidupnya.” kau cekikikan.

“tapi itu namanya membunuh!” aku protes.

“setiap orang punya garis waktunya sendiri-sendiri. dan aku sedang memegang benang takdir entah siapa. jika aku memotongnya, berarti takdirnya usai.” kau berkata tanpa beban.

“tapi!”

“aku akan membuat pemilik benang ini jatuh cinta padamu, kemudian bunuh diri karena kau menolaknya.”

“hei! kamu tidak boleh melakukan itu!”

aku marah padamu. benang-benang takdir ini urusan para tiga saudari moirae, jadi aku duduk di pojok dan memain-mainkan pasir di kakiku.

kau menjerit tak berapa lama kemudian. seekor gagak mematuk matamu, dan ada ular menggigit kakimu.

di tanganmu seutas benang yang baru saja terpotong.

kau jatuh menggelepar di tanah.

#15harimenulisdiblog | hari keempat | timeline

Putriku dan Dongeng-dongengnya

Anakku senang pada dongeng-dongeng. Berkat ibunya yang rajin, gadis cilik berusia lima tahun itu kini tergila-gila pada dongeng. Kapan pun dia ingat, dia akan meminta hingga memaksa siapa pun untuk mendongeng padanya. Juru cerita favoritnya, tentu saja adalah ibunya sendiri, si racun pertama. Dongeng-dongeng yang diceritakan istriku kebanyakan adalah gubahan asal yang terinspirasi dari kisah Grimm, Perault, Andersen, ataupun cerita-cerita rakyat. Istriku adalah penggila dongeng yang taat. Dia bahkan menulis skripsinya tentang dongeng sebagai syarat kelulusannya menjadi Sarjana Sastra.

Aku sendiri menganggap dongeng sebagai mainan anak perempuan, apalagi dongeng-dongeng yang melibatkan kisah para putri yang minta diselamatkan. Aku hanya mengangguk-angguk saja berpura-pura tertarik ketika istriku bercerita tentang dongeng-dongeng yang digilainya itu. Maka aku pun tidak heran ketika anakku yang bicaranya masih cadel itu tertular kegilaan ibunya.

Suatu waktu, dia menarik-narik ujung kemejaku meminta didongengi sesuatu. Kala itu aku sedang sibuk mengerjakan laporan dan tidak bisa memenuhi permintaannya. Dia meraung kencang sekali, dan tak ada satu pun yang dapat meredakan tangisannya itu, tidak pula dongeng dari istriku. Dia menginginkan dongeng dariku.

Maka baiklah, pikirku, toh laporan ini sudah hampir selesai dan tak ada salahnya jika kutinggalkan sebentar demi bisa bercerita pada putri semata wayangku.

Dia langsung berhenti menangis dan air matanya mengering dengan sendirinya, wajahnya dihiasi tawa, tak ada jejak-jejak tangis di mukanya yang mungil itu. Dasar penipu cilik, pikirku.

Anakku sudah menyiapkan tempat di ranjang kecilnya. Dia menyusun bantal-bantal sedemikian rupa agar aku bisa mendongeng dengan nyaman. Sungguh, melihatnya berseri-seri seperti ini membuat hatiku membuncah bahagia. Matanya yang berbinar menatapku penuh antisipasi, bersiap mendengar dongeng paling hebat yang pernah didengarnya.

“Pada zaman dahulu,” demikian aku memulai. Namun, sebelum sampai pada kalimat berikutnya, dia sudah protes dengan suaranya yang kenes.

“Ibu kalau mendongeng tidak pakai ‘pada zaman dahulu’, kata Ibu, mendongeng kayak gitu udah kuno.”

Ingatkan aku untuk mencubit istriku karena telah menyebabkan semua kerepotan ini. Aku tidak suka dongeng, pun tidak pandai mengarang dan sekarang harus berkutat dengan itu setiap hari.

“Baiklah. Hmmm, bagaimana ya?”

“Telselah Ayah bagaimana mulainya.”

Aku memutar otak, lalu kembali memulai. “Kisah ini terjadi tidak terlalu lama. Mungkin kemarin, tapi bisa juga baru terjadi. Pokoknya, di dunia dongeng, soal waktu bukanlah masalah penting….”

Anakku sudah memperhatikan dengan saksama.

“Ini adalah cerita dua monster yang saling membenci.”

“Kenapa meleka saling membenci, Ayah?”

“Husy… dengarkan dulu.”

“Monstelnya selam tidak, Ayah?”

“Monsternya tidak seram. Kamu mau dengar ceritanya atau tidak?” Aku terus mengulur-ulur waktu sambil memikirkan apa yang akan kuceritakan berikutnya. Dia diam, siap mendengarkan lagi.

“Pada saat ini, mungkin terjadi di dalam lemarimu, atau di bawah ranjangmu, hiduplah dua ekor monster yang saling membenci. Mereka tidak tahu mengapa mereka saling membenci. Tiba-tiba saja begitu. Awalnya mereka berpapasan di gang, kemudian tumbuhlah benih-benih kebencian di antara mereka.

Mereka adalah Monster Merah dan Monster Ungu. Monster Merah menyukai segala yang berwarna merah dan senang menggambar dan mendengarkan dongeng. Sementara itu, Monster Ungu menyukai warna ungu, suka mewarnai dan membacakan dongeng. Tetapi mereka tidak tahu itu. Monster Merah hanya tahu kalau Monster Ungu adalah monster jelek dan tinggi yang berwarna ungu dan punya tampang bodoh. Sementara Monster ungu mengenali monster merah sebagai monster bertampang galak yang senang membentak orang juga sok pintar. Keduanya tidak tahu kalau mereka berdua memiliki hobi yang sama.

Setiap hari, kebencian mereka semakin menjadi-jadi. Kedua monster itu tinggal bersebelahan dan setiap hari yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak usah bertemu muka dengan tetangga mereka. Mereka begitu sibuk memikirkan kebencian mereka sampai-sampai mereka melupakan hal-hal yang mereka sukai. Mereka mulai meninggalkan hobi mereka menggambar dan mendengarkan dongeng. Mereka malah berlomba-lomba membuat senjata penghancur!”

“Senjata macam apa, Ayah? Pelulu meliam?”

“Senjata jenis apa pun.”

“Senjata biologis?”

Dari mana pula anakku yang masih lima tahun mengetahui soal senjata biologis? Aku geleng-geleng kepala.

“Dengarkan dulu,” ujarku. “Nah, suatu hari, datang monster lain ke wilayah itu dan membangun sarang di seberang rumah kedua monster kita. Namanya Monster Hitam. Ia mengundang kedua tetangga barunya untuk datang ke rumahnya dan makan-makan, karena ia ingin mengenal keduanya. Dia punya prinsip kalau kita harus mengenal orang terdekat kita dengan baik, agar kita bisa saling menolong. Karena kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri.

“Monster Merah senang sekali menerima undangan dari Monster Hitam. Ia menyisir bulu merahnya sampai rapi demi bisa mengesankan tetangga barunya. Sementara itu, Monster Ungu mandi di sungai lamaa sekali, sampai seluruh tubuhnya wangi. Kau bahkan bisa mencium wanginya dari jauh. Mereka datang ke sarang Monster Hitam pada saat yang bersamaan. Ketika mengetahui tetangga lama mereka diundang juga, keduanya memalingkan muka lalu meludah ke pinggir jalan.”

“Ih jolok!” putriku tak tahan untuk berkomentar.

“Mau diterusin, enggak?”

Gadis kecilku langsung terdiam sambil menutupi mulutnya. Matanya membelalak. Penuh tekad, pikirku. Dia pasti akan memarahi dirinya sendiri seandainya dia melontarkan komentar lagi hingga membuatku berhenti bercerita. Pemikiran itu membuatku tertawa.

“Kenapa ketawa sendiri, Ayah?” Ya. Dan dia tidak tahan. Lalu menutup mulutnya lagi dengan tangan. Aku mengabaikannya, lalu meneruskan ceritaku.

“Dengan gusar, kedua monster itu mengetuk pintu sarang Monster Hitam. Monster hitam legam membukakan pintu buat mereka dengan senyum lebar. Mau tak mau si Merah dan Ungu pun ikut tersenyum setelah memasang tampang merengut karena bertemu musuh.

‘Silakan duduk,” Monster Hitam sangat ramah. Ia mempersilakan kedua tamunya duduk di sofa empuk di ruang tamunya. Di meja sudah tersedia berbagai makanan enak. Monster Merah dan Ungu menelan liur.

‘Aku senang dapet teman baru seperti kalian. Aku jadi punya teman bermain baru. Katakan, apa hobimu?’ Monster Hitam menoleh pada Monster Merah.

‘Aku suka menggambar dan mendengar dongeng,’ jawab Monster Merah.

Monster Ungu terkesiap, tidak mengira mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu Monster Hitam menoleh padanya dan menanyakan hal yang sama.

‘Aku suka mewarnai dan membaca cerita.’

‘Wah,  kalian pasti sering bermain bersama ya, dengan hobi seperti itu. Menyenangkan sekali. Kalau monster merah menggambar, Monster Ungu yang mewarnai gambarnya. Monster Ungu senang mendongeng, dan Monster Merah senang mendengarnya. Kalian pasti dekat sekali, ya? Aku iri…. Aku ingin punya teman seperti kalian.’

Monster Merah dan Monster Ungu saling berpandangan. Hati mereka berkecamuk. Bagaimana mungkin, monster yang paling mereka benci, ternyata memiliki kesukaan yang sama?”

“Setelah itu gimana, Ayah? Apakah meleka jadi belteman?”

“Monster Merah mengulurkan tangan berbulu merahnya ke Monster Ungu, lalu malu-malu berkata: ‘Kayaknya kita harus kenalan dulu. Aku Monster Merah. Aku suka menggambar dan mendengarkan dongeng.’ Monster Ungu menyambutnya dan berkata: ‘Aku Monster Ungu, aku senang mewarnai dan membaca dongeng.’ Monster Hitam hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua.

Sejak saat itu, Monster Merah dan Monster Ungu menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Berdua, mereka menggambar, mewarnai, dan berbagi dongeng setiap hari.”

“Lalu Monstel Hitam ditinggalin sendili?”

“Monster Hitam pindah rumah dan mencari monster-monster lain yang bermusuhan.”

“Ohhh…”

“Sekarang kamu tidur, ya…” Aku menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya.

“Dongeng yang lain, Yah… Ibu suka mendongeng soal Laksasa dan Timun Suli. Atau Sangkuliang. Atau Lutung Kasalung, Yah! Atau celita Bandung Bondowoso!”

“Timun Mas, maksud kamu?”

“Iya, Timun Suli!”

“Ibu saja ya, yang mendongeng.”

“Ayah saja!” Putriku bersikeras.

Aku menghela napas dan mulai memutar otak lagi. Istriku harus dihukum habis ini.

Coffeewar, 2 Oktober 2011

PS: Tiga minggu terakhir ini saya pergi ke TIM untuk mengikuti Lokakarya Baca Sastra yang digagas Ayu Utami. Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Salihara, untuk #GIMS, Gerakan Indonesia Membaca Sastra. Teks yang kami latih berjudul Kabuliwalla, karya Rabindranath Tagore. Selama  tiga minggu ini saya akrab sekali dengan cerpen ini, berlatih membacakannya di depan cermin, merekamnya di Aurora — macbook saya (konyol ga sih ngasih nama laptop?), maupun membacakannya di depan mentor dan teman-teman sekelas. Jadi cerita ini agak terlalu merasuk ke dalam jiwa. Cerpen ini, sepertinya penuh sekali dengan sentuhan Kabuliwalla. Heuheu. Semoga senang 😉

Oh iya, cerpen ini saya tulis di Coffeewar, kafe favorit saya untuk bekerja. Saya bisa berjam-jam di sini, ngetik cerpen, nerjemahin, sendirian. Cerpen ini ditulis demi bisa ikutan #15harimenulisdiblog hari ketiga yang bertema Perkenalan. Makasih buat kakak @hurufkecil dan @elnaa_ yang telah berupaya menggalakkan kembali program menulis di blog. Hihi.