Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

ketumbi

 

Tujuh hari yang lalu, aku jatuh ke sebuah sumur di hutan kecil belakang kampus.

Bagaimana aku bisa sampai jatuh, aku akan menceritakannya. Barangkali kau akan menganggap ceritaku tak masuk akal, tapi kau boleh percaya atau tidak… aku mengatakan yang sesungguhnya.

Tujuh hari lalu, seusai kuliah jam terakhir, aku membuka ponselku dan membaca sebuah pesan keji dari kekasihku. Perempuan manis yang kejam itu mendadak ingin berpisah dariku. Alasannya sungguhlah klise dan menyebalkan.

“Sayang, aku ingin berkonsentrasi dengan kuliahku dulu. Rasanya, kita tidak akan bisa sering bertemu. Daripada kamu galau kangen padaku terus menerus, lebih baik kita berpisah saja. Nanti, setelah aku lulus, barulah kamu cari aku lagi. Kita akan berpacaran lagi.” Aku bisa membayangkan bibir merah jambunya yang mungil mengatakan omong kosong itu, tak lupa mata bulan sabitnya menatapku penuh rayuan.

Alasan macam apa itu? Sungguh tidak masuk akal. Memangnya aku bocah SMA yang bisa dengan mudahnya percaya dengan alasan ingin berkonsentrasi pada studi?

Lalu, setelah menerima WhatsApp terkutuk itu, aku pun mengurungkan niatku berjalan ke gerbang kampus dan memutuskan untuk melangkah ke arah sebaliknya. Ke arah hutan belakang kampus. Kupikir, jika aku berada dekat-dekat pohon, hatiku yang panas ini akan dingin oleh rindangnya dedaunan.

Kami menyebutnya hutan. Luasnya sekitar delapan hektar dan ditanami berbagai macam vegetasi untuk penelitian, mengelilingi sebuah bukaan sebesar enam kali lapangan bola. Bukaan itu sering dipakai untuk bumi perkemahan mahasiswa baru, dan jarang sekali ada orang mau datang ke sana kecuali ada hubungannya dengan penelitian, atau bersembunyi. Seperti aku.

Laki-laki macam apa aku ini? Bersembunyi setelah dicampakkan kekasihnya? Bapakku pasti malu jika mendengar anak lelaki satu-satunya bersembunyi ke hutan setelah menerima pesan pendek dari kekasihnya yang meminta putus. Tapi, tanpa kejadian ini pun, bapak sudah malu kepadaku. Banyak hal yang tidak mampu kupersembahkan kepadanya. Alih-alih mengikuti keinginannya untuk kuliah Perminyakan biar aku cepat mendapatkan pekerjaan yang memberikan penghasilan besar, aku malah mendaftar kuliah Ilmu Perpustakaan. Bapak mencibir dan berhenti menanggung pendidikan dan biaya hidupku begitu aku diterima kuliah.

Mau kerja apa, kau? Aku ingat dia berkata. Kalau hanya ingin tahu bagaimana cara menggunakan kemoceng, tak usahlah kau kuliah. Aku tak pernah mendengar siapa pun kaya raya karena kerja di perpustakaan. Perpustakaan hanya tempat buangan buat orang-orang tercampakkan. Siapa yang masih datang ke perpustakaan? Para kutu buku itu hanya menghabiskan waktunya untuk berkhayal.

Tentu saja aku tak bisa menyangkal. Bukan karena aku setuju dengan ucapannya, tetapi karena aku tahu Bapak. Mau sampai berbusa pun mulutmu mencoba menjelaskan, akan percuma jika dia tidak menyediakan ruang untuk pengetahuan baru. Berkuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan adalah satu-satunya pembangkanganku. Dan karena itu, aku dicoret dari daftar anaknya.

Jadi, jika sekarang aku bersembunyi seperti pengecut, aku tidak perlu takut bapakku malu karena aku sudah bukan anaknya lagi. Aku bebas merana dan patah hati. Aku bebas meratap.

Gadis bermuka bulat dengan noda-noda hitam samar bekas jerawat di pipinya itu pertama kali mengganggu hatiku tiga tahun lalu. Kami sama-sama berbaris di tengah bukaan hutan yang dikelilingi tenda-tenda. Senior sedang meneriakkan sesuatu yang tidak penting, dan pada saat itulah seorang gadis terjatuh tak sadarkan diri. Kami semua menoleh ke sumber keributan. Dan di sanalah, berdiri di belakang gadis yang pingsan itu, gadisku bermuka bulat.

Aku melihatnya bergerak dengan slow-motion, berjongkok, mengibaskan poninya yang sudah terlalu panjang dan menghalangi matanya, memegangi kawannya yang pingsan, lalu bola matanya bergerak ke arahku. Ke mataku. Aku menatapnya tak berkedip, mengabadikan momen sepanjang sepuluh detik ini sebelum matanya kembali pada kawannya dan adegan slow-motion ini berubah menjadi hiruk pikuk.

Dia tidak cantik. Kau pun setuju denganku. Namun, ada sesuatu dengan bola mata hitam legamnya dan mata bulan bulan sabitnya yang membuatku tak bisa memalingkan pandangan. Kekagumanku berubah menjadi obsesi begitu perkuliahan dimulai. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah kutu buku yang rakus dan rendah hati. Kebahagiaannya adalah mencium aroma buku, dan laki-laki tercampakkan seperti aku tidak masuk dalam daftar kebahagiaannya.

Namun, aku tidak sepenuhnya lemah. Aku bukan anak bapak lagi. Aku adalah lelaki yang bisa membangkang. Mengapa aku tak bisa mendapatkan sang dewi buku? Tiga tahun aku bergerilya, hingga terang-terangan bersikap seperti pengemis cinta, menurunkan swahargaku[1] begitu rendahnya sampai ke inti bumi, membuat diriku seorang jelata yang tidak memiliki keistimewaan. Demi dia! Gadisku yang kurang ajar.

Belum sebulan hubungan kami, mendadak dia mengirimkan WhatsApp tanpa dosa, mengatakan bahwa ia ingin putus dariku. Konsentrasi dengan kuliah, ha! Bahkan semua orang pun tahu betapa omong kosongnya alasan itu. Dia begitu cerdas hingga dia bisa saja menghabiskan waktu hanya satu semester untuk seratus empat puluh SKS perkuliahan jurusan ini dengan IPK 4. Dia hanya menghabiskan waktunya saja di jurusan ini.

Tiga tahun usaha yang dikalahkan oleh sebaris pesan WhatsApp. Sudah selayaknya aku berjalan gontai seperti prajurit kalah perang. Apa lagi yang bisa kulakukan sehabis ini?

Aku melangkahkan kakiku mengikuti jalan utama kampus dan memasuki jalan setapak ke hutan hingga matahari terus bergeser ke barat dan kulitku tak lagi merasakan terik. Kerongkonganku mulai kering, dan kakiku mulai pegal, tapi aku tidak punya niat apa pun lagi selain terus berjalan. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan sesampainya di sana.

Jangan pertanyakan logika cerita ini dan apakah yang kukatakan masuk akal atau tidak. Aku ini pria patah hati. Barangkali aku hanya berhalusinasi, siapa tahu sejak tadi aku hanya berputar-putar di belakang gedung kuliahku, tidak berjalan sampai ke hutan. Tapi, anggap saja aku memang berjalan ke hutan. Karena itulah yang kupercayai. Kakiku menuju hutan, tidak ke mana-mana. Apalagi ke perempuan paling jahat sedunia itu.

Pada saat aku mempertanyakan kewarasanku sendirilah, aku terperosok ke dalam lubang. Lubang ini berada di jalur setapak, tertutupi oleh daun-daun kering waru yang besar. Seingatku, dahulu tak ada lubang di tengah jalur ini. Buat apa orang menggali lubang di tengah jalan setapak? Sekitar lima menit yang terasa bagai seumur bumi kemudian, bokongku jatuh berdebam di dasar lubang yang dihampari daun-daun kering.

Aku mengelus-elus pantatku yang terasa pedas. Mataku jelalatan meneliti keadaan di dasar lubang. Lubang ini seperti sebuah sumur kering. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi lumut tebal berwarna biru. Entah pengaruh zat apa hingga lumut itu berwarna biru. Cahaya mulai menyembunyikan diri dan pelan-pelan bergulir menjauh dari bibir sumur, dan aku ditelan kegelapan.

Aku menyeru ke bibir sumur, berharap seseorang mendengar teriakan keturunan Yusuf nan rupawan ini, tetapi aku hanya dibalas gema suaraku sendiri. Tanganku mencari-cari sesuatu yang bisa kujadikan pijakan untuk memanjat ke atas dan tidak menemukan apa pun kecuali lumut biru dingin yang bertekstur lembut seperti kue bolu.

Kampret! seruku.

Seekor kampret langsung melintas di atas langit malam yang mulai diterangi temaram sinar rembulan. Aku terbahak-bahak. Kebetulan macam apa itu, seekor kampret tiba-tiba melintas saat kupanggil? Bodoh sekali.

Bodoh sekali. Kenapa sejak tadi tak terlintas di pikiranku untuk mengeluarkan telepon genggam dan meminta bantuan seseorang? Kurasa patah hati bisa menurunkan IQ-mu hingga rendah sekali. Buru-buru, kuambil ponsel dan langsung mengumpat serta meninju dinding dengan kesal ketika melihat bar sinyal hanya berupa x berwarna merah.

Tinjuku yang tak seberapa kuat itu menggoyangkan batu bata hingga terlepas satu ke arah sebaliknya. Cahaya lemah menyeruak menyinari dasar lubang. Ini membuatku penasaran, dan aku sudah tidak lagi memikirkan mantan kekasihku yang tidak berperasaan itu.

Aku mengintip lewat lubang sebesar batu bata itu.

Kalian boleh menebak apa yang kulihat di sana.

Ayo tebak….

Bukan, rongga itu bukan lemari tempat penyimpanan emas. Kau salah besar.

RONGGA ITU RUANGAN BESAR PENUH EMAS PERMATA!

Aku berseru kesetanan. “Kaya raya! Aku akan kaya raya! Dan bapak juga gadis kurang ajar itu tidak bisa lagi meremehkanku. Aku akan menjadi raja di tempat ini dan semua orang akan tunduk pada perintahku!” Aku kembali tertawa terbahak.

Kali ini aku meninju dinding sumur dengan sekuat tenaga. Batu bata rapuh langsung berjatuhan, memperbesar lubang di dinding. Pemandangan yang kulihat semakin menarik saja. Ini seperti gua harta karun naga Smaug. Aku terkikik. Bedanya, aku yakin di tempat ini tidak ada naga. Para kurcaci itu sungguh malang. Mereka menghabiskan sebuah buku tebal dan tiga film dengan durasi panjang hingga bisa sampai ke istana harta karun Smaug. Sementara aku, hanya tinggal patah hati dan jatuh ke dalam lubang. Seperti Alice in Wonderland yang sangat beruntung.

Aku melempar ranselku terlebih dulu dan bergerak melata ke ruangan di seberang. Semakin masuk ruangan itu, semakin silau mataku. Hampir seluruh ruangan itu ditutupi oleh benda berkilauan. Ukurannya hanya sebesar kamarku, tetapi emas menggunung di sana. Koin-koin emas berjatuhan dari atap yang tidak terlalu tinggi, hingga membuat ruangan itu semakin rendah.

Saat seluruh tubuhku berhasil masuk, kulempar laptopku keluar ransel dan menggantinya dengan emas permata.

Aku tertawa puas.

Ranselku kini berat dengan logam mulia. Siapa bilang orang sepertiku tidak bisa tamak? Siapa pun bisa menjadi tamak ketika dihadapkan dengan seruangan penuh emas.

Sekarang, bagaimana caranya kembali ke peradaban?

Aku harus menemukan pintu. Kuketuk-ketuk dinding-dindingnya yang berlapis emas, berusaha menemukan sisi yang bisa didorong. Kudobrak setiap sisinya dengan lenganku, dan pada percobaan kesekian, tubuhku terlempar keluar.

Aku keluar dari sebuah pintu dan terjatuh di depan ranjang yang sangat kukenali. Ranjang di kamar kosku. Kupastikan aku masih membawa ransel berisi emas permata itu dan segera membukanya. Benda-benda berkilauan itu masih terdiam manis di dalamnya, dan aku tertawa lagi.

Ini benar-benar mukjizat. Aku tidak memercayai keberuntunganku. Kuambil permata paling indah dan cemerlang dari ranselku, memasukkannya ke dalam kotak, lalu menyembunyikan ranselku di dalam lemari terkunci. Aku harus menemui perempuan itu. Akan kuberikan permata terindah ini agar ia menyesal telah mencampakkan pemuda setampan dan sekaya aku. Setelah itu, aku akan mencampakkannya juga. Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun yang kuinginkan dengan semua permata yang kumiliki.

Langkahku lebar dan percaya diri ketika mendatangi rumah kos mantan kekasihku. Dia berada di kamarnya dan sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kaku dengan khusyuk. Gadis itu tampak kaget melihatku, tetapi dia segera menguasai diri setelah kelihatan berpikir bahwa wajar saja aku mendatanginya. Pasti aku ingin meminta kejelasan darinya.

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, aku memberikan kotak berisi permata sebesar bogem itu kepadanya.

Matanya membelalak ketika menerima kotak itu dariku. Namun, ekspresinya tak seperti yang kuinginkan waktu ia membuka kotaknya. Ia menjerit histeris dan melempar kembali hadiahku ke mukaku. Mulutnya yang merah jambu dan mungil itu menceracaukan semua makian kotor yang tidak layak keluar dari mulutnya yang manis.

“Kau jauh lebih hina daripada ketumbi[2] tahi ayam!” serunya, tanpa aku mengerti apa itu ketumbi.

Aku tidak peduli. Permataku masih banyak. Aku bisa melakukan banyak hal dengan permata-permata itu.

Pertama-tama, aku akan mendatangi induk semangku dan membayar kamar kosanku yang sudah menunggak dua bulan dengan sebongkah emas batangan. Kalau bisa, kubeli sekalian rumah kos-kosannya.

Namun, reaksi ibu kosku tidak jauh beda dari mantan kekasihku.

Begitu pun ketika aku pulang dan ingin memamerkan kekayaanku yang baru ini kepada Bapak.

Reaksi Bapak jauh lebih buruk dari mantan kekasih dan ibu kosku. Dia mengacung-acungkan golok sambil berteriak: Dasar anak tak tahu diuntung. Kenapa kau memberiku tahi? Anak kurang ajar!, kemudian terjatuh pingsan karena serangan jantung.

Terakhir, ketika aku mencoba membayar laptop baru dengan sebongkah emas. Mereka malah memanggil satpam.

Sekarang, tidak ada lagi yang mau berbicara kepadaku.

 

Antapani, 16 Mei 2014

 

*ditulis dalam rangka #tantangannulis satu jam dan bermain-main dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia bersama Nico Rosady, Erlin Natawiria, dan Andi @SuaraSuaraHujan

 

[1] Swaharga a rasa harga diri (kbbi)

[2] Ke.tum.bi n tahi yg penghabisan; — tahi ayam, ki orang yang sangat hina (kbbi)

Muslihat Gajah Laut

Sebelumnya, aku tidak pernah menginjakkan kaki di ruang pengadilan. Tak satu pun anggota keluargaku diadili karena sesuatu hal, tidak pula kawan dan handai taulanku.

Aku pun tidak tahu mengapa tiba-tiba bisa berada di ruang pengadilan. Aku lupa bagaimana aku bisa duduk di antara perempuan-perempuan tambun berbau keringat dan berambut lepek itu. Wajah mereka mirip gajah laut. Terutama hidungnya, melengkung seperti kacang jambu mete. Pakaian mereka seperti berasal dari tahun delapan puluhan dan kekecilan sehingga daging mereka mendesak lewat celah-celah jahitannya.

Mereka berbisik-bisik. Dari perempuan-perempuan itu, aku mengetahui bahwa mereka mengadili seorang nenek yang mencuri sebatang singkong dari perkebunan tuan tanah. Sebatang singkong yang beracun ketika si nenek memasaknya. Sebelum diadili, dia menginap selama tiga hari di rumah sakit dan menambahkan daftar utangnya.

Kemudian,

Hakim memanggilku.

Aku tidak pernah ke ruang pengadilan sebelumnya. Aku tidak tahu apakah lazim seorang hakim memanggil pengunjung pengadilan. Barangkali dia memanggilku karena aku masuk tanpa izin? Apakah ada semacam buku absen yang berisi orang-orang yang boleh berada di ruang pengadilan?

Perempuan-perempuan tembam itu melirikku lalu memberi isyarat agar aku berdiri dan mendekati hakim. Aku memeluk tasku erat-erat dan berjalan dengan canggung sambil berpikir (apakah ketika kau dipanggil hakim, kau boleh membawa tasmu?). Kakiku seperti diberati sebongkah batu. Dan punggungku panas karena merasa mata-mata menusukku dari belakang, membolongi punggungku seperti pisau laser.

Sang Hakim menyuruhku duduk. Aku semakin erat memeluk tasku sambil kepalaku celingak celinguk, mencari pertolongan.

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

***

Saya satu-satunya penumpang perempuan di angkot ini. Di sebelah saya, duduk seorang lelaki kurus. Mulutnya agak manyun dan bagian atas bibirnya dihiasi kumis tipis panjang hingga mirip moncong tikus. Dia mengenakan kemeja flannel bertangan pendek dengan motif kotak-kotak merah yang warnanya sudah begitu pudar dan menguarkan aroma keringat tajam. Bukan bau yang enak dihirup di waktu sepagi ini—bahkan tidak enak di waktu apa pun. Rambutnya dipotong gaya punk yang bagian kanan-kirinya sudah tumbuh setebal satu sentimeter dan bagian tengahnya yang sudah memanjang jatuh. Kedua kakinya dibalut celana kulit ketat bertambalan dan ditutup sepasang sepatu bot berpaku.

Di depan lelaki itu, duduk lelaki lain bertubuh gempal. Meski ini masih begitu pagi, sudah ada noda keringat di bagian dada kaus partainya yang sudah berlubang-lubang. Wajahnya seperti gajah laut, hidungnya besar dan agak melengkung ke dalam. Lehernya berlipat-lipat dan ada daki di lipatannya. Matanya sipit dan agak bengkak.

Positif, kedua pria ini sudah berhari-hari tidak mandi. Selain mencium bau tidak sedap dari tubuh mereka, saya juga mencium niat busuk dari kepala kedua orang itu. Mereka mengobrol dalam bahasa Sunda kasar, sesekali ditimpali oleh sopir angkot di depan.

Pukul dua dini hari, bukan waktu yang tempat untuk gadis baik-baik seperti saya masih bertualang dalam angkutan kota. Seharusnya, kereta saya tiba di stasiun empat jam lalu seandainya tidak tiba-tiba mogok dan terjebak di antah berantah. Tidak ada yang bisa menjemput saya pagi ini. Ayah saya sudah tua dan tidak mungkin saya membangunkan beliau pagi buta hanya demi menjemput putrinya yang sudah dewasa. Menghabiskan waktu empat jam di stasiun bukanlah pilihan karena saya sudah kelelahan dan yang saya inginkan hanyalah mandi air hangat dan tidur memeluk boneka-boneka saya. Entah mengapa, kesialan saya berlipat ganda dengan tak ada satu pun taksi tepercaya hingga saya terpaksa pulang naik angkot.

“Neng, pagi amat pulangnya?” Si Lelaki Tikus berhenti mengobrol dengan kawannya dan mulai mengalihkan perhatiannya kepada saya.

Saya menoleh sekilas dan tersenyum malas. Tak berniat menjawab.

“Lagian sendirian aja. Nggak ada yang jemput?” Dia bertanya lagi. Bukan urusanmu. Saya memeluk tas ransel saya lebih erat, waspada.

“Tenang, Neng, aman sama Aa mah!” Si Sopir menimpali dari kursi depan, tertawa-tawa.

“Ati-ati Neng sama dia!” kata Si Lelaki Tikus lagi. “Kalau ada apa-apa, langsung turun aja di tempat yang terang, terus naik angkot yang penuh!”

Si Lelaki Tikus malah turun setelah memberiku petuah. Saya ingin menyanggahnya. Mana ada angkot yang penuh pada jam seperti ini. Tinggal saya dan Si Gajah Laut dan sopir angkot. Tujuan saya masih sekitar sepuluh kilometer lagi, dan saya sudah sangat gelisah. Rasanya, saya adalah salah satu tokoh dalam novel “And Then There Were None” karya Agatha Christie yang dibunuh satu demi satu di sebuah pulau. Angkot ini adalah pulaunya. Jika saya tidak segera turun, maka saya adalah korban berikutnya.

Baiklah, barangkali saya terlalu banyak membaca buku thriller dan berkhayal. Namun, Anda pasti setuju kalau ketakutan saya memang beralasan.

Angkot berbelok di sebuah pom bensin bercahaya temaram di sebelah rumah kosong dengan ilalang-ilalang tinggi. Haruskah dia mengisi bensin sekarang? Bukannya pom bensin ini sudah tutup? Saya sudah bersiap loncat dari angkot dan melarikan diri karena jelas tidak ada seorang pun di pom bensin itu. Ini bukan pom bensin di Amerika yang kau bisa mengisi sendiri bahan bakar kendaraanmu tanpa operator.

“Mau ke mana, Neng?” tanya Si Gajah Laut ketika saya beringsut pindah ke kursi yang menahan pintu angkot. Mata sipitnya yang bengkak mengedip. “Turun di mana, Neng?” Mulutnya meruapkan aroma alkohol.

“Di sini aja.” Saya berkata gusar.

“Tenang, nanti dianterin sampai rumah,” si sopir menimpali.

“Di sini aja.” Saya bersikeras, siap meloncat.

Namun, Si Gajah Laut lebih sigap. Tangannya menutupi pintu sebelum saya berhasil menjejakkan kaki di tanah, sebelah tangannya menarik lalu mengempaskan tubuh saya ke lantai angkot, sementara sopir angkot terus melajukan angkotnya ke belakang bangunan di pom bensin. Pepohonan agak rapat sehingga tak sedikit pun cahaya bertandang ke daerah ini. Saya meronta dan menendang, berusaha membidik selangkangannya.

Tolong jangan bilang ini akan terjadi kepada saya.

Seharusnya tadi saya mengikuti saran sahabat saya untuk menunggu di stasiun saja sampai matahari datang. Seharusnya saya tidak senekat ini. Seharusnya saya tidak sebodoh ini.

Saya berteriak sekencang-kencangnya. Saya menjerit meminta pertolongan. Saya menendang-nendang, memukulkan ransel saya ke kepalanya yang seperti gajah laut. Kedua tangannya menahan tangan saya di lantai angkot, sementara si sopir angkot sudah bergabung dengan temannya ke bagian belakang mobil dan menutup semua pintu.

***

Saya dibuang di pinggir jalan, tercabik-cabik dan tak berguna seperti seonggok kain perca limbah pabrik. Saya merasa sudah mati dan tidak sanggup lagi menangis ataupun merasa sakit. Sebelum angkutan kota berwarna hijau itu melesat membawa pergi ransel dan kehormatan saya, saya sempat mencatat nomor polisinya. Seandainya saya bertahan hidup dan masih waras, saya pasti akan memburu mereka dan membalas dendam.

Kedua kaki saya gemetaran dan seluruh tubuh saya dingin seakan nyawa ditarik pelan-pelan dari ujung kaki. Namun, saya berusaha berdiri, bertumpu pada dinding pagar pabrik tempat saya dicampakkan. Saya memeluk tubuh saya sendiri yang bergetar, tetapi bahkan pelukan itu tidak bisa menenangkan semua yang berkecamuk di kepala saya.

Sayup, terdengar suara mengaji dari pengeras suara masjid. Mendengarnya, rasanya hati saya seperti sedang disayat-sayat belati.

Sebuah angkutan kota berhenti di depan saya. Ada beberapa penumpang di dalamnya dan si sopir menyapa saya dengan ramah. “Ka mana, Neng?”

Saya menggeleng. Tanpa bisa dicegah, air mata mulai mengalir di pipi saya.

“Naik aja, Neng. Subuh gini mah angkotnya masih jarang.” Dia membujuk saya. Saya masih menggeleng dan mengarang alasan agar tidak usah menaiki angkotnya.

“Enggak, lagi nunggu teman,” saya menyahut lirih.

Kunaon leweh[1]?” Dia mulai terdengar cemas, tetapi dari nada suaranya jelas sekali kalau dia tidak menganggap saya serius. Orang-orang di dalam angkot mulai memalingkan perhatiannya kepada saya. Mereka seperti memanjangkan telinga dan mata mereka karena penasaran akan keadaan saya yang semrawut dan menyedihkan.

“Nggak apa-apa. Sa-sa-ya-la-gi-nung-gu-te-man.” Saya menggeleng kuat-kuat sementara napas mulai tersengal, terhalang oleh tangis yang mulai membanjir. Kenapa saya menangis? Pria-pria setan itu tak perlu ditangisi. Saya tidak boleh menangis karena saya akan membunuh mereka berdua.

Nya tapi kunaon bet leweh?” Dia bertanya lagi. Saya kembali menggeleng. Namun, semakin kencang gelengan saya, semakin tidak meyakinkan kelihatannya. “Sudah, masuk saja. Di depan ada pos polisi. Saya antar sampai sana.” Sang sopir berkata seolah tahu apa yang baru saja saya alami.

Saya duduk di sebelah sopir dan menyadari bahwa saya tak beralas kaki. Sepatu saya dilempar kedua bajingan itu entah ke mana. Sang sopir membujuk untuk bercerita, tetapi saya hanya bisa mengatakan kalau saya dirampok. Tak sudi mengakui kalau mereka juga melakukan hal yang lain.

“Saha? Angkot jurusan ini? Inget keneh teu platna[2]?”

  1. Dan ada stiker The Mi Is 3 di kaca belakangnya.

“1998? Demi Istri? Ah, kenal itu mah. Si Jek pasti. Atau Si Rambo? Kapan kejadiannya? Kenapa Eneng naik angkot pagi-pagi gini? Enggak ada yang jemput?” Dan serentetan pertanyaan lain. Tidak, saya tidak membutuhkan orang lain lagi menyalahkan saya. Saya sudah cukup menyalahkan kepandiran saya. “Gampang nyari Si Jek mah. Dia suka nongkrong di warkop yang deket terminal itu. Kurang ajar bener tuh Si Jek.”

Saya mencatat informasi itu, berniat mencari Si Gajah Laut atau Si Sopir Biadab itu. Karena saya akan menemukan mereka dan membuat mereka menyesal.

 ***

“Hari ini, kita akan menentukan nasibmu,” ujar Sang Hakim.

Aku menelengkan kepala, menatap Sang Hakim dengan pandangan penuh tanda tanya. Kenapa kita akan menentukan nasibku?

“Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dan seorang sopir odong-odong?” Dia bertanya. Alih-alih menjawab, aku malah menertawakan rambut palsunya yang keriting dan putih. Pak Hakim seperti kodok yang mengenakan wig dan itu lucu sekali.

Pak Hakim kembali bertanya. “Apa benar, kau telah membunuh seekor gajah laut dengan cara menggilasnya dengan traktor dan menguburnya di bawah aspal? Lalu apa benar, kau membunuh sopir odong-odong dengan cara melilitkan benang gelasan ke sekujur tubuhnya hingga dia mati kehabisan darah?”

Aku berhenti tertawa dan berubah serius karena tas dalam pelukanku tiba-tiba melesak ke dalam perut hingga menggembung dan jalanku jadi mengangkang seperti orang hamil. Aku memikirkan perkataan Pak Hakim sambil menggeleng. Bukannya yang benar buldozer, ya?

“Apakah benar?” Sang Hakim menghardik tidak sabar.

Aku menatap Pak Hakim, lalu perempuan-perempuan tembam mirip gajah laut di kursi pengunjung, dan menatap para jaksa, dan orang-orang di ruangan pengadilan ini. Terlalu aneh, pikirku. Seharusnya ruang pengadilan tidak seperti ini, dan pengadilan tidak berlangsung seperti ini.

Aku menutup mata dan mencubit-cubit pipiku. Ini terlalu aneh untuk jadi kenyataan.

 ***

Gadis itu sudah tidak berteriak-teriak lagi kini. Dia terkulai di tempat tidur dengan air mata mengering dan perut yang menggembung. Kedua tangannya diikat di pinggir ranjang, mencegahnya menyakiti diri sendiri.

Perempuan setengah baya berpakaian serbahijau itu menutup pintu perlahan. Jantungnya mencelus. Dia teringat kisah-kisah yang diceritakan berbarengan dengan kedatangan gadis itu di tempat ini. Diam-diam dia bersyukur, bukan dirinya yang ada di ranjang itu.

Jakarta, 11 November 2013

[1] Kenapa menangis? (sunda)

[2] Siapa? Angkot jurusan ini? Masih ingat tidak plat nomornya? (sunda)

Foto di Restoran Cepat Saji

Kuperhatikan televisi tanpa suara. Kupasang mode bisu. Aku gentar mendengar apa yang dikatakan para pembawa acara berita itu tentang kekasihku. Satu-satunya foto tampak depan yang berhasil mereka dapatkan terpampang besar di layar televisi. Terduga teroris. Dan nama lengkapnya. Nama yang kubisik-bisikkan setiap malam. Nama yang kuselip-selipkan dalam setiap doaku. Nama yang kuucapkan dalam geletar bibir, berharap dia akan balas mencintaiku.

Aku tahu foto itu. Aku yang mengambilnya di sebuah restoran cepat saji. Kami baru saja pulang menonton film dan kelaparan. Dia memesan dua potong ayam dan nasi. Ditambah sup dan perkedel. Dia menghabiskannya tanpa sisa dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Aku meledeknya dan dia hanya nyengir. Pada saat itulah dunia membeku. Kerutan di sudut mata dan bibirnya, matanya yang menyipit, dan geliginya yang rapi dan kecil, membuatku ingin mengabadikannya. Aku mengeluarkan ponselku dan menangkap gambarnya. Dia memprotes ketika tahu aku memotretnya dan merebut ponsel dari tanganku, kemudian mengembalikannya setelah menghapus foto terakhir.

“Nih, ayo foto lagi,” ujarnya.

“Dih, yang tadi dihapus, ya? Padahal bagus.”

“Jelek,” jawabnya singkat, lalu memasang tampang serius. “Ayo, foto lagi. Udah pose, nih.”

Aku memotretnya. Kami tertawa terbahak-bahak menertawakan posenya yang seperti seorang tersangka kejahatan pidana. Dia mengunggahnya di facebook sebagai bahan lelucon. Aku tidak mengira kalau foto itu akan beredar di televisi dengan tulisan terduga teroris di bawahnya.

Gambar di televisi berubah kembali ke perkelahiannya dengan petugas keamanan bandara yang didapatkan dari cctv dan video amatir. Gambar yang diulang-ulang bersamaan dengan fotonya. Dia sempat mendaratkan pukulan di wajah sang petugas keamanan hingga hidungnya berdarah sebelum akhirnya dia roboh.

Jantungku mencelus. Rasanya seperti tubuhku yang dipukuli begitu. Hatiku terasa memar.

Dia kekasihku. Kekasihku selamanya. Tak ada seorang pun yang bisa mencintainya sebesar aku. Bahkan ketika dia berpaling kepada perempuan lain, ketika dia datang padaku untuk meminta maaf karena urung mempersuntingku demi artis sinetron yang belum tentu mencintainya seperti aku mencintainya, hatiku tetap miliknya.

Tidak ada kemarahan dalam hatiku, karena aku tahu cinta tak harus memiliki. Aku bahkan memberinya sebuah bungkusan sebagai oleh-oleh untuk kekasihnya itu. Kemarin aku melepasnya. Aku memeluknya erat sambil tersenyum tulus dan berucap semoga bahagia. Aku tidak tahu kalau kedatangannya ke kota ini bukan untuk berpamitan denganku, melainkan hanya urusan kantor. Aku hanyalah urutan kesekian dari begitu banyak kesibukannya. Barangkali dia hanya tiba-tiba teringat padaku. Barangkali dia tidak pernah berniat bertemu denganku.

Televisi menyiarkan kembali adegan ketika dia berhasil dilumpuhkan. Tiba-tiba gambar berpindah kembali ke studio, memperlihatkan wajah pembaca berita yang cemas, kemudian kembali ke bandara. Kemudian dalam gerakan lambat, aku melihatnya roboh dan melemparkan bungkusan hitam yang kuberikan ke lantai. Dia jatuh bersimbah darah, kemudian bungkusan itu meledak. Potongan-potongan beton bertebaran berantakan.

Jantungku berhenti berdetak. Darah naik ke kepalaku. Ada yang panas menggenangi mataku. Aku jatuh terduduk dan memindahkan saluran televisi secara acak. Acara infotainment. Artis sinetron kekasihnya itu di televisi, bergenggaman tangan dengan rekan aktingnya di salah satu sinetron, saling memandang mesra, mengonfirmasi pertunangan mereka.

Aku tak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku tak bisa mengingat apa pun, kecuali penyesalan. Seharusnya dia tidak mengubah rencana perjalanannya. Seharusnya dia tetap menggunakan bus alih-alih pesawat. Seharusnya bom rakitan itu meledak di tangan perempuan sundal itu. Seharusnya bukan dia yang mati.

Seharusnya….

Mantan

Mantan pacarku yang pernah jadi mahasiswa salah satu institut kesenian di Jakarta, senang bercerita. Dia selalu mendatangiku di hari kerja, setiap kali dia tidak syuting di luar kota ataupun di studio. Kami akan duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja kaca bundar di tengah-tengah ruanganku. Tanganku mengepit buku, salah satu jariku menandai bagian yang sedang kubaca, buku yang kusisihkan beberapa saat untuk mendengar ceritanya.

Sebagai tukang cerita, dia sungguh ahli. Meskipun aku tidak terlalu percaya akan apa yang dikatakannya, namun aku selalu senang mendengar cerita-ceritanya. Mungkin latar belakang pendidikannya yang pernah kuliah di Fakultas Ilmu Pertunjukan Jurusan Teater – walaupun tidak lulus – yang membuatnya tampak menawan ketika bercerita. Terkadang, dia begitu teatrikal, seolah-olah aku sedang menyaksikan pertunjukan di panggung.

Semua hal tentang dia seperti mimpi. Dia adalah seseorang yang akan kautemukan di buku-buku, dalam roman-roman picisan. Bagaimana aku bertemu dengannya, itu juga cerita yang begitu khayali, yang saking berlebihannya, terlalu fantastis untuk dituliskan menjadi sebuah cerita. Aku pernah membaca perkataan seorang penulis besar yang aku tak ingat siapa, kalau kisah fiksi itu harus dibuat senyata mungkin, meski realitas mungkin lebih ajaib daripada fiksi.

Kami bertemu pada sebuah malam cerah bertabur bintang dan kembang api, di atas kolam renang, di hadapan sebuah panggung besar yang di atasnya, Ira Swara sedang berjoget heboh, sementara orang-orang mabuk vodka jeruk yang diracik seorang lelaki berambut gondrong di salah satu meja hidangan. Kembang api baru saja dilesatkan ke langit dan meledak warna-warni ketika kami saling memancang tatap. Benar, kan? Hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam dongeng.

Setelah itu, kami bertukar sajak dalam seratus enam puluh karakter sms, dan aku berbunga-bunga seperti seorang Juliet. Esoknya kami menjadi sepasang kekasih. Sekilat proses pendekatannya, kami putus seminggu kemudian. Bosan, kami berkilah. Tetapi setelah itu dia masih sering mengunjungiku, dan bercerita.

Ceritanya yang paling kuingat adalah tentang seorang teman yang menggorok lehernya sendiri. Ah ya, dia memang segila itu. Aku tidak tahu mengapa dia mengambil setting di bekas kosku di kota tempatku kuliah. Aku tidak yakin dia tahu aku pernah tinggal di sana. Dari deskripsinya, aku bisa membayangkan bangunan dua lantai berisi dua puluh empat kamar itu, berbentuk u, dan ada sederet kamar-kamar menghadap matahari terbit. Aku pernah tinggal di salah satu kamar yang menghadap selatan, hanya tiga bulan selama aku menyusun skripsi dan mengkhawatirkan adikku yang tiba-tiba divonis skizofrenia.

Alkisah, pada salah satu hari libur, mantan pacarku pergi ke kota itu untuk bertemu temannya. Semalaman mereka mengobrol, sempat memesan indomie telur kornet keju sebelum mereka pulang dini hari ke kosan temannya.

Subuh, dia menemukan temannya bersimbah darah. Lehernya tergorok oleh sebuah pisau cutter tajam.

Aku tidak pernah memercayai cerita ini, sama seperti aku tidak memercayai kisah dia yang lain. Tidak tentang pelacur di kota T, tidak juga tentang anak sakit jiwa yang dia sembuhkan di kota S. Namun, aku setia mendengar cerita-ceritanya yang tak pernah masuk akal itu. Bahkan masih mengingatnya walaupun lima tahun telah berlalu.

Hal yang akan kuceritakan berikut ini adalah kisahnya yang paling fantastis. Pada awal bulan Juni di tahun ketiga perkenalan kami, dia mengajakku kencan. Aku setuju untuk bertemu di Kebun Raya Bogor. Kami melewati beberapa rimbun semak dan pasangan-pasangan yang bersembunyi di dalamnya, bercinta.

“Konon, kalau mengajak pacar ke Kebun Raya, akan cepat putus,” katanya padaku di atas jembatan.

“Kalau mengajak mantan?” aku bertanya.

“Mungkin jadian lagi.”

Aku berderai dalam tawa.

Kami berkeliling-keliling hingga sampai di area hening tertutup yang dikelilingi pepohonan. Masuk ke sana seperti disedot ke dunia lain. Suara bising jalanan dan kendaraan seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Aku dan dia duduk di salah satu bangku semen yang menghadap kuburan-kuburan tua orang Belanda. Dia bercerita tentang keinginannya menikah dan memiliki anak-anak lucu. Aku terlongo-longo mendengarnya, karena setahuku dia bukan seseorang yang tahan berlama-lama dalam sebuah hubungan. Kemudian dia mulai membicarakan berbagai macam hal yang tak ada hubungannya dengan kami.

Suara burung dan tonggeret menambah aura mistis tempat itu ketika dia mulai menggebu-gebu bicara tentang perang, tentang bagaimana anak muda Indonesia akan berhenti berpangku tangan dan mulai mengangkat senjata demi Indonesia yang lebih baik. Aku memutar mata. Aku tak pernah suka perang.

“Satu-satunya cara untuk membuat bangsa kita bersatu adalah perang!” ujarnya berapi-api. “Karena agama tidak menyatukan kita, suku-suku tidak menyatukan. Penderitaan perang akan menyatukan kita semua. Karena perang akan membuat para pemuda bangkit dari tidur surinya. Para pemuda yang cuma bisa leha-leha sambil senang-senang ongkang kaki itu, akan berpikir untuk kesejahteraan. Kita butuh perang!”

Aku terdiam, mulai bosan.

“Apa kau pikir Hitler adalah penjahat?”

“Apakah kau membicarakan Hitler karena baru membaca Mein Kampf?”

“Menurutku Hitler adalah seorang yang genius.”

“Memangnya kita tak bisa membicarakan hal yang lain, ya?” keluhku sambil bangkit dari bangku dan memungut daun kering di tanah. Aku meninggalkannya bicara sendiri dan masuk area pemakaman untuk membaca nisan-nisan mereka dengan tubuh memunggungi mantan pacarku.

Suaranya semakin lama semakin sayup, seperti menjauh. Kemudian dia memanggilku. “MIAAAA!”

Aku menoleh, ada lubang portal besar di belakangku, hitam bulat dan berpusar-pusar, menarik tubuh mantan pacarku, sementara tangannya menggapai-gapai ke arahku. Aku berlari, mencoba menariknya, tetapi pusaran itu terlalu kuat. Aku melepaskan tangannya.

Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan mantan pacarku lagi.

Kemang, 11 Oktober 2011

#15harimenulisdiblog #mantan

Telur Naga

Pagi ini, seperti selalu, aku berjalan-jalan ke hutan untuk mencari berbagai jenis flora yang belum masuk ke dalam direktori “Tanaman-tanaman Berkhasiat dan Berbahaya”, buku yang sedang kutulis.

Aku seorang tabib. Mereka bilang aku terlalu muda untuk menjadi tabib, ilmuku belum mencukupi. Jika orang lain begitu memeluk usia mudanya erat-erat dan tak ingin beranjak tua, aku sebaliknya. Usia memberikan tambahan lain bagi profesiku. Mereka lebih memercayai tabib berumur yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Ah asam garam kehidupan. Apa gunanya hidup lama-lama jika kau tidak pernah beranjak dari titik awal kau berjalan? Kau tidak pernah belajar dan mengenali hal-hal baru. Aku muda dan penuh inovasi. Seharusnya mereka mengenali kelebihanku itu.

Sebagai tabib, tak banyak orang yang datang dan meminta obat dariku. Tidak masalah. Kelak mereka akan tahu keistimewaanku. Untuk saat ini, aku menjadi peneliti saja. Pergi ke hutan setiap pagi, mencatat semua flora yang ada di hutan belakang pondokku.

Pagi ini pun sama seperti pagi-pagiku selama satu tahun terakhir. Aku mengenakan jubah dan sepatu bot selututku dan mulai berjalan. Kali ini aku menjelajah lebih jauh, menyisir wilayah baru yang belum pernah kujamah. Hingga akhirnya, aku sampai di sebuah bukaan yang aneh. Pohon-pohon seolah enggan tumbuh di bidang itu, hanya ada rerumputan membentang tumbuh rata di tanah lapang kotak sempurna itu. Dan yang lebih aneh, hujan turun di dalam kotak tersebut.

Di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar. Aku yakin jika aku membuat garis diagonal dari sudut-sudutnya, batu itu tepat berada di tengah. Aku memasang capuchon jubahku dan berlari ke menuju batu tersebut.

Sesuatu yang kuanggap batu itu ternyata semacam kubah pelindung transparan. Dari kejauhan memang tampak seperti batu besar. Namun, jika kau mendekati dan melihatnya dengan saksama, itu adalah penutup kaca. Seperti tudung saji. Aku mengetuk-ngetuknya. Tidak ada yang terjadi. Aku berusaha mengangkatnya, ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Benda itu tidak bergeser sama sekali.

Aku menendangnya. Tudung itu menjerit. Maksudku, benar-benar menjerit. Seperti suara pekikan burung yang kesakitan. Kemudian aku mengelus-elusnya dengan maksud meminta maaf. Terdengar suara klik. Benda itu terlempar terbalik seperti tutup bedak. Nampak di dalamnya:

Lima butir telur.

Satu telur raksasa ditemani empat butir sebesar telur ayam. Telur raksasa itu berwarna hijau mengilap, urat-urat menonjol di permukaannya, membuat pola-pola melingkar membentuk rupa sesosok makhluk. Sementara empat telur lain tampak begitu biasa dan tidak penting dibandingkan kemegahan telur ini.

Aku mengeluarkan kantung kain kosong dari saku jubahku dan memasukkan keempat telur itu. Mungkin ini telur naga, pikirku.

Aku pulang dengan hati senang. Penemuan ini luar biasa. Jika aku bisa menjadi pelatih naga, karirku akan cepat menanjak. Otakku sudah berpikir macam-macam. Telur-telur lainnya bisa kumasak, kujadikan telur dadar. Sudah lama aku tidak makan telur. Ayam susah ditemukan akhir-akhir ini. Begitu pun dengan telur-telur burung lain. Hmmm, pasti enak.

Langkahku agak berbeda ketika pulang ke pondokku. Kakiku menari-nari tanpa diperintah. Senyum pun terpancar di wajahku seperti matahari terbit. Begitu sampai di rumah, aku langsung menaruh telur raksasa di tempat aman dan menyalakan tungku. Aku hanya akan memasak satu telur saja. Tiga telur lainnya kusimpan di atas mangkuk di meja makan.

Telur dadar yang sangat lezat. Tentu saja, karena sudah lama aku tidak makan telur dadar. Rasanya sangat istimewa. Berbeda dari telur dadar yang pernah kurasakan. Lagi-lagi aku menambah umbi-umbian di piringku agar telurku tidak cepat habis. Aku makan banyak sekali, hingga perutku rasanya mau meletus. Dan mataku cepat sekali mengantuk.

Matahari sedang di puncak ketika kantuk menyerangku. Angin sepoi dari hutan membuat mataku semakin berat. Aku tertidur di meja kerjaku dengan pena di tangan. Aku bahkan tidak peduli tintanya merembes ke kertas di meja.

***

“Pencuri!” suara mendesis itu tepat di telingaku.

Aku tergeragap. Ketika aku membuka mata, separuh pondokku telah terbakar. Aku berlari mencari telur hijauku yang berharga dan lega ketika melihat telur itu tidak apa-apa. Aku berlari keluar membawa telur dan semua manuskripku.

“Pembunuh!” suara itu kembali mendesis, seperti dari dalam kepalaku.

Api berkeretak memakan dinding pondokku yang terbuat dari kayu. Panasnya menyeruak ke tubuhku hingga keringat tak henti keluar dari poriku. Bolak-balik aku menyelamatkan semua yang dapat kuselamatkan. Ketika aku menyelamatkan barang-barang yang ada di dapur yang belum terbakar, sekilas aku melihat ketiga telur menghilang dari mangkuknya.

Api semakin berkobar, melahap apa pun yang dilaluinya. Dari atas pondokku, seekor naga menyembur-nyemburkan api.

#15harimenulisdiblog #telurdadar

Sirama-rama dan Kunang-kunang

Seseorang pernah bercerita tentang makhluk yang sudah langka. Bukan, aku tidak sedang membicarakan naga. Ini tentang makhluk-makhluk di belakang rumah. Sirama-rama dan kunang-kunang. Kupu-kupu dan kuku-kuku orang mati. Dahulu, mereka biasa berseliweran di antara pokok-pokok perdu di halaman rumah. Atau hinggap di dahan pohon jambu, bersembunyi di balik daun-daunnya.

Dia bercerita padaku tentang sirama-rama dan masa kecilnya yang indah. Sebelum pindah ke kota besar dan menjadi orang membosankan yang terkurung dalam kubikel dua kali dua di atas karpet abu-abu yang tak pernah dicuci, dia adalah jenderal perang.

Dahulu ketika tanah lapang masih luas dan pohon-pohon jambu masih tumbuh di setiap halaman rumah, dia sudah pergi berperang. Mereka membagi dua kelompok anak-anak yang tinggal di perkampungan yang berbatasan dengan kompleks perumahan itu. Hampir bisa dipanggil anak kompleks, karena jaraknya yang begitu dekat. Namun ada anak-anak sombong yang senang membeda-bedakan anak kompleks dan anak kampung, yang tidak mau bermain dengan anak kampung. Dia bukan salah satunya. Maka dia diangkat jadi jenderal mereka.

Mereka membuat senjata dari bambu, ranting dan karet gelang, dengan peluru pentil jambu air. Jika kau tertembak, kulit yang terkenai peluru jambu-jambu itu akan berwarna merah keunguan selama beberapa hari. Tapi itu sepadan dengan kesenangannya.

Di antara dua kubu anak-anak yang bermain perang-perangan, ada satu anak perempuan. Cantik. Dia tidak pernah ikut berlarian mengangkat senjata. Dia senang berdiam saja di istananya — angkot milik ayahnya yang sedang tidak beroperasi. Dia membentangkan peta yang dia gambar sendiri di lantai angkot dan menyusun strategi. Setiap kali anak-anak laki-laki kembali untuk menambah peluru, mereka menyembah takzim pada sang ratu. Betapa semua anak laki-laki itu memujanya.

Di kelompok mana pun sang ratu ikut berperang, kelompok itu selalu menang. Gadis itu selalu diikuti sirama-rama. Tak peduli sirama-rama selalu terbang hanya muncul ketika bulan mengambil alih dunia, kupu-kupu itu selalu tampak terbang di sekelilingnya. Anak-anak itu menganggap kalau sirama-ramalah yang menyebabkan kemenangan di pihak sang ratu. Mereka berhenti bermain perang-perangan ketika ratu mereka tersayang pindah rumah. Sirama-rama itu pun jadi jarang terlihat di perkampungan itu.

Sejak ratunya pergi, dia menjadi bocah lelaki yang murung. Setiap kali purnama, dia selalu duduk di teras rumahnya sambil memandangi bulan bulat, mencari jejak-jejak sang ratu sirama-rama. Pada salah satu malam seperti itulah dia mulai memperhatikan kedatangan kunang-kunang. Awalnya hanya satu, berkelap-kelip dalam cahaya samar. Kemudian mereka datang bergerombol seperti dikerahkan oleh yang tak kasat mata dari kegelapan.

Dia mulai menangkapi kunang-kunang itu dan memasukkannya ke dalam stoples bekas selai roti dari dapur kemudian menutupnya dengan plastik bening yang diikat dengan karet gelang. Kunang-kunang itu berkerlipan dalam stoplesnya. Dia membawanya masuk ke kamar, mematikan lampu, dan memandangi kunang-kunang sampai tertidur.

Keesokan harinya serangga-serangga itu mati. Dia menangis menyesal dan menguburkan kunang-kunang itu. Malamnya kunang-kunang datang lebih banyak lagi. Kali ini dia membiarkannya bebas.

Belasan tahun setelah itu, aku mendengarkan ceritanya, lalu memohon padanya agar mengajakku yang tidak pernah beranjak dari belantara semen ini untuk pergi berburu sirama-rama dan kunang-kunang. Dia mengabulkan permintaanku meskipun sebelumnya berkali-kali memperingatkan bahwa aku mungkin saja tidak akan bertemu makhluk-makhluk ini.Aku pergi ke kampung halamannya dengan perasaan meluap-luap. Aku tidak pernah melihat sirama-rama dan kunang-kunang secara langsung. Aku ingin merasakan bagaimana jika kupu-kupu raksasa itu nemplok di punggungku, atau merasa takjub akan keberadaan serangga bercahaya.

Aku turun dari mobilnya dan terkejut.
Gedung-gedung menjulang telah menghilangkan tempat untuk makhluk-makhluk lain.

Kemang, 4 Oktober 2011

#5 #hilang #15harimenulisdiblog