Menulis Bagian Awal Novel: 9 Hal yang Sebaiknya TIDAK Dilakukan

Walaupun sudah enggak bekerja di satu penerbitan lagi, saya masih membantu beberapa penerbit dan penulis memoles naskah novel. Dari naskah-naskah yang saya terima, bagian yang paling menentukan adalah bab-bab awal. Paling tidak, tiga bab pertama. Tiga bagian ini bukan hanya membantu naskahmu diterima penerbit untuk diterbitkan, tetapi juga mengikat pembaca.

Berbeda dengan editor bayaran (seperti saya) yang dipaksa membaca sampai akhir, pembaca enggak akan repot-repot meneruskan baca kalau bab-bab awalnya enggak menarik. Enggak menarik, enggak majuin cerita, enggak ngasih petunjuk ini mau nyeritain apa, enggak jelas nyeritain siapa.

Nah, saya baru mengerjakan naskah yang fokus ceritanya muluuuuuuuuur banget sampai ke halaman 100. *fiuh*. Seratus halaman pertama ngalor-ngidul nyeritain macam-macam, padahal fokusnya bukan itu. Bagian awal atau perkenalan ini sebaiknya hanya 3-4 bab, enggak lebih dari 40-50-an halaman.

Gara-gara itu, saya jadi googling soal menulis bagian awal novel dan dapat artikel dari blog Natasha Lester. Ini adalah sembilan hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika menulis bagian awal novelmu. Kalau kamu pengin lebih lengkap, kamu bisa googling sendiri soal menulis bagian awal novel, tapi menurutku, enggak akan jauh-jauh beda dari yang ditulis Mbak Lester ini, sih.

  1. Backstory

Backstory adalah informasi tentang latar belakang karaktermu, bisa jadi latar belakang peristiwa dari ceritamu, atau latar belakang hubungan utama dalam cerita.

Pembaca ingin mengenal tokoh-tokoh dalam novel seperti kita mengenal orang sungguhan. Kita tidak mengenal semua hal tentang seseorang pada pertemuan pertama. Mencari tahu dan menemukan hal-hal menarik dari kenalan kita adalah bagian menyenangkan dari sebuah hubungan. Ga seru juga sih, ketemu sama calon pacar yang kita udah tahu luar-dalam soal dia. Apanya yang bikin penasaran?

Backstory melambatkan cerita. Gunakan itu ketika kamu membutuhkan momen untuk menurunkan ketegangan. Awal novelmu harus aksi yang terus maju.

2. Mimpi

Tidak ada yang lebih buruk ketika kau membaca sebuah bab, dengan mencekam, dan tiba-tiba si tokoh terbangun di bab dua dan mengatakan kalau semua itu hanyalah mimpi. Mimpi tidak bisa membuat pembaca membentuk koneksi dengan karakter-karaktermu ataupun kejadian-kejadian dalam cerita.

3. Deskripsi berlebihan

Pembaca tidak membutuhkan deskripsi mendetail tentang seting dan wilayah di tiga bab pertama. Sebar informasi soal ini lewat sudut pandang si karakter ketimbang memperlihatkannya dari mata segala tahu, karena paling tidak, kita akan mempelajari soal si tokoh dari caranya mendeskripsikan seting.

4. Gagal fokus

Hal-hal yang bisa menyebabkan kurang fokus antara lain:

  • kebanyakan tokoh
  • terlalu banyak peristiwa, misalnya pindah ke narasi lain terlalu cepat sebelum menguatkan untaian narasi sebelumnya.
  • pindah-pindah antara satu pov ke pov lain.
  • terlalu banyak lokasi/tempat

Kamu pengin pembaca kamu betah di tiga bab pertama daripada bikin mereka bosan dan disorientasi tanpa tahu harus fokus ke karakter mana dan kejadian-kejadian apa yang penting.

5. Membuat daftar belanjaan

Eh, apa-apaan kok nulis daftar belanjaan di novel? Gini contohnya:

Rambutnya yang sedikit panjang dan bergelombang selalu dia biarkan terurai. Poninya tebal, wajahnya bulat. Bibirnya kecil, selalu dilapisi dengan lipstik merah muda yang segar. 

Daripada menulis daftar sifat semacam itu, lebih baik informasi tersebut dimasukkan ke aksi. Contohnya gini:

Gadis itu itu menoleh, rambut panjangnya yang bergelombang terayun. Matanya menyipit saat dia mencari sumber suara, hingga membuat wajahnya yang dibingkai poni tebal tampak semakin imut. Bibirnya yang dipulas lipstik merah muda langsung membentuk garis lengkung begitu dia menyadari akulah yang memanggilnya.

(ini juga sejalan dengan konsep show don’t tell)

6. Tokohnya tidak melakukan apa pun

Mencuci piring, menatap jendela, memandang pantulan diri di cermin; tindakan-tindakan ini sebaiknya tidak ada di tiga bab pertama novelmu.

Pikirkan kehidupan nyata. Memangnya kamu mau memperhatikan orang mencuci piring? Males, kan? Jadi, kenapa pembaca mau?

Pastikan tiga bab pertama ini berisi hal-hal penting. Tindakan-tindakan yang akan berlanjut/berpengaruh pada cerita berikutnya. Ya, kecuali habis mencuci piring, alien tiba-tiba muncul di dapur dan dari situlah ceritanya bermula. Si mbak-mbak lagi cuci piring, alien muncul di dapur, kemudian si mbak diculik untuk menjadi tukang cuci piring di piring terbang. *eh*

7. Si tokoh sedang melamun di masa sekarang

PERLIHATKAN situasi mereka. Jika si tokoh berada dalam hubungan penuh kekerasan, perlihatkan ketika pasangannya melakukan kekerasan dan perlihatkan efek yang ditimbulkan kepada si tokoh. Jika mereka malu, dapatkah kamu memperlihatkan rasa malu itu kepada pembaca?

Jadi, bukan adegan si tokoh melamun sambil memikirkan hubungan abusive itu, yaps.

8. Flashback

Ini nanti aja. Jangan di tiga bab pertama. Pembaca butuh mengenal si tokoh pada masa sekarang sebelum meloncat ke masa lalu.

9. Menyuapi pembaca

Percayalah kepada pembacamu. Mereka enggak perlu tahu segalanya di tiga bab pertama. Bahkan, mereka enggak mau tahu segalanya. Alasan mereka membaca bukumu adalah mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena membaca tiga bab pertama yang keren.

Simpan informasi, kasih sedikit-sedikit. Pastikan ini menciptakan pertanyaan dramatis yang kepengin banget terjawab–di akhir buku!

Jadi, apakah bagian awal novelmu mengandung hal-hal itu? Kalau iya, sebaiknya revisi segera, sebelum dikirim ke penerbit. Jika tidak yakin, kamu bisa mengonsultasikan naskahmu via jiaeffendie@gmail.com
~Jia
Advertisements

[Bandung] Belajar Menulis Fiksi di Kelas 101

11018346_368160933371259_4518733510190488381_n

Hai teman-teman,

Saya mau memperkenalkan kelas baru yang hits di Bandung. Namanya Kelas 101. Basically, ini adalah kelas yang memungkinkan kamu belajar apa pun. Dari menulis sampai makeup, soal fashion juga memasak. Kalau membaca di blognya, Kelas 101 ini berdiri karena banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu dari dasar, tapi tidak tahu harus belajar ke mana, terutama pengetahuan yang tidak bisa didapatkan dari sekolah formal.

Sampai sekarang, Kelas 101 baru mengadakan dua kelas. Pertama, kelas menulis blog travel. Pematerinya adalah travel blogger kenamaan; Mumun dan Vira Indohoy. Kelas keduanya adalah perawatan wajah dan makeup dasar dari Dessy Natalia alias Echy Art, makeup artist yang berpengalaman selama sebelas tahun dan sudah mengikuti berbagai seminar, juga menulis buku tentang makeup (salah satu bukunya, saya editornya. Hohoho).

Nah, kelas berikutnya, akan ada kelas menulis novel remaja bersama Rhein Fathia, kelas leather crafting, menerjemahkan, food photography, kerudung cantik, make up pesta, fashion style dan… kelas menulis novel dewasa bersama… saya.

Kelas ini akan berlangsung 4 kali pertemuan:

Sabtu, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Minggu, 24 Mei 2015

Kira-kira, materinya adalah tentang elemen-elemen fiksi, cara membuat outline/plotting, self-editing, dan tip menembus penerbit.

Kalau kamu berminat mengikuti kelas ini, silakan kirim tulisan singkat tentang apa yang kamu harapkan dari kelas ini (misalnya ingin belajar menulis cerpen, novel, genre tertentu, pengin tahu soal dunia penerbitan, dll) ke kelassatunolsatu@gmail.com atau mmlubis@gmail.com

Lalu-lalu-lalu, di hari Sabtu tanggal 23 Mei, akan ada juga Kelas Fashion Style 101 dengan tema “Good Look, Good Mood!” bersama Gunawan Widjaja. Di kelas ini, kita akan belajar bagaimana mengenali diri sendiri; mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, dan memilih fashion yang cocok untuk diri sendiri.

Nah, untuk informasi lebih lanjut, pendaftaran, tempat, dan biaya kamu bisa menghubungi FB Kelas 101, atau email kelassatunolsatu@gmail.com / mmlubis@gmail.com atau telp/sms/wa ke 08122330599

Cihuy, kan? Yuk ikutan!