setiap hari adalah pekan raya

fireflies

:nr

setiap hari adalah pekan raya. adalah pesta rakyat. setiap malam kita menyambut bintang pecah jadi kembang api, dengan dentum mirip letusan senapan. karena setiap hari adalah perang. kau mengemut permen kapas sementara sebelah kakimu terpincang-pincang terkena ledakan ranjau darat. dan kepalaku berdarah-darah tersambar peluru. tetapi senyum tidak pernah lenyap dari wajah kita. karena setiap hari adalah pekan raya, dan ada peniti tajam menarik ujung bibir ke ujung telinga kita.

dan selama kita masih bisa menangkap kunang-kunang dan menyekapnya sebentar dalam stoples, kita akan selalu bahagia.

Advertisements

air mata

:nr

1.

sebelumnya kita menanam bulir-bulir air mata di sepasang bantal yang tergeletak bisu. kita memperhatikannya di langit-langit kamar sambil berharap dari bulir air mata itu merambat pelangi yang wangi stroberi. 

sore itu kita disekap air mata. 

dan aku mengenangnya kembali setiap kali lalu menusuk dadaku sendiri dengan jarum. kuharap aku menjahitnya. aku hanya pura-pura luka itu tak pernah ada.

dan tidak apa-apa. karena kita bahagia. 

2.

sebelumnya aku menanam bulir air mata di sela rambut hitammu, menyembunyikan gigi-gigi taring dalam gelembungnya, seperti siap mengigit lehermu, dan meracuni nadimu. jantungmu gunung berapi siap memuntahkan lava. dan napasmu panas di leherku, tatapmu panas menembus mataku yang terpejam. 

aku mengoyak-ngoyak kenangan dan mempersembahkannya padamu. aku ingin punya lubang hitam di kepalaku seperti yang kaumiliki. tempat menyimpan benda-benda yang sudah tidak kita inginkan lagi. ingatan-ingatan yang tak mau lagi kita tengok. kenangan yang bukan milik kita.

3. 

setelah air mata menenggelamkan kita dalam kumparan asing yang kita ingin melarikan diri, cahaya mengecup ubun-ubun kita. mengirim dingin yang nyaman sampai ke hati, sampai ke ujung kaki. setetes cahaya yang terbang dan sembunyi. kuning fosfor yang melukis senyum.

cahaya beraroma tubuhmu yang ingin kuhirup dalam-dalam hingga semua milikku. 

 

seribu satu malam

mungkin kita akan berhenti di seribu satu malam. kisahku habis dan kau memenggal kepalaku. setelah itu tamat.

tak ada lembar baru, hanya ucapan terima kasih untuk keseribu satu dongeng yang mempertahankan hidupku, sehari lagi, sehari lagi, hingga seribu satu malam. itu pun kutulis di malam-malam sebelumnya ketika ketakutan akan kematian mencekik pikiranku.

barangkali kita akan berhenti di malam keseribu satu. bukan sekarang. kita masih bersama.

aku pasrah di ranjangmu.

kemang, 9 november 2011

kekasih terlarang

hari ini kau ingin tidur saja karena semalaman tidak memejamkan mata. nanti malam kau akan bertemu seseorang, aku mencatat jadwalmu, bahagia berlebihan karena kau mengatakan rencanamu. kita seperti sepasang kekasih terlarang, selingkuh dari tuhan.

hari ini aku ingin memelukmu saja sepanjang lelapmu. tapi kaubilang itu tak mungkin karena kau akan menyerangku dengan ciumanmu bertubi. kita adalah sepasang kekasih terlarang, selingkuh dari tuhan.

kemang, 3 november 2011

duri

kenyataannya,
duri-duri yang tumbuh tanpa ada yang menanam
seperti ilalang itu,
telah matang sepenuhnya.

ujung-ujungnya galak
siap mengoyak rusuk
duri yang lebih runcing dan beringas
dibanding cakar-cakar tajam yang dahulu
pernah merobek-robek dada yang sama

duri yang dalam diam tumbuh menyela di antara batang baobab dan sebuah rumah pohon, juga tanaman kucing mabuk yang masih benih dan telah mati.

sejak pertama,
duri-duri ini telah menyembul seperti di permukaan dagu yang dua hari tak terkena pisau cukur, sebelum ia berpesta pora sehabis pemakaman.

duri-duri matang ini siap dipanen untuk memeras air mata seorang perempuan buta yang kembara mencari kata kita. kita yang tergantung-gantung di ujung purnama, di ujung benang putri penenun yang duduk di tengahnya.

(sesungguhnya kita telah mendekam di dadanya yang membusuk patah)

ia masih mencari, di antara rimbun duri-duri yang menyabit-nyabit segala adanya.

kemang, 11:11, 14 oktober 2011

memesan kau di loket kereta

di depan loket tiket kereta api
aku memesan kau untuk menjadi mempelaiku.
petugas menyuruhku mengisi formulir pemesanan
lalu menyuruhku menunggu.

di pojok stasiun aku menanti dipanggil, berdebar dalam harap.

aku duduk begitu lamanya sehingga akar-akar tumbuh dari ujung kakiku dan menghunjam lantai, menjejak tumbuh. reranting bertemperasan dari tubuhku dan muncul daun-daun hingga rimbun.

kau berlalu-lalang di hadapanku tak dapat kujangkau dengan tangan-tanganku yang kaku. kau duduk di naunganku, tak dapat kurengkuh.

aku tetap menanti.
petugas itu tak pernah memanggilku kembali.
mereka sudah menghentikan layanan pemesanan mempelai.

kemang, 7 oktober 2011

#pesan #15harimenulisdiblog

air

kita yang mengalir lebih deru dari air terjun
suatu hari pun menyerah lalu
menjelma dua danau kecil yang tenang.

di dasarnya, masing-masing kita membangun kekuatan, berjaga-jaga bila diserang.

apakah sebegitunya, ketika panah-panah dicabuti
dari tubuh kita, cinta yang dahulu dalam berubah
jadi lubang-lubang luka.

namun bukankah air tak mengenal kata luka?

kemang, 30 september 2011