Writing

7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah:

  1. Highstakes: dalam cerita thriller yang baik, selalu ada kehidupan yang dipertaruhkan, terkadang bisa jadi kehidupan semua manusia di muka bumi (ingat cerita-cerita soal “kiamat” dan si tokoh utama/hero harus menyelamatkan dunia). Dalam novel Pretty Girls, tentu ada kehidupan yang dipertaruhkan. Kita dibuat deg-degan apakah tokoh-tokoh utamanya akan bertahan hidup melawan si penjahat.
  2. Unity of Opposites. Saat kamu memiliki kesatuan yang berlawanan, si hero tidak bisa menghindar dari tantangan. Sering kali, pembaca bakalan bertanya: kenapa ga pergi aja sih dari situasi itu? Kenapa malah berlari menyongsong bahaya? Nah, unity of opposites ini adalah keadaan ketika si tokoh mau tidak mau harus menyelesaikan masalah itu. Contoh: Charlie dalam novel The Good Daughter (Karin Slaughter), malah menyongsong suara tembakan–bukan menghindarinya, dan itulah yang membuat peristiwa demi peristiwa berikutnya terjadi.
  3. Seemingly Impossible Odds. Buatlah situasi dalam cerita tang membuat si hero/pahlawan tampak tidak bisa menghindar/mengalahkan si penjahat. Dalam Pretty Girls, salah satu tokoh utamanya tertangkap dan sepertinya dia tidak bakal bisa melarikan diri dari sekapan si penjahat.
  4. Moral Struggle. Si tokoh berada dalam pertempuran hidup dan mati dengan kejahatan. Saat si tokoh yang saya sebutkan di nomor 3 disekap, kita tidak tahu apakah dia akan bertahan hidup atau tidak.
  5. Ticking Clock. Beri deadline. Si pahlawan harus diberi tenggat waktu, kalau tidak, usahanya akan gagal. Contoh: dalam novel Pretty Girls, adik si tokoh yang disekap punya waktu sedikit untuk menyelamatkan kakaknya.
  6. Menace. Si tokoh-tokoh “baik” harus selalu berada dalam keadaan yang mengancam nyawa. Sepanjang cerita, novel Pretty Girls bikin deg-degan terus. Informasi baru yang disuguhkan membuat pembaca melongo, dan saya sebagai pembaca berasa seperti si tokoh protagonisnya–dikejar-kejar dan selalu ketakutan.
  7. Thriller type character. Semua tokoh, baik protagonis maupun antagonisnya harus cerdas dan cerdik. Tokoh antagonis di Pretty Girls jahatnya keterlaluan, dan dia cerdik. Dia sudah melakukan kejahatan yang sama selama bertahun-tahun dan tidak tertangkap polisi. Dia tahu cara menghindari jeratan hukum.

Kalau kamu sedang menulis naskah thriller, coba baca lagi, apakah ceritamu sudah memiliki ketujuh pilar di atas?

 

Advertisements
Writing

4 Macam Sudut Pandang Orang Ketiga (PoV 3)

Empat tahun lalu, saya pernah menulis soal “Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel“, dan ternyata masih utang penjelasan soal PoV 3 *tutup muka*.

Entah kenapa, topik sudut pandang ini ternyata yang paling dicari di blog ini. Nah, biar lebih lengkap, saya akan mengulas lagi topik ini dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Hindari(2).png

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV (Point of View) atau Sudut Pandang. Siapa narator yang menceritakan kisah yang kamu tuliskan? Apakah ceritamu dituturkan oleh aku atau narator yang tidak ikut berperan dalam kisahnya?

Tanyakan kepada dirimu: “siapa yang bisa menceritakan kisah ini dengan cara paling baik?” Sudut pandang yang kamu pilih akan menentukan suara naratif dan itu hal yang krusial.

Apa saja, sih, sudut pandang dalam novel itu?

Secara umum, ada tiga jenis sudut pandang atau PoV, yaitu: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang kedua lebih sulit dituliskan dan jarang pula digunakan dalam novel, jadi kita tidak usah membahasnya dalam tulisan ini, ya.

PoV 1

Sudut pandang orang pertama bercerita dengan penutur aku. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh si narator yang biasanya tokoh utama (dalam beberapa kasus, ada juga penulis yang menggunakan narator aku untuk menceritakan kawan dekatnya. Misalnya: Sherlock Holmes diceritakan dari sudut pandang Watson atau Nick Carraway yang bercerita tentang Gatsby).

Sudut pandang orang pertama cocok untuk novel-novel yang tidak memiliki banyak tokoh dan konfliknya hanya berkisar pada satu tokoh saja, misalnya pada novel-novel romance. Sudut pandang ini membuat pembaca merasakan kedekatan dengan si tokoh karena merasa seperti sedang berbicara langsung dengan si tokoh. Selain itu, pembaca juga bisa ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh dan mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan olehnya, begitu juga hal-hal yang berkecamuk dalam benak si tokoh.

Namun, sudut pandang ini juga memiliki kelemahan. Ketika memilih sudut pandang orang pertama, kita tidak bisa mendatangi tempat-tempat atau adegan-adegan yang tidak didatangi atau dialami si tokoh utama (narator). Walaupun begitu, informasi atau peristiwa yang terjadi saat si tokoh tidak ada bisa disampaikan dalam dialog dengan tokoh lain.

Pagi sebelum kami resmi menjadi suami istri, aku sempat ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimana kalau dia bukanlah pasangan yang terbaik untukku? Bagaimana kalau ternyata anaknya selama ini hanya berpura-pura menyukaiku?

(si narator, aku, meragukan keputusannya menikah).

PoV 3

Sudut pandang lain yang sering dipakai dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga (kita menceritakan dia atau ia). Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah, kita bisa bercerita tentang semua tokoh yang memajukan cerita, seolah-olah narator berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti para tokoh. Namun, saat menggunakan sudut pandang orang ketiga, sering kali apa yang dipikirkan si tokoh tidak bisa diketahui oleh narator.

Malam sebelum pernikahannya diresmikan, Lara mengenang semua kegagalan percintaannya di masa lalu dan bercerita kepada sahabatnya, Jane. Namun, belum sempat bercerita banyak, Jane berkata agar Lara tidak perlu memikirkan masa lalu karena esok, semua patah hati yang pernah dirasakannya akan terbayar. Lara akan bahagia bersama pria itu.

Nah, PoV 3 ini ada macam-macam lagi.

sudut pandang.png

  1. Sudut Pandang Objektif

Sudut pandang objektif ini berarti narator berada di luar karakter dan penulis enggak tahu isi hati/isi pikiran si tokoh. Penulis adalah reporter atau pelapor. Biasanya, sudut pandang objektif digunakan saat ingin menciptakan aura misterius dari si tokoh–kita cuma bisa melihat dari luar. Kalau sering-sering menggunakan PoV jenis ini, biasanya pembaca cepat bosan karena mereka menginginkan kedekatan dengan si tokoh.

Gino terbangun pukul dua pagi. Dia berdiri dan menghampiri lemari obat, lalu mengambil beberapa butir pil dan menelannya tanpa air. Setelah itu, dia berpakaian dan mengambil pistol dari lemarinya. Pistol itu dia sembunyikan di balik saku jasnya. Dengan gegas, dia menuruni tangga menuju pintu depan, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah toko perhiasan.

Dari deskripsi di atas, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Gino. Namun, kita bisa mengira-ngira dari apa yang kronologinya. Mungkin dia berniat merampok toko perhiasan.

Menurut saya, sudut pandang jenis ini tidak akan cocok jika dipakai menulis romance, karena bukankah apa yang dicari pembaca romance adalah perasaan dan kedekatan dengan si tokoh?

2. Sudut Pandang Objektif yang Dimodifikasi

Salah satu cara untuk meraih kedekatan dengan pembaca adalah dengan menggunakan sudut pandang objektif yang dimodifikasi. Si narator tidak menyebut kalau dirinya tahu apa yang dipikirkan si tokoh, tetapi mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang ada dalam benaknya.

Aura terbangun dengan kelelahan. Mungkin dia bermimpi buruk, atau mungkin juga dia terkena flu. Semalam, saat dia berjalan-jalan dengan Martin, angin berembus sangat kencang dan dia tidak membawa jaket.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu

Saat narator mengungkapkan apa yang terjadi dalam kepala si tokoh, cerita itu ditulis dengan sudut pandang omniscient atau serbatahu. Sudut pandang ini sangat populer pada novel-novel di zaman Victoria. Perhatian utama novelis Victorian adalah
masyarakat. Cara terbaik untuk memahami masyarakat adalah dengan memiliki akses terhadap pikiran dan motif setiap tokoh.

Henry tiba pukul dua pagi dengan tubuh menggigil dan lemah (keadaan tubuhnya adalah sudut pandang Henry). Catherine menyapanya di pintu, berpikir kalau suaminya tampak seperti tikus yang habis tenggelam di got (pemikiran Catherine).

4. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Sudut pandang ini adalah POV paling mudah untuk penulis pemula. Sederhananya seperti ini: pengarang memiliki hak untuk memasuki kepala hanya tokoh-tokoh tertentu saja. Tokoh-tokoh terpilih ini, biasanya protagonis dan beberapa tokoh penting lainnya, disebut “viewpoint character”.

Contoh: novel The Good Daughter karya Karin Slaughter, atau Big Little Lies karya Liane Moriarty.

Nah, bolehkah kita mencampur beberapa sudut pandang dalam satu novel?

Boleh, kalau ada tujuannya. Kalau cuma buat keren-kerenan tapi malah membuat pembaca bingung, sebaiknya tidak. Human Acts karya Han Kang menggunakan tiga sudut pandang sekaligus (PoV 1, 2, dan 3), dan bisa tetap keren. Syaratnya, gunakan satu sudut pandang dalam satu bab atau satu bagian, jangan dicampur-campur agar tidak membingungkan.

Kemudian, jika kita sudah memilih menggunakan PoV 1, jangan sampai ada sudut pandang bocor (tiba-tiba menceritakan tokoh yang bukan narator)

Semoga penjelasan soal sudut pandang ini menyalakan ide di kepalamu, ya.

Selamat menulis.

 

Writing

Telah Terbit! Panduan Menyunting Naskah Novel

editing 101
Editing 101

Tahukah kamu kalau penulis-penulis besar selalu menulis ulang ceritanya beberapa kali sebelum diterbitkan?

Leo Tolstoy  menulis ulang novelnya War and Peace sampai tujuh kali. Pada zaman Tolstoy hidup, belum ada komputer, dan dia menulis ulang dengan pena!

Sidney Sheldon merevisi naskahnya berkali-kali sebelum menyerahkannya ke penerbit. Kepada reporter Los Angeles Times pada 1982, Sheldon berkata:

“Saya bisa menulis ulang sampai 12 kali, saya lengkapi dan terus melengkapi. Saya tidak ingin mengambil risiko para pembaca tertidur saat membaca novel saya. Saya ingin menahan pembaca sampai 4 halaman, lalu 4 halaman lagi, hingga akhirnya dia tidak tidur sampai pagi demi menyelesaikan buku saya.”

Leo Tolstoy adalah penulis yang hidup di tahun 1800-an, dan karyanya masih dibaca hingga saat ini. Sidney Sheldon adalah penulis yang hampir semua karyanya laris. Karya mereka terus dibaca karena penulis-penulis ini merevisi naskahnya berkali-kali hingga mereka puas.

Namun, kamu baru menulis buku pertamamu, dan kamu bingung, apa saja yang harus diperbaiki saat mengedit draf pertama?

Oh, tidak perlu cemas, karena hari ini telah terbit sebuah buku berjudul Editing 101: Panduan Menyunting Naskah Novel. Dalam buku ini, kamu akan mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan ketika merevisi naskah novel. Saya juga menulis beberapa kata dan ejaan bahasa Indonesia yang saking seringnya salah, malah dianggap benar. Ada juga lampiran yang berisi jenis-jenis kata dan tentang perubahan makna kata dengan pengimbuhan.

Buku ini bisa kamu beli di Google Play dengan harga Rp 29.000 saja. Semoga buku ini bisa menjawab kebingunganmu soal menulis dan menyunting novel.

Klik tautan ini untuk membeli dan membacanya langsung di ponselmu!

Writing

5 Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Saat Membaca Kontrak Penerbitan

Hindari

Hore! Akhirnya, setelah penolakan dari sana sini, naskahmu diterima juga. Selain proses editing dan printilan lainnya, kamu harus menandatangani SPPB (Surat Perjanjian Penerbitan Buku) atau kontrak penerbitan. Setiap penerbit memiliki template kontrak yang berbeda, tetapi biasanya menyebutkan:

  • judul naskah, siapa pemilik naskahnya, penerbit akan menerbitkannya, dan hak cipta atas karya tetap ada pada pemilik naskah
  • kapan naskah tersebut akan diterbitkan
  • berapa lama kontrak berlangsung
  • berapa eksemplar cetakan pertama yang akan diterbitkan (untuk buku standar–penulis baru atau yang enggak bestseller, biasanya 3000-5000 eks)
  • berapa persen besaran royalti dan uang muka (jika ada uang muka royalti)
  • berapa banyak buku yang akan diterima penulis/pemilik naskah dan berapa rabat khusus untuk penulis (biasanya berkisar antara 20%-35%)
  • cetak ulang. penerbit harus laporan ke penulis kalau mereka mau mencetak ulang bukunya
  • jumlah eksemplar tambahan untuk promosi (artinya, buku-buku yang dibagikan untuk promosi tidak akan dikenai royalti)

Nah, biasanya, kalau penulis yang baru pertama baca kontrak, suka bingung soal apa saja yang harus diperhatikan. Biasanya kamu cukup tahu aja soal berapa royalti atau advancenya, atau cuma baca terus tanda tangan karena takut gimana-gimana kalau protes.

Akan tetapi, meskipun kamu penulis baru, ada beberapa hal yang bisa ditanyakan kepada penerbit dan ada beberapa ketentuan dalam kontrak yang masih bisa dinegosiasikan.

Apa saja itu?

  1. Besaran Royalti

Umumnya, royalti buku di Indonesia adalah flat 10% dari harga jual. Namun, ada juga penerbit yang menggunakan royalti progresif; misalnya 8% untuk penjualan sampai 5000 eksemplar dan akan naik menjadi 10% ketika penjualannya di atas itu.

Kamu masih bisa nego apakah kamu akan memakai royalti flat atau progresif. Soal besarannya, standarnya adalah 10%. Kecuali buku kamu bakalan laku banget (kamu yakin karena kamu punya fanbase yang kuat dan mau beli apa pun yang kamu keluarkan), kamu bisa nego sampai 12-15%. Namun, itu tidak akan terjadi dengan mudah.

Royalti atau jual putus?

Biasanya, jual putus dipakai untuk buku yang isinya kumpulan cerpen keroyokan (penulisnya banyak). Penulis akan dibayar sejumlah tertentu sesuai kesepakatan di awal (jumlahnya bisa nego, tapi kadang penerbit enggak mau naikin. hahaha), dan tidak peduli apakah bukumu laku atau enggak, kamu tidak akan mendapatkan apa pun lagi dari penjualan buku tersebut–kecuali jadi terkenal, mungkin, kalau bukunya laku banget.

Buat kamu yang yakin bisa menjual bukumu dengan lumayan, mending pilih royalti.

2. Advance royalti atau uang muka

Di Indonesia, tidak banyak penerbit yang mau menyediakan uang muka royalti–seringnya karena kondisi keuangan si penerbit juga empot-empotan (aduh, bahasa apa ini?). Namun, beberapa penerbit besar seperti Gramedia atau GagasMedia menyediakannya.

Uang muka royalti ini biasanya ditentukan flat sama penerbit dan tidak perlu dikembalikan meskipun royalti penjualan bukumu tidak memenuhi uang muka royalti itu.

Contoh:

Uang muka royalti: 20% dari perkiraan royalti buku cetakan pertama

Cetakan pertama: 5000 eks

Harga buku: Rp100.000

Royalti: 10%

Royalti cetakan pertama: Rp50.000.000,00

Uang muka: 20%xRp50.000.000,00 = Rp10.000.000,00

Terus ternyata penjualannya cuma 800? Kamu enggak perlu mengembalikan uang muka tersebut ke penerbit. (ngenes amat sih cuma terjual 800 dalam 6 bulan).

Royalti biasanya dibayarkan setiap enam bulan. Setiap penerbit punya jadwal berbeda, ada yang selalu mentransfer pada Agustus/September dan Januari/Februari walaupun bukumu baru terbit 3 bulan, misalnya, tetapi ada juga yang menghitung 6 bulan sejak naskahnya terbit.

3. Masa Berlaku/Durasi Perjanjian

Umumnya, masa perjanjian ini sekitar 5-25 tahun. Artinya, kamu sebagai penulis tidak boleh menerbitkan naskah dalam perjanjian itu ke penerbit lain selama masa berlaku, meskipun bukumu sudah tidak laku dan tidak dipromosikan di penerbit itu.

Biasanya penulis oke-oke aja dengan perjanjian 25 tahun dan langsung tanda tangan. Namun, pikirkan akibatnya. Misalnya, sekarang kamu bukan penulis yang diperhitungkan pasar dan kontrak naskah A dengan penerbit A adalah 25 tahun. Eh ternyata, 5 tahun kemudian kamu mendadak ngetop dan semua orang mencari buku kamu. Namun, si penerbit A ga mau menerbitkan lagi buku A yang dicari-cari itu. Kamu enggak bisa ujug-ujug menerbitkan buku A itu di penerbit lain.

Jadi, kalau bisa, negosiasikan jangka waktu perjanjian itu jadi 5-10 tahun, biar enggak lama-lama amat.

4. Penjualan dalam bentuk lain

Di zaman digital ini, penjualan buku tidak hanya dalam bentuk fisik/cetak di toko buku saja. Beberapa penerbit sudah menjual bukunya dalam bentuk digital (Scoop, Google Books).

Pastikan, dalam kontrak, penerbit memiliki hak untuk menjual bentuk digital bukumu di platform lain. Pastikan juga berapa berapa besaran royalti untuk penjualan di platform digital tersebut.

5. Adaptasi ke dalam bahasa lain

Tidak banyak penerbit yang menuliskan soal pasal penerjemahan ini di kontrak. Jika tidak ada dalam kontrak, berarti hak penerjemahan naskah ada pada penulis. Jadi, jika ada penerbit luar menghubungimu untuk menerjemahkan novel itu ke dalam bahasa lain, penerbit tidak memiliki hak untuk mendapatkan bagian royalti dari penjualan di luar negeri tersebut.

Jadi, jika tidak ada pasal ini, tanyakan kepada penerbit bagaimana aturannya dengan penerbit tersebut.

Biasanya, di Indonesia, karena penulis tidak memiliki agen, penerbit berperan sebagai agen untuk penerbit luar. Kalau tidak salah, penerbit berhak atas 50% dari royalti yang kamu terima dari penjualan di luar negeri–jelasnya lebih baik tanyakan ke penerbit.

Pokoknya, tanyakan semua hal yang tidak kamu mengerti dalam kontrak penerbitan. Lebih bagus lagi, kalau kamu bertanya kepada kenalan yang paham bahasa hukum. Lagi pula, itu untuk kebaikanmu sendiri, dan itu hakmu sebagai penulis.

Semoga cukup jelas, ya.

 

Writing

4 Langkah Membuat Pembaca Terhanyut

istilah(1).png

Penulis fiksi yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca terhanyut ke dalam dunia rekaan yang diciptakan si pengarang. Tujuan orang membaca fiksi adalah untuk bersenang-senang, agar bisa berpindah sejenak dari realitas kehidupannya. Artinya, pembaca ingin melupakan dirinya dan dunianya sebentar dan menikmati kehidupan lain yang ditawarkan oleh cerita fiksi. Jika penulis tidak berhasil memindahkan pembaca, berarti ada yang salah dengan cara bertutur kita.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendeskripsikan sesuatu. Hampir semua buku panduan menulis mensyaratkan show, don’t tell. Contoh telling itu seperti ini:

Lora membuka pintu dan mendapati ruangan itu kotor.

Kita tidak tahu sekotor apa ruangan itu. Ada apa saja di sana, bagaimana keadaannya, bagaimana baunya, bagaimana perasaan Lora saat mendapati ruangan tersebut, dll. Ruangan itu kotor, dan ya sudah. Bandingkan dengan penjelasan ini:

Lora membuka pintu dan sontak mengerutkan hidung. Aroma sampah dan makanan basi menyeruak menyerbu penciumannya. Lalat-lalat berdengung-dengung di atas keresek hitam yang terburai isinya, memperlihatkan nasi basi yang warnanya sudah berubah oranye kehitaman.

Lebih terbayang?

Sip.

Begitu kamu sudah menguasai cara menulis showing dengan menyisipkan semua pancaindra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, peraba), langkah berikutnya adalah melibatkan pembaca secara emosi dengan tokoh-tokoh yang kamu ciptakan dalam novelmu.

Pertama. Buat pembaca bersimpati kepada tokohmu.

Kamu tidak perlu membuat tokoh supersuci, superbaik, supermanis, supercantik, superkaya, dan sejenisnya untuk membuat pembacamu bersimpati. Kita buat contohnya dari novel Carrie karya Stephen King saja, ya.

Stephen King memperkenalkan Carrie sebagai katak di antara angsa-angsa. Adegan pertama dalam novel ini bercerita tentang gadis-gadis SMA yang sedang mandi setelah pelajaran Olahraga dan Carrie adalah satu-satunya gadis yang tidak seperti yang lainnya. Dia buruk rupa: gemuk, berjerawat, dan objek perundungan. Di salah satu meja sekolahnya, ada grafiti bertuliskan: Carrie makan kotoran.

Penggambaran tersebut membuat pembaca bersimpati; kasihan, Carrie jelek dan dirisak.

Ada beberapa situasi yang akan menimbulkan simpati di benak pembaca, yaitu kesepian, tunaasmara (ceileh tunaasmara) atau tidak dicintai, dipermalukan, direpresi atau ditekan, dalam  bahaya, privasi terlanggar–pokoknya, apa pun yang membuat si tokoh menderita secara fisik, mental, maupun spiritual.

Simpati adalah pintu masuk yang akan mengundang pembaca terlibat secara emosional dalam cerita kita. Berikutnya,

buat pembaca mengidentifikasikan diri dengan si tokoh.

Identifikasi muncul ketika pembaca bukan hanya bersimpati dengan si tokoh, tetapi juga mendukung tokoh-tokoh kita ini mencapai tujuan dan keinginannya (wants and needs). Para pembaca ini juga memiliki keinginan kuat agar si tokoh mencapai keinginannya tersebut.

Dalam Carrie, pembaca mendukung keinginan Carrie untuk datang ke pesta prom walaupun ibunya yang tiran melarangnya.

Bahkan, ketika kamu menulis tokoh jahat yang sedang dipenjara sekalipun, kita bisa membuat pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu. Misalnya, selama di penjara dia disiksa dan diperlakukan dengan buruk. Walaupun pembaca tahu kalau dalam kehidupan sebelumnya dia sangat jahat, tetapi tetap saja, saat si penulis menggambarkan betapa buruknya dia diperlakukan, pembaca bisa mendukung keinginan si tokoh untuk melarikan diri. Caranya adalah, dengan memberi si tokoh tujuan mulia. Misalnya, dia ingin melarikan diri demi bisa bertemu anaknya dan dia sudah bertobat atas kelakuan jahatnya di masa lalu.

Ketiga, buat pembaca berempati

Meskipun merasa kasihan kepada tokoh yang mengalami kemalangan, pembaca mungkin tidak akan merasakan kesengsaraan tersebut. Namun, dengan berempati kepada si tokoh, pembaca akan merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Empati adalah emosi yang lebih kuat daripada simpati.

Contohnya: suami yang berempati saat istrinya melahirkan. Si suami bukan hanya bersimpati, tetapi dia juga menderita rasa sakit sungguhan.

Bagaimana penulis fiksi bisa membuat pembaca berempati?

Lakukan dengan kekuatan sugesti. Gunakan detail-detail yang memicu emosi. Dengan kata lain, kamu menciptakan dunia cerita sedemikian rupa hingga pembaca bisa menempatkan diri dalam keadaan si tokoh.

Langkah terakhir, memindahkan pembaca.

Saat pembaca sudah merasakan simpati, identifikasi, dan empati, pindahkan pembaca ke dalam semacam gelembung, hingga seolah-olah dia sudah berada dalam dunia fiksi dan melupakan dunia nyata.

Saat membaca, apa kamu pernah begitu terhanyut hingga harus diguncang dan diteriaki beberapa kali hingga akhirnya merespons?

Dunia nyata di sekeliling pembaca meluruh memudar. Ini adalah tujuan utama penulis fiksi: membawa pembaca ke satu titik saat dirinya benar-benar terserap di dunia fiktif bersama para tokoh dan universe mereka.

Bagaimana membuat membaca masuk gelembung dunia fiksi itu? Jawabannya adalah: konflik batin.

Konflik batin adalah badai yang berkecamuk dalam diri: keraguan, rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dll. Setelah bersimpati, mengidentifikasikan diri, berempati dengan si tokoh, pembaca juga akan ikut merasakan konflik batin si tokoh. Pembaca ikut memikirkan apa yang harus dilakukan agar si tokoh keluar dari konflik batin dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Pembaca terlibat secara aktif, seolah-olah, masalah si tokoh adalah masalah dirinya yang harus diselesaikan.

***

Nah, selanjutnya, agar si pembaca tetap terhanyut, buat suspense atau ketegangan terus meningkat.

Namun, itu bahasan yang lain lagi.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya!

 

Writing

Pitching Your Book Idea

Serial TV yang lagi kusuka banget saat ini adalah “Younger”. Aku nunggu setiap Kamis pagi demi nonton episode terbarunya. Younger bercerita tentang ibu 40-an yang baru bercerai lalu jatuh miskin, dan dia harus membiayai anaknya kuliah. Liza, diperankan oleh Sutton Foster, melamar pekerjaan di beberapa penerbitan (karena 15 tahun lalu, waktu dia resign, dia adalah editor buku). Namun, tidak satu pun mau menerimanya karena dia sudah tua. Akhirnya, karena dia masih cocok sebagai cewek akhir 20-an, dia menyamar jadi cewek 26 tahun dan melamar jadi asisten direktur marketing di Empirical Publishing dan keterima!

Selama 4 season, aku dimanjakan sama trivia-trivia dunia penerbitan di Amerika karena aku relate banget sama pekerjaan mereka. Rebut-rebutan copyright sama penerbit lain, “rebutan” penulis, susahnya nyari penulis bagus eh giliran dapat ternyata dia plagiat–duh, juga bagaimana sosial media sangat berperan. Hal lainnya tentu saja romansa antara Liza-Josh (aheum si ganteng), dan Charles, juga drama-drama kecil antara semua tokohnya.

fever pitch1
Penulis lagi pitching ide sama Liza Miller. Yang ini agak creepy.

Nah, yang mau kuceritakan di sini adalah PitchFest di episode 7 season 7.  Kalau kata Kelsey, editor di Millenial, impritnya Empirical, PitchFest ini semacam audisi The Voice, tapi kamu enggak bisa memutar kursi. Seringnya, yang pitching ide novel di situ hancur semua. Contoh di episode itu: ada cewek yang pitching novel mirip sama The Girl on The Train, tapi setingnya dalam bus. Waktu Liza bilang, itu ceritanya kok sama banget? Si cewek yang pitching bilang: beda, laaah… ini kan dalam bus!

Oke. Terserah lo, deh.

Namun, bukan itu inti blog ini.

Mari berandai-andai. Misalkan di Indonesia ada PitchFest kayak gitu, bagaimana kamu menjual ide ceritamu ke editor?

Selain mengirim sinopis dan naskahmu, kamu harus melampirkan juga semacam proposal. Isinya apa?

 

  • Siapa target pembaca bukumu?
  • Apa yang unik dalam bukumu?
  • Bukumu bakal ditaruh di rak berisi buku-buku apa?
  • Apa judul buku/pengarang yang “mirip” dengan naskahmu? (mirip ini maksudnya setipe, ya)
  • Bagaimana kamu membantu penerbit menjual bukumu?
  • Apa tagline bukumu?
  • Apa kamu bisa menjelaskan bukumu dengan ringkas dan jelas (di sini perlunya punya premis)
  • Kenapa kamu milih setingnya seperti itu?
  • Bagaimana kamu dapat ide bukumu?
  • Siapa pengarang yang menginspirasimu/siapa pengarang-pengarang favoritmu?
  • Apakah bukumu ada yang pernah diterbitkan, ataukah kamu pernah memenangi lomba menulis?
  • Kenapa penerbit harus membaca bukumu?
  • Apa konflik utama dalam bukumu?

Kalau kamu bisa menjawab semua pertanyaan di atas, mulailah menulis proposalnya (kalau di luar disebutnya query letter).

Ini tip menulis proposalnya:

  • Mulai dengan “hook”, sesuatu yang mengikat. Ini bisa saja ide unik atau sebuah pertanyaan
  • Perkenalkan protagonis dan seting lewat penjelasan terperinci yang menghubungkan semuanya
  • Tulis hal-hal yang baik saja, berhenti saat kamu memberi alasan agar penerbit tidak menerimanya
  • Judul itu penting
  • Spesifik: apa genre bukumu
  • Bahasa yang digunakan harus membujuk, hidup, dan canggih. Suara tulisannya boleh berhubungan dengan suara dalam buku, tapi jangan menulis proposal dengan gaya tulisan di buku.
  • Tulis sinopsis dengan jelas (siapa saja tokohnya, apa latar belakang tokoh, lalu apa yang membuat hidup si tokoh berubah (konflik utama), bagaimana si tokoh menyelesaikan konflik).
  • Bedakan blurb dan sinopsis.

Ok, siap jualan ke penerbit?

 

ps: pitching apa sih bahasa Indonesianya?

 

 

Writing

Lakukan Ini untuk Menambah Peluang Novelmu Diterima

Kata E.B. White, penulis buku Charlotte’s Web, Stuart Little, dan buku-buku lainnya, “The best writing is rewriting.” Dengan kata lain, tulisan yang baik adalah tulisan yang sudah melewati proses editing.

Kamu boleh saja mengirim draf 1 naskahmu ke penerbit. Bebas. Namun, jangan salahkan editor kalau naskah masterpiece-mu itu tidak jelas nasibnya. Kata Ernest Hemingway, draf 1 itu sampah. Ya, menyakitkan memang, naskah kebanggaan yang kamu tulis sampai begadang-begadang sampai lupa mengerjakan hal lain kok disebut sampah. Namun, apa yang harus dilakukan ketika kenyataan berkata demikian?

alasan nolak

Tenang … draf 1 jelek itu bukan milik kamu saja. Saya pernah kok, mengedit draf 1 penulis berpengalaman yang pas dibaca masih berantakan. Tidak apa-apa. Draf 1 masih bisa diperbaiki. Justru, draf 1 ada untuk diperbaiki. Kalau draf 1-nya enggak ada, apa yang mau diedit, coba? Paling tidak, bersyukurlah karena kamu sudah punya draf 1.

Jadi, apa yang harus dilakukan begitu naskah selesai ditulis?

Peram naskahmu. Diamkan. Beri hadiah pada diri sendiri karena sudah menyelesaikan naskah itu. Beli buku, nonton, makan es krim, makan enak. Makan sushi. Pacaran. Main. Menjauh sebentar. Satu minggu cukup. Saat kamu kembali membacanya, kamu akan melihat naskah itu dengan sudut pandang baru. Kamu akan melihat kekurangan-kekurangan dalam naskahmu. Salah ketik. Kalimat tidak padu. Adegan yang tidak nyambung, dan lain-lain.

Apa saja yang harus diperhatikan selama proses swasunting tersebut?

Baca ulang.

Pertama, lihat isinya.

Apakah plot kamu sudah benar? Apa semua konflik dan pertanyaan yang kamu munculkan dalam sekujur cerita sudah dijawab dan diselesaikan? Jika belum, jawab dan selesaikan bagian-bagian kosong itu.

Apakah tokoh yang kamu buat sudah tiga dimensi? Apakah si tokoh terasa seperti manusia sungguhan yang seolah-olah benaran ada dan hidup di dunia ini, ataukah seperti sesuatu yang dikarang-karang? Kalau tokoh kamu masih terasa datar, perbaiki. Beri tokoh kamu back-story. Pernah nonton serial Westworld, ga? Robot-robot atau host di serial itu terasa manusiawi karena mereka punya back story. Ingatan. Memori. Ketakutan. Luka. Masa lalu.

Baca lagi. Apakah tokoh kamu berkembang? Misalkan tokoh kamu adalah perempuan manja yang tergantung sama orang-orang di sekelilingnya. Beri dia cobaan. Konflik. Di ending, apakah dia tetap manja dan tergantung? Kalau iya, berarti tokohmu tidak tumbuh. Revisi lagi.

Apakah adegan-adegan yang kamu tulis berpengaruh pada jalannya cerita? Kalau tidak, hapus, ganti.

Kedua. Lihat lebih detail. Apakah kalimatnya sudah betul? Kata yang ditulis tidak salah kaprah? Ejaan sudah benar?

Baca lagi. Apakah kamu tersendat-sendat saat membacanya kembali? Apakah kamu membaca semua katanya atau kamu melewatinya? Kalau kamu melewati beberapa kata atau kalimat, berarti kalimat yang kamu tulis tidak efektif atau tidak bagus. Atau, deskripsi yang kamu tulis terasa membosankan dan terlalu melelahkan untuk dibaca. Perbaiki kalimatnya.

 

Apakah masih ada salah ketik? Apakah kamu yakin telah menulis sebuah kata dengan benar? Risiko atau resiko? Lagi pula atau lagipula? Namun ditulis di awal kalimat atau di tengah? Pengen atau pengin? Antri atau antre? Buka KBBI. Sekarang gampang, kok, sudah ada versi daringnya. Kamu tidak perlu membeli buku KBBI yang supertebal itu. Unduh PUEBI dan buku-buku tentang tata bahasa Indonesia yang disediakan pusat bahasa. Kamu bisa mengambilnya di sini.

Ketiga, teliti penerbit yang kamu tuju. Ikuti persyaratan yang mereka minta. Sesuaikan genre tulisan dengan permintaan penerbit. Jika tidak ada petunjuk soal format, gunakan ini. Jangan memakai tab atau mengetik enter dua kali ketika membuat paragraf baru, karena itu akan menyulitkan layouter (dia harus ngetik back-space sejumlah paragraf yang ada dalam novel itu. Bayangkan pegalnya!)

gabungan kata

Selanjutnya, jika kamu merasa naskah kamu sudah cukup layak untuk dibaca editor penerbitan dan punya kesempatan buat diterbitkan, kirim. Siapkan mental. Misalkan naskahmu diterima sekalipun, editor akan memberi catatan revisi. Dan catatan itu, bisa saja membuatmu harus menulis ulang keseluruhan ceritanya. Terima saja. Apalagi, jika kamu merasa saran-saran dari editor masuk akal. Lagi pula, editor enggak akan bikin naskah kamu jadi lebih buruk daripada sebelumnya, kok.

Ceklis buat self-editing

Namun, jika setelah melakukan self-editing kamu masih merasa belum puas, hubungi saya. Saya membuka jasa pendampingan menulis novel, editing, dan review. Info lebih lengkap di sini.