Trik Menulis Novel Romance

Romance adalah genre novel yang paling populer. Menurut Romance Writers of America, industri fiksi romance menghasilkan 1.08 miliar dolar per tahun, hampir sama dengan genre novel misteri dan genre fiksi sains/fantasi digabungkan. Novel-novel romance secara reguler menempati daftar best seller di New York Times, Publishers Weekly, dan USA Today, serta memiliki pembaca setia.

Di Indonesia sendiri, genre ini mendominasi toko-toko buku dibandingkan genre-genre lain. Saya nggak punya datanya, tapi sekali lihat saja tiap ke toko buku, tiap melewati rak fiksi, pasti mayoritas isinya romance.

Saya membaca beberapa penelitian tentang novel romance ini 7 tahunan lalu dan ketika cari-cari lagi data terbaru, nggak banyak yang berubah soal perbandingan tingkat laku enggaknya genre novel. Romance selalu menempati peringkat atas dalam hal penjualan.

Nah, apakah itu berarti menulis novel romance mudah dan cetek? OH, TENTU TIDAK, KISANAK. Kemudian, karena romance itu laku, persaingannya juga jadi semakin ketat (baik bersaing diterima editor maupun bersaing diterima pasar)

Ciri Khas Novel Romance

Continue reading “Trik Menulis Novel Romance”

Advertisements

Gunakan Plot Twist Ini Untuk Membuat Ceritamu Lebih Seru!

Setelah lama nggak ngajar workshop, Sabtu (17/11) kemarin saya ngisi kelas kecil dalam rangka diskusi dan launching buku “Sirkus” karya Abi Ardianda. Ini adalah buku kumpulan cerpen pertama Abi. Waktu diminta ngisi kelas sama Abi, sebenernya masih bingung mau bahas apaan. Hahaha. Namun, setelah membaca cerpen-cerpennya dan baca komentar-komentar pembaca di IG Storiesnya Abi, baru kepikiran kalau bikin kelas plot twist aja. Iya, karena pembaca-pembacanya banyak yang kaget waktu baca ending cerpen-cerpennya. 

Sebenarnya, plot twist itu apaan, sih? Sepenting apa adanya plot twist dalam cerita? 

Intinya, plot twist adalah perubahan arah/pengembangan kisah yang tidak terduga dalam cerita.

Plot twist biasanya dipakai dalam cerpen, atau novel-novel misteri, thriller, detektif. Kita tidak selalu membutuhkan plot twist dalam cerpen, tetapi dalam genre yang saya sebutkan tadi, saya rasa plot twist penting banget.

Plot twist yang baik adalah yang bisa bikin pembaca memikirkannya terus-terusan, bahkan ketika udah menyelesaikan buku itu selama berhari-hari. Pernah kan ya, habis baca buku bengong karena kaget, terus nggak bisa move on dan enggan baca buku lain saking terikatnya sama cerita itu dan kagum pada kemampuan si penulis mengubrak-abrik kepala kita? Continue reading “Gunakan Plot Twist Ini Untuk Membuat Ceritamu Lebih Seru!”

How to Plot Your Novel

Beberapa bulan ini, aku berkesempatan mengedit naskah-naskah yang diambil dari Wattpad dan mendapati beberapa kesamaan (yang barangkali adalah resep sukses dibaca banyak eibiji).  Naskah-naskah watty yang kupegang ini rata-rata pernah di-view 5-15 juta kali (so, i did my homework dengan ngubek-ngubek Wattpad). Hampir semuanya mengandung adegan gemas malu-malu kucing yang bikin pembaca berkomentar: alah udah lah jangan banyak bacot, kalau sama-sama suka jangan pura-pura! (maap, naskah terakhir yang kubaca, tokohnya agak senang berkata-kata kasar).

Kesamaan lainnya adalah: si naskah aduhai panjangnya tapi eh tapi banyak bagian yang tidak efektif.

Dan saudara-saudara, inilah yang bikin naskah wattpad populer ini terasa ngayayay (bertele-tele, nggak ngasih petunjuk cerita ini bakal mengarah ke mana, konflik utama baru muncul di tengah cerita, membosankan), selain cara menulisnya yang terlalu telling (soal show don’t tell ini akan dibahas di tulisan lain aja, ya).

Lalu, kenapa bisa kayak gitu, kisanak?

Rata-rata, karena novel-novel tersebut tidak direncanakan dengan baik.

Okelah, kalau bacanya di platform gratisan dan kita emang nunggu-nunggu terusannya, bagian bertele-tele dan nggak sampai-sampai juga ke konflik utamanya ini bisa dimaafkan. Namun, kalau udah jadi buku, yang orang beli demi bisa baca karya kamu, pasti kesal lah buku tebal-tebal mahal-mahal kok banyakan sampahnya daripada sesuatu yang bisa diambil. Jadi, kamu nggak bisa berkilah: “aku nggak mau diedit, dulu aja pembaca suka kok dengan tulisanku. kenapa harus diedit?” (tolong ya, jangan pernah mengatakan itu di depanku kalau nggak kepengin aku merepet marah-marah)

Lalu, bagaimanakah cara merencanakan novel dengan baik? Continue reading “How to Plot Your Novel”

7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah: Continue reading “7 Pilar Cerita Thriller”

4 Macam Sudut Pandang Orang Ketiga (PoV 3)

Empat tahun lalu, saya pernah menulis soal “Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel“, dan ternyata masih utang penjelasan soal PoV 3 *tutup muka*.

Entah kenapa, topik sudut pandang ini ternyata yang paling dicari di blog ini. Nah, biar lebih lengkap, saya akan mengulas lagi topik ini dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Hindari(2).png

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV (Point of View) atau Sudut Pandang. Siapa narator yang menceritakan kisah yang kamu tuliskan? Apakah ceritamu dituturkan oleh aku atau narator yang tidak ikut berperan dalam kisahnya?

Tanyakan kepada dirimu: “siapa yang bisa menceritakan kisah ini dengan cara paling baik?” Sudut pandang yang kamu pilih akan menentukan suara naratif dan itu hal yang krusial.

Apa saja, sih, sudut pandang dalam novel itu?

Secara umum, ada tiga jenis sudut pandang atau PoV, yaitu: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang kedua lebih sulit dituliskan dan jarang pula digunakan dalam novel, jadi kita tidak usah membahasnya dalam tulisan ini, ya.

PoV 1

Sudut pandang orang pertama bercerita dengan penutur aku. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh si narator yang biasanya tokoh utama (dalam beberapa kasus, ada juga penulis yang menggunakan narator aku untuk menceritakan kawan dekatnya. Misalnya: Sherlock Holmes diceritakan dari sudut pandang Watson atau Nick Carraway yang bercerita tentang Gatsby).

Sudut pandang orang pertama cocok untuk novel-novel yang tidak memiliki banyak tokoh dan konfliknya hanya berkisar pada satu tokoh saja, misalnya pada novel-novel romance. Sudut pandang ini membuat pembaca merasakan kedekatan dengan si tokoh karena merasa seperti sedang berbicara langsung dengan si tokoh. Selain itu, pembaca juga bisa ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh dan mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan olehnya, begitu juga hal-hal yang berkecamuk dalam benak si tokoh.

Namun, sudut pandang ini juga memiliki kelemahan. Ketika memilih sudut pandang orang pertama, kita tidak bisa mendatangi tempat-tempat atau adegan-adegan yang tidak didatangi atau dialami si tokoh utama (narator). Walaupun begitu, informasi atau peristiwa yang terjadi saat si tokoh tidak ada bisa disampaikan dalam dialog dengan tokoh lain.

Pagi sebelum kami resmi menjadi suami istri, aku sempat ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimana kalau dia bukanlah pasangan yang terbaik untukku? Bagaimana kalau ternyata anaknya selama ini hanya berpura-pura menyukaiku?

(si narator, aku, meragukan keputusannya menikah).

PoV 3

Sudut pandang lain yang sering dipakai dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga (kita menceritakan dia atau ia). Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah, kita bisa bercerita tentang semua tokoh yang memajukan cerita, seolah-olah narator berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti para tokoh. Namun, saat menggunakan sudut pandang orang ketiga, sering kali apa yang dipikirkan si tokoh tidak bisa diketahui oleh narator.

Malam sebelum pernikahannya diresmikan, Lara mengenang semua kegagalan percintaannya di masa lalu dan bercerita kepada sahabatnya, Jane. Namun, belum sempat bercerita banyak, Jane berkata agar Lara tidak perlu memikirkan masa lalu karena esok, semua patah hati yang pernah dirasakannya akan terbayar. Lara akan bahagia bersama pria itu.

Nah, PoV 3 ini ada macam-macam lagi.

sudut pandang.png

  1. Sudut Pandang Objektif

Sudut pandang objektif ini berarti narator berada di luar karakter dan penulis enggak tahu isi hati/isi pikiran si tokoh. Penulis adalah reporter atau pelapor. Biasanya, sudut pandang objektif digunakan saat ingin menciptakan aura misterius dari si tokoh–kita cuma bisa melihat dari luar. Kalau sering-sering menggunakan PoV jenis ini, biasanya pembaca cepat bosan karena mereka menginginkan kedekatan dengan si tokoh.

Gino terbangun pukul dua pagi. Dia berdiri dan menghampiri lemari obat, lalu mengambil beberapa butir pil dan menelannya tanpa air. Setelah itu, dia berpakaian dan mengambil pistol dari lemarinya. Pistol itu dia sembunyikan di balik saku jasnya. Dengan gegas, dia menuruni tangga menuju pintu depan, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah toko perhiasan.

Dari deskripsi di atas, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Gino. Namun, kita bisa mengira-ngira dari apa yang kronologinya. Mungkin dia berniat merampok toko perhiasan.

Menurut saya, sudut pandang jenis ini tidak akan cocok jika dipakai menulis romance, karena bukankah apa yang dicari pembaca romance adalah perasaan dan kedekatan dengan si tokoh?

2. Sudut Pandang Objektif yang Dimodifikasi

Salah satu cara untuk meraih kedekatan dengan pembaca adalah dengan menggunakan sudut pandang objektif yang dimodifikasi. Si narator tidak menyebut kalau dirinya tahu apa yang dipikirkan si tokoh, tetapi mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang ada dalam benaknya.

Aura terbangun dengan kelelahan. Mungkin dia bermimpi buruk, atau mungkin juga dia terkena flu. Semalam, saat dia berjalan-jalan dengan Martin, angin berembus sangat kencang dan dia tidak membawa jaket.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu

Saat narator mengungkapkan apa yang terjadi dalam kepala si tokoh, cerita itu ditulis dengan sudut pandang omniscient atau serbatahu. Sudut pandang ini sangat populer pada novel-novel di zaman Victoria. Perhatian utama novelis Victorian adalah
masyarakat. Cara terbaik untuk memahami masyarakat adalah dengan memiliki akses terhadap pikiran dan motif setiap tokoh.

Henry tiba pukul dua pagi dengan tubuh menggigil dan lemah (keadaan tubuhnya adalah sudut pandang Henry). Catherine menyapanya di pintu, berpikir kalau suaminya tampak seperti tikus yang habis tenggelam di got (pemikiran Catherine).

4. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Sudut pandang ini adalah POV paling mudah untuk penulis pemula. Sederhananya seperti ini: pengarang memiliki hak untuk memasuki kepala hanya tokoh-tokoh tertentu saja. Tokoh-tokoh terpilih ini, biasanya protagonis dan beberapa tokoh penting lainnya, disebut “viewpoint character”.

Contoh: novel The Good Daughter karya Karin Slaughter, atau Big Little Lies karya Liane Moriarty.

Nah, bolehkah kita mencampur beberapa sudut pandang dalam satu novel?

Boleh, kalau ada tujuannya. Kalau cuma buat keren-kerenan tapi malah membuat pembaca bingung, sebaiknya tidak. Human Acts karya Han Kang menggunakan tiga sudut pandang sekaligus (PoV 1, 2, dan 3), dan bisa tetap keren. Syaratnya, gunakan satu sudut pandang dalam satu bab atau satu bagian, jangan dicampur-campur agar tidak membingungkan.

Kemudian, jika kita sudah memilih menggunakan PoV 1, jangan sampai ada sudut pandang bocor (tiba-tiba menceritakan tokoh yang bukan narator)

Semoga penjelasan soal sudut pandang ini menyalakan ide di kepalamu, ya.

Selamat menulis.