Pemenang #tantangannulis #BlueValley

Hai teman-teman,

Terima kasih telah berpartisipasi dalam #tantangannulis #BlueValley. Di luar dugaan, ternyata yang ikutan banyak sekali, ya. Saya mengira paling cuma 20-an orang, eh ternyata sampai 65 blog yang ikutan! #syenang

Di balik kesenangan itu, muncullah kebingungan, karena tulisan yang bagus kok banyak. Terus saya jadi mumet menentukan pemenang. Ada yang sesuai banget sama tema, tapi nulisnya biasa aja. Ada yang ceritanya baguuus banget, tapinya kurang sesuai sama yang saya inginkan. Terus bingung. Berasa pengin menangin semuanya!

Jadi, saya minta bantuan Falcon Publishing buat nambah pemenangnya. 1 paket novel #BlueValley yang dijadikan hadiah itu adalah jatah saya sebagai editor. Namun, membaca banyak tulisan bagus, saya minta Falcon buat nambah 5 novel lagi buat 5 pemenang. Jadi, totalnya 6 orang. Yay!

Dan pemenangnya adalah….

Mailaulia: https://mailaulia.wordpress.com/2016/12/01/a-lot-can-happen-in-a-year-cerita-tentang-patah-hati-dan-hal-lain-di-tahun-2016/

Selamat, kamu dapat 1 paket novel Blue Valley!

Saya milih tulisan ini karena paling sesuai dengan tema. Maila menuliskan apa yang hilang darinya, apa yang terjadi dalam hidupnya setelah kehilangan itu, dan yang paling penting, apa yang dia lakukan untuk menghilangkan duka akibat kehilangan itu. Kebanyakan tulisan yang masuk hanya bercerita tentang kehilangannya semata, tetapi tidak mengungkapkan apa yang terjadi sama si tokoh karena kehilangan itu. Duka macam apa yang dirasakannya. Perubahan macam apa yang terjadi dalam hidupnya. Apa yang dia lakukan untuk bangkit dari keterpurukan. Lalu, apakah dia berhasil bangkit. Maila menulisnya dengan lengkap. Persis seperti yang saya inginkan ada dalam novel-novel Blue Valley: tokoh-tokohnya dikasih cobaan, jatuh terpuruk, lalu bangkit.

Nah, karena banyak tulisan lain yang bagus dan menginspirasi, saya menambah 5 pemenang lain yang masing-masing akan mendapatkan 1 buku Blue Valley random (enggak bisa milih, ya, sedikirimnya), dan mereka adalah:

  1. http://nurannissa.blogspot.co.id/2016/12/sungkawa-naya.html
  2. http://www.storial.co/book/evanescencia/1
  3. http://www.storial.co/book/sorrowful-summer
  4. https://boemisayekti.wordpress.com/2016/12/03/tantangan-nulis-blue-valley/
  5. http://rizkidarmadi58.blogspot.co.id/2016/12/his-story.html

Selamat kepada para pemenang, silakan email alamat lengkapmu (alamat Indonesia, ya) ke: jiaeffendie@gmail.com

Sampai jumpa dalam #tantangannulis berikutnya!

Salam hangat,

Jia

 

 

 

 

 

Categories Uncategorized

Tantangan Nulis Blue Valley

blue-valley.png

Hai teman-teman, jumpa lagi dengan #tantangannulis bersama saya!

Akhir tahun ini, akan terbit serial novel yang saya buat bersama Falcon Publishing, sekaligus menandai dimulainya *ehem* literary agency yang sedang saya rintis *uhuk-uhuk*. Ya, semoga tahun depan akan muncul lagi serial-serial asyik yang ditulis oleh para pengarang Indonesia yang mumpuni, memanjakan kehausan kalian akan bacaan yang menyenangkan.

Blue Valley adalah serial berisi 5 judul novel yang ditulis oleh Aditia Yudis, Bernard Batubara, Dyah Rinni, Erlin Natawiria, dan Robin Wijaya. Tema besarnya adalah kehilangan, dan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh para pengarang kita tinggal di kompeks perumahan yang sama, yaitu Blue Valley.

Nah, untuk berbagi kebahagiaan atas terbitnya serial ini, saya akan membuat #tantangannulis #BlueValley, hadiahnya, satu pemenang akan mendapatkan satu paket novel Blue Valley. Jadi, enggak cuma satu, kalau menang, kamu akan dapat 5 judul sekaligus! Asyik, kan, ya?

Oke, syaratnya apa saja? Simak baik-baik, ya.

  1. Kamu boleh menulis fiksi maupun nonfiksi. Berarti, kamu boleh banget membagi pengalaman pribadimu. Tema: kehilangan, dan bagaimana kamu mengatasi duka. Kehilangan bisa berarti apa pun, ya. Bebas.
  2. Kamu cukup menulis satu tulisan saja, diposting di blog. Judul bebas. Gunakan foto Blue Valley di atas sebagai image di blog. Masukkan juga tag #bluevalley dan #tantangannulis di blogmu. Kamu boleh menyertakan gambar tambahan jika ingin.
  3. Di akhir tulisanmu, sertakan: “Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”
  4. Setelah posting tulisan kamu, tweet dengan format: “(Judul) (link tulisanmu) #tantangannulis #BlueValley @JiaEffendie @falconfiksi”
  5. #tantangannulis ini berlangsung dari 29 November 2016-14 Desember 2016 dan pemenang akan diumumkan tanggal 21 Desember 2016 setelah saya baca dengan saksama.
  6. #tantangannulis ini hanya berlaku untuk alamat pengiriman Indonesia.

Selamat menulis, saya tidak sabar membaca tulisan kalian semua *smooch*

Salam hangat,

Jia

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

membesarkan anak hebat

sesungguhnya, saya merasa judul itu bombastis. karena saya enggak hebat. gimana bisa seseorang yang enggak hebat seperti saya bisa membesarkan anak yang hebat?

namun, saya, kita, semua orangtua, tetap harus melakukannya, demi masa depan manusia yang lebih baik. siapa tahu, jika kita mampu membuat pondasi yang baik dan menumbuhkan mereka menjadi manusia-manusia hebat berempati, masa depan akan menjadi tempat yang lebih bersahabat.

sejak memasuki usia dewasa, saya menjadi orang yang takut punya anak. saya melihat, mendengar, membaca, kalau dunia yang kita tinggali saat ini bukanlah tempat yang menyenangkan. saya berpikir, betapa egoisnya kita melahirkan anak-anak di tempat buruk seperti ini. makin baca berita, makin ngeri. waktu awal-awal menikah, kami bahkan sempat berpikiran untuk enggak usah punya anak aja. it’s just too scary.

how to protect our children from evils out there?

tapi, setelah dipikir-pikir lagi, manusia enggak semuanya jahat. dan saya enggak kepikiran dunia di mana enggak ada si #penunggangnaga dalam hidup saya. meski orang-orang jahat bersembunyi di suatu tempat di dekat kita, kita masih dilindungi. masih ada orang-orang baik. dan seharusnya, sebagai orangtua, kita menambah populasi orang baik itu dengan menumbuhkan anak-anak hebat: anak yang sehat, cerdas, dan cerdas psikososial. kalau kata bu vera, psikolog dari rumah dandelion, kompeten secara emosional.

hari sabtu kemarin saya menghadiri blogger gathering kampanye bebelac #bebehero di kota kasablanka. bebehero merupakan kampanye grow them great dari bebelac sebagai bentuk dukungan bagi ibu untuk dapat membesarkan anak hebat. melalui kampanye ini, ibu diajak memahami cara mengembangkan kecerdasan dan menumbuhkan empati anak melalui pengenalan nilai-nilai kebaikan dalam kegiatan sehari-hari. pembicaranya antara lain bu andi airin, senior brand manager bebelac, ibu roslina verauli, m.psi, psikolog dari rumah dandelion, dan bambang pamungkas.

image

untuk mendukung tumbuh kembang optimal, dibutuhkan nutrisi yang tepat. bebelac diperkaya dengan vitamin dan mineral yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, termasuk vitamin A, zat besi, zinc, iodium, dan kalsium, sehingga anak dapat dengan mudah meniru contoh baik yang diberikan orangtua.

di acara ini juga ada bebehero park. ada 16 permainan yang mengasah kemampuan cepat tanggap dan rasa peduli si kecil. #penunggangnaga sempai main di beberapa permainannya, terutama yang cocok buat anak satu tahun.

image

kampanye #bebehero ini pas banget sama apa yang kami pikirkan soal mendidik #penunggangnaga. kami enggak mau dia cuma jadi anak yang sehat dan pintar secara akademis aja, tetapi ga bisa berempati. ga cerdas secara emosional, ga peka sama sekitarnya. saya sering mendengar atau melihat anak-anak yang memperlakukan nanny mereka dengan buruk, menganggap mereka manusia kelas dua yang boleh diperlakukan seperti itu. atau orang-orang yang memperlakukan hewan sekenanya. saya enggak mau anak kami tumbuh menjadi seseorang seperti itu.

kata bu vera, empati adalah gerbang aksi peduli kepada orang lain, termasuk nilai kebaikan yang dimiliki anak. oleh karena itu, dasar pendidikan moral dengan berempati harus dimulai sejak dini karena akan berpengaruh pada perkembangan watak dan perilaku ketika anak dewasa. empati adalah salah satu kompetensi emosional yang merupakan dasar karakter kepahlawanan. selain empati, ada 4 nilai kepahlawanan lainnya; altruis—rasa ingin membantu orang lain, percaya diri, berpikiran positif, dan gigih.

semuanya dimulai di rumah. dari orangtua. terkadang, niat baik anak terbentur oleh larangan atau enggak adanya dukungan dari orangtua. kalau ini terus berlangsung, lama-kelamaan niat baik itu akan menghilang dari benak si anak. kan ngeri.

agar aksi hebat anak makin terpupuk, kita bisa melakukan hal-hal ini:

  • beri pujian kepada anak yang berusaha membantu orang lain
  • berikan anak kesempatan untuk mencoba membantu orang lain
  • ajak anak berdiskusi ketika melihat orang yang membutuhkan bantuan
  • buat tradisi keluarga dalam bidang aksi sosial

berarti, semuanya balik lagi ke orangtua. teori ini enggak bisa sekadar dibicarakan sama anak. anak harus melihatnya langsung dari perilaku kita. buat yang belum biasa, pasti susah, sih. tapi kita enggak cuma membicarakan anak kita sendiri. kita sedang membicarakan seluruh generasi.

karena saya pengin generasi anak-anak saya akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. karena walaupun saya enggak hebat, saya pengin anak saya hebat. because he’s my superhero.

karena dia, saya mampu menghadapi hal-hal yang dahulu menakutkan. dan meski sekarang pun saya menganggapnya masih menakutkan, i will be brave.

 

ps:

oh iya, bebelac ini lagi nyari #bebehero lho, moms. hadiah utamanya jalan-jalan ke australia plus kesempatan jadi bintang iklan bebelac. ada juga hadiah mingguan. moms tinggal upload foto/video dan cerita tentang aksi hebat si kecil. info lengkapnya, klik link ini aja, ya: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

 

 

belajar hidup dari ove, si lelaki tua penggerutu

misalnya dia tetangga saya, saya akan membencinya.

kenapa? karena dia jenis bapak-bapak tua yang mencibir para freelancer yang kerja di rumah. dia juga orang yang menganggap kalau komputer itu seperangkat sistem unit (cpu dan teman-temannya), monitor, dan keyboard–oleh karenanya, iPad tidak termasuk di dalamnya. dia orang yang menganggap mobil paling bagus adalah merek Saab, sehingga mobil jenis lain adalah sampah. dia laki-laki yang menegakkan peraturan. kau harus buang sampah di tempat yang benar. kalau dia sampai pergi ke Indonesia dan melihat orang buang sampah sembarangan, pastilah dia langsung kena serangan jantung karena enggak tahu lagi harus marah kayak gimana. lah wong kamu masukin sampah organik ke kaleng sampah nonorganik aja dia misuh-misuh.

namun, di bukan tetangga saya. dan kamu tidak tahu apa yang dialami seseorang sampai dia bisa menjadi seperti ini.

syukurlah dia karakter dalam novel, karena dengan begitu, kamu bisa membaca lebih banyak tentang latar belakang orang ini. lalu kamu akan mengerti kenapa dia bisa seperti itu. meski saya tidak yakin juga sih kalau saya bakal tahan bertetangga dengan orang yang senang marah-marah.

namanya ove. usianya lima puluh sembilan tahun. dia baru dipecat dan dia kepengin mati. namun, bukan ove namanya kalau dia tidak “mati” dengan benar. dia menyiapkan diri untuk itu. namun, perempuan asing mungil yang sedang hamil dan karavannya menggores tamannya itu selalu mengganggu rencananya.

jika kamu membaca sampai akhir, niscaya kamu tahu kalau ove sebenarnya penyayang. dia memang keras, tapi begitu dia bertemu sonja, hatinya dilembutkan. dia yang hitam-putih mendadak berwarna dengan kehadirannya.

jadi, masuk akal, sih, ketika sonja tak ada, dan ove tak lagi punya pekerjaan, dia kehilangan alasan untuk tetap hidup. keputusasaan sering kali mengeliminasi alasan-alasan untuk tetap hidup. padahal, jika kita mau melihat dari sudut pandang lain, selalu ada, sekecil apa pun, hal yang patut disyukuri. kopi enak di pagi hari, misalnya.
image

dalam kasus ove, hal yang patut disyukurinya adalah gangguan parvaneh, si perempuan hamil dari iran dan kedua putrinya. juga kucing kampung yang suka nongkrong di depan rumahnya. gangguan konstan yang membuat ove kesal karena dia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. karena ove punya prinsip. dan gangguan seperti itu dari mereka, mengisi celah kosong ove.

maka, jika saat ini kamu merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupmu, beri kesempatan pada gangguan-gangguan. buka diri dan isi celah kosongmu. mulai dengan hal-hal kecil. mulai sedikit-sedikit.

selalu ada alasan untuk tetap hidup.
berbahagialah.

—-
a man called ove
fredrik backman
nourabooks

[writing] membangun karakter: karakter datar dan karakter bulat

saya lagi baca buku james frey yang berjudul how to write a damn good novel, dan menemukan penjelasan yang bagus banget soal karakter datar dan karakter bulat. saya pernah baca sebelumnya, tetapi enggak memahaminya sebaik apa yang dijelaskan frey di buku ini.

karena penjelasan seasyik ini sayang jika saya simpan sendiri, jadi saya menerjemahkannya buat kalian. semoga terjemahannya juga asyik dan semoga berguna, ya.

2902a935183cd320710c4d74f6f2a5ad

Karakter bulat dan karakter datar

Karakter datar biasanya digunakan untuk memunculkan tokoh-tokoh yang hanya mengatakan satu-dua kalimat saja. Misalnya: karakter pelayan, loper koran, bartender, dll. Mereka mungkin tampak berwarna-warni dan mencolok, temperamental atau tampak tenang. Namun, mereka selalu ada di sekeliling, tidak pernah di tengah-tengah cerita. Pembaca tidak sepenuhnya tertarik kepada mereka. Mereka karakter yang mudah dilabeli dengan satu sifat saja: rakus, atau saleh, atau pengecut, dan seterusnya.

Mereka tidak memiliki kedalaman; penulis tidak mengeksplorasi motif maupun konflik pribadi mereka—keraguan yang mereka miliki, rasa bersalah, dll. Selama karakter datar ini dipakai untuk mengisi peran kecil di novelmu, tidak apa-apa. Namun, jika digunakan untuk peran penting seperti penjahat utama, tulisan dramatis akan berubah menjadi melodrama.

Karakter lainnya adalah karakter “bulat”, “penuh”, atau “tiga dimensi”. Semua tokoh penting di novelmu haruslah tipe ini, bahkan para antagonisnya. Tokoh-tokoh bulat sulit dilabeli. Mereka memiliki motif yang kompleks serta keinginan membungungkan, dan hidup dengan renjana serta ambisi. Pembaca sudah mengetahui sebelum mereka muncul dalam novel, kalau tokoh-tokoh ini mengalami kehidupan yang kaya dan penuh. Pembaca menginginkan keintiman dengan karakter-karakter tersebut karena mereka ingin tahu.

Lajos Egri, dalam buku The Art of Dramatic Writing (1946) menggambarkan karakter bulat sebagai tiga dimensi. Dimensi pertama adalah fisiologis, kedua, sosiologis, ketiga, psikologis.

Dimensi fisiologis karakter termasuk tinggi dan berat badan karakter, usia, jenis kelamin, ras, kesehatan, dll. Cantik atau buruk rupa, pendek atau tinggi, kurus atau gemuk—semua ciri fisik ini memengaruhi cara karakter berkembang, sama halnya hal-hal tersebut memengaruhi manusia.

Masyarakat membentuk karakter kita berdasarkan penampilan, ukuran, jenis kelamin, warna kulit, bekas luka, kecacatan, keabnormalan, alergi, postur, dll. Gadis pirang bermata biru yang mungil dan rapuh tumbuh dengan harapan-harapan yang berbeda dibandingkan saudaranya yang berhidung seperti jarum dan bermata seperti serangga. Untuk mengembangkan tokoh bulat, kita harus benar-benar memahami fisiologis dari karakter.

Dimensi fisiologis karakter termasuk tinggi dan berat badan karakter, usia, jenis kelamin, ras, kesehatan, dll. Cantik atau buruk rupa, pendek atau tinggi, kurus atau gemuk—semua ciri fisik ini memengaruhi cara karakter berkembang, sama halnya hal-hal tersebut memengaruhi manusia.

Masyarakat membentuk karakter kita berdasarkan penampilan, ukuran, jenis kelamin, warna kulit, bekas luka, kecacatan, keabnormalan, alergi, postur, dll. Gadis pirang bermata biru yang mungil dan rapuh tumbuh dengan harapan-harapan yang berbeda dibandingkan saudaranya yang berhidung seperti jarum dan bermata seperti serangga. Untuk mengembangkan tokoh bulat, kita harus benar-benar memahami fisiologis dari karakter.

Dimensi kedua adalah sosiologis. Berada di kelas sosial apa karakter Anda? Di lingkungan seperti apa karakter itu tumbuh? Sekolah macam apa yang dia masuki? Bagaimana sikap orangtuanya soal seks, uang, dll? Apakah tokoh ini diberikan kebebasan atau tidak sama sekali? Apakah tokoh itu punya banyak teman, sedikit, atau tidak punya sama sekali; seperti apa mereka? Untuk benar-benar memahami karakter, kita harus mampu mengusut sampai ke akarnya. Karakter manusia ditempa dalam iklim sosilogis, entah itu manusia sungguhan ataupun karakter fiksi. Kecuali sang novelis memahami dinamika perkembangan karakter, motivasi karakter tidak akan benar-benar dimengerti. Motivasi sang tokohlah yang membuat konflik dan membangun tensi naratif yang harus dimiliki novelmu jika ingin berhasil menggenggam perhatian pembaca.

Dimensi ketiga, dimensi psikologis adalah produk dimensi fisiologis dan sosiologis. Dalam dimensi psikologis, kita menemukan fobia dan mania, kompleksitas, ketakutan, pola rasa bersalah dan hasrat, fantasi, dan seterusnya.

Anda tidak perlu menjadi psikolog untuk menulis novel. Namun, Anda harus menjadi pengamat umat manusia dan memahami mengapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan dan mengatakan apa yang mereka katakan.

Buatlah dunia ini sebagai laboratoriummu.

okay, selamat menulis karakter yang bulat!

-Jia-