Book of The Year!

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Alvin ini, lalu terinspirasi untuk menulis juga. 2016 adalah tahun yang lumayan berat buat keluarga saya. Pertengahan tahun, kami pernah sampai harus menjual buku-buku demi bisa makan *nangis sambil makan nasi pakai garam*. Maka, enggak ada anggaran buat beli buku. Untungnya (yeah, selalu ada untung di antara cobaan), saya masih bisa membaca buku dan beberapa buku itulah yang menghidupi kami hingga bertahan melewati 2016 dengan selamat.

Sepanjang tahun ini, bisa dibilang, saya hanya mendapatkan pekerjaan mengedit dan menerjemahkan dari satu penerbit saja. Entah kenapa, lamaran ke penerbit lain dicuekin melulu (yak malah curcol). Kehidupan membaik saat saya mendapatkan order menerjemahkan buku tebal dan berkenalan dengan penerbit baru yang menerbitkan Blue Valley Project. Jadi ya, walaupun terseok-seok, tahun kedua menjadi freelancer sudah lebih baik daripada sebelumnya.

Buku-buku di bawah tidak saya urutkan berdasarkan rating atau yang paling saya sukai, ya, dan dari 43 judul buku yang saya baca selama 2016, ini adalah 8 buku terbaik:

  1. Caraval – Stephanie Garber

Buku ini baru akan terbit secara resmi Januari 2017, tetapi silakan tengok Goodreads dan sudah ada berapa review di sana. Ya, ini salah satu buku belum terbit yang udah populer banget di kalangan pembaca. Di websitenya disebutkan kalau hak terjemah Caraval sudah dibeli oleh 25 negara dan hak adaptasi filmnya juga sudah dibeli. Wow!

caraval

Membaca fakta-fakta itu, saya juga jadi semakin tercengang ketika membaca novelnya. Iya, buku young adults ini emang sekeren itu. Ini buku kelima Garber, tetapi buku pertamanya yang berhasil mendapatkan kontrak penerbitan. So guys, jangan takut akan penolakan. Nulis aja terus. Nulis yang bagus.

Mengambil seting antah berantah di zaman Victoria, Caraval bercerita tentang sebuah wahana permainan layaknya Dufan, tetapi kamu sebagai peserta, ikut dalam sandiwara yang dimainkan oleh permainan Caraval itu. Scarlett, tokoh utamanya, sudah 7 tahun menulis surat kepada Legend, Master Caraval, agar dia dan para pemainnya datang ke pulau tempatnya tinggal. Suratnya terus dicuekin hingga waktunya Scarlett dijodohkan oleh sang ayah yang ringan tangan. Scarlett menganggap kalau perjodohan itu adalah upaya melarikan diri dari sang ayah yang kejam, tetapi Donatella, adiknya, berpendapat lain. Bagaimana kalau lelaki yang dijodohkan kepadanya itu sama jahatnya dengan ayah mereka?

Seminggu sebelum pernikahan, Scarlett menerima surat dari Legend beserta 2 tiket untuk 4 orang untuk mengikuti Caraval. Scarlett ragu. Dia ingin pergi, tetapi dia juga ingin menikah. Donatella gemas sendiri. Untungnya, ada Julian, pelaut yang lagi berkunjung ke Pulau Trisda, yang tahu letak digelarnya permainan Caraval.

Scarlett tidak tahu kalau permainan Caraval ruwet banget, dan Donatella hilang, dijadikan bahan permainan Caraval. Dia harus menemukan adiknya dan kembali ke Trisda tepat waktu untuk pernikahan. Namun, rencana tidak selalu semulus itu.

Dari halaman pertama, kamu akan disuguhi twist demi twist, terus melongo ketika tahu fakta-fakta terbaru. Sampai buku ditutup, masih geregetan, dan kamu akan berteriak pengin segera baca buku keduanya!

2. Dark Matter – Blake Crouch

dark-matter

Waktu saya dapat buku ini, pertanyaan pertama adalah: penulisnya siapa, sih? Namanya enggak banget. Sama seperti Caraval, saya dapat buku ini sebelum bukunya terbit secara resmi, dan di Goodreads udah banyak banget reviewnya, termasuk orang-orang yang ngasih rating bintang lima.

Bab pertama masih enggak memberi petunjuk apa pun. Namun, semakin kamu baca, kamu akan dibawa ke sebuah rollercoaster emosi dan kepala kamu akan dibuat pening karena berpikir. Saya enggak akan cerita gimana plotnya, karena bakalan spoiler, tetapi intinya: novel ini perpaduan science fiction, thriller, dan romance.

Saya bacanya pelan-pelan banget, karena tiap nemu sesuatu yang mengejutkan, saya harus istirahat dulu sambil memikirkan soal hidup. Halah. Dan pertanyaan paling besar ketika membaca novel ini adalah: Bagaimana kalau kita enggak sendirian. Kalau semesta yang kita ketahui ini terdiri atas berbagai probabilitas semesta lain yang mungkin. Bagaimana kalau di semesta lain saya sudah jadi novelis pemenang nobel? *yeah, ngayal boleh aja sih, Mbak*

Pokoknya, kalau udah nemu bukunya, beli langsung!

3. Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi – Yusi Aveanto Pareanom

raden-mandasia

Saya minjem buku ini dari partner reaterary. Iya PINJEM. Tapi tenang, saya akan segera beli, kok.

Ini adalah satu-satunya buku Indonesia tahun ini yang saya kasih bintang lima di Goodreads. Saya bacanya agak telat beberapa bulan dari bulan kelahirannya, dan untungnya ga baca review apa pun di GR, jadi bebas dari ekspektasi. Dan ini, adalah jenis novel fantasi yang ingin saya tulis, juga jenis novel fantasi Indonesia yang seharusnya ada dan diterjemahkan ke berbagai negara.

4. A Monster Calls – Patrick Ness

a_monster_calls

Patrick Ness menulis novel ini dari ide yang dimiliki Siobhan Dowd, seorang penulis yang meninggal karena kanker. Ini adalah salah satu novel yang melatarbelakangi dibuatnya serial Blue Valley. Monster yang mendatangi Conor setiap malam adalah ketakutan Conor akan penyakit kanker ibunya. Walaupun saya tahu benar akan seperti apa endingnya, tapi tak urung saya menangis sesenggukan semalaman waktu selesai baca. Pedih banget.

5. My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry – Fredrik Backman

20161202_090459

Waktu ngedit A Man Called Ove tahun lalu, saya bilang ke editornya kalau buku ini pasti seru juga, dan ternyata mereka sedang mereview novelnya. Pas dapat copyright, eh saya dong yang diminta menerjemahkan. Yay!

Ini kisah tentang Elsa, anak cewek 7 tahun yang agak pedantik dan sok tahu. Iyalah, anak dari seorang dokter pemimpin sebuah rumah sakit dan bapak seorang pedantik, tentu saja dia bakalan agak aneh. Apalagi, dia punya nenek yang nyentrik. Serius lah nyentriknya, si nenek yang lagi dirawat di rumah sakit tiba-tiba ngajak Elsa ke kebun binatang malem-malem, meloncati pagar, terus melempari satpam dan polisi pakai kotoran monyet waktu mereka ketahuan. Demi apa? Biar Elsa enggak ingat kalau siang harinya dia dibully teman-temannya di sekolah. Biar Elsa mengenang kalau hari itu, dia dan nenek pergi ke kebun binatang.

Ini juga novel yang jadi ide awal dibikinnya proyek Blue Valley. Entah kenapa, tahun 2015 dan awal 2016 saya banyak banget baca buku tentang anak-anak yang ditinggal meninggal orang yang disayanginya.

Judulnya panjang banget, ya? Itu karena misi Elsa di buku ini adalah memberi pesan kepada orang-orang kalau nenek minta maaf sama mereka. Fredrik Backman ini juara banget lah bikin karakter nyentrik. Setelah Ove, di buku ini dia bikin berbagai karakter kuat yang emang manusia banget. Di sini, kamu bakal kesal banget sama tetangga yang namanya Britt-Marie, tetapi di akhir cerita, kamu tahu kenapa orangnya kayak gitu. Dan oh, Backman juga membuat buku khusus soal Britt-Marie ini.

PS: waktu nerjemahin buku ini, ada bagian yang bikin saya nangis di Starbucks. *iya, saya suka ngantor di starbak dipati ukur*

6. The Girl on The Train – Paula Hawkin

Filmnya lagi tayang di CGV Blitz sekarang!

the-girl-on-the-train-165x250

Ini adalah novel domestic-noir yang bikin saya belajar soal unreliable narrator. Serius, dari awal, kamu bakal meragukan sama apa pun omongan Rachel. Jangankan kita pembacanya, tokoh-tokoh lain juga ragu sama dia. Susah buat simpati sama si tokoh utamanya. Ga mungkin omongannya benar, soalnya dia mabuk melulu. Apa yang dia pikirkan juga bikin kita bertanya-tanya: ini racauan saat mabuk atau benaran terjadi?

7. Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

2015-12-30 17.38.41

Kamu tinggal baca aja review saya ini: https://jiaeffendie.wordpress.com/2016/01/01/tanah-yang-menumbuhkan-kebahagiaan/

8. Room – Emma Donoghue

room

Saya pernah dapat reading copy-nya waktu kerja di Atria tahun 2011. Saya baru baca halaman awal-awal, terus mental melulu. Padahal, saat itu buku ini ngetop banget. Dan akhirnya saya (Penerbit Atria) enggak beli hak terjemahannya–karena ngereviewnya aja gagal. Hahaha. Saat itu, saya mengira kalau ini novel yang dituturkan oleh anak autis. Tidaklah saya mengira kalau ini cerita tentang penyekapan :((

Pas filmnya keluar, saya mulai baca bukunya–bukan dari file word reading copy yang dulu, tentunya, karena filenya entah ada di mana. Saya baca diseling sama nonton filmnya, dan memutuskan kalau saya jauuh lebih suka bukunya. Eh, cuma seminggu setelah baca ini–dan stres karena membayangkan gimana rasanya terkurung bertahun-tahun sama anak yang cuma tahu sepetak ruangan kecil itu seumur hidupnya–saya dihubungi editor untuk mengedit terjemahannya.

8+ Blue Valley Series

blue-valley

Novel-novel ini saya masukkan ke dalam plus karena pengalaman mengonsep, menunggu naskah masuk, membaca, mengedit dan segalanya, sih. Ini adalah proyek serial paling seru yang pernah saya garap. Dan semoga tahun depan bakalan ada proyek serial yang lebih seru lagi.

Dan, itulah Book of the Year versi saya. Share di komentar dong, buku terbaik apa saja yang kamu baca tahun ini!

Salam,

Jia

Categories Uncategorized

Pemenang #tantangannulis #BlueValley

Hai teman-teman,

Terima kasih telah berpartisipasi dalam #tantangannulis #BlueValley. Di luar dugaan, ternyata yang ikutan banyak sekali, ya. Saya mengira paling cuma 20-an orang, eh ternyata sampai 65 blog yang ikutan! #syenang

Di balik kesenangan itu, muncullah kebingungan, karena tulisan yang bagus kok banyak. Terus saya jadi mumet menentukan pemenang. Ada yang sesuai banget sama tema, tapi nulisnya biasa aja. Ada yang ceritanya baguuus banget, tapinya kurang sesuai sama yang saya inginkan. Terus bingung. Berasa pengin menangin semuanya!

Jadi, saya minta bantuan Falcon Publishing buat nambah pemenangnya. 1 paket novel #BlueValley yang dijadikan hadiah itu adalah jatah saya sebagai editor. Namun, membaca banyak tulisan bagus, saya minta Falcon buat nambah 5 novel lagi buat 5 pemenang. Jadi, totalnya 6 orang. Yay!

Dan pemenangnya adalah….

Mailaulia: https://mailaulia.wordpress.com/2016/12/01/a-lot-can-happen-in-a-year-cerita-tentang-patah-hati-dan-hal-lain-di-tahun-2016/

Selamat, kamu dapat 1 paket novel Blue Valley!

Saya milih tulisan ini karena paling sesuai dengan tema. Maila menuliskan apa yang hilang darinya, apa yang terjadi dalam hidupnya setelah kehilangan itu, dan yang paling penting, apa yang dia lakukan untuk menghilangkan duka akibat kehilangan itu. Kebanyakan tulisan yang masuk hanya bercerita tentang kehilangannya semata, tetapi tidak mengungkapkan apa yang terjadi sama si tokoh karena kehilangan itu. Duka macam apa yang dirasakannya. Perubahan macam apa yang terjadi dalam hidupnya. Apa yang dia lakukan untuk bangkit dari keterpurukan. Lalu, apakah dia berhasil bangkit. Maila menulisnya dengan lengkap. Persis seperti yang saya inginkan ada dalam novel-novel Blue Valley: tokoh-tokohnya dikasih cobaan, jatuh terpuruk, lalu bangkit.

Nah, karena banyak tulisan lain yang bagus dan menginspirasi, saya menambah 5 pemenang lain yang masing-masing akan mendapatkan 1 buku Blue Valley random (enggak bisa milih, ya, sedikirimnya), dan mereka adalah:

  1. http://nurannissa.blogspot.co.id/2016/12/sungkawa-naya.html
  2. http://www.storial.co/book/evanescencia/1
  3. http://www.storial.co/book/sorrowful-summer
  4. https://boemisayekti.wordpress.com/2016/12/03/tantangan-nulis-blue-valley/
  5. http://rizkidarmadi58.blogspot.co.id/2016/12/his-story.html

Selamat kepada para pemenang, silakan email alamat lengkapmu (alamat Indonesia, ya) ke: jiaeffendie@gmail.com

Sampai jumpa dalam #tantangannulis berikutnya!

Salam hangat,

Jia

 

 

 

 

 

Categories Uncategorized

Tantangan Nulis Blue Valley

blue-valley.png

Hai teman-teman, jumpa lagi dengan #tantangannulis bersama saya!

Akhir tahun ini, akan terbit serial novel yang saya buat bersama Falcon Publishing, sekaligus menandai dimulainya *ehem* literary agency yang sedang saya rintis *uhuk-uhuk*. Ya, semoga tahun depan akan muncul lagi serial-serial asyik yang ditulis oleh para pengarang Indonesia yang mumpuni, memanjakan kehausan kalian akan bacaan yang menyenangkan.

Blue Valley adalah serial berisi 5 judul novel yang ditulis oleh Aditia Yudis, Bernard Batubara, Dyah Rinni, Erlin Natawiria, dan Robin Wijaya. Tema besarnya adalah kehilangan, dan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh para pengarang kita tinggal di kompeks perumahan yang sama, yaitu Blue Valley.

Nah, untuk berbagi kebahagiaan atas terbitnya serial ini, saya akan membuat #tantangannulis #BlueValley, hadiahnya, satu pemenang akan mendapatkan satu paket novel Blue Valley. Jadi, enggak cuma satu, kalau menang, kamu akan dapat 5 judul sekaligus! Asyik, kan, ya?

Oke, syaratnya apa saja? Simak baik-baik, ya.

  1. Kamu boleh menulis fiksi maupun nonfiksi. Berarti, kamu boleh banget membagi pengalaman pribadimu. Tema: kehilangan, dan bagaimana kamu mengatasi duka. Kehilangan bisa berarti apa pun, ya. Bebas.
  2. Kamu cukup menulis satu tulisan saja, diposting di blog. Judul bebas. Gunakan foto Blue Valley di atas sebagai image di blog. Masukkan juga tag #bluevalley dan #tantangannulis di blogmu. Kamu boleh menyertakan gambar tambahan jika ingin.
  3. Di akhir tulisanmu, sertakan: “Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”
  4. Setelah posting tulisan kamu, tweet dengan format: “(Judul) (link tulisanmu) #tantangannulis #BlueValley @JiaEffendie @falconfiksi”
  5. #tantangannulis ini berlangsung dari 29 November 2016-14 Desember 2016 dan pemenang akan diumumkan tanggal 21 Desember 2016 setelah saya baca dengan saksama.
  6. #tantangannulis ini hanya berlaku untuk alamat pengiriman Indonesia.

Selamat menulis, saya tidak sabar membaca tulisan kalian semua *smooch*

Salam hangat,

Jia

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

membesarkan anak hebat

sesungguhnya, saya merasa judul itu bombastis. karena saya enggak hebat. gimana bisa seseorang yang enggak hebat seperti saya bisa membesarkan anak yang hebat?

namun, saya, kita, semua orangtua, tetap harus melakukannya, demi masa depan manusia yang lebih baik. siapa tahu, jika kita mampu membuat pondasi yang baik dan menumbuhkan mereka menjadi manusia-manusia hebat berempati, masa depan akan menjadi tempat yang lebih bersahabat.

sejak memasuki usia dewasa, saya menjadi orang yang takut punya anak. saya melihat, mendengar, membaca, kalau dunia yang kita tinggali saat ini bukanlah tempat yang menyenangkan. saya berpikir, betapa egoisnya kita melahirkan anak-anak di tempat buruk seperti ini. makin baca berita, makin ngeri. waktu awal-awal menikah, kami bahkan sempat berpikiran untuk enggak usah punya anak aja. it’s just too scary.

how to protect our children from evils out there?

tapi, setelah dipikir-pikir lagi, manusia enggak semuanya jahat. dan saya enggak kepikiran dunia di mana enggak ada si #penunggangnaga dalam hidup saya. meski orang-orang jahat bersembunyi di suatu tempat di dekat kita, kita masih dilindungi. masih ada orang-orang baik. dan seharusnya, sebagai orangtua, kita menambah populasi orang baik itu dengan menumbuhkan anak-anak hebat: anak yang sehat, cerdas, dan cerdas psikososial. kalau kata bu vera, psikolog dari rumah dandelion, kompeten secara emosional.

hari sabtu kemarin saya menghadiri blogger gathering kampanye bebelac #bebehero di kota kasablanka. bebehero merupakan kampanye grow them great dari bebelac sebagai bentuk dukungan bagi ibu untuk dapat membesarkan anak hebat. melalui kampanye ini, ibu diajak memahami cara mengembangkan kecerdasan dan menumbuhkan empati anak melalui pengenalan nilai-nilai kebaikan dalam kegiatan sehari-hari. pembicaranya antara lain bu andi airin, senior brand manager bebelac, ibu roslina verauli, m.psi, psikolog dari rumah dandelion, dan bambang pamungkas.

image

untuk mendukung tumbuh kembang optimal, dibutuhkan nutrisi yang tepat. bebelac diperkaya dengan vitamin dan mineral yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, termasuk vitamin A, zat besi, zinc, iodium, dan kalsium, sehingga anak dapat dengan mudah meniru contoh baik yang diberikan orangtua.

di acara ini juga ada bebehero park. ada 16 permainan yang mengasah kemampuan cepat tanggap dan rasa peduli si kecil. #penunggangnaga sempai main di beberapa permainannya, terutama yang cocok buat anak satu tahun.

image

kampanye #bebehero ini pas banget sama apa yang kami pikirkan soal mendidik #penunggangnaga. kami enggak mau dia cuma jadi anak yang sehat dan pintar secara akademis aja, tetapi ga bisa berempati. ga cerdas secara emosional, ga peka sama sekitarnya. saya sering mendengar atau melihat anak-anak yang memperlakukan nanny mereka dengan buruk, menganggap mereka manusia kelas dua yang boleh diperlakukan seperti itu. atau orang-orang yang memperlakukan hewan sekenanya. saya enggak mau anak kami tumbuh menjadi seseorang seperti itu.

kata bu vera, empati adalah gerbang aksi peduli kepada orang lain, termasuk nilai kebaikan yang dimiliki anak. oleh karena itu, dasar pendidikan moral dengan berempati harus dimulai sejak dini karena akan berpengaruh pada perkembangan watak dan perilaku ketika anak dewasa. empati adalah salah satu kompetensi emosional yang merupakan dasar karakter kepahlawanan. selain empati, ada 4 nilai kepahlawanan lainnya; altruis—rasa ingin membantu orang lain, percaya diri, berpikiran positif, dan gigih.

semuanya dimulai di rumah. dari orangtua. terkadang, niat baik anak terbentur oleh larangan atau enggak adanya dukungan dari orangtua. kalau ini terus berlangsung, lama-kelamaan niat baik itu akan menghilang dari benak si anak. kan ngeri.

agar aksi hebat anak makin terpupuk, kita bisa melakukan hal-hal ini:

  • beri pujian kepada anak yang berusaha membantu orang lain
  • berikan anak kesempatan untuk mencoba membantu orang lain
  • ajak anak berdiskusi ketika melihat orang yang membutuhkan bantuan
  • buat tradisi keluarga dalam bidang aksi sosial

berarti, semuanya balik lagi ke orangtua. teori ini enggak bisa sekadar dibicarakan sama anak. anak harus melihatnya langsung dari perilaku kita. buat yang belum biasa, pasti susah, sih. tapi kita enggak cuma membicarakan anak kita sendiri. kita sedang membicarakan seluruh generasi.

karena saya pengin generasi anak-anak saya akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. karena walaupun saya enggak hebat, saya pengin anak saya hebat. because he’s my superhero.

karena dia, saya mampu menghadapi hal-hal yang dahulu menakutkan. dan meski sekarang pun saya menganggapnya masih menakutkan, i will be brave.

 

ps:

oh iya, bebelac ini lagi nyari #bebehero lho, moms. hadiah utamanya jalan-jalan ke australia plus kesempatan jadi bintang iklan bebelac. ada juga hadiah mingguan. moms tinggal upload foto/video dan cerita tentang aksi hebat si kecil. info lengkapnya, klik link ini aja, ya: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

 

 

belajar hidup dari ove, si lelaki tua penggerutu

misalnya dia tetangga saya, saya akan membencinya.

kenapa? karena dia jenis bapak-bapak tua yang mencibir para freelancer yang kerja di rumah. dia juga orang yang menganggap kalau komputer itu seperangkat sistem unit (cpu dan teman-temannya), monitor, dan keyboard–oleh karenanya, iPad tidak termasuk di dalamnya. dia orang yang menganggap mobil paling bagus adalah merek Saab, sehingga mobil jenis lain adalah sampah. dia laki-laki yang menegakkan peraturan. kau harus buang sampah di tempat yang benar. kalau dia sampai pergi ke Indonesia dan melihat orang buang sampah sembarangan, pastilah dia langsung kena serangan jantung karena enggak tahu lagi harus marah kayak gimana. lah wong kamu masukin sampah organik ke kaleng sampah nonorganik aja dia misuh-misuh.

namun, di bukan tetangga saya. dan kamu tidak tahu apa yang dialami seseorang sampai dia bisa menjadi seperti ini.

syukurlah dia karakter dalam novel, karena dengan begitu, kamu bisa membaca lebih banyak tentang latar belakang orang ini. lalu kamu akan mengerti kenapa dia bisa seperti itu. meski saya tidak yakin juga sih kalau saya bakal tahan bertetangga dengan orang yang senang marah-marah.

namanya ove. usianya lima puluh sembilan tahun. dia baru dipecat dan dia kepengin mati. namun, bukan ove namanya kalau dia tidak “mati” dengan benar. dia menyiapkan diri untuk itu. namun, perempuan asing mungil yang sedang hamil dan karavannya menggores tamannya itu selalu mengganggu rencananya.

jika kamu membaca sampai akhir, niscaya kamu tahu kalau ove sebenarnya penyayang. dia memang keras, tapi begitu dia bertemu sonja, hatinya dilembutkan. dia yang hitam-putih mendadak berwarna dengan kehadirannya.

jadi, masuk akal, sih, ketika sonja tak ada, dan ove tak lagi punya pekerjaan, dia kehilangan alasan untuk tetap hidup. keputusasaan sering kali mengeliminasi alasan-alasan untuk tetap hidup. padahal, jika kita mau melihat dari sudut pandang lain, selalu ada, sekecil apa pun, hal yang patut disyukuri. kopi enak di pagi hari, misalnya.
image

dalam kasus ove, hal yang patut disyukurinya adalah gangguan parvaneh, si perempuan hamil dari iran dan kedua putrinya. juga kucing kampung yang suka nongkrong di depan rumahnya. gangguan konstan yang membuat ove kesal karena dia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. karena ove punya prinsip. dan gangguan seperti itu dari mereka, mengisi celah kosong ove.

maka, jika saat ini kamu merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupmu, beri kesempatan pada gangguan-gangguan. buka diri dan isi celah kosongmu. mulai dengan hal-hal kecil. mulai sedikit-sedikit.

selalu ada alasan untuk tetap hidup.
berbahagialah.

—-
a man called ove
fredrik backman
nourabooks