Telah Terbit! Panduan Menyunting Naskah Novel

Tahukah kamu kalau penulis-penulis besar selalu menulis ulang ceritanya beberapa kali sebelum diterbitkan?

Leo Tolstoy  menulis ulang novelnya War and Peace sampai tujuh kali. Pada zaman Tolstoy hidup, belum ada komputer, dan dia menulis ulang dengan pena!

Sidney Sheldon merevisi naskahnya berkali-kali sebelum menyerahkannya ke penerbit. Kepada reporter Los Angeles Times pada 1982, Sheldon berkata:

“Saya bisa menulis ulang sampai 12 kali, saya lengkapi dan terus melengkapi. Saya tidak ingin mengambil risiko para pembaca tertidur saat membaca novel saya. Saya ingin menahan pembaca sampai 4 halaman, lalu 4 halaman lagi, hingga akhirnya dia tidak tidur sampai pagi demi menyelesaikan buku saya.”

Leo Tolstoy adalah penulis yang hidup di tahun 1800-an, dan karyanya masih dibaca hingga saat ini. Sidney Sheldon adalah penulis yang hampir semua karyanya laris. Karya mereka terus dibaca karena penulis-penulis ini merevisi naskahnya berkali-kali hingga mereka puas.

Namun, kamu baru menulis buku pertamamu, dan kamu bingung, apa saja yang harus diperbaiki saat mengedit draf pertama?

Oh, tidak perlu cemas, karena hari ini telah terbit sebuah buku berjudul Editing 101: Panduan Menyunting Naskah Novel. Dalam buku ini, kamu akan mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan ketika merevisi naskah novel. Saya juga menulis beberapa kata dan ejaan bahasa Indonesia yang saking seringnya salah, malah dianggap benar. Ada juga lampiran yang berisi jenis-jenis kata dan tentang perubahan makna kata dengan pengimbuhan.

Buku ini bisa kamu beli di Google Play dengan harga Rp 29.000 saja. Semoga buku ini bisa menjawab kebingunganmu soal menulis dan menyunting novel.

Klik tautan ini untuk membeli dan membacanya langsung di ponselmu!

Advertisements

4 Langkah Membuat Pembaca Terhanyut

istilah(1).png

Penulis fiksi yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca terhanyut ke dalam dunia rekaan yang diciptakan si pengarang. Tujuan orang membaca fiksi adalah untuk bersenang-senang, agar bisa berpindah sejenak dari realitas kehidupannya. Artinya, pembaca ingin melupakan dirinya dan dunianya sebentar dan menikmati kehidupan lain yang ditawarkan oleh cerita fiksi. Jika penulis tidak berhasil memindahkan pembaca, berarti ada yang salah dengan cara bertutur kita.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendeskripsikan sesuatu. Hampir semua buku panduan menulis mensyaratkan show, don’t tell. Contoh telling itu seperti ini:

Lora membuka pintu dan mendapati ruangan itu kotor.

Kita tidak tahu sekotor apa ruangan itu. Ada apa saja di sana, bagaimana keadaannya, bagaimana baunya, bagaimana perasaan Lora saat mendapati ruangan tersebut, dll. Ruangan itu kotor, dan ya sudah. Bandingkan dengan penjelasan ini:

Lora membuka pintu dan sontak mengerutkan hidung. Aroma sampah dan makanan basi menyeruak menyerbu penciumannya. Lalat-lalat berdengung-dengung di atas keresek hitam yang terburai isinya, memperlihatkan nasi basi yang warnanya sudah berubah oranye kehitaman.

Lebih terbayang?

Sip.

Begitu kamu sudah menguasai cara menulis showing dengan menyisipkan semua pancaindra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, peraba), langkah berikutnya adalah melibatkan pembaca secara emosi dengan tokoh-tokoh yang kamu ciptakan dalam novelmu.

Pertama. Buat pembaca bersimpati kepada tokohmu.

Kamu tidak perlu membuat tokoh supersuci, superbaik, supermanis, supercantik, superkaya, dan sejenisnya untuk membuat pembacamu bersimpati. Kita buat contohnya dari novel Carrie karya Stephen King saja, ya.

Stephen King memperkenalkan Carrie sebagai katak di antara angsa-angsa. Adegan pertama dalam novel ini bercerita tentang gadis-gadis SMA yang sedang mandi setelah pelajaran Olahraga dan Carrie adalah satu-satunya gadis yang tidak seperti yang lainnya. Dia buruk rupa: gemuk, berjerawat, dan objek perundungan. Di salah satu meja sekolahnya, ada grafiti bertuliskan: Carrie makan kotoran.

Penggambaran tersebut membuat pembaca bersimpati; kasihan, Carrie jelek dan dirisak.

Ada beberapa situasi yang akan menimbulkan simpati di benak pembaca, yaitu kesepian, tunaasmara (ceileh tunaasmara) atau tidak dicintai, dipermalukan, direpresi atau ditekan, dalam  bahaya, privasi terlanggar–pokoknya, apa pun yang membuat si tokoh menderita secara fisik, mental, maupun spiritual.

Simpati adalah pintu masuk yang akan mengundang pembaca terlibat secara emosional dalam cerita kita. Berikutnya,

buat pembaca mengidentifikasikan diri dengan si tokoh.

Identifikasi muncul ketika pembaca bukan hanya bersimpati dengan si tokoh, tetapi juga mendukung tokoh-tokoh kita ini mencapai tujuan dan keinginannya (wants and needs). Para pembaca ini juga memiliki keinginan kuat agar si tokoh mencapai keinginannya tersebut.

Dalam Carrie, pembaca mendukung keinginan Carrie untuk datang ke pesta prom walaupun ibunya yang tiran melarangnya.

Bahkan, ketika kamu menulis tokoh jahat yang sedang dipenjara sekalipun, kita bisa membuat pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu. Misalnya, selama di penjara dia disiksa dan diperlakukan dengan buruk. Walaupun pembaca tahu kalau dalam kehidupan sebelumnya dia sangat jahat, tetapi tetap saja, saat si penulis menggambarkan betapa buruknya dia diperlakukan, pembaca bisa mendukung keinginan si tokoh untuk melarikan diri. Caranya adalah, dengan memberi si tokoh tujuan mulia. Misalnya, dia ingin melarikan diri demi bisa bertemu anaknya dan dia sudah bertobat atas kelakuan jahatnya di masa lalu.

Ketiga, buat pembaca berempati

Meskipun merasa kasihan kepada tokoh yang mengalami kemalangan, pembaca mungkin tidak akan merasakan kesengsaraan tersebut. Namun, dengan berempati kepada si tokoh, pembaca akan merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Empati adalah emosi yang lebih kuat daripada simpati.

Contohnya: suami yang berempati saat istrinya melahirkan. Si suami bukan hanya bersimpati, tetapi dia juga menderita rasa sakit sungguhan.

Bagaimana penulis fiksi bisa membuat pembaca berempati?

Lakukan dengan kekuatan sugesti. Gunakan detail-detail yang memicu emosi. Dengan kata lain, kamu menciptakan dunia cerita sedemikian rupa hingga pembaca bisa menempatkan diri dalam keadaan si tokoh.

Langkah terakhir, memindahkan pembaca.

Saat pembaca sudah merasakan simpati, identifikasi, dan empati, pindahkan pembaca ke dalam semacam gelembung, hingga seolah-olah dia sudah berada dalam dunia fiksi dan melupakan dunia nyata.

Saat membaca, apa kamu pernah begitu terhanyut hingga harus diguncang dan diteriaki beberapa kali hingga akhirnya merespons?

Dunia nyata di sekeliling pembaca meluruh memudar. Ini adalah tujuan utama penulis fiksi: membawa pembaca ke satu titik saat dirinya benar-benar terserap di dunia fiktif bersama para tokoh dan universe mereka.

Bagaimana membuat membaca masuk gelembung dunia fiksi itu? Jawabannya adalah: konflik batin.

Konflik batin adalah badai yang berkecamuk dalam diri: keraguan, rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dll. Setelah bersimpati, mengidentifikasikan diri, berempati dengan si tokoh, pembaca juga akan ikut merasakan konflik batin si tokoh. Pembaca ikut memikirkan apa yang harus dilakukan agar si tokoh keluar dari konflik batin dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Pembaca terlibat secara aktif, seolah-olah, masalah si tokoh adalah masalah dirinya yang harus diselesaikan.

***

Nah, selanjutnya, agar si pembaca tetap terhanyut, buat suspense atau ketegangan terus meningkat.

Namun, itu bahasan yang lain lagi.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya!

 

belajar hidup dari ove, si lelaki tua penggerutu

misalnya dia tetangga saya, saya akan membencinya.

kenapa? karena dia jenis bapak-bapak tua yang mencibir para freelancer yang kerja di rumah. dia juga orang yang menganggap kalau komputer itu seperangkat sistem unit (cpu dan teman-temannya), monitor, dan keyboard–oleh karenanya, iPad tidak termasuk di dalamnya. dia orang yang menganggap mobil paling bagus adalah merek Saab, sehingga mobil jenis lain adalah sampah. dia laki-laki yang menegakkan peraturan. kau harus buang sampah di tempat yang benar. kalau dia sampai pergi ke Indonesia dan melihat orang buang sampah sembarangan, pastilah dia langsung kena serangan jantung karena enggak tahu lagi harus marah kayak gimana. lah wong kamu masukin sampah organik ke kaleng sampah nonorganik aja dia misuh-misuh.

namun, di bukan tetangga saya. dan kamu tidak tahu apa yang dialami seseorang sampai dia bisa menjadi seperti ini.

syukurlah dia karakter dalam novel, karena dengan begitu, kamu bisa membaca lebih banyak tentang latar belakang orang ini. lalu kamu akan mengerti kenapa dia bisa seperti itu. meski saya tidak yakin juga sih kalau saya bakal tahan bertetangga dengan orang yang senang marah-marah.

namanya ove. usianya lima puluh sembilan tahun. dia baru dipecat dan dia kepengin mati. namun, bukan ove namanya kalau dia tidak “mati” dengan benar. dia menyiapkan diri untuk itu. namun, perempuan asing mungil yang sedang hamil dan karavannya menggores tamannya itu selalu mengganggu rencananya.

jika kamu membaca sampai akhir, niscaya kamu tahu kalau ove sebenarnya penyayang. dia memang keras, tapi begitu dia bertemu sonja, hatinya dilembutkan. dia yang hitam-putih mendadak berwarna dengan kehadirannya.

jadi, masuk akal, sih, ketika sonja tak ada, dan ove tak lagi punya pekerjaan, dia kehilangan alasan untuk tetap hidup. keputusasaan sering kali mengeliminasi alasan-alasan untuk tetap hidup. padahal, jika kita mau melihat dari sudut pandang lain, selalu ada, sekecil apa pun, hal yang patut disyukuri. kopi enak di pagi hari, misalnya.
image

dalam kasus ove, hal yang patut disyukurinya adalah gangguan parvaneh, si perempuan hamil dari iran dan kedua putrinya. juga kucing kampung yang suka nongkrong di depan rumahnya. gangguan konstan yang membuat ove kesal karena dia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. karena ove punya prinsip. dan gangguan seperti itu dari mereka, mengisi celah kosong ove.

maka, jika saat ini kamu merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupmu, beri kesempatan pada gangguan-gangguan. buka diri dan isi celah kosongmu. mulai dengan hal-hal kecil. mulai sedikit-sedikit.

selalu ada alasan untuk tetap hidup.
berbahagialah.

—-
a man called ove
fredrik backman
nourabooks

Etika Mengirim Naskah ke Penerbit

Saya sudah lama sekali ingin menulis ini. Banyak penulis baru yang belum tahu bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Apa yang harus dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari. 

manuscipt

Dos

  • Memperlakukan naskahmu dengan baik. Kalau kamu ingin naskahmu dihargai oleh editor (yang akan menilai naskahmu), kamu sendiri pun harus menghargainya, dong. Ini artinya, kamu mengirimkan naskah yang sudah rapi ke penerbit. Bukan naskah baru jadi lalu buru-buru dikirimkan karena sudah enggak sabar. Editor tahu kok, mana penulis yang menghargai tulisannya sendiri dan yang enggak. 

Mungkin kamu belum hafal isi KBBI dan cara penulisan kata yang benar, ataupun EYD yang benar. Tapi paling tidak, jangan sampai naskahmu penuh dengan kesalahan ketik dan tata bahasa.  Bersahabatlah dengan buku EYD, KBBI (Edisi 4), dan tesaurus.

  • Kirim naskahmu sesuai dengan persyaratan dari penerbit. Paling penting, sertakan biodata (alamat email dan nomor telepon yang bisa dihubungi) dan sinopsis (cara menulis sinopsis bisa dibaca di sini) serta keunggulan naskahmu. 
  • Catat setiap naskah keluar biar enggak lupa. Misalnya, tanggal, bulan, tahun berapa kamu kirim naskah A ke penerbit B. Ini biar kamu tahu kapan harus menanyakan status naskahmu kalau belum juga dikabari. Dan, biar kamu tahu ke mana kamu harus menanyakan naskahmu. Soalnya, ada tuh, yang menanyakan naskah ke penerbit C, padahal dia mengirimkannya ke penerbit B. Kalau udah mencak-mencak tahunya salah, kan, malu. Udah gitu jadi ditandain sama editornya kalau nanti kirim lagi. 
  • Lazimnya, penerbit akan mengabarimu soal keputusan terbit dalam waktu 1 minggu sampai 6 bulan. Jika di bulan ketiga kamu belum dapat kabar, kamu boleh menelepon sekretaris redaksi penerbit yang bersangkutan untuk menanyakan status naskahmu. Jika editor bilang sedang dibaca dan minta tunggu, telepon lagi 2 minggu kemudian. Kalau menelepon/menanyakan tiap hari, malah ganggu. 

Don’ts

  • Mengirim naskah yang sama pada waktu bersamaan ke 2 penerbit sekaligus. Selain enggak etis, ini menunjukkan kalau si penulis serakah. Jika naskahmu ternyata sebagus itu dan keduanya ingin menerbitkan naskahmu, kamu harus memilih satu dan mengirim surat penarikan ke penerbit yang lain. Namun, terkadang ada hal-hal di luar perkiraan. Misalnya, ternyata surat penarikanmu tidak sampai ke penerbit yang dimaksud, akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Lagi pula, dengan sikap seperti ini, penerbit yang kamu “tolak” mungkin akan memasukkan kamu ke daftar hitam. Kamu tunggu saja, kalau penerbit menolak naskahmu, langsung perbaiki dan kirim ke penerbit lain yang sesuai. 
  • Caper sama editor di media sosial dan menanyakan status naskahmu berkali-kali. Kalau kamu tahu email/nomor kontak editornya, sebaiknya lewat jalur pribadi aja, ya….
  • Repot-repot menghias naskahnya biar tampak “beda”, dicetak di kertas berwarna atau digambari satu per satu. Penerbit membutuhkan naskah, bukan dekorasi. Tulis surat pengantar naskahmu dengan lugas dan jelas. 
  • Membagi setiap pembicaraan/surat/update dari penerbit soal naskahmu di media sosial. Diam-diam saja dulu, ya, sampai naskah itu terbit. Lagi-lagi, kita enggak tahu apa yang akan terjadi nanti. Siapa tahu enggak jadi terbit di penerbit itu. Maksud hati mau promo dan berbagi kesenangan, taunya enggak jadi. Lagi pula, surat dari penerbit itu ditujukan kepada penulis, kamu, bukan untuk konsumsi orang banyak.

Nah, itu aja dulu. Kalau kamu punya dos and don’ts lain soal mengirim naskah ke penerbit, silakan dibagi di kolom komentar.

Selamat mengirimkan naskahmu!

 

ps:

Ini soal teknis, sih. Ketika mengetik naskahmu, buat paragraf dengan menggunakan fitur paragraph layout, jangan memakai tab, karena ini akan menyulitkan layouter kelak ketika menyeting naskahmu. Kayak gini, nih:

Image

 

Menyunting Sendiri Tulisanmu

Oke, jadi kamu bisa menulis.

Kamu jago bikin cerita orisinal, twist menarik, juga ending yang tak tertebak. Bukankah itu yang diinginkan pembaca? Ending yang tidak tertebak?

Tapi, apakah cuma sekadar itu yang kamu butuhkan? Enggak.

Terkadang, sebagai penulis baru yang punya banyak ide cemerlang, kita suka jadi sombong. Mentang-mentang nulisnya selesai, berhasil menyelesaikan novel setebal seratus lima puluh halaman dalam jangka waktu sebulan, belum tentu kamu jadi penulis yang oke.

Ada beberapa faktor lain.

Seratus lima puluh halaman itu isinya apa saja? Pengulangan-pengulangan adegan? Ungkapan-ungkapan yang tidak perlu? Kalimat yang membosankan? Miskin diksi? Kalau ketemu editor sih, bisa aja satu bab naskahmu dibabat habis. Mau?

Banyak penulis yang bilang kalau draf pertama bukanlah naskah final kamu. Serius deh. Jangan pernah kirim naskah (cerpen maupun novel) yang belum kamu baca ulang. Pastikan naskahmu (menurut pikiranmu sendiri) sudah cukup sempurna. Paling enggak, bebas typo, lah.

Ada blog memang suka bikin kita malas baca ulang. Nulis drafmu di blog dan langsung posting. Akhir-akhir ini, saya juga suka gitu sih… jangan ditiru.  Tapi, kalau kamu mau kirim naskah ke penerbit atau majalah, sebaiknya peram dulu tulisanmu.

Ketika kita baru menyelesaikan naskah, biasanya kita membuncah dengan perasaan bangga, lega, dan puas. Wah, akhirnya gue nyelesaiin satu cerita, nih. Ceritanya oke banget, pasti bakalan banyak yang suka. Nah… sebelum kirim naskah, endapkan beberapa hari, atau beberapa minggu. Dua minggu lah maksimal. Bebaskan pikiranmu dulu dari naskah itu, baru balik lagi.

Biasanya, ketika kita membaca lagi naskah, kita akan melihat kesalahan-kesalahan kecil yang tidak terlihat ketika kita menulis karena kita terlalu sibuk berbangga hati. Nah, yang harus kamu perhatikan ketika mengedit tulisan itu di antaranya:

1. Penulisan kata/ ejaan. Ada beberapa kata yang orang biasa salah kaprah dalam menuliskannya. Di antaranya:

  • Sekedar, seharusnya sekadar
  • Seksama, seharusnya saksama
  • Antri, seharusnya antre
  • Resiko, seharusnya risiko
  • Lembab, terjerembab, harusnya lembap, terjerembap
  • Hadang, hentak, hembus, hisap, harusnya adang, entak, embus, isap
  • Perduli, harusnya peduli
  • Ijin, seharusnya izin
  • Jaman, harusnya zaman

(selengkapnya, kamu cek KBBI Daring http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ atau beli KBBI dan tesaurus)

Selain itu, yang sering salah juga penggunaan imbuhan. Ada beberapa kata yang lesap ketika diberi awalan. Aturannya seperti ini:

  1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
  2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i →memfasilitasi.
  3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
  4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
  5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
  6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Jadi, kalau kamu bertemu dengan kata pesona, peduli, percaya, jadinya memesona, memedulikan, memercayai, bukan mempesona, memperdulikan, ataupun mempercayai.

Ada aturan khusus lain, kalau kamu bertemu dengan kata yang huruf pertama dan kedua kata dasarnya adalah konsonan, kata tersebut tidak lebur. Contohnya: memprotes, mengkritik, mentraktir.

(selebihnya kamu cari tahu sendiri, ya)

https://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Ada perbedaan fungsi di- sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan (begitu pula dengan ke-). Jika kamu bermaksud menunjukkan tempat (di mana, di situ, di depan, di sana, di rumah, dll) maka penulisan di- dipisah dengan kata yang mengiringinya. Kalau di- yang berhadapan dengan kata kerja, ditulis serangkai (dimakan, dihalau, dimatikan, disunting, dll). Ke mana juga sama, kecuali kemari sudah termasuk satu kata.

2. Ketika menyunting sendiri karyamu, pastikan kalimatnya mudah dimengerti, jangan memakai kalimat majemuk yang terlalu banyak. Kalau kamu menemukan kalimat terlalu panjang (sampai tiga baris misalnya), potong-potong aja jadi dua atau tiga kalimat. Ubah struktur kalimatnya. Gunakan metafor seperlunya.

3. Pastikan logika kalimat maupun ceritamu benar. Periksa kembali setting waktu, dll. Cek juga informasi yang kamu sampaikan dalam ceritamu. Jangan sampai menggunakan kata revolusi untuk menyebut reformasi. Atau menyebut matahari bergelantungan (logikanya, matahari kita kan cuma satu, kok bisa bergelantungan? bergelantungan itu kan kalau banyak). Pahami setiap kata, jangan sampai pake kata yang salah untuk menyampaikan sesuatu.

4. Hindari menggunakan kata yang sama berkali-kali dalam satu kalimat atau satu paragraf.  Manfaatkan tesaurus, cari padanan katanya.

5. Jika kamu sedang menyunting novelmu, gunakan track changes di microsoft word. Dengan begitu, kamu bisa tahu bagian mana saja yang berubah. Misalkan kamu pengin ngambil lagi bagian yang sudah kamu hapus, track changes bisa mengembalikannya. Canggih, kan?

ps: kalau naskahmu udah diterima untuk diterbitkan dan editor minta kamu revisi di naskah yang udah ada track changesnya, jangan sekali-kali ngedit dari file baru, karena editor pasti misuh-misuh. Pakai file yang sama, kamu tinggal mengganti tampilannya aja seandainya kamu terganggu dengan warna-warni dan berbagai macam garis petunjuk dalam track-changes. Buka “Review” di aplikasi microsoft word, cari yang ada track changes, trus ubah “Final: Showing Markup” jadi “Final” aja, tar si warna-warni itu akan menghilang.

track-changes

Segitu dulu aja ya… semoga bermanfaat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh banget, lho.