Writing

Lakukan Ini untuk Menambah Peluang Novelmu Diterima

Kata E.B. White, penulis buku Charlotte’s Web, Stuart Little, dan buku-buku lainnya, “The best writing is rewriting.” Dengan kata lain, tulisan yang baik adalah tulisan yang sudah melewati proses editing.

Kamu boleh saja mengirim draf 1 naskahmu ke penerbit. Bebas. Namun, jangan salahkan editor kalau naskah masterpiece-mu itu tidak jelas nasibnya. Kata Ernest Hemingway, draf 1 itu sampah. Ya, menyakitkan memang, naskah kebanggaan yang kamu tulis sampai begadang-begadang sampai lupa mengerjakan hal lain kok disebut sampah. Namun, apa yang harus dilakukan ketika kenyataan berkata demikian?

alasan nolak

Tenang … draf 1 jelek itu bukan milik kamu saja. Saya pernah kok, mengedit draf 1 penulis berpengalaman yang pas dibaca masih berantakan. Tidak apa-apa. Draf 1 masih bisa diperbaiki. Justru, draf 1 ada untuk diperbaiki. Kalau draf 1-nya enggak ada, apa yang mau diedit, coba? Paling tidak, bersyukurlah karena kamu sudah punya draf 1.

Jadi, apa yang harus dilakukan begitu naskah selesai ditulis?

Peram naskahmu. Diamkan. Beri hadiah pada diri sendiri karena sudah menyelesaikan naskah itu. Beli buku, nonton, makan es krim, makan enak. Makan sushi. Pacaran. Main. Menjauh sebentar. Satu minggu cukup. Saat kamu kembali membacanya, kamu akan melihat naskah itu dengan sudut pandang baru. Kamu akan melihat kekurangan-kekurangan dalam naskahmu. Salah ketik. Kalimat tidak padu. Adegan yang tidak nyambung, dan lain-lain.

Apa saja yang harus diperhatikan selama proses swasunting tersebut?

Baca ulang.

Pertama, lihat isinya.

Apakah plot kamu sudah benar? Apa semua konflik dan pertanyaan yang kamu munculkan dalam sekujur cerita sudah dijawab dan diselesaikan? Jika belum, jawab dan selesaikan bagian-bagian kosong itu.

Apakah tokoh yang kamu buat sudah tiga dimensi? Apakah si tokoh terasa seperti manusia sungguhan yang seolah-olah benaran ada dan hidup di dunia ini, ataukah seperti sesuatu yang dikarang-karang? Kalau tokoh kamu masih terasa datar, perbaiki. Beri tokoh kamu back-story. Pernah nonton serial Westworld, ga? Robot-robot atau host di serial itu terasa manusiawi karena mereka punya back story. Ingatan. Memori. Ketakutan. Luka. Masa lalu.

Baca lagi. Apakah tokoh kamu berkembang? Misalkan tokoh kamu adalah perempuan manja yang tergantung sama orang-orang di sekelilingnya. Beri dia cobaan. Konflik. Di ending, apakah dia tetap manja dan tergantung? Kalau iya, berarti tokohmu tidak tumbuh. Revisi lagi.

Apakah adegan-adegan yang kamu tulis berpengaruh pada jalannya cerita? Kalau tidak, hapus, ganti.

Kedua. Lihat lebih detail. Apakah kalimatnya sudah betul? Kata yang ditulis tidak salah kaprah? Ejaan sudah benar?

Baca lagi. Apakah kamu tersendat-sendat saat membacanya kembali? Apakah kamu membaca semua katanya atau kamu melewatinya? Kalau kamu melewati beberapa kata atau kalimat, berarti kalimat yang kamu tulis tidak efektif atau tidak bagus. Atau, deskripsi yang kamu tulis terasa membosankan dan terlalu melelahkan untuk dibaca. Perbaiki kalimatnya.

 

Apakah masih ada salah ketik? Apakah kamu yakin telah menulis sebuah kata dengan benar? Risiko atau resiko? Lagi pula atau lagipula? Namun ditulis di awal kalimat atau di tengah? Pengen atau pengin? Antri atau antre? Buka KBBI. Sekarang gampang, kok, sudah ada versi daringnya. Kamu tidak perlu membeli buku KBBI yang supertebal itu. Unduh PUEBI dan buku-buku tentang tata bahasa Indonesia yang disediakan pusat bahasa. Kamu bisa mengambilnya di sini.

Ketiga, teliti penerbit yang kamu tuju. Ikuti persyaratan yang mereka minta. Sesuaikan genre tulisan dengan permintaan penerbit. Jika tidak ada petunjuk soal format, gunakan ini. Jangan memakai tab atau mengetik enter dua kali ketika membuat paragraf baru, karena itu akan menyulitkan layouter (dia harus ngetik back-space sejumlah paragraf yang ada dalam novel itu. Bayangkan pegalnya!)

gabungan kata

Selanjutnya, jika kamu merasa naskah kamu sudah cukup layak untuk dibaca editor penerbitan dan punya kesempatan buat diterbitkan, kirim. Siapkan mental. Misalkan naskahmu diterima sekalipun, editor akan memberi catatan revisi. Dan catatan itu, bisa saja membuatmu harus menulis ulang keseluruhan ceritanya. Terima saja. Apalagi, jika kamu merasa saran-saran dari editor masuk akal. Lagi pula, editor enggak akan bikin naskah kamu jadi lebih buruk daripada sebelumnya, kok.

Ceklis buat self-editing

Namun, jika setelah melakukan self-editing kamu masih merasa belum puas, hubungi saya. Saya membuka jasa pendampingan menulis novel, editing, dan review. Info lebih lengkap di sini.

 

 

 

Advertisements
Writing

Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Kelas, Writing

[Bandung] Belajar Menulis Fiksi di Kelas 101

11018346_368160933371259_4518733510190488381_n

Hai teman-teman,

Saya mau memperkenalkan kelas baru yang hits di Bandung. Namanya Kelas 101. Basically, ini adalah kelas yang memungkinkan kamu belajar apa pun. Dari menulis sampai makeup, soal fashion juga memasak. Kalau membaca di blognya, Kelas 101 ini berdiri karena banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu dari dasar, tapi tidak tahu harus belajar ke mana, terutama pengetahuan yang tidak bisa didapatkan dari sekolah formal.

Sampai sekarang, Kelas 101 baru mengadakan dua kelas. Pertama, kelas menulis blog travel. Pematerinya adalah travel blogger kenamaan; Mumun dan Vira Indohoy. Kelas keduanya adalah perawatan wajah dan makeup dasar dari Dessy Natalia alias Echy Art, makeup artist yang berpengalaman selama sebelas tahun dan sudah mengikuti berbagai seminar, juga menulis buku tentang makeup (salah satu bukunya, saya editornya. Hohoho).

Nah, kelas berikutnya, akan ada kelas menulis novel remaja bersama Rhein Fathia, kelas leather crafting, menerjemahkan, food photography, kerudung cantik, make up pesta, fashion style dan… kelas menulis novel dewasa bersama… saya.

Kelas ini akan berlangsung 4 kali pertemuan:

Sabtu, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Minggu, 24 Mei 2015

Kira-kira, materinya adalah tentang elemen-elemen fiksi, cara membuat outline/plotting, self-editing, dan tip menembus penerbit.

Kalau kamu berminat mengikuti kelas ini, silakan kirim tulisan singkat tentang apa yang kamu harapkan dari kelas ini (misalnya ingin belajar menulis cerpen, novel, genre tertentu, pengin tahu soal dunia penerbitan, dll) ke kelassatunolsatu@gmail.com atau mmlubis@gmail.com

Lalu-lalu-lalu, di hari Sabtu tanggal 23 Mei, akan ada juga Kelas Fashion Style 101 dengan tema “Good Look, Good Mood!” bersama Gunawan Widjaja. Di kelas ini, kita akan belajar bagaimana mengenali diri sendiri; mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, dan memilih fashion yang cocok untuk diri sendiri.

Nah, untuk informasi lebih lanjut, pendaftaran, tempat, dan biaya kamu bisa menghubungi FB Kelas 101, atau email kelassatunolsatu@gmail.com / mmlubis@gmail.com atau telp/sms/wa ke 08122330599

Cihuy, kan? Yuk ikutan!