Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

8 Hal yang Sebaiknya Kaulakukan Sebelum Mengirim Naskah Novelmu ke Penerbit

Ingat, kalau kata Hemingway, the first draft of anything is shit. Jadi, jangan langsung kirim naskah ke penerbit begitu kamu selesai menulis. Pastikan naskah yang kamu setorkan sudah bersih. Bersih dari apa saja, sih? Salah ketik, logika bolong, karakter datar, deskripsi membosankan, dll dll. Kan sayang, sudah capai-capai menulis, tapi enggak ada satu pun penerbit yang mau mengadopsi naskahmu.

images-2

Jadi, ritual apa, sih yang harus dilakukan sebelum mengirim naskah ke penerbit? Yang pasti, tidak perlu gosok-gosok batu akik dulu biar dibantu jin di dalamnya.

  1. Peram naskahmu

Ketika kamu mengetik huruf terakhir dari karya masterpiece-mu, peram selama beberapa hari. Jika kamu “tahan” berpisah darinya, simpan selama seminggu atau lebih. Setiap hari menulis dan bergelut dengan karakter dan semua hal dalam naskahmu membuat kamu tidak berjarak dengannya, sehingga kamu tidak bisa melihat kesalahan-kesalahan kecil yang ada di dalamnya.

Memeram naskah juga membuatmu melupakan semua yang telah kautulis, jadi ketika kamu melakukan swasunting, buku itu menjadi seolah-olah ditulis oleh orang lain.

  1. Cetak naskahmu atau bacakan keras-keras

Sering kali, membaca di atas kertas membuatmu lebih teliti ketimbang menatap layar komputer. Bagi sebagian lainnya, mendengarkan teks keras-keras membuat kesalahan itu terasa.

Membacakan teks keras-keras bisa kamu lakukan jika kamu cukup sabar dan punya persediaan segalon air.

  1. Cari kata-kata yang sering bermasalah

Banyak penulis yang salah kaprah menuliskan kata bahasa Indonesia, atau tidak bisa membedakan di- sebagai preposisi dan di- sebagai imbuhan, atau tidak bisa memberikan imbuhan yang tepat untuk sebuah kata.

Di bawah ini, saya tuliskan kata-kata yang sering kali salah.

Benar/baku Salah/tidak baku
andal handal
adang hadang
analisis analisa
aktif aktiv
aktivitas aktifitas
antre antri
apotek apotik
apalagi apa lagi
astronaut astronot
batin bathin
beledu beludru
berengsek brengsek
beterbangan berterbangan
cedera cidera
cengkeram cengkram
cicip icip
daripada dari pada
di mana dimana
di sana disana
ekstrem ekstrim
energi enerji
familier familiar
frustrasi frustasi
hafal hapal
hipotesis hipotesa
imbau himbau
ingar hingar
impit himpit
izin ijin
jerembap jerembab
jadwal jadual
kacamata kaca mata
kantong kantung
ke mana kemana
kemari ke mari
khusyuk khusyu’
kreativitas kreatifitas
kuitansi kwitansi
lembap lembab
makhluk mahluk
menyontek (kata dasar sontek) mencontek
menerjemahkan menterjemahkan
memperhatikan memerhatikan
miliar milyar
nomor nomer
objek obyek
orisinal orisinil
paham faham
peduli perduli
personel personil
rapi rapih
risi risih
resek rese
respons respon
risiko resiko
serdawa sendawa
saksama seksama
sekadar sekedar
saraf syaraf
semringah sumringah
sopir supir
sirop sirup
sutra sutera
tampak nampak
telantar terlantar
telanjur terlanjur
telentang terlentang
tenteram tentram
ubah rubah
… dan masiiih banyak lagi

Lengkapnya, belilah buku EYD (Ejaan yang Disempurnakan), biasanya ada di rak-rak bahasa di rantai toko buku terbesar di Indonesia itu. Jika kamu belum punya EYD, Tesaurus, atau KBBI Edisi IV, tapi ada koneksi internet, kamu bisa mencarinya secara daring di laman KBBI atau kateglo. Jika tidak ada koneksi internet dan kamu tidak yakin apakah kata yang kamu tulis sudah benar, gunakan kata yang lain.

  1. Hapus atau ganti kata yang seriiing sekali kamu gunakan

Apa kamu tahu 10 kata yang paling sering kamu gunakan dalam naskahmu? (ini minus preposisi dan kata-kata penting lain). Kamu mungkin terkejut melihat kata yang sering sekali kamu gunakan. Inilah pentingnya memiliki KBBI dan Tesaurus. Kata yang terlalu sering muncul itu bisa kamu ganti dengan sinonimnya.

  1. Hapus semua spasi ganda

Seperti   ini, contohnya.

Ganggu, kan?

Jika kamu menggunakan Microsoft Word dan kesulitan (baca: malas) mencari satu-satu, gunakan find-and-replace. Ketik dua kali spasi di “find”, dan satu spasi di “replace”, lalu tekan enter. Ini biar kamu enggak usah menghapus spasinya satu per satu.

  1. Cari tanda baca bermasalah

Saya sering menemukan kalimat yang panjaaaaang sekali, dan dipisahkan dengan koma-koma-koma sampai saya koma membacanya. Padahal, kalimat tersebut sudah tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya, kamu memenggal kalimat-kalimat panjang itu. Ganti koma dengan titik.

Selain itu, hindari menggunakan terlalu banyak tanda seru. Kalimatmu tidak perlu dikasih pagar banyak-banyak.

  1. Format naskahmu sesuai persyaratan dari penerbit.
  • Kirim naskahmu dalam format Word (.doc atau .docx, jangan .rtf)
  • Ketik satu kali spasi setelah titik.
  • Gunakan font Times New Roman, 12, hitam. Dan jangan. Jangan-jangan-jangan pakai font Comic Sans apalagi font aneh-aneh lainnya.
  • Untuk memudahkan layouter/setter/penata letak, jangan membuat paragraf baru dengan menggunakan tombol “tab”. Lebih baik, gunakan penggaris di menu Word. Di ruler itu kan ada segitiga terbalik, tuh, geser bagian atasnya hingga membentuk paragraf baru. Atau, pilih semua teks (Ctrl+A), format paragraf menggantung dengan menggunakan Format > Paragraph. Di bawah “Indentation” dan “Left”, ketik .5. Di bawah “Special”, pilih “First line”
  • Gunakan page breaks di antara bab. Tempatkan kursor di bagian akhir bab, lalu klik “Insert > Break > Page Break”
  1. Jangan mengedit berlebihan

Kenapa? Segala yang berlebihan itu enggak baik kan, ya? Mengedit berlebihan malah membuat novelmu terlalu “diatur” dan terasa kaku.

[Bandung] Belajar Menulis Fiksi di Kelas 101

11018346_368160933371259_4518733510190488381_n

Hai teman-teman,

Saya mau memperkenalkan kelas baru yang hits di Bandung. Namanya Kelas 101. Basically, ini adalah kelas yang memungkinkan kamu belajar apa pun. Dari menulis sampai makeup, soal fashion juga memasak. Kalau membaca di blognya, Kelas 101 ini berdiri karena banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu dari dasar, tapi tidak tahu harus belajar ke mana, terutama pengetahuan yang tidak bisa didapatkan dari sekolah formal.

Sampai sekarang, Kelas 101 baru mengadakan dua kelas. Pertama, kelas menulis blog travel. Pematerinya adalah travel blogger kenamaan; Mumun dan Vira Indohoy. Kelas keduanya adalah perawatan wajah dan makeup dasar dari Dessy Natalia alias Echy Art, makeup artist yang berpengalaman selama sebelas tahun dan sudah mengikuti berbagai seminar, juga menulis buku tentang makeup (salah satu bukunya, saya editornya. Hohoho).

Nah, kelas berikutnya, akan ada kelas menulis novel remaja bersama Rhein Fathia, kelas leather crafting, menerjemahkan, food photography, kerudung cantik, make up pesta, fashion style dan… kelas menulis novel dewasa bersama… saya.

Kelas ini akan berlangsung 4 kali pertemuan:

Sabtu, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Minggu, 24 Mei 2015

Kira-kira, materinya adalah tentang elemen-elemen fiksi, cara membuat outline/plotting, self-editing, dan tip menembus penerbit.

Kalau kamu berminat mengikuti kelas ini, silakan kirim tulisan singkat tentang apa yang kamu harapkan dari kelas ini (misalnya ingin belajar menulis cerpen, novel, genre tertentu, pengin tahu soal dunia penerbitan, dll) ke kelassatunolsatu@gmail.com atau mmlubis@gmail.com

Lalu-lalu-lalu, di hari Sabtu tanggal 23 Mei, akan ada juga Kelas Fashion Style 101 dengan tema “Good Look, Good Mood!” bersama Gunawan Widjaja. Di kelas ini, kita akan belajar bagaimana mengenali diri sendiri; mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, dan memilih fashion yang cocok untuk diri sendiri.

Nah, untuk informasi lebih lanjut, pendaftaran, tempat, dan biaya kamu bisa menghubungi FB Kelas 101, atau email kelassatunolsatu@gmail.com / mmlubis@gmail.com atau telp/sms/wa ke 08122330599

Cihuy, kan? Yuk ikutan!

membuat karakter yang hidup

happy holiday!

buat kamu yang enggak ke mana-mana liburan ini dan bingung mau ngapain selain ngumpet di balik selimut, sepertinya, ini hari yang baik untuk menulis, ya? lagi pula, udah lamaaaa banget enggak bikin #tantangannulis di blog. iya enggak, sih?

walaupun saya udah pernah membahas soal karakter, enggak apa-apa, kan kalau tantangan menulis kali ini ada hubungannya dengan karakter lagi? sebelumnya, saya mau sharing sedikit tentang menulis karakter yang hidup. pernah, nggak, kalian jatuh cinta sama tokoh fiksi? dulu saya pernah tergila-gila sama tokoh karakter rekaan eoin colfer, artemis fowl.

a genius. a criminal mastermind. a millionaire. and he is only twelve years old. 

see? tokohnya menarik banget, kan? banyak cerita yang bisa digali dari tokoh seperti itu. apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak 12 tahun (yang mentalnya belum stabil-stabil amat), punya kekuasaan (banyak duit, bisa ngapa-ngapain seenaknya), dan seorang kriminal.

beda ketika tokoh kamu cuma salah satu dari gabungan keempat unsur itu. enggak akan semenarik artemis, kan?

nah, apa aja, sih, syarat membuat tokoh yang hidup, yang bisa bikin pembaca jatuh cinta atau gemes pengin mencabik-cabik karena kesal?

pertama, siapkan profilnya. anggap saja tokohmu sedang mengisi sebuah dokumen. atau membuat cv. tulis apa saja yang ada hubungannya dengan si tokoh, terlepas apakah informasi ini akan kamu sampaikan di ceritamu atau tidak, paling enggak, kamu sangat mengenal tokohmu. siapa namanya, siapa orang tuanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dia punya adik/kakak atau enggak, sifatnya bagaimana, apa yang dia sukai, apa yang dia takuti, bagaimana hubungan dia dengan orang tuanya, apakah dia punya banyak teman, apa makanan favoritnya, ke mana dia ingin pergi untuk berlibur, apa yang paling diinginkannya… dan kamu bisa menambah daftar pertanyaannya hingga panjaaaang sekali.

jika kamu malas, cukup tulis hal-hal yang ingin kamu sampaikan di ceritamu.

kedua, dia punya prinsip. misalnya, thorin oakenshield akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumahnya, meski harus perang. itu yang membuat cerita the hobbit ada, kan? thorin ingin menguasai kembali rumahnya, dan mempertahankan semua harta di dalamnya.

atau, katniss. dia akan melakukan apa pun demi keluarganya, termasuk mengorbankan nyawa ketika nama adiknya dipanggil sebagai tribute dalam permainan hunger games.

atau, kamu. apa prinsip utama kamu?

ketiga, tokohnya enggak sempurna. karena kata bunda dorce, kesempurnaan hanya milik allah. karena pembaca enggak sempurna, mereka juga berharap menemukan tokoh-tokoh yang “serupa” dengan mereka. tokoh-tokoh yang biasa, tapi bisa mengubah dunia. contohnya, harry potter enggak digambarkan tampan dan genius, kan? satu-satunya keistimewaan dia adalah dia berhasil lolos dari mantra mematikan voldemort. dan tanpa ron serta hermione, apalah dirinya.

coba buat karakter sesempurna barbie. kamu pasti tidak tahan untuk menuliskan bahwa si barbie ini superbodoh, untuk membuatnya tidak sebegitunya sempurna.

keempat, apa yang paling ditakutinya. kehilangan? kematian? ditolak? dipecat? dideportasi? margaret tate di film the proposal takut banget akan dideportasi, padahal karier dia sebagai editor lagi bagus-bagusnya. dia akan melakukan segala cara demi tetap tinggal di amerika. termasuk, pura-pura menikah.

kelima, masa lalu. masa lalu membentuk kepribadian seseorang. dia yang lahir dari keluarga tidak lengkap, akan memandang dunia berbeda dengan dia yang dimanja sejak kecil oleh kedua orang tuanya. apakah dia terlahir dari keluarga kaya? jika iya, apakah dia menikmati kekayaan orang tuanya itu, ataukah hidup susah karena orang tuanya pelit? semua akan menghasilkan orang yang berbeda-beda.

keenam, rahasia. rahasia selalu membuat cerita dan tokoh tampak lebih menarik. rahasia ini bisa saja kebohongan, kekerasan yang ditutupi, kecanduan alkohol atau obat-obatan, perselingkuhan. pokoknya, jika terbongkar, akan sepenuhnya mengubah posisi si tokoh di antara teman-teman dan keluarganya. rahasia memberi tahu kita apa yang terpaksa harus direlakan si tokoh, dan kenapa.

ketujuh, tokoh antagonis. enggak, tokoh antagonis enggak selalu ibu tiri jahat yang pengin bikin tokohnya jadi upik abu seumur hidup. bisa saja tokoh antagonis adalah sahabat yang sama-sama menyukai cewek yang sama dan bikin si tokoh maju-mundur mau deketin atau mundur demi sahabat. tapi, yang pasti, semakin kompleks tokoh antagonis kamu, semakin kerenlah protagonismu. harry vs voldemort, atau katniss vs president snow, misalnya.

tokoh antagonis juga bisa jadi bukan manusia, melainkan sesuatu yang abstrak. misalnya: bencana, wabah, zombie apocalypse, hujan deras disertai angin puting beliung, binatang buas, dan lain-lain. di novel happily ever after karya winna efendi, salah satu antagonisnya adalah penyakit kanker.

kedelapan, ada yang mau menambahkan? silakan di kolom komentar, ya.

[menulis] dialog

beberapa hari ini dapat email dari creative-writing-now yang menawarkan kelas menulis dialog yang asyik. terus, jadi nyari-nyari, gimana sih, dialog yang bagus itu? berapa banyak porsi dialog dalam novel? gimana menulis dialog yang efektif? dll dll.

dari pengalamanku membaca banyak novel (dan buku-buku panduan menulis), jadi tahu kalau fungsi dialog antara lain adalah untuk menciptakan suara masing-masing karakter, untuk memperlihatkan perkembangan dan kedalaman sifat si tokoh, memajukan cerita (mempercepat pace, terutama), menciptakan ketegangan, juga memperlihatkan emosi, sikap, dan tujuan/keinginan karakter.

jadi, dialog bukan sekadar chit-chats antartokoh.

kalau enggak ada dialog, novel kamu bisa jadi membosankan karena terlalu banyak narasi. tapiii, kalau kebanyakan dialog pun, novel kamu jadi berasa kayak naskah drama. naskah drama yang kacau pula! jadi, kita harus pintar-pintar membagi porsi antara narasi (dan deskripsi), adegan (aksi), dan dialog.

ini tip menyeimbangkan porsi narasi, adegan, dan dialog menurut gloria kempton di writerdigest.com

tanya dirimu sendiri:

  • apakah ceritamu bergerak terlalu pelan dan perlu dipercepat? (gunakan dialog)

  • apakah ini waktunya memberi pembaca latar belakang karakter agar mereka merasa lebih simpati kepada karakter-karakternya? (gunakan narasi, dialog, atau gabungan keduanya)

  • apakah kamu terlalu banyak menulis dialog? (gunakan adegan atau narasi)

  • apakah karaktermu terus-menerus memberi tahu karakter lain tentang hal-hal yang seharusnya hanya ada di kepala mereka? (gunakan narasi)

  • sebaliknya, apakah karaktermu selalu berada di kepalanya (melamun, berpikir, membuat dialog imajiner yang nggak perlu) ketika percakapan akan membuat ceritanya lebih efektif dan nyata? (gunakan dialog)

  • apakah karaktermu memberikan terlalu banyak detail tentang latar belakang karaktermu ketika mengobrol? (gunakan narasi)

***

Writing dialogue isn’t about replicating real-life conversations. It’s about giving an impression of them… and also of improving them.

kata monica wood di buku “the pocket muse”, ketika menulis dialog, hilangkan sapaan-sapaan karena kalimat sapaan biasanya nggak memajukan cerita ataupun memperlihatkan kedalaman karakter.

dialog dari penulis kurang berpengalaman sering kali seperti ini:

“Halo.”

“Mira, kamukah itu?”

“Ya, ini aku.”

“Ada apa?”

“Si Empus pipis di sofa lagi.”

dan bla bla bla… hingga membekukan momentum. ketika membuat adegan telepon berdering, tulislah langsung ke poin utamanya, karena pembaca pun tahu apa yang lazim dikatakan orang ketika mengangkat telepon.

Ronny mengangkat telepon dan mendengar suara Mira mencerocos kesal di ujung sana. “Aku udah nggak bisa ngurus dia lagi. Kamu buruan ke sini jemput dia.”

“Aku masih ujian, Mir. Nggak ada yang bisa ngurus dia di sini. Tolonglah, dua hari lagi.” Ronny mengiba.

“Pokoknya, kalau kamu nggak dateng hari ini, aku tinggalkan Empus di luar rumah,” ancam Mira.

nah, untuk menutup percakapan ini, alih-alih menggunakan sapaan lagi, gunakan aksi.

Ronny dan Mira berdebat sampai lima menit berikutnya, memutuskan siapa yang akan mengurus empus selama dua hari ke depan. Hingga akhirnya, Ronny menutup telepon, mengambil kunci mobil, dan menyetir ke rumah Mira.

 

***

untuk membuat dialog terasa nyata, coba ucapkan dialog yang sudah kamu buat dengan suara keras. jika terdengar kaku dan terlalu panjang, cobalah ubah kalimatnya.

dialog boleh menggunakan kata yang tidak baku (tapi jangan banyak-banyak juga, sih. usahakan buat dialog tetap asyik meski dengan kata-kata baku). dialog juga boleh menggunakan struktur kalimat bahasa daerah (jika cerita berlangsung di daerah tertentu atau kamu sedang berusaha menunjukkan kalau karakter A berasal dari daerah tertentu), dan menggunakan beberapa kosakata bahasa daerah/bahasa asing.

  1. Dialogue is set apart or identified with quotation marks. Words spoken.”
  2. Words spoken by a character in a story do not have to be in complete sentences
  3. People in conversations do not always speak in complete sentences or use proper grammar
  4. In a story, make sure your dialogue sounds like what a person would say in conversation.

(Terry W. Ervin II di http://www.fictionfactor.com)

***

penulisan dialog

meski sebagian besar dari kalian sudah tahu, enggak ada salahnya kalau dibahas, ya. soalnya, sering kali saya suka dapat naskah dan penulisan dialognya bermasalah. kan enak kalau editor nggak perlu mengganti semua titik di kalimat langsung jadi koma.

contohnya gini:

SALAH: “Aku tidak tahu harus gimana.” Katanya bingung.  | BENAR: “Aku tidak tahu harus gimana,” katanya bingung.  (gunakan koma sebelum tanda kutip jika kamu mau menambahkan keterangan).

SALAH: “Apa maksudmu?” Tanyanya. | BENAR: “Apa maksudmu?” tanyanya. (setelah tanda tanya, tanda seru dalam kalimat langsung, pakai huruf kecil).

SALAH BANGET: “Aku benci kamu!”. (setelah tanda seru atau tanda tanya nggak usah pakai titik lagi, karena mereka udah menutup kalimat).

terima kasih dan selamat menulis 🙂

love,

jia

bacaan tambahan:

http://www.writersdigest.com/writing-articles/by-writing-goal/write-first-chapter-get-started/how-to-balance-action-narrative-and-dialogue-in-your-novel

http://www.novel-writing-help.com/writing-dialogue.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://bubblecow.net/how-to-write-effective-dialogue-in-your-novel/

 

Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV/Point of View/ Sudut Pandang. Dari sudut pandang siapa cerita itu dituturkan? Ketika kita memilih sudut pandang orang pertama misalnya, ada hal-hal yang tidak seharusnya dia ketahui.

Di tahun pertama saya menjadi editor, saya pernah melakukan hal yang fatal dengan meloloskan “bocor”-nya PoV. Naskah ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Dan ini berarti, hal-hal lain yang tidak dia alami, tidak dia saksikan, tidak dia dengar, seharusnya tidak masuk ke dalam cerita. Fiksi, sefiktif apa pun, haruslah masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berada di lokasi kejadian, bisa menceritakan sesuatu yang tidak diketahuinya? Apakah dia cenayang?

Nah, saya belajar dari kesalahan dan semoga tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Semoga teman-teman pun, membaca ini, tidak akan melakukan kesalahan serupa.

Paling tidak, ada tiga jenis PoV yang digunakan dalam menulis fiksi, yaitu PoV orang pertama (penutur: aku, saya, kami), PoV orang kedua (cerita dikisahkan kepada kamu, dan “kamu”-lah yang diceritakan), PoV orang ketiga (dia).

Sudut Pandang Orang Pertama

  • Dalam sudut pandang orang pertama, penuturnya adalah “aku”. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh karakter yang menarasikan, hanya tahu apa yang diketahui sang karakter, dll. Seperti yang udah disinggung di atas, ya.
  • Sang narator/penutur biasanya si karakter utama atau protagonis. Namun, narator ini bisa juga tangan kanan si tokoh utama. Misalnya Dr. Watson di Sherlock Holmes atau Hastings di novel-novel Agatha Christie. Ini jarang dipakai, ya. Soalnya ini bikin penutur aku-nya tampak nggak keren. Hahaha. Dan saya juga belum membaca novel lain yang penuturnya bukan tokoh utama.

Sudut Pandang Beberapa Orang Pertama 

  • Kamu bisa menampilkan beberapa orang pertama secara bergantian, biasanya dimulai dengan bab baru dengan narator baru pula. Strategi ini menawarkan jenis suara, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Contoh novelnya: Melbourne karya Winna Efendi yang dibuat dengan PoV Max dan Laura. Versus karya Robin Wijaya, dari PoV Amri, Chandra, dan Bima. Pintu Harmonika karya Clara Ng & Icha Rahmanti. Kalau pilih PoV ini, kamu bener-bener mesti hati-hati. Jangan sampai ada karakter yang suaranya bocor. Kamu harus bisa memberikan ciri khas setiap tokoh agar suaranya tidak sama. Misalnya, kebiasaan-kebiasaan si tokoh A, jangan sampai bocor di penuturan tokoh B. Tricky.
  • Dengan cara ini, kamu bisamengemukakan segala macam hal melalui
    seorang narator yang serbatahu tanpa disertai kesombongan seseorang
    yang serbatahu.
  • Peristiwa yang sama bisa berbeda artinya bagi pelaku dan pengamat yang berbeda. Jadi, peristiwa ini bisa disajikan dengan kaya, tanpa melebih-lebihkan hal yang sebenarnya terjadi.
  • Ketika kamu menggunakan PoV beberapa orang pertama, jangan sampai mengulang adegan. Jadi, hal yang sudah diinformasikan di cerita sebelumnya, jangan diulang lagi. Ceritakan dari sudut pandang yang tidak diketahui oleh penutur sebelumnya. Jadi, harus pintar-pintar menahan informasi.

Novel Epistolari

  •  Novel epistolari adalah novel yang ditulis sebagai serangkaian dokumen. Biasanya berbentuk surat menyurat (misalnya novel Daddy Long Legs). Ada juga novel epistolari yang berbentuk transkrip telepon, balas-balasan email, buku harian, dll (misalnya serial Shopaholic).
  •  Keunggulan penulisan surat adalah, kamu bisa menampilkan seorang penerima surat dan mengarahkan suara kamu kepadanya sebagai pembaca. Kamu bisa menyingkirkan perasaan risi dan menciptakan suara yang berterus-terang.

Narator Orang Pertama yang Tidak Bisa Dipercaya

Saya sebenarnya berbohong ketika mengatakan bahwa saya adalah pejabat yang culas. Saya berbohong karena sedang sebal. Saya sekadar menyenangkan diri sendiri menghadapi para pemohon dan para pejabat itu, padahal sebenarnya saya tidak pernah bisa berbuat culas. Saya selalu menyadari keadaan diri saya, bahwa saya memiliki banyak sekali unsur yang benar-benar berlawanan dengan sifat itu.
(Notes from Underground – Fyodor Dostoyevski)

Keuntungan Menggunakan Sudut Pandang Orang Pertama

  •  Memudahkan pembaca masuk kepala si protagonis, juga untuk mengidentifikasi diri dengan si tokoh, terutama jika kamu menggunakan sudut pandang subjektif.
  • Ada kedekatan dan keintiman antara pembaca dan tokoh utama
  • Alami. Lagi pula, kita semua hidup dari sudut pandang kita sendiri, jadi
    akan lebih mudah untuk ditulis.
  • Akan lebih mudah membagi pikiran, perasaan, dan emosi si tokoh.
  • PoV 1 akan sangat penting jika kamu ingin memiliki narator yang tidak
    bisa dipercaya
  • Gaya tulisan bisa lebih ringan dan tidak terlalu formal
  • Secara teknis, PoV1 adalah sudut pandang yang paling tidak ambigu. Pembaca selalu tahu siapa yang melihat dan menafsirkan setiap aksi yang digambarkan secara narasi.
  • Pada PoV 1, kita bisa memilih suara dengan bebas. Narasi orang ketiga biasanya membatasi kita untuk hanya menggunakan bahasa Indonesia baku, sementara PoV 1 memungkinkan kita menggunakan slang, tata bahasa yang buruk, bahasa sehari-hari, agar suara narator bisa terdengar wajar
  • PoV 1 bisa mengungkapkan pikiran seorang tokoh dengan lancar. Kita tidak usah mengkhawatirkan perubahan kata ganti orang seperti  “Dia membuka pintu dan berpikir, aku lebih baik memasak dulu ayam itu.”

Kelemahan PoV 1

  • Kita tidak bisa memandang dari luar tokoh pembawa sudut pandang, kecuali jika kita menempatkan cermin di suatu tempat, padahal cermin sudah terlalu sering digunakan dalam fiksi.
  • Dari SP-1, pengungkapan dialog yang bermacam-macam tampaknya mustahil. Orang pertama ciptaanmu mungkin akan tampak seperti orang genius dengan pendengaran luar biasa hebat.
  • Jika sosok “aku” bercerita, artinya “aku” masih hidup. Jadi, salah satu sumber ketegangan—apakah si tokoh utama akan selamat– hilang pada cerita dengan PoV
  • Sulit menciptakan suara baru yang menarik untuk setiap cerita.

Sudut Pandang Orang Kedua

  • Menggunakan “kamu” atau “kau”.
  • Jarang digunakan.
  • Mirip PoV ketiga, orang kedua diizinkan untuk tahu segala hal, kecuali pikiran si “kau”/“kamu”.
  • Bisa jadi melibatkan pembaca seakan-akan merekalah tokoh utamanya, atau menceritakan “kau” yang menjadi tokoh utama.
  • PoV orang kedua ini berpotensi bikin pembaca memprotes: “enggak kok, gue nggak gitu.” 
  • Biasanya digunakan di buku-buku nonfiksi

Sudut Pandang Orang Ketiga

PoV 3 adalah sudut pandang yang disarankan untuk penulis pemula, karena kalaupun suara penulisnya “bocor”, nggak akan terlalu menyebabkan chaos.  Nah, karena postingan ini sudah terlalu panjang, saya akan meneruskannya di postingan berikutnya, kapan-kapan.

Cheers,

♥ Jia

 

*disarikan dari berbagai sumber, terutama buku “Fiction Writer’s Workshop” karya Josip Novakovich dan materi Widyawati Oktavia di Sunday Meeting GagasMedia-Bukune 24 November 2013