How to Plot Your Novel

Beberapa bulan ini, aku berkesempatan mengedit naskah-naskah yang diambil dari Wattpad dan mendapati beberapa kesamaan (yang barangkali adalah resep sukses dibaca banyak eibiji).  Naskah-naskah watty yang kupegang ini rata-rata pernah di-view 5-15 juta kali (so, i did my homework dengan ngubek-ngubek Wattpad). Hampir semuanya mengandung adegan gemas malu-malu kucing yang bikin pembaca berkomentar: alah udah lah jangan banyak bacot, kalau sama-sama suka jangan pura-pura! (maap, naskah terakhir yang kubaca, tokohnya agak senang berkata-kata kasar).

Kesamaan lainnya adalah: si naskah aduhai panjangnya tapi eh tapi banyak bagian yang tidak efektif.

Dan saudara-saudara, inilah yang bikin naskah wattpad populer ini terasa ngayayay (bertele-tele, nggak ngasih petunjuk cerita ini bakal mengarah ke mana, konflik utama baru muncul di tengah cerita, membosankan), selain cara menulisnya yang terlalu telling (soal show don’t tell ini akan dibahas di tulisan lain aja, ya).

Lalu, kenapa bisa kayak gitu, kisanak?

Rata-rata, karena novel-novel tersebut tidak direncanakan dengan baik.

Okelah, kalau bacanya di platform gratisan dan kita emang nunggu-nunggu terusannya, bagian bertele-tele dan nggak sampai-sampai juga ke konflik utamanya ini bisa dimaafkan. Namun, kalau udah jadi buku, yang orang beli demi bisa baca karya kamu, pasti kesal lah buku tebal-tebal mahal-mahal kok banyakan sampahnya daripada sesuatu yang bisa diambil. Jadi, kamu nggak bisa berkilah: “aku nggak mau diedit, dulu aja pembaca suka kok dengan tulisanku. kenapa harus diedit?” (tolong ya, jangan pernah mengatakan itu di depanku kalau nggak kepengin aku merepet marah-marah)

Lalu, bagaimanakah cara merencanakan novel dengan baik?

Kamu bisa memulainya dengan mengubah ide cerita awal di kepalamu menjadi sebuah premis. Rumus premis adalah: Tokoh utama + tujuan + halangan. Jadi, kalau kamu punya tokoh utama dan punya halangan, tapi nggak punya tujuan, cerita kamu nggak akan jalan. Begitu juga kalau kamu punya tokoh utama dan tujuan, tapi nggak ada halangan, ceritanya bakal membosankan. Memangnya kamu mau baca cerita tentang si tokoh yang dari awal sampai akhir, bahagia, kehidupannya sempurna, dan mendapatkan apa pun yang diinginkannya tanpa rintangan apa pun? Males kan, ya. Iri gitu #eh

Dari situ, kamu mulai bisa mengembangkan plotnya. Apa itu plot? Ini kata Ansel Dibell:

Plot dibangun oleh peristiwa-peristiwa signifikan dalam sebuah cerita—disebut signifikan karena memiliki konsekuensi penting.

Plot yang efektif memiliki unsur perjuangan, konflik, kekecewaan, dan aspirasi.

Jadi, kalau kamu bikin adegan mandi di pancuran tapi enggak memajukan cerita, enggak menunjukkan ke mana arahnya habis mandi itu, adegan yang kamu bikin enggak penting.

Ingatlah, saat membuat adegan, usahakan dalam setiap adegan dan kalimat yang kamu tulis itu mengandung:

  1. Informasi tentang adegan tersebut
  2. Memperkenalkan karakter lebih dalam
  3. Memajukan cerita
  4. Mempertahankan pembaca agar enggak meninggalkan cerita kamu

Kalau enggak begitu, hapus aja adegannya. Jangan disayang-sayang karena adegan-adegan buruk itu akan berbalik menghantuimu.

Nah, kalau kamu sudah punya premis dan sudah terbayang adegan apa aja yang akan ada di novelmu, buat sinopsis pendek sebagai acuan (atau, kalau kamu merasa sinopsis pendek tidak cukup, buat outline per bab yang memberimu petunjuk bakal ada adegan apa aja).

Dalam sinopsis ini, kamu sudah punya informasi:

  1. Tokoh utama. Buat tokoh bulat (dia punya tiga dimensi; fisiologis, sosiologis, dan psikologis. lebih lengkapnya, baca di sini aja)
  2. Tokoh sampingan yang akan membantu si tokoh utama mendapatkan/tidak mendapatkan tujuannya.
  3. Konflik utama dan sub-sub konflik.
  4. Bagaimana menyelesaikan konflik-konflik tersebut.
  5. Sudut pandang apa yang akan kamu pakai (soal sudut pandang, baca ini).
  6. Ending

Kalau sudah begitu, kamu tinggal mengisi bolong-bolongnya, memberi nyawa pada cerita dan karakter-karakter yang sudah kamu ciptakan. Setelah itu, semoga kamu menyelesaikan novel dengan padat, enak dibaca, dan asyik.

Selamat menulis!

 

Advertisements

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia