Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Advertisements

Tantangan Nulis Blue Valley

blue-valley.png

Hai teman-teman, jumpa lagi dengan #tantangannulis bersama saya!

Akhir tahun ini, akan terbit serial novel yang saya buat bersama Falcon Publishing, sekaligus menandai dimulainya *ehem* literary agency yang sedang saya rintis *uhuk-uhuk*. Ya, semoga tahun depan akan muncul lagi serial-serial asyik yang ditulis oleh para pengarang Indonesia yang mumpuni, memanjakan kehausan kalian akan bacaan yang menyenangkan.

Blue Valley adalah serial berisi 5 judul novel yang ditulis oleh Aditia Yudis, Bernard Batubara, Dyah Rinni, Erlin Natawiria, dan Robin Wijaya. Tema besarnya adalah kehilangan, dan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh para pengarang kita tinggal di kompeks perumahan yang sama, yaitu Blue Valley.

Nah, untuk berbagi kebahagiaan atas terbitnya serial ini, saya akan membuat #tantangannulis #BlueValley, hadiahnya, satu pemenang akan mendapatkan satu paket novel Blue Valley. Jadi, enggak cuma satu, kalau menang, kamu akan dapat 5 judul sekaligus! Asyik, kan, ya?

Oke, syaratnya apa saja? Simak baik-baik, ya.

  1. Kamu boleh menulis fiksi maupun nonfiksi. Berarti, kamu boleh banget membagi pengalaman pribadimu. Tema: kehilangan, dan bagaimana kamu mengatasi duka. Kehilangan bisa berarti apa pun, ya. Bebas.
  2. Kamu cukup menulis satu tulisan saja, diposting di blog. Judul bebas. Gunakan foto Blue Valley di atas sebagai image di blog. Masukkan juga tag #bluevalley dan #tantangannulis di blogmu. Kamu boleh menyertakan gambar tambahan jika ingin.
  3. Di akhir tulisanmu, sertakan: “Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”
  4. Setelah posting tulisan kamu, tweet dengan format: “(Judul) (link tulisanmu) #tantangannulis #BlueValley @JiaEffendie @falconfiksi”
  5. #tantangannulis ini berlangsung dari 29 November 2016-14 Desember 2016 dan pemenang akan diumumkan tanggal 21 Desember 2016 setelah saya baca dengan saksama.
  6. #tantangannulis ini hanya berlaku untuk alamat pengiriman Indonesia.

Selamat menulis, saya tidak sabar membaca tulisan kalian semua *smooch*

Salam hangat,

Jia

7 resep menulis tokoh

walaupun saya udah pernah membahas soal karakter, enggak apa-apa, kan kalau tantangan menulis kali ini ada hubungannya dengan karakter lagi? sebelumnya, saya mau sharing sedikit tentang menulis karakter yang hidup. pernah, nggak, kalian jatuh cinta sama tokoh fiksi? dulu saya pernah tergila-gila sama tokoh karakter rekaan eoin colfer, artemis fowl.

a genius. a criminal mastermind. a millionaire. and he is only twelve years old. 

see? tokohnya menarik banget, kan? banyak cerita yang bisa digali dari tokoh seperti itu. apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak 12 tahun (yang mentalnya belum stabil-stabil amat), punya kekuasaan (banyak duit, bisa ngapa-ngapain seenaknya), dan seorang kriminal.

beda ketika tokoh kamu cuma salah satu dari gabungan keempat unsur itu. enggak akan semenarik artemis, kan?

nah, apa aja, sih, syarat membuat tokoh yang hidup, yang bisa bikin pembaca jatuh cinta atau gemes pengin mencabik-cabik karena kesal?

pertama, siapkan profilnya. anggap saja tokohmu sedang mengisi sebuah dokumen. atau membuat cv. tulis apa saja yang ada hubungannya dengan si tokoh, terlepas apakah informasi ini akan kamu sampaikan di ceritamu atau tidak, paling enggak, kamu sangat mengenal tokohmu. siapa namanya, siapa orang tuanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dia punya adik/kakak atau enggak, sifatnya bagaimana, apa yang dia sukai, apa yang dia takuti, bagaimana hubungan dia dengan orang tuanya, apakah dia punya banyak teman, apa makanan favoritnya, ke mana dia ingin pergi untuk berlibur, apa yang paling diinginkannya… dan kamu bisa menambah daftar pertanyaannya hingga panjaaaang sekali.

jika kamu malas, cukup tulis hal-hal yang ingin kamu sampaikan di ceritamu.

kedua, dia punya prinsip. misalnya, thorin oakenshield akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumahnya, meski harus perang. itu yang membuat cerita the hobbit ada, kan? thorin ingin menguasai kembali rumahnya, dan mempertahankan semua harta di dalamnya.

atau, katniss. dia akan melakukan apa pun demi keluarganya, termasuk mengorbankan nyawa ketika nama adiknya dipanggil sebagai tribute dalam permainan hunger games.

atau, kamu. apa prinsip utama kamu?

ketiga, tokohnya enggak sempurna. karena kata bunda dorce, kesempurnaan hanya milik allah. karena pembaca enggak sempurna, mereka juga berharap menemukan tokoh-tokoh yang “serupa” dengan mereka. tokoh-tokoh yang biasa, tapi bisa mengubah dunia. contohnya, harry potter enggak digambarkan tampan dan genius, kan? satu-satunya keistimewaan dia adalah dia berhasil lolos dari mantra mematikan voldemort. dan tanpa ron serta hermione, apalah dirinya.

coba buat karakter sesempurna barbie. kamu pasti tidak tahan untuk menuliskan bahwa si barbie ini superbodoh, untuk membuatnya tidak sebegitunya sempurna.

keempat, apa yang paling ditakutinya. kehilangan? kematian? ditolak? dipecat? dideportasi? margaret tate di film the proposal takut banget akan dideportasi, padahal karier dia sebagai editor lagi bagus-bagusnya. dia akan melakukan segala cara demi tetap tinggal di amerika. termasuk, pura-pura menikah.

kelima, masa lalu. masa lalu membentuk kepribadian seseorang. dia yang lahir dari keluarga tidak lengkap, akan memandang dunia berbeda dengan dia yang dimanja sejak kecil oleh kedua orang tuanya. apakah dia terlahir dari keluarga kaya? jika iya, apakah dia menikmati kekayaan orang tuanya itu, ataukah hidup susah karena orang tuanya pelit? semua akan menghasilkan orang yang berbeda-beda.

keenam, rahasia. rahasia selalu membuat cerita dan tokoh tampak lebih menarik. rahasia ini bisa saja kebohongan, kekerasan yang ditutupi, kecanduan alkohol atau obat-obatan, perselingkuhan. pokoknya, jika terbongkar, akan sepenuhnya mengubah posisi si tokoh di antara teman-teman dan keluarganya. rahasia memberi tahu kita apa yang terpaksa harus direlakan si tokoh, dan kenapa.

ketujuh, tokoh antagonis. enggak, tokoh antagonis enggak selalu ibu tiri jahat yang pengin bikin tokohnya jadi upik abu seumur hidup. bisa saja tokoh antagonis adalah sahabat yang sama-sama menyukai cewek yang sama dan bikin si tokoh maju-mundur mau deketin atau mundur demi sahabat. tapi, yang pasti, semakin kompleks tokoh antagonis kamu, semakin kerenlah protagonismu. harry vs voldemort, atau katniss vs president snow, misalnya.

tokoh antagonis juga bisa jadi bukan manusia, melainkan sesuatu yang abstrak. misalnya: bencana, wabah, zombie apocalypse, hujan deras disertai angin puting beliung, binatang buas, dan lain-lain. di novel happily ever after karya winna efendi, salah satu antagonisnya adalah penyakit kanker.

oke, sudah mulai terbayang bagaimana menghidupkan tokohmu?

yuk menulis.

 

ketumbi

 

Tujuh hari yang lalu, aku jatuh ke sebuah sumur di hutan kecil belakang kampus.

Bagaimana aku bisa sampai jatuh, aku akan menceritakannya. Barangkali kau akan menganggap ceritaku tak masuk akal, tapi kau boleh percaya atau tidak… aku mengatakan yang sesungguhnya.

Tujuh hari lalu, seusai kuliah jam terakhir, aku membuka ponselku dan membaca sebuah pesan keji dari kekasihku. Perempuan manis yang kejam itu mendadak ingin berpisah dariku. Alasannya sungguhlah klise dan menyebalkan.

“Sayang, aku ingin berkonsentrasi dengan kuliahku dulu. Rasanya, kita tidak akan bisa sering bertemu. Daripada kamu galau kangen padaku terus menerus, lebih baik kita berpisah saja. Nanti, setelah aku lulus, barulah kamu cari aku lagi. Kita akan berpacaran lagi.” Aku bisa membayangkan bibir merah jambunya yang mungil mengatakan omong kosong itu, tak lupa mata bulan sabitnya menatapku penuh rayuan.

Alasan macam apa itu? Sungguh tidak masuk akal. Memangnya aku bocah SMA yang bisa dengan mudahnya percaya dengan alasan ingin berkonsentrasi pada studi?

Lalu, setelah menerima WhatsApp terkutuk itu, aku pun mengurungkan niatku berjalan ke gerbang kampus dan memutuskan untuk melangkah ke arah sebaliknya. Ke arah hutan belakang kampus. Kupikir, jika aku berada dekat-dekat pohon, hatiku yang panas ini akan dingin oleh rindangnya dedaunan.

Kami menyebutnya hutan. Luasnya sekitar delapan hektar dan ditanami berbagai macam vegetasi untuk penelitian, mengelilingi sebuah bukaan sebesar enam kali lapangan bola. Bukaan itu sering dipakai untuk bumi perkemahan mahasiswa baru, dan jarang sekali ada orang mau datang ke sana kecuali ada hubungannya dengan penelitian, atau bersembunyi. Seperti aku.

Laki-laki macam apa aku ini? Bersembunyi setelah dicampakkan kekasihnya? Bapakku pasti malu jika mendengar anak lelaki satu-satunya bersembunyi ke hutan setelah menerima pesan pendek dari kekasihnya yang meminta putus. Tapi, tanpa kejadian ini pun, bapak sudah malu kepadaku. Banyak hal yang tidak mampu kupersembahkan kepadanya. Alih-alih mengikuti keinginannya untuk kuliah Perminyakan biar aku cepat mendapatkan pekerjaan yang memberikan penghasilan besar, aku malah mendaftar kuliah Ilmu Perpustakaan. Bapak mencibir dan berhenti menanggung pendidikan dan biaya hidupku begitu aku diterima kuliah.

Mau kerja apa, kau? Aku ingat dia berkata. Kalau hanya ingin tahu bagaimana cara menggunakan kemoceng, tak usahlah kau kuliah. Aku tak pernah mendengar siapa pun kaya raya karena kerja di perpustakaan. Perpustakaan hanya tempat buangan buat orang-orang tercampakkan. Siapa yang masih datang ke perpustakaan? Para kutu buku itu hanya menghabiskan waktunya untuk berkhayal.

Tentu saja aku tak bisa menyangkal. Bukan karena aku setuju dengan ucapannya, tetapi karena aku tahu Bapak. Mau sampai berbusa pun mulutmu mencoba menjelaskan, akan percuma jika dia tidak menyediakan ruang untuk pengetahuan baru. Berkuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan adalah satu-satunya pembangkanganku. Dan karena itu, aku dicoret dari daftar anaknya.

Jadi, jika sekarang aku bersembunyi seperti pengecut, aku tidak perlu takut bapakku malu karena aku sudah bukan anaknya lagi. Aku bebas merana dan patah hati. Aku bebas meratap.

Gadis bermuka bulat dengan noda-noda hitam samar bekas jerawat di pipinya itu pertama kali mengganggu hatiku tiga tahun lalu. Kami sama-sama berbaris di tengah bukaan hutan yang dikelilingi tenda-tenda. Senior sedang meneriakkan sesuatu yang tidak penting, dan pada saat itulah seorang gadis terjatuh tak sadarkan diri. Kami semua menoleh ke sumber keributan. Dan di sanalah, berdiri di belakang gadis yang pingsan itu, gadisku bermuka bulat.

Aku melihatnya bergerak dengan slow-motion, berjongkok, mengibaskan poninya yang sudah terlalu panjang dan menghalangi matanya, memegangi kawannya yang pingsan, lalu bola matanya bergerak ke arahku. Ke mataku. Aku menatapnya tak berkedip, mengabadikan momen sepanjang sepuluh detik ini sebelum matanya kembali pada kawannya dan adegan slow-motion ini berubah menjadi hiruk pikuk.

Dia tidak cantik. Kau pun setuju denganku. Namun, ada sesuatu dengan bola mata hitam legamnya dan mata bulan bulan sabitnya yang membuatku tak bisa memalingkan pandangan. Kekagumanku berubah menjadi obsesi begitu perkuliahan dimulai. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah kutu buku yang rakus dan rendah hati. Kebahagiaannya adalah mencium aroma buku, dan laki-laki tercampakkan seperti aku tidak masuk dalam daftar kebahagiaannya.

Namun, aku tidak sepenuhnya lemah. Aku bukan anak bapak lagi. Aku adalah lelaki yang bisa membangkang. Mengapa aku tak bisa mendapatkan sang dewi buku? Tiga tahun aku bergerilya, hingga terang-terangan bersikap seperti pengemis cinta, menurunkan swahargaku[1] begitu rendahnya sampai ke inti bumi, membuat diriku seorang jelata yang tidak memiliki keistimewaan. Demi dia! Gadisku yang kurang ajar.

Belum sebulan hubungan kami, mendadak dia mengirimkan WhatsApp tanpa dosa, mengatakan bahwa ia ingin putus dariku. Konsentrasi dengan kuliah, ha! Bahkan semua orang pun tahu betapa omong kosongnya alasan itu. Dia begitu cerdas hingga dia bisa saja menghabiskan waktu hanya satu semester untuk seratus empat puluh SKS perkuliahan jurusan ini dengan IPK 4. Dia hanya menghabiskan waktunya saja di jurusan ini.

Tiga tahun usaha yang dikalahkan oleh sebaris pesan WhatsApp. Sudah selayaknya aku berjalan gontai seperti prajurit kalah perang. Apa lagi yang bisa kulakukan sehabis ini?

Aku melangkahkan kakiku mengikuti jalan utama kampus dan memasuki jalan setapak ke hutan hingga matahari terus bergeser ke barat dan kulitku tak lagi merasakan terik. Kerongkonganku mulai kering, dan kakiku mulai pegal, tapi aku tidak punya niat apa pun lagi selain terus berjalan. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan sesampainya di sana.

Jangan pertanyakan logika cerita ini dan apakah yang kukatakan masuk akal atau tidak. Aku ini pria patah hati. Barangkali aku hanya berhalusinasi, siapa tahu sejak tadi aku hanya berputar-putar di belakang gedung kuliahku, tidak berjalan sampai ke hutan. Tapi, anggap saja aku memang berjalan ke hutan. Karena itulah yang kupercayai. Kakiku menuju hutan, tidak ke mana-mana. Apalagi ke perempuan paling jahat sedunia itu.

Pada saat aku mempertanyakan kewarasanku sendirilah, aku terperosok ke dalam lubang. Lubang ini berada di jalur setapak, tertutupi oleh daun-daun kering waru yang besar. Seingatku, dahulu tak ada lubang di tengah jalur ini. Buat apa orang menggali lubang di tengah jalan setapak? Sekitar lima menit yang terasa bagai seumur bumi kemudian, bokongku jatuh berdebam di dasar lubang yang dihampari daun-daun kering.

Aku mengelus-elus pantatku yang terasa pedas. Mataku jelalatan meneliti keadaan di dasar lubang. Lubang ini seperti sebuah sumur kering. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi lumut tebal berwarna biru. Entah pengaruh zat apa hingga lumut itu berwarna biru. Cahaya mulai menyembunyikan diri dan pelan-pelan bergulir menjauh dari bibir sumur, dan aku ditelan kegelapan.

Aku menyeru ke bibir sumur, berharap seseorang mendengar teriakan keturunan Yusuf nan rupawan ini, tetapi aku hanya dibalas gema suaraku sendiri. Tanganku mencari-cari sesuatu yang bisa kujadikan pijakan untuk memanjat ke atas dan tidak menemukan apa pun kecuali lumut biru dingin yang bertekstur lembut seperti kue bolu.

Kampret! seruku.

Seekor kampret langsung melintas di atas langit malam yang mulai diterangi temaram sinar rembulan. Aku terbahak-bahak. Kebetulan macam apa itu, seekor kampret tiba-tiba melintas saat kupanggil? Bodoh sekali.

Bodoh sekali. Kenapa sejak tadi tak terlintas di pikiranku untuk mengeluarkan telepon genggam dan meminta bantuan seseorang? Kurasa patah hati bisa menurunkan IQ-mu hingga rendah sekali. Buru-buru, kuambil ponsel dan langsung mengumpat serta meninju dinding dengan kesal ketika melihat bar sinyal hanya berupa x berwarna merah.

Tinjuku yang tak seberapa kuat itu menggoyangkan batu bata hingga terlepas satu ke arah sebaliknya. Cahaya lemah menyeruak menyinari dasar lubang. Ini membuatku penasaran, dan aku sudah tidak lagi memikirkan mantan kekasihku yang tidak berperasaan itu.

Aku mengintip lewat lubang sebesar batu bata itu.

Kalian boleh menebak apa yang kulihat di sana.

Ayo tebak….

Bukan, rongga itu bukan lemari tempat penyimpanan emas. Kau salah besar.

RONGGA ITU RUANGAN BESAR PENUH EMAS PERMATA!

Aku berseru kesetanan. “Kaya raya! Aku akan kaya raya! Dan bapak juga gadis kurang ajar itu tidak bisa lagi meremehkanku. Aku akan menjadi raja di tempat ini dan semua orang akan tunduk pada perintahku!” Aku kembali tertawa terbahak.

Kali ini aku meninju dinding sumur dengan sekuat tenaga. Batu bata rapuh langsung berjatuhan, memperbesar lubang di dinding. Pemandangan yang kulihat semakin menarik saja. Ini seperti gua harta karun naga Smaug. Aku terkikik. Bedanya, aku yakin di tempat ini tidak ada naga. Para kurcaci itu sungguh malang. Mereka menghabiskan sebuah buku tebal dan tiga film dengan durasi panjang hingga bisa sampai ke istana harta karun Smaug. Sementara aku, hanya tinggal patah hati dan jatuh ke dalam lubang. Seperti Alice in Wonderland yang sangat beruntung.

Aku melempar ranselku terlebih dulu dan bergerak melata ke ruangan di seberang. Semakin masuk ruangan itu, semakin silau mataku. Hampir seluruh ruangan itu ditutupi oleh benda berkilauan. Ukurannya hanya sebesar kamarku, tetapi emas menggunung di sana. Koin-koin emas berjatuhan dari atap yang tidak terlalu tinggi, hingga membuat ruangan itu semakin rendah.

Saat seluruh tubuhku berhasil masuk, kulempar laptopku keluar ransel dan menggantinya dengan emas permata.

Aku tertawa puas.

Ranselku kini berat dengan logam mulia. Siapa bilang orang sepertiku tidak bisa tamak? Siapa pun bisa menjadi tamak ketika dihadapkan dengan seruangan penuh emas.

Sekarang, bagaimana caranya kembali ke peradaban?

Aku harus menemukan pintu. Kuketuk-ketuk dinding-dindingnya yang berlapis emas, berusaha menemukan sisi yang bisa didorong. Kudobrak setiap sisinya dengan lenganku, dan pada percobaan kesekian, tubuhku terlempar keluar.

Aku keluar dari sebuah pintu dan terjatuh di depan ranjang yang sangat kukenali. Ranjang di kamar kosku. Kupastikan aku masih membawa ransel berisi emas permata itu dan segera membukanya. Benda-benda berkilauan itu masih terdiam manis di dalamnya, dan aku tertawa lagi.

Ini benar-benar mukjizat. Aku tidak memercayai keberuntunganku. Kuambil permata paling indah dan cemerlang dari ranselku, memasukkannya ke dalam kotak, lalu menyembunyikan ranselku di dalam lemari terkunci. Aku harus menemui perempuan itu. Akan kuberikan permata terindah ini agar ia menyesal telah mencampakkan pemuda setampan dan sekaya aku. Setelah itu, aku akan mencampakkannya juga. Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun yang kuinginkan dengan semua permata yang kumiliki.

Langkahku lebar dan percaya diri ketika mendatangi rumah kos mantan kekasihku. Dia berada di kamarnya dan sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kaku dengan khusyuk. Gadis itu tampak kaget melihatku, tetapi dia segera menguasai diri setelah kelihatan berpikir bahwa wajar saja aku mendatanginya. Pasti aku ingin meminta kejelasan darinya.

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, aku memberikan kotak berisi permata sebesar bogem itu kepadanya.

Matanya membelalak ketika menerima kotak itu dariku. Namun, ekspresinya tak seperti yang kuinginkan waktu ia membuka kotaknya. Ia menjerit histeris dan melempar kembali hadiahku ke mukaku. Mulutnya yang merah jambu dan mungil itu menceracaukan semua makian kotor yang tidak layak keluar dari mulutnya yang manis.

“Kau jauh lebih hina daripada ketumbi[2] tahi ayam!” serunya, tanpa aku mengerti apa itu ketumbi.

Aku tidak peduli. Permataku masih banyak. Aku bisa melakukan banyak hal dengan permata-permata itu.

Pertama-tama, aku akan mendatangi induk semangku dan membayar kamar kosanku yang sudah menunggak dua bulan dengan sebongkah emas batangan. Kalau bisa, kubeli sekalian rumah kos-kosannya.

Namun, reaksi ibu kosku tidak jauh beda dari mantan kekasihku.

Begitu pun ketika aku pulang dan ingin memamerkan kekayaanku yang baru ini kepada Bapak.

Reaksi Bapak jauh lebih buruk dari mantan kekasih dan ibu kosku. Dia mengacung-acungkan golok sambil berteriak: Dasar anak tak tahu diuntung. Kenapa kau memberiku tahi? Anak kurang ajar!, kemudian terjatuh pingsan karena serangan jantung.

Terakhir, ketika aku mencoba membayar laptop baru dengan sebongkah emas. Mereka malah memanggil satpam.

Sekarang, tidak ada lagi yang mau berbicara kepadaku.

 

Antapani, 16 Mei 2014

 

*ditulis dalam rangka #tantangannulis satu jam dan bermain-main dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia bersama Nico Rosady, Erlin Natawiria, dan Andi @SuaraSuaraHujan

 

[1] Swaharga a rasa harga diri (kbbi)

[2] Ke.tum.bi n tahi yg penghabisan; — tahi ayam, ki orang yang sangat hina (kbbi)

[Tantangan Menulis] Mari Menulis Cerita Absurd

Saya sedang membaca kumpulan cerita absurd Maggie Tiojakin yang berjudul “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa”, dan seketika gairah menulis muncul kembali. Cerita-cerita absurd masih memiliki tempat, kok, ternyata.

Lalu, ketika sedang scrolling dashboard akun tumblr, saya menemukan art project dari Sveta Dorosheva ini. Sveta adalah ilustrator asal Ukraina yang kini tinggal di Israel. Dan melihat ilustrasi-ilustrasi ini, saya terpikir untuk menuliskan sesuatu darinya.

Enggak mau nulis sendiri, saya mengajak kamu untuk ikut menarasikan gambar-gambar ini (boleh pilih gambar yang mana).

Image Image

parallel5 parallel6

Narasikan salah satu ilustrasi Sveta Dorosheva di atas. Tulis kisah absurdmu di blog, kirim linknya dan mention akun twitter  @JiaEffendie dengan tagar #absurd sebelum tanggal 8 Oktober 2013 pukul 10.00 WIB.

Yuks!

ab·surd a tidak masuk akal; mustahil (kbbi)

sumber ilustrasi: http://www.behance.net/lattona

contoh cerita absurd: http://jiaeffendie.com/2012/07/khayalan-tingkat-tinggi/

[tantangan menulis] deskripsi diri

hai teman,

udah lama ya enggak bikin #tantangannulis?

seru-seruan aja nih kayak biasanya. kita latihan menulis deskripsi, yuk! dan, ini bahan-bahan yang kamu butuhkan:

1. wajah kamu/tubuh kamu (halah kok jadi ngeri, ya?)

2. cermin

3. laptop dan akun blog

caranya gimana?

1. berdiri di depan cermin dan perhatikan penampilanmu. perhatikan setiap detailnya. tahi lalat, bekas luka, tanda lahir, dll. perhatikan hingga ke setiap pori-pori

2. tulis deskripsi dirimu dalam satu halaman word saja. show ya, don’t tell

3. post di blog kamu

4. share link blog kamu ke akun twitter @JiaEffendie pakai tagar #tantangannulis sebelum pukul 04.00 wib besok, 31 juli 2013

nanti, aku akan baca semua deskripsinya dan memilih penulis dengan acak untuk meneruskan deskripsi dirimu. seru, kan? kira-kira, cerita apa yang akan ditulis orang lain dari deskripsi diri yang kamu tulis?

nah nah… kalau di antara kalian ada yang bisa gambar, oke banget lho kalau mau bikin sketsa wajah berdasarkan deskripsi para peserta yang ikutan.

seru, kan?

dan, ini nih yang udah kirim deskripsi dirinya:

  1. nintafryani – http://stepon-sepatuninta.blogspot.com/2013/07/jika-ditanya-aku-mirip-siapa.html
  2. poetri djambidi – http://thumbstory.com/frontend/webview/2978
  3. francessa – http://justcallmefrancessa.wordpress.com/2013/07/29/gurat-luka/
  4. oktabri erwanda – http://playfiction.wordpress.com/2013/07/30/teman-pemimpi-tanpa-nama/
  5. dhani ramadhani – http://ramadhanidhani.tumblr.com/post/56839537800/persoalan-kemiripan
  6. rinrin indrianie – http://rindrianie.wordpress.com/2013/07/30/cerita-tentangku-yang-bukan-siapa-siapa/
  7. komang ayu kumaradewi – http://mandewi.wordpress.com/2013/07/30/deskripsi-wajah/
  8. krizia putri kinanti – http://cinematicheartbreak.tumblr.com/post/56858279912/im-not-a-girl-not-yet-a-woman
  9. irfan aulia – http://entahberentah.wordpress.com/2013/07/30/apa-yang-kulihat-di-depan-kaca/
  10. maliya – http://milliyyamiracle.blogspot.com/2013/07/inilah-aku.html
  11. connie – http://poeticonnie.tumblr.com/post/56862618734/bulan-di-cermin
  12. enny angelina – http://cybertravelers.wordpress.com/2013/07/30/cermin-sebuah-cerita-pendek-2/
  13. putri widi saraswati – http://putriwidisaraswati.blogspot.com/2013/07/mau-memelototiku-sebentar-saja.html?spref=tw
  14. erny kurniawati – http://ernykurnia.blogspot.com/2013/07/inilah-aku.html?spref=tw
  15. sindy shaen – http://sindyisme.blogspot.ca/2013/07/gadis-di-balik-cermin-pagi.html
  16. nina nurarifah – http://noichil.wordpress.com/2013/07/30/sebuah-cerita-tentang-bekas-luka/
  17. putra zaman – http://erasson.wordpress.com/2013/07/30/wajah/
  18. nita aprilia –  http://wanitatakbersayap.wordpress.com/2013/07/30/aku-ingin-melihat-parasmu/
  19. syifa syafira – http://syifasyafira.blogspot.com/2013/07/oh-ini-syifa.html
  20. sita damayanti – http://sitadamayanti.wordpress.com/2013/07/30/perempuan-itu/