Writing

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

Writing

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

Writing, Kelas

[Bandung] Belajar Menulis Fiksi di Kelas 101

11018346_368160933371259_4518733510190488381_n

Hai teman-teman,

Saya mau memperkenalkan kelas baru yang hits di Bandung. Namanya Kelas 101. Basically, ini adalah kelas yang memungkinkan kamu belajar apa pun. Dari menulis sampai makeup, soal fashion juga memasak. Kalau membaca di blognya, Kelas 101 ini berdiri karena banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu dari dasar, tapi tidak tahu harus belajar ke mana, terutama pengetahuan yang tidak bisa didapatkan dari sekolah formal.

Sampai sekarang, Kelas 101 baru mengadakan dua kelas. Pertama, kelas menulis blog travel. Pematerinya adalah travel blogger kenamaan; Mumun dan Vira Indohoy. Kelas keduanya adalah perawatan wajah dan makeup dasar dari Dessy Natalia alias Echy Art, makeup artist yang berpengalaman selama sebelas tahun dan sudah mengikuti berbagai seminar, juga menulis buku tentang makeup (salah satu bukunya, saya editornya. Hohoho).

Nah, kelas berikutnya, akan ada kelas menulis novel remaja bersama Rhein Fathia, kelas leather crafting, menerjemahkan, food photography, kerudung cantik, make up pesta, fashion style dan… kelas menulis novel dewasa bersama… saya.

Kelas ini akan berlangsung 4 kali pertemuan:

Sabtu, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Minggu, 24 Mei 2015

Kira-kira, materinya adalah tentang elemen-elemen fiksi, cara membuat outline/plotting, self-editing, dan tip menembus penerbit.

Kalau kamu berminat mengikuti kelas ini, silakan kirim tulisan singkat tentang apa yang kamu harapkan dari kelas ini (misalnya ingin belajar menulis cerpen, novel, genre tertentu, pengin tahu soal dunia penerbitan, dll) ke kelassatunolsatu@gmail.com atau mmlubis@gmail.com

Lalu-lalu-lalu, di hari Sabtu tanggal 23 Mei, akan ada juga Kelas Fashion Style 101 dengan tema “Good Look, Good Mood!” bersama Gunawan Widjaja. Di kelas ini, kita akan belajar bagaimana mengenali diri sendiri; mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, dan memilih fashion yang cocok untuk diri sendiri.

Nah, untuk informasi lebih lanjut, pendaftaran, tempat, dan biaya kamu bisa menghubungi FB Kelas 101, atau email kelassatunolsatu@gmail.com / mmlubis@gmail.com atau telp/sms/wa ke 08122330599

Cihuy, kan? Yuk ikutan!

Uncategorized

membuat karakter yang hidup

happy holiday!

buat kamu yang enggak ke mana-mana liburan ini dan bingung mau ngapain selain ngumpet di balik selimut, sepertinya, ini hari yang baik untuk menulis, ya? lagi pula, udah lamaaaa banget enggak bikin #tantangannulis di blog. iya enggak, sih?

walaupun saya udah pernah membahas soal karakter, enggak apa-apa, kan kalau tantangan menulis kali ini ada hubungannya dengan karakter lagi? sebelumnya, saya mau sharing sedikit tentang menulis karakter yang hidup. pernah, nggak, kalian jatuh cinta sama tokoh fiksi? dulu saya pernah tergila-gila sama tokoh karakter rekaan eoin colfer, artemis fowl.

a genius. a criminal mastermind. a millionaire. and he is only twelve years old. 

see? tokohnya menarik banget, kan? banyak cerita yang bisa digali dari tokoh seperti itu. apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak 12 tahun (yang mentalnya belum stabil-stabil amat), punya kekuasaan (banyak duit, bisa ngapa-ngapain seenaknya), dan seorang kriminal.

beda ketika tokoh kamu cuma salah satu dari gabungan keempat unsur itu. enggak akan semenarik artemis, kan?

nah, apa aja, sih, syarat membuat tokoh yang hidup, yang bisa bikin pembaca jatuh cinta atau gemes pengin mencabik-cabik karena kesal?

pertama, siapkan profilnya. anggap saja tokohmu sedang mengisi sebuah dokumen. atau membuat cv. tulis apa saja yang ada hubungannya dengan si tokoh, terlepas apakah informasi ini akan kamu sampaikan di ceritamu atau tidak, paling enggak, kamu sangat mengenal tokohmu. siapa namanya, siapa orang tuanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dia punya adik/kakak atau enggak, sifatnya bagaimana, apa yang dia sukai, apa yang dia takuti, bagaimana hubungan dia dengan orang tuanya, apakah dia punya banyak teman, apa makanan favoritnya, ke mana dia ingin pergi untuk berlibur, apa yang paling diinginkannya… dan kamu bisa menambah daftar pertanyaannya hingga panjaaaang sekali.

jika kamu malas, cukup tulis hal-hal yang ingin kamu sampaikan di ceritamu.

kedua, dia punya prinsip. misalnya, thorin oakenshield akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumahnya, meski harus perang. itu yang membuat cerita the hobbit ada, kan? thorin ingin menguasai kembali rumahnya, dan mempertahankan semua harta di dalamnya.

atau, katniss. dia akan melakukan apa pun demi keluarganya, termasuk mengorbankan nyawa ketika nama adiknya dipanggil sebagai tribute dalam permainan hunger games.

atau, kamu. apa prinsip utama kamu?

ketiga, tokohnya enggak sempurna. karena kata bunda dorce, kesempurnaan hanya milik allah. karena pembaca enggak sempurna, mereka juga berharap menemukan tokoh-tokoh yang “serupa” dengan mereka. tokoh-tokoh yang biasa, tapi bisa mengubah dunia. contohnya, harry potter enggak digambarkan tampan dan genius, kan? satu-satunya keistimewaan dia adalah dia berhasil lolos dari mantra mematikan voldemort. dan tanpa ron serta hermione, apalah dirinya.

coba buat karakter sesempurna barbie. kamu pasti tidak tahan untuk menuliskan bahwa si barbie ini superbodoh, untuk membuatnya tidak sebegitunya sempurna.

keempat, apa yang paling ditakutinya. kehilangan? kematian? ditolak? dipecat? dideportasi? margaret tate di film the proposal takut banget akan dideportasi, padahal karier dia sebagai editor lagi bagus-bagusnya. dia akan melakukan segala cara demi tetap tinggal di amerika. termasuk, pura-pura menikah.

kelima, masa lalu. masa lalu membentuk kepribadian seseorang. dia yang lahir dari keluarga tidak lengkap, akan memandang dunia berbeda dengan dia yang dimanja sejak kecil oleh kedua orang tuanya. apakah dia terlahir dari keluarga kaya? jika iya, apakah dia menikmati kekayaan orang tuanya itu, ataukah hidup susah karena orang tuanya pelit? semua akan menghasilkan orang yang berbeda-beda.

keenam, rahasia. rahasia selalu membuat cerita dan tokoh tampak lebih menarik. rahasia ini bisa saja kebohongan, kekerasan yang ditutupi, kecanduan alkohol atau obat-obatan, perselingkuhan. pokoknya, jika terbongkar, akan sepenuhnya mengubah posisi si tokoh di antara teman-teman dan keluarganya. rahasia memberi tahu kita apa yang terpaksa harus direlakan si tokoh, dan kenapa.

ketujuh, tokoh antagonis. enggak, tokoh antagonis enggak selalu ibu tiri jahat yang pengin bikin tokohnya jadi upik abu seumur hidup. bisa saja tokoh antagonis adalah sahabat yang sama-sama menyukai cewek yang sama dan bikin si tokoh maju-mundur mau deketin atau mundur demi sahabat. tapi, yang pasti, semakin kompleks tokoh antagonis kamu, semakin kerenlah protagonismu. harry vs voldemort, atau katniss vs president snow, misalnya.

tokoh antagonis juga bisa jadi bukan manusia, melainkan sesuatu yang abstrak. misalnya: bencana, wabah, zombie apocalypse, hujan deras disertai angin puting beliung, binatang buas, dan lain-lain. di novel happily ever after karya winna efendi, salah satu antagonisnya adalah penyakit kanker.

kedelapan, ada yang mau menambahkan? silakan di kolom komentar, ya.

Writing

Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV/Point of View/ Sudut Pandang. Dari sudut pandang siapa cerita itu dituturkan? Ketika kita memilih sudut pandang orang pertama misalnya, ada hal-hal yang tidak seharusnya dia ketahui.

Di tahun pertama saya menjadi editor, saya pernah melakukan hal yang fatal dengan meloloskan “bocor”-nya PoV. Naskah ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Dan ini berarti, hal-hal lain yang tidak dia alami, tidak dia saksikan, tidak dia dengar, seharusnya tidak masuk ke dalam cerita. Fiksi, sefiktif apa pun, haruslah masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berada di lokasi kejadian, bisa menceritakan sesuatu yang tidak diketahuinya? Apakah dia cenayang?

Nah, saya belajar dari kesalahan dan semoga tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Semoga teman-teman pun, membaca ini, tidak akan melakukan kesalahan serupa.

Paling tidak, ada tiga jenis PoV yang digunakan dalam menulis fiksi, yaitu PoV orang pertama (penutur: aku, saya, kami), PoV orang kedua (cerita dikisahkan kepada kamu, dan “kamu”-lah yang diceritakan), PoV orang ketiga (dia).

Sudut Pandang Orang Pertama

  • Dalam sudut pandang orang pertama, penuturnya adalah “aku”. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh karakter yang menarasikan, hanya tahu apa yang diketahui sang karakter, dll. Seperti yang udah disinggung di atas, ya.
  • Sang narator/penutur biasanya si karakter utama atau protagonis. Namun, narator ini bisa juga tangan kanan si tokoh utama. Misalnya Dr. Watson di Sherlock Holmes atau Hastings di novel-novel Agatha Christie. Ini jarang dipakai, ya. Soalnya ini bikin penutur aku-nya tampak nggak keren. Hahaha. Dan saya juga belum membaca novel lain yang penuturnya bukan tokoh utama.

Sudut Pandang Beberapa Orang Pertama 

  • Kamu bisa menampilkan beberapa orang pertama secara bergantian, biasanya dimulai dengan bab baru dengan narator baru pula. Strategi ini menawarkan jenis suara, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Contoh novelnya: Melbourne karya Winna Efendi yang dibuat dengan PoV Max dan Laura. Versus karya Robin Wijaya, dari PoV Amri, Chandra, dan Bima. Pintu Harmonika karya Clara Ng & Icha Rahmanti. Kalau pilih PoV ini, kamu bener-bener mesti hati-hati. Jangan sampai ada karakter yang suaranya bocor. Kamu harus bisa memberikan ciri khas setiap tokoh agar suaranya tidak sama. Misalnya, kebiasaan-kebiasaan si tokoh A, jangan sampai bocor di penuturan tokoh B. Tricky.
  • Dengan cara ini, kamu bisamengemukakan segala macam hal melalui
    seorang narator yang serbatahu tanpa disertai kesombongan seseorang
    yang serbatahu.
  • Peristiwa yang sama bisa berbeda artinya bagi pelaku dan pengamat yang berbeda. Jadi, peristiwa ini bisa disajikan dengan kaya, tanpa melebih-lebihkan hal yang sebenarnya terjadi.
  • Ketika kamu menggunakan PoV beberapa orang pertama, jangan sampai mengulang adegan. Jadi, hal yang sudah diinformasikan di cerita sebelumnya, jangan diulang lagi. Ceritakan dari sudut pandang yang tidak diketahui oleh penutur sebelumnya. Jadi, harus pintar-pintar menahan informasi.

Novel Epistolari

  •  Novel epistolari adalah novel yang ditulis sebagai serangkaian dokumen. Biasanya berbentuk surat menyurat (misalnya novel Daddy Long Legs). Ada juga novel epistolari yang berbentuk transkrip telepon, balas-balasan email, buku harian, dll (misalnya serial Shopaholic).
  •  Keunggulan penulisan surat adalah, kamu bisa menampilkan seorang penerima surat dan mengarahkan suara kamu kepadanya sebagai pembaca. Kamu bisa menyingkirkan perasaan risi dan menciptakan suara yang berterus-terang.

Narator Orang Pertama yang Tidak Bisa Dipercaya

Saya sebenarnya berbohong ketika mengatakan bahwa saya adalah pejabat yang culas. Saya berbohong karena sedang sebal. Saya sekadar menyenangkan diri sendiri menghadapi para pemohon dan para pejabat itu, padahal sebenarnya saya tidak pernah bisa berbuat culas. Saya selalu menyadari keadaan diri saya, bahwa saya memiliki banyak sekali unsur yang benar-benar berlawanan dengan sifat itu.
(Notes from Underground – Fyodor Dostoyevski)

Keuntungan Menggunakan Sudut Pandang Orang Pertama

  •  Memudahkan pembaca masuk kepala si protagonis, juga untuk mengidentifikasi diri dengan si tokoh, terutama jika kamu menggunakan sudut pandang subjektif.
  • Ada kedekatan dan keintiman antara pembaca dan tokoh utama
  • Alami. Lagi pula, kita semua hidup dari sudut pandang kita sendiri, jadi
    akan lebih mudah untuk ditulis.
  • Akan lebih mudah membagi pikiran, perasaan, dan emosi si tokoh.
  • PoV 1 akan sangat penting jika kamu ingin memiliki narator yang tidak
    bisa dipercaya
  • Gaya tulisan bisa lebih ringan dan tidak terlalu formal
  • Secara teknis, PoV1 adalah sudut pandang yang paling tidak ambigu. Pembaca selalu tahu siapa yang melihat dan menafsirkan setiap aksi yang digambarkan secara narasi.
  • Pada PoV 1, kita bisa memilih suara dengan bebas. Narasi orang ketiga biasanya membatasi kita untuk hanya menggunakan bahasa Indonesia baku, sementara PoV 1 memungkinkan kita menggunakan slang, tata bahasa yang buruk, bahasa sehari-hari, agar suara narator bisa terdengar wajar
  • PoV 1 bisa mengungkapkan pikiran seorang tokoh dengan lancar. Kita tidak usah mengkhawatirkan perubahan kata ganti orang seperti  “Dia membuka pintu dan berpikir, aku lebih baik memasak dulu ayam itu.”

Kelemahan PoV 1

  • Kita tidak bisa memandang dari luar tokoh pembawa sudut pandang, kecuali jika kita menempatkan cermin di suatu tempat, padahal cermin sudah terlalu sering digunakan dalam fiksi.
  • Dari SP-1, pengungkapan dialog yang bermacam-macam tampaknya mustahil. Orang pertama ciptaanmu mungkin akan tampak seperti orang genius dengan pendengaran luar biasa hebat.
  • Jika sosok “aku” bercerita, artinya “aku” masih hidup. Jadi, salah satu sumber ketegangan—apakah si tokoh utama akan selamat– hilang pada cerita dengan PoV
  • Sulit menciptakan suara baru yang menarik untuk setiap cerita.

Sudut Pandang Orang Kedua

  • Menggunakan “kamu” atau “kau”.
  • Jarang digunakan.
  • Mirip PoV ketiga, orang kedua diizinkan untuk tahu segala hal, kecuali pikiran si “kau”/“kamu”.
  • Bisa jadi melibatkan pembaca seakan-akan merekalah tokoh utamanya, atau menceritakan “kau” yang menjadi tokoh utama.
  • PoV orang kedua ini berpotensi bikin pembaca memprotes: “enggak kok, gue nggak gitu.” 
  • Biasanya digunakan di buku-buku nonfiksi

Sudut Pandang Orang Ketiga

PoV 3 adalah sudut pandang yang disarankan untuk penulis pemula, karena kalaupun suara penulisnya “bocor”, nggak akan terlalu menyebabkan chaos.  Nah, karena postingan ini sudah terlalu panjang, saya akan meneruskannya di postingan berikutnya, kapan-kapan.

Cheers,

♥ Jia

 

*disarikan dari berbagai sumber, terutama buku “Fiction Writer’s Workshop” karya Josip Novakovich dan materi Widyawati Oktavia di Sunday Meeting GagasMedia-Bukune 24 November 2013