Writing

5 Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Saat Membaca Kontrak Penerbitan

Hindari

Hore! Akhirnya, setelah penolakan dari sana sini, naskahmu diterima juga. Selain proses editing dan printilan lainnya, kamu harus menandatangani SPPB (Surat Perjanjian Penerbitan Buku) atau kontrak penerbitan. Setiap penerbit memiliki template kontrak yang berbeda, tetapi biasanya menyebutkan:

  • judul naskah, siapa pemilik naskahnya, penerbit akan menerbitkannya, dan hak cipta atas karya tetap ada pada pemilik naskah
  • kapan naskah tersebut akan diterbitkan
  • berapa lama kontrak berlangsung
  • berapa eksemplar cetakan pertama yang akan diterbitkan (untuk buku standar–penulis baru atau yang enggak bestseller, biasanya 3000-5000 eks)
  • berapa persen besaran royalti dan uang muka (jika ada uang muka royalti)
  • berapa banyak buku yang akan diterima penulis/pemilik naskah dan berapa rabat khusus untuk penulis (biasanya berkisar antara 20%-35%)
  • cetak ulang. penerbit harus laporan ke penulis kalau mereka mau mencetak ulang bukunya
  • jumlah eksemplar tambahan untuk promosi (artinya, buku-buku yang dibagikan untuk promosi tidak akan dikenai royalti)

Nah, biasanya, kalau penulis yang baru pertama baca kontrak, suka bingung soal apa saja yang harus diperhatikan. Biasanya kamu cukup tahu aja soal berapa royalti atau advancenya, atau cuma baca terus tanda tangan karena takut gimana-gimana kalau protes.

Akan tetapi, meskipun kamu penulis baru, ada beberapa hal yang bisa ditanyakan kepada penerbit dan ada beberapa ketentuan dalam kontrak yang masih bisa dinegosiasikan.

Apa saja itu?

  1. Besaran Royalti

Umumnya, royalti buku di Indonesia adalah flat 10% dari harga jual. Namun, ada juga penerbit yang menggunakan royalti progresif; misalnya 8% untuk penjualan sampai 5000 eksemplar dan akan naik menjadi 10% ketika penjualannya di atas itu.

Kamu masih bisa nego apakah kamu akan memakai royalti flat atau progresif. Soal besarannya, standarnya adalah 10%. Kecuali buku kamu bakalan laku banget (kamu yakin karena kamu punya fanbase yang kuat dan mau beli apa pun yang kamu keluarkan), kamu bisa nego sampai 12-15%. Namun, itu tidak akan terjadi dengan mudah.

Royalti atau jual putus?

Biasanya, jual putus dipakai untuk buku yang isinya kumpulan cerpen keroyokan (penulisnya banyak). Penulis akan dibayar sejumlah tertentu sesuai kesepakatan di awal (jumlahnya bisa nego, tapi kadang penerbit enggak mau naikin. hahaha), dan tidak peduli apakah bukumu laku atau enggak, kamu tidak akan mendapatkan apa pun lagi dari penjualan buku tersebut–kecuali jadi terkenal, mungkin, kalau bukunya laku banget.

Buat kamu yang yakin bisa menjual bukumu dengan lumayan, mending pilih royalti.

2. Advance royalti atau uang muka

Di Indonesia, tidak banyak penerbit yang mau menyediakan uang muka royalti–seringnya karena kondisi keuangan si penerbit juga empot-empotan (aduh, bahasa apa ini?). Namun, beberapa penerbit besar seperti Gramedia atau GagasMedia menyediakannya.

Uang muka royalti ini biasanya ditentukan flat sama penerbit dan tidak perlu dikembalikan meskipun royalti penjualan bukumu tidak memenuhi uang muka royalti itu.

Contoh:

Uang muka royalti: 20% dari perkiraan royalti buku cetakan pertama

Cetakan pertama: 5000 eks

Harga buku: Rp100.000

Royalti: 10%

Royalti cetakan pertama: Rp50.000.000,00

Uang muka: 20%xRp50.000.000,00 = Rp10.000.000,00

Terus ternyata penjualannya cuma 800? Kamu enggak perlu mengembalikan uang muka tersebut ke penerbit. (ngenes amat sih cuma terjual 800 dalam 6 bulan).

Royalti biasanya dibayarkan setiap enam bulan. Setiap penerbit punya jadwal berbeda, ada yang selalu mentransfer pada Agustus/September dan Januari/Februari walaupun bukumu baru terbit 3 bulan, misalnya, tetapi ada juga yang menghitung 6 bulan sejak naskahnya terbit.

3. Masa Berlaku/Durasi Perjanjian

Umumnya, masa perjanjian ini sekitar 5-25 tahun. Artinya, kamu sebagai penulis tidak boleh menerbitkan naskah dalam perjanjian itu ke penerbit lain selama masa berlaku, meskipun bukumu sudah tidak laku dan tidak dipromosikan di penerbit itu.

Biasanya penulis oke-oke aja dengan perjanjian 25 tahun dan langsung tanda tangan. Namun, pikirkan akibatnya. Misalnya, sekarang kamu bukan penulis yang diperhitungkan pasar dan kontrak naskah A dengan penerbit A adalah 25 tahun. Eh ternyata, 5 tahun kemudian kamu mendadak ngetop dan semua orang mencari buku kamu. Namun, si penerbit A ga mau menerbitkan lagi buku A yang dicari-cari itu. Kamu enggak bisa ujug-ujug menerbitkan buku A itu di penerbit lain.

Jadi, kalau bisa, negosiasikan jangka waktu perjanjian itu jadi 5-10 tahun, biar enggak lama-lama amat.

4. Penjualan dalam bentuk lain

Di zaman digital ini, penjualan buku tidak hanya dalam bentuk fisik/cetak di toko buku saja. Beberapa penerbit sudah menjual bukunya dalam bentuk digital (Scoop, Google Books).

Pastikan, dalam kontrak, penerbit memiliki hak untuk menjual bentuk digital bukumu di platform lain. Pastikan juga berapa berapa besaran royalti untuk penjualan di platform digital tersebut.

5. Adaptasi ke dalam bahasa lain

Tidak banyak penerbit yang menuliskan soal pasal penerjemahan ini di kontrak. Jika tidak ada dalam kontrak, berarti hak penerjemahan naskah ada pada penulis. Jadi, jika ada penerbit luar menghubungimu untuk menerjemahkan novel itu ke dalam bahasa lain, penerbit tidak memiliki hak untuk mendapatkan bagian royalti dari penjualan di luar negeri tersebut.

Jadi, jika tidak ada pasal ini, tanyakan kepada penerbit bagaimana aturannya dengan penerbit tersebut.

Biasanya, di Indonesia, karena penulis tidak memiliki agen, penerbit berperan sebagai agen untuk penerbit luar. Kalau tidak salah, penerbit berhak atas 50% dari royalti yang kamu terima dari penjualan di luar negeri–jelasnya lebih baik tanyakan ke penerbit.

Pokoknya, tanyakan semua hal yang tidak kamu mengerti dalam kontrak penerbitan. Lebih bagus lagi, kalau kamu bertanya kepada kenalan yang paham bahasa hukum. Lagi pula, itu untuk kebaikanmu sendiri, dan itu hakmu sebagai penulis.

Semoga cukup jelas, ya.

 

Advertisements
Writing

4 Langkah Membuat Pembaca Terhanyut

istilah(1).png

Penulis fiksi yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca terhanyut ke dalam dunia rekaan yang diciptakan si pengarang. Tujuan orang membaca fiksi adalah untuk bersenang-senang, agar bisa berpindah sejenak dari realitas kehidupannya. Artinya, pembaca ingin melupakan dirinya dan dunianya sebentar dan menikmati kehidupan lain yang ditawarkan oleh cerita fiksi. Jika penulis tidak berhasil memindahkan pembaca, berarti ada yang salah dengan cara bertutur kita.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendeskripsikan sesuatu. Hampir semua buku panduan menulis mensyaratkan show, don’t tell. Contoh telling itu seperti ini:

Lora membuka pintu dan mendapati ruangan itu kotor.

Kita tidak tahu sekotor apa ruangan itu. Ada apa saja di sana, bagaimana keadaannya, bagaimana baunya, bagaimana perasaan Lora saat mendapati ruangan tersebut, dll. Ruangan itu kotor, dan ya sudah. Bandingkan dengan penjelasan ini:

Lora membuka pintu dan sontak mengerutkan hidung. Aroma sampah dan makanan basi menyeruak menyerbu penciumannya. Lalat-lalat berdengung-dengung di atas keresek hitam yang terburai isinya, memperlihatkan nasi basi yang warnanya sudah berubah oranye kehitaman.

Lebih terbayang?

Sip.

Begitu kamu sudah menguasai cara menulis showing dengan menyisipkan semua pancaindra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, peraba), langkah berikutnya adalah melibatkan pembaca secara emosi dengan tokoh-tokoh yang kamu ciptakan dalam novelmu.

Pertama. Buat pembaca bersimpati kepada tokohmu.

Kamu tidak perlu membuat tokoh supersuci, superbaik, supermanis, supercantik, superkaya, dan sejenisnya untuk membuat pembacamu bersimpati. Kita buat contohnya dari novel Carrie karya Stephen King saja, ya.

Stephen King memperkenalkan Carrie sebagai katak di antara angsa-angsa. Adegan pertama dalam novel ini bercerita tentang gadis-gadis SMA yang sedang mandi setelah pelajaran Olahraga dan Carrie adalah satu-satunya gadis yang tidak seperti yang lainnya. Dia buruk rupa: gemuk, berjerawat, dan objek perundungan. Di salah satu meja sekolahnya, ada grafiti bertuliskan: Carrie makan kotoran.

Penggambaran tersebut membuat pembaca bersimpati; kasihan, Carrie jelek dan dirisak.

Ada beberapa situasi yang akan menimbulkan simpati di benak pembaca, yaitu kesepian, tunaasmara (ceileh tunaasmara) atau tidak dicintai, dipermalukan, direpresi atau ditekan, dalam  bahaya, privasi terlanggar–pokoknya, apa pun yang membuat si tokoh menderita secara fisik, mental, maupun spiritual.

Simpati adalah pintu masuk yang akan mengundang pembaca terlibat secara emosional dalam cerita kita. Berikutnya,

buat pembaca mengidentifikasikan diri dengan si tokoh.

Identifikasi muncul ketika pembaca bukan hanya bersimpati dengan si tokoh, tetapi juga mendukung tokoh-tokoh kita ini mencapai tujuan dan keinginannya (wants and needs). Para pembaca ini juga memiliki keinginan kuat agar si tokoh mencapai keinginannya tersebut.

Dalam Carrie, pembaca mendukung keinginan Carrie untuk datang ke pesta prom walaupun ibunya yang tiran melarangnya.

Bahkan, ketika kamu menulis tokoh jahat yang sedang dipenjara sekalipun, kita bisa membuat pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu. Misalnya, selama di penjara dia disiksa dan diperlakukan dengan buruk. Walaupun pembaca tahu kalau dalam kehidupan sebelumnya dia sangat jahat, tetapi tetap saja, saat si penulis menggambarkan betapa buruknya dia diperlakukan, pembaca bisa mendukung keinginan si tokoh untuk melarikan diri. Caranya adalah, dengan memberi si tokoh tujuan mulia. Misalnya, dia ingin melarikan diri demi bisa bertemu anaknya dan dia sudah bertobat atas kelakuan jahatnya di masa lalu.

Ketiga, buat pembaca berempati

Meskipun merasa kasihan kepada tokoh yang mengalami kemalangan, pembaca mungkin tidak akan merasakan kesengsaraan tersebut. Namun, dengan berempati kepada si tokoh, pembaca akan merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Empati adalah emosi yang lebih kuat daripada simpati.

Contohnya: suami yang berempati saat istrinya melahirkan. Si suami bukan hanya bersimpati, tetapi dia juga menderita rasa sakit sungguhan.

Bagaimana penulis fiksi bisa membuat pembaca berempati?

Lakukan dengan kekuatan sugesti. Gunakan detail-detail yang memicu emosi. Dengan kata lain, kamu menciptakan dunia cerita sedemikian rupa hingga pembaca bisa menempatkan diri dalam keadaan si tokoh.

Langkah terakhir, memindahkan pembaca.

Saat pembaca sudah merasakan simpati, identifikasi, dan empati, pindahkan pembaca ke dalam semacam gelembung, hingga seolah-olah dia sudah berada dalam dunia fiksi dan melupakan dunia nyata.

Saat membaca, apa kamu pernah begitu terhanyut hingga harus diguncang dan diteriaki beberapa kali hingga akhirnya merespons?

Dunia nyata di sekeliling pembaca meluruh memudar. Ini adalah tujuan utama penulis fiksi: membawa pembaca ke satu titik saat dirinya benar-benar terserap di dunia fiktif bersama para tokoh dan universe mereka.

Bagaimana membuat membaca masuk gelembung dunia fiksi itu? Jawabannya adalah: konflik batin.

Konflik batin adalah badai yang berkecamuk dalam diri: keraguan, rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dll. Setelah bersimpati, mengidentifikasikan diri, berempati dengan si tokoh, pembaca juga akan ikut merasakan konflik batin si tokoh. Pembaca ikut memikirkan apa yang harus dilakukan agar si tokoh keluar dari konflik batin dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Pembaca terlibat secara aktif, seolah-olah, masalah si tokoh adalah masalah dirinya yang harus diselesaikan.

***

Nah, selanjutnya, agar si pembaca tetap terhanyut, buat suspense atau ketegangan terus meningkat.

Namun, itu bahasan yang lain lagi.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya!

 

Writing

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

Writing

Menulis Sinopsis

Kemarin, seorang penulis kirim email dan menanyakan ini:

Saya kan lagi bikin sinopsis untuk novel saya, cuma saya menemukan problem ketika sinopsisnya malah jadi tiga halaman, padahal kan syaratnya maksimal dua halaman A4 saja. Bagaimana, Kak? Apa boleh sebanyak tiga halaman? Kalau tidak, bagaimana saya menyiasatinya?

Nah, karena pasti banyak yang bingung juga soal sinopsis ini, jadi sekalian aja ya jawabannya ditulis di sini.

Setelah novelmu selesai, hal lain yang harus kamu lakukan (setelah mengedit draf pertamamu) adalah menulis sinopsis. Biasanya, salah satu persyaratan pengiriman naskah dari penerbit adalah harus melampirkan sinopsis (atau sederhananya, ringkasan cerita).

Nulis sinopsis itu susah (saya enggak akan bilang gampang-gampang susah, karena emang susah. hahaha. sama halnya dengan menulis, susah. lah ini kok jadi demotivasi?). Kenapa susah? Karena sinopsis adalah alatmu jualan naskah. Karena sinopsis harus bisa menggambarkan semua hal dalam ceritamu. Karena biasanya, hal pertama yang dibaca editor setelah judul novelmu, adalah sinopsis yang kamu lampirkan.

Lazimnya, penerbit akan memintamu menulis sinopsis sebanyak 1-2 halaman. Jadi, kamu harus belajar memepatkan 100-150 halaman novelmu jadi cuma 1-2 halaman aja. (Terkadang, kalau ketemu langsung editor, mereka suka nanya, novelmu ini tentang apa, sih? Kamu harus tahu cara menjelaskannya dalam satu kalimat saja!).

  • Jangan tutupi endingnya. Berbeda dengan blurb cover belakang yang haram banget ngasih tahu ending, sinopsis untuk dikirim ke penerbit, harus ngasih tahu endingnya. Singkatnya, semua hal penting yang ada dalam cerita, harus ada dalam sinopsis.
  • Kalau kira-kira sinopsismu bakalan berhalaman-halaman, hapus subplot-nya dan prioritaskan menulis plot utamanya saja.

Ini yang akan kamu butuhkan untuk menulis sinopsis satu halaman saja:

1. Penjelasan dasar tentang tokoh utama (nama, umur, pekerjaan, dan karakteristik utama si tokoh). Misalnya: nama si tokoh adalah Bellawati Angsa, umur 16 tahun, pelajar, orangtuanya berpisah.

2. Pembukaan (tempat cerita berlangsung dan keadaan apa yang dihadapi sama si tokoh utama). Misalnya: si tokoh utama harus pindah sekolah karena sesuatu dan lain hal.

3.  Kejadian yang memulai aksi (si tokoh utama dipecat, atau putus, atau pacarnya selingkuh, atau baru masuk kantor baru, atau baru pindah sekolah, dll). Misalnya: di tempat baru si tokoh utama ketemu sama cowok ganteng.

4. Ide tentang sesuatu yang akan dipelajari si tokoh utama. Misalnya, ternyata cowok ganteng yang dingin dan keren itu adalah vampir)

5. Sesuatu yang membuat keadaannya lebih kompleks. Misalnya, ternyata si cowok ganteng dan keluarganya punya musuh dan ngincer si tokoh utama).

6. Resolusi atau ending

(lah kenapa contohnya jadi Twilight? Entahlah… cuma itu yang kepikiran)

Terus, semua itu dirangkai. Enggak usah pakai bahasa berbunga-bunga penuh majas seperti dalam naskahmu, karena sinopsis cukup dengan bahasa lugas. Hindari juga pake kalimat majemuk yang beranak pinak.

Sip, itu saja… semoga membantu dan tidak sok tahu 🙂