Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

Menulis Sinopsis

Kemarin, seorang penulis kirim email dan menanyakan ini:

Saya kan lagi bikin sinopsis untuk novel saya, cuma saya menemukan problem ketika sinopsisnya malah jadi tiga halaman, padahal kan syaratnya maksimal dua halaman A4 saja. Bagaimana, Kak? Apa boleh sebanyak tiga halaman? Kalau tidak, bagaimana saya menyiasatinya?

Nah, karena pasti banyak yang bingung juga soal sinopsis ini, jadi sekalian aja ya jawabannya ditulis di sini.

Setelah novelmu selesai, hal lain yang harus kamu lakukan (setelah mengedit draf pertamamu) adalah menulis sinopsis. Biasanya, salah satu persyaratan pengiriman naskah dari penerbit adalah harus melampirkan sinopsis (atau sederhananya, ringkasan cerita).

Nulis sinopsis itu susah (saya enggak akan bilang gampang-gampang susah, karena emang susah. hahaha. sama halnya dengan menulis, susah. lah ini kok jadi demotivasi?). Kenapa susah? Karena sinopsis adalah alatmu jualan naskah. Karena sinopsis harus bisa menggambarkan semua hal dalam ceritamu. Karena biasanya, hal pertama yang dibaca editor setelah judul novelmu, adalah sinopsis yang kamu lampirkan.

Lazimnya, penerbit akan memintamu menulis sinopsis sebanyak 1-2 halaman. Jadi, kamu harus belajar memepatkan 100-150 halaman novelmu jadi cuma 1-2 halaman aja. (Terkadang, kalau ketemu langsung editor, mereka suka nanya, novelmu ini tentang apa, sih? Kamu harus tahu cara menjelaskannya dalam satu kalimat saja!).

  • Jangan tutupi endingnya. Berbeda dengan blurb cover belakang yang haram banget ngasih tahu ending, sinopsis untuk dikirim ke penerbit, harus ngasih tahu endingnya. Singkatnya, semua hal penting yang ada dalam cerita, harus ada dalam sinopsis.
  • Kalau kira-kira sinopsismu bakalan berhalaman-halaman, hapus subplot-nya dan prioritaskan menulis plot utamanya saja.

Ini yang akan kamu butuhkan untuk menulis sinopsis satu halaman saja:

1. Penjelasan dasar tentang tokoh utama (nama, umur, pekerjaan, dan karakteristik utama si tokoh). Misalnya: nama si tokoh adalah Bellawati Angsa, umur 16 tahun, pelajar, orangtuanya berpisah.

2. Pembukaan (tempat cerita berlangsung dan keadaan apa yang dihadapi sama si tokoh utama). Misalnya: si tokoh utama harus pindah sekolah karena sesuatu dan lain hal.

3.  Kejadian yang memulai aksi (si tokoh utama dipecat, atau putus, atau pacarnya selingkuh, atau baru masuk kantor baru, atau baru pindah sekolah, dll). Misalnya: di tempat baru si tokoh utama ketemu sama cowok ganteng.

4. Ide tentang sesuatu yang akan dipelajari si tokoh utama. Misalnya, ternyata cowok ganteng yang dingin dan keren itu adalah vampir)

5. Sesuatu yang membuat keadaannya lebih kompleks. Misalnya, ternyata si cowok ganteng dan keluarganya punya musuh dan ngincer si tokoh utama).

6. Resolusi atau ending

(lah kenapa contohnya jadi Twilight? Entahlah… cuma itu yang kepikiran)

Terus, semua itu dirangkai. Enggak usah pakai bahasa berbunga-bunga penuh majas seperti dalam naskahmu, karena sinopsis cukup dengan bahasa lugas. Hindari juga pake kalimat majemuk yang beranak pinak.

Sip, itu saja… semoga membantu dan tidak sok tahu 🙂