Writing

7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah:

  1. Highstakes: dalam cerita thriller yang baik, selalu ada kehidupan yang dipertaruhkan, terkadang bisa jadi kehidupan semua manusia di muka bumi (ingat cerita-cerita soal “kiamat” dan si tokoh utama/hero harus menyelamatkan dunia). Dalam novel Pretty Girls, tentu ada kehidupan yang dipertaruhkan. Kita dibuat deg-degan apakah tokoh-tokoh utamanya akan bertahan hidup melawan si penjahat.
  2. Unity of Opposites. Saat kamu memiliki kesatuan yang berlawanan, si hero tidak bisa menghindar dari tantangan. Sering kali, pembaca bakalan bertanya: kenapa ga pergi aja sih dari situasi itu? Kenapa malah berlari menyongsong bahaya? Nah, unity of opposites ini adalah keadaan ketika si tokoh mau tidak mau harus menyelesaikan masalah itu. Contoh: Charlie dalam novel The Good Daughter (Karin Slaughter), malah menyongsong suara tembakan–bukan menghindarinya, dan itulah yang membuat peristiwa demi peristiwa berikutnya terjadi.
  3. Seemingly Impossible Odds. Buatlah situasi dalam cerita tang membuat si hero/pahlawan tampak tidak bisa menghindar/mengalahkan si penjahat. Dalam Pretty Girls, salah satu tokoh utamanya tertangkap dan sepertinya dia tidak bakal bisa melarikan diri dari sekapan si penjahat.
  4. Moral Struggle. Si tokoh berada dalam pertempuran hidup dan mati dengan kejahatan. Saat si tokoh yang saya sebutkan di nomor 3 disekap, kita tidak tahu apakah dia akan bertahan hidup atau tidak.
  5. Ticking Clock. Beri deadline. Si pahlawan harus diberi tenggat waktu, kalau tidak, usahanya akan gagal. Contoh: dalam novel Pretty Girls, adik si tokoh yang disekap punya waktu sedikit untuk menyelamatkan kakaknya.
  6. Menace. Si tokoh-tokoh “baik” harus selalu berada dalam keadaan yang mengancam nyawa. Sepanjang cerita, novel Pretty Girls bikin deg-degan terus. Informasi baru yang disuguhkan membuat pembaca melongo, dan saya sebagai pembaca berasa seperti si tokoh protagonisnya–dikejar-kejar dan selalu ketakutan.
  7. Thriller type character. Semua tokoh, baik protagonis maupun antagonisnya harus cerdas dan cerdik. Tokoh antagonis di Pretty Girls jahatnya keterlaluan, dan dia cerdik. Dia sudah melakukan kejahatan yang sama selama bertahun-tahun dan tidak tertangkap polisi. Dia tahu cara menghindari jeratan hukum.

Kalau kamu sedang menulis naskah thriller, coba baca lagi, apakah ceritamu sudah memiliki ketujuh pilar di atas?

 

Advertisements
Writing

4 Macam Sudut Pandang Orang Ketiga (PoV 3)

Empat tahun lalu, saya pernah menulis soal “Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel“, dan ternyata masih utang penjelasan soal PoV 3 *tutup muka*.

Entah kenapa, topik sudut pandang ini ternyata yang paling dicari di blog ini. Nah, biar lebih lengkap, saya akan mengulas lagi topik ini dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Hindari(2).png

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV (Point of View) atau Sudut Pandang. Siapa narator yang menceritakan kisah yang kamu tuliskan? Apakah ceritamu dituturkan oleh aku atau narator yang tidak ikut berperan dalam kisahnya?

Tanyakan kepada dirimu: “siapa yang bisa menceritakan kisah ini dengan cara paling baik?” Sudut pandang yang kamu pilih akan menentukan suara naratif dan itu hal yang krusial.

Apa saja, sih, sudut pandang dalam novel itu?

Secara umum, ada tiga jenis sudut pandang atau PoV, yaitu: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang kedua lebih sulit dituliskan dan jarang pula digunakan dalam novel, jadi kita tidak usah membahasnya dalam tulisan ini, ya.

PoV 1

Sudut pandang orang pertama bercerita dengan penutur aku. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh si narator yang biasanya tokoh utama (dalam beberapa kasus, ada juga penulis yang menggunakan narator aku untuk menceritakan kawan dekatnya. Misalnya: Sherlock Holmes diceritakan dari sudut pandang Watson atau Nick Carraway yang bercerita tentang Gatsby).

Sudut pandang orang pertama cocok untuk novel-novel yang tidak memiliki banyak tokoh dan konfliknya hanya berkisar pada satu tokoh saja, misalnya pada novel-novel romance. Sudut pandang ini membuat pembaca merasakan kedekatan dengan si tokoh karena merasa seperti sedang berbicara langsung dengan si tokoh. Selain itu, pembaca juga bisa ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh dan mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan olehnya, begitu juga hal-hal yang berkecamuk dalam benak si tokoh.

Namun, sudut pandang ini juga memiliki kelemahan. Ketika memilih sudut pandang orang pertama, kita tidak bisa mendatangi tempat-tempat atau adegan-adegan yang tidak didatangi atau dialami si tokoh utama (narator). Walaupun begitu, informasi atau peristiwa yang terjadi saat si tokoh tidak ada bisa disampaikan dalam dialog dengan tokoh lain.

Pagi sebelum kami resmi menjadi suami istri, aku sempat ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimana kalau dia bukanlah pasangan yang terbaik untukku? Bagaimana kalau ternyata anaknya selama ini hanya berpura-pura menyukaiku?

(si narator, aku, meragukan keputusannya menikah).

PoV 3

Sudut pandang lain yang sering dipakai dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga (kita menceritakan dia atau ia). Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah, kita bisa bercerita tentang semua tokoh yang memajukan cerita, seolah-olah narator berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti para tokoh. Namun, saat menggunakan sudut pandang orang ketiga, sering kali apa yang dipikirkan si tokoh tidak bisa diketahui oleh narator.

Malam sebelum pernikahannya diresmikan, Lara mengenang semua kegagalan percintaannya di masa lalu dan bercerita kepada sahabatnya, Jane. Namun, belum sempat bercerita banyak, Jane berkata agar Lara tidak perlu memikirkan masa lalu karena esok, semua patah hati yang pernah dirasakannya akan terbayar. Lara akan bahagia bersama pria itu.

Nah, PoV 3 ini ada macam-macam lagi.

sudut pandang.png

  1. Sudut Pandang Objektif

Sudut pandang objektif ini berarti narator berada di luar karakter dan penulis enggak tahu isi hati/isi pikiran si tokoh. Penulis adalah reporter atau pelapor. Biasanya, sudut pandang objektif digunakan saat ingin menciptakan aura misterius dari si tokoh–kita cuma bisa melihat dari luar. Kalau sering-sering menggunakan PoV jenis ini, biasanya pembaca cepat bosan karena mereka menginginkan kedekatan dengan si tokoh.

Gino terbangun pukul dua pagi. Dia berdiri dan menghampiri lemari obat, lalu mengambil beberapa butir pil dan menelannya tanpa air. Setelah itu, dia berpakaian dan mengambil pistol dari lemarinya. Pistol itu dia sembunyikan di balik saku jasnya. Dengan gegas, dia menuruni tangga menuju pintu depan, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah toko perhiasan.

Dari deskripsi di atas, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Gino. Namun, kita bisa mengira-ngira dari apa yang kronologinya. Mungkin dia berniat merampok toko perhiasan.

Menurut saya, sudut pandang jenis ini tidak akan cocok jika dipakai menulis romance, karena bukankah apa yang dicari pembaca romance adalah perasaan dan kedekatan dengan si tokoh?

2. Sudut Pandang Objektif yang Dimodifikasi

Salah satu cara untuk meraih kedekatan dengan pembaca adalah dengan menggunakan sudut pandang objektif yang dimodifikasi. Si narator tidak menyebut kalau dirinya tahu apa yang dipikirkan si tokoh, tetapi mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang ada dalam benaknya.

Aura terbangun dengan kelelahan. Mungkin dia bermimpi buruk, atau mungkin juga dia terkena flu. Semalam, saat dia berjalan-jalan dengan Martin, angin berembus sangat kencang dan dia tidak membawa jaket.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu

Saat narator mengungkapkan apa yang terjadi dalam kepala si tokoh, cerita itu ditulis dengan sudut pandang omniscient atau serbatahu. Sudut pandang ini sangat populer pada novel-novel di zaman Victoria. Perhatian utama novelis Victorian adalah
masyarakat. Cara terbaik untuk memahami masyarakat adalah dengan memiliki akses terhadap pikiran dan motif setiap tokoh.

Henry tiba pukul dua pagi dengan tubuh menggigil dan lemah (keadaan tubuhnya adalah sudut pandang Henry). Catherine menyapanya di pintu, berpikir kalau suaminya tampak seperti tikus yang habis tenggelam di got (pemikiran Catherine).

4. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Sudut pandang ini adalah POV paling mudah untuk penulis pemula. Sederhananya seperti ini: pengarang memiliki hak untuk memasuki kepala hanya tokoh-tokoh tertentu saja. Tokoh-tokoh terpilih ini, biasanya protagonis dan beberapa tokoh penting lainnya, disebut “viewpoint character”.

Contoh: novel The Good Daughter karya Karin Slaughter, atau Big Little Lies karya Liane Moriarty.

Nah, bolehkah kita mencampur beberapa sudut pandang dalam satu novel?

Boleh, kalau ada tujuannya. Kalau cuma buat keren-kerenan tapi malah membuat pembaca bingung, sebaiknya tidak. Human Acts karya Han Kang menggunakan tiga sudut pandang sekaligus (PoV 1, 2, dan 3), dan bisa tetap keren. Syaratnya, gunakan satu sudut pandang dalam satu bab atau satu bagian, jangan dicampur-campur agar tidak membingungkan.

Kemudian, jika kita sudah memilih menggunakan PoV 1, jangan sampai ada sudut pandang bocor (tiba-tiba menceritakan tokoh yang bukan narator)

Semoga penjelasan soal sudut pandang ini menyalakan ide di kepalamu, ya.

Selamat menulis.

 

Writing

4 Langkah Membuat Pembaca Terhanyut

istilah(1).png

Penulis fiksi yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca terhanyut ke dalam dunia rekaan yang diciptakan si pengarang. Tujuan orang membaca fiksi adalah untuk bersenang-senang, agar bisa berpindah sejenak dari realitas kehidupannya. Artinya, pembaca ingin melupakan dirinya dan dunianya sebentar dan menikmati kehidupan lain yang ditawarkan oleh cerita fiksi. Jika penulis tidak berhasil memindahkan pembaca, berarti ada yang salah dengan cara bertutur kita.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendeskripsikan sesuatu. Hampir semua buku panduan menulis mensyaratkan show, don’t tell. Contoh telling itu seperti ini:

Lora membuka pintu dan mendapati ruangan itu kotor.

Kita tidak tahu sekotor apa ruangan itu. Ada apa saja di sana, bagaimana keadaannya, bagaimana baunya, bagaimana perasaan Lora saat mendapati ruangan tersebut, dll. Ruangan itu kotor, dan ya sudah. Bandingkan dengan penjelasan ini:

Lora membuka pintu dan sontak mengerutkan hidung. Aroma sampah dan makanan basi menyeruak menyerbu penciumannya. Lalat-lalat berdengung-dengung di atas keresek hitam yang terburai isinya, memperlihatkan nasi basi yang warnanya sudah berubah oranye kehitaman.

Lebih terbayang?

Sip.

Begitu kamu sudah menguasai cara menulis showing dengan menyisipkan semua pancaindra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, peraba), langkah berikutnya adalah melibatkan pembaca secara emosi dengan tokoh-tokoh yang kamu ciptakan dalam novelmu.

Pertama. Buat pembaca bersimpati kepada tokohmu.

Kamu tidak perlu membuat tokoh supersuci, superbaik, supermanis, supercantik, superkaya, dan sejenisnya untuk membuat pembacamu bersimpati. Kita buat contohnya dari novel Carrie karya Stephen King saja, ya.

Stephen King memperkenalkan Carrie sebagai katak di antara angsa-angsa. Adegan pertama dalam novel ini bercerita tentang gadis-gadis SMA yang sedang mandi setelah pelajaran Olahraga dan Carrie adalah satu-satunya gadis yang tidak seperti yang lainnya. Dia buruk rupa: gemuk, berjerawat, dan objek perundungan. Di salah satu meja sekolahnya, ada grafiti bertuliskan: Carrie makan kotoran.

Penggambaran tersebut membuat pembaca bersimpati; kasihan, Carrie jelek dan dirisak.

Ada beberapa situasi yang akan menimbulkan simpati di benak pembaca, yaitu kesepian, tunaasmara (ceileh tunaasmara) atau tidak dicintai, dipermalukan, direpresi atau ditekan, dalam  bahaya, privasi terlanggar–pokoknya, apa pun yang membuat si tokoh menderita secara fisik, mental, maupun spiritual.

Simpati adalah pintu masuk yang akan mengundang pembaca terlibat secara emosional dalam cerita kita. Berikutnya,

buat pembaca mengidentifikasikan diri dengan si tokoh.

Identifikasi muncul ketika pembaca bukan hanya bersimpati dengan si tokoh, tetapi juga mendukung tokoh-tokoh kita ini mencapai tujuan dan keinginannya (wants and needs). Para pembaca ini juga memiliki keinginan kuat agar si tokoh mencapai keinginannya tersebut.

Dalam Carrie, pembaca mendukung keinginan Carrie untuk datang ke pesta prom walaupun ibunya yang tiran melarangnya.

Bahkan, ketika kamu menulis tokoh jahat yang sedang dipenjara sekalipun, kita bisa membuat pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu. Misalnya, selama di penjara dia disiksa dan diperlakukan dengan buruk. Walaupun pembaca tahu kalau dalam kehidupan sebelumnya dia sangat jahat, tetapi tetap saja, saat si penulis menggambarkan betapa buruknya dia diperlakukan, pembaca bisa mendukung keinginan si tokoh untuk melarikan diri. Caranya adalah, dengan memberi si tokoh tujuan mulia. Misalnya, dia ingin melarikan diri demi bisa bertemu anaknya dan dia sudah bertobat atas kelakuan jahatnya di masa lalu.

Ketiga, buat pembaca berempati

Meskipun merasa kasihan kepada tokoh yang mengalami kemalangan, pembaca mungkin tidak akan merasakan kesengsaraan tersebut. Namun, dengan berempati kepada si tokoh, pembaca akan merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Empati adalah emosi yang lebih kuat daripada simpati.

Contohnya: suami yang berempati saat istrinya melahirkan. Si suami bukan hanya bersimpati, tetapi dia juga menderita rasa sakit sungguhan.

Bagaimana penulis fiksi bisa membuat pembaca berempati?

Lakukan dengan kekuatan sugesti. Gunakan detail-detail yang memicu emosi. Dengan kata lain, kamu menciptakan dunia cerita sedemikian rupa hingga pembaca bisa menempatkan diri dalam keadaan si tokoh.

Langkah terakhir, memindahkan pembaca.

Saat pembaca sudah merasakan simpati, identifikasi, dan empati, pindahkan pembaca ke dalam semacam gelembung, hingga seolah-olah dia sudah berada dalam dunia fiksi dan melupakan dunia nyata.

Saat membaca, apa kamu pernah begitu terhanyut hingga harus diguncang dan diteriaki beberapa kali hingga akhirnya merespons?

Dunia nyata di sekeliling pembaca meluruh memudar. Ini adalah tujuan utama penulis fiksi: membawa pembaca ke satu titik saat dirinya benar-benar terserap di dunia fiktif bersama para tokoh dan universe mereka.

Bagaimana membuat membaca masuk gelembung dunia fiksi itu? Jawabannya adalah: konflik batin.

Konflik batin adalah badai yang berkecamuk dalam diri: keraguan, rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dll. Setelah bersimpati, mengidentifikasikan diri, berempati dengan si tokoh, pembaca juga akan ikut merasakan konflik batin si tokoh. Pembaca ikut memikirkan apa yang harus dilakukan agar si tokoh keluar dari konflik batin dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Pembaca terlibat secara aktif, seolah-olah, masalah si tokoh adalah masalah dirinya yang harus diselesaikan.

***

Nah, selanjutnya, agar si pembaca tetap terhanyut, buat suspense atau ketegangan terus meningkat.

Namun, itu bahasan yang lain lagi.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya!

 

Writing

Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Writing

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

Writing

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

Writing

3 Cara Membuat Tokoh yang Hidup

Saya sedang membaca buku James N. Frey yang berjudul How to Write a Damn Good Novel, dan menemukan penjelasan yang bagus banget soal karakter. Menurut Frey, ada dua jenis karakter dalam novel, yaitu karakter bulat dan karakter datar.

Bedanya apa, sih?

 

Karakter bulat dan karakter datar

Karakter datar biasanya digunakan untuk memunculkan tokoh-tokoh yang hanya mengatakan satu-dua kalimat saja. Misalnya: karakter pelayan, loper koran, bartender, dll. Mereka mungkin tampak berwarna-warni dan mencolok, temperamental atau tampak tenang. Namun, mereka selalu ada di sekeliling, tidak pernah di tengah-tengah cerita. Pembaca tidak sepenuhnya tertarik kepada mereka. Mereka karakter yang mudah dilabeli dengan satu sifat saja: rakus, atau saleh, atau pengecut, dan seterusnya.

Mereka tidak memiliki kedalaman; penulis tidak mengeksplorasi motif maupun konflik pribadi mereka—keraguan yang mereka miliki, rasa bersalah, dll. Selama karakter datar ini dipakai untuk mengisi peran kecil di novelmu, tidak apa-apa. Namun, jika digunakan untuk peran penting seperti penjahat utama, tulisan dramatis akan berubah menjadi melodrama.

Karakter lainnya adalah karakter “bulat”, “penuh”, atau “tiga dimensi”. Semua tokoh penting di novelmu haruslah tipe ini, bahkan para antagonisnya. Tokoh-tokoh bulat sulit dilabeli. Mereka memiliki motif yang kompleks serta keinginan membungungkan, dan hidup dengan renjana serta ambisi. Pembaca sudah mengetahui sebelum mereka muncul dalam novel, kalau tokoh-tokoh ini mengalami kehidupan yang kaya dan penuh. Pembaca menginginkan keintiman dengan karakter-karakter tersebut karena mereka ingin tahu.

Lajos Egri, dalam buku The Art of Dramatic Writing (1946) menggambarkan karakter bulat sebagai tiga dimensi. Dimensi pertama adalah fisiologis, kedua, sosiologis, ketiga, psikologis.

 

Dimensi fisiologis karakter termasuk tinggi dan berat badan karakter, usia, jenis kelamin, ras, kesehatan, dll. Cantik atau buruk rupa, pendek atau tinggi, kurus atau gemuk—semua ciri fisik ini memengaruhi cara karakter berkembang, sama halnya hal-hal tersebut memengaruhi manusia.

Masyarakat membentuk karakter kita berdasarkan penampilan, ukuran, jenis kelamin, warna kulit, bekas luka, kecacatan, keabnormalan, alergi, postur, dll. Gadis pirang bermata biru yang mungil dan rapuh tumbuh dengan harapan-harapan yang berbeda dibandingkan saudaranya yang berhidung seperti jarum dan bermata seperti serangga. Untuk mengembangkan tokoh bulat, kita harus benar-benar memahami fisiologis dari karakter.

Dimensi fisiologis karakter termasuk tinggi dan berat badan karakter, usia, jenis kelamin, ras, kesehatan, dll. Cantik atau buruk rupa, pendek atau tinggi, kurus atau gemuk—semua ciri fisik ini memengaruhi cara karakter berkembang, sama halnya hal-hal tersebut memengaruhi manusia.

Masyarakat membentuk karakter kita berdasarkan penampilan, ukuran, jenis kelamin, warna kulit, bekas luka, kecacatan, keabnormalan, alergi, postur, dll. Gadis pirang bermata biru yang mungil dan rapuh tumbuh dengan harapan-harapan yang berbeda dibandingkan saudaranya yang berhidung seperti jarum dan bermata seperti serangga. Untuk mengembangkan tokoh bulat, kita harus benar-benar memahami fisiologis dari karakter.

Dimensi kedua adalah sosiologis. Berada di kelas sosial apa karakter Anda? Di lingkungan seperti apa karakter itu tumbuh? Sekolah macam apa yang dia masuki? Bagaimana sikap orangtuanya soal seks, uang, dll? Apakah tokoh ini diberikan kebebasan atau tidak sama sekali? Apakah tokoh itu punya banyak teman, sedikit, atau tidak punya sama sekali; seperti apa mereka? Untuk benar-benar memahami karakter, kita harus mampu mengusut sampai ke akarnya. Karakter manusia ditempa dalam iklim sosilogis, entah itu manusia sungguhan ataupun karakter fiksi. Kecuali sang novelis memahami dinamika perkembangan karakter, motivasi karakter tidak akan benar-benar dimengerti. Motivasi sang tokohlah yang membuat konflik dan membangun tensi naratif yang harus dimiliki novelmu jika ingin berhasil menggenggam perhatian pembaca.

Dimensi ketiga, dimensi psikologis adalah produk dimensi fisiologis dan sosiologis. Dalam dimensi psikologis, kita menemukan fobia dan mania, kompleksitas, ketakutan, pola rasa bersalah dan hasrat, fantasi, dan seterusnya.

Kamu tidak perlu menjadi psikolog untuk menulis novel. Namun, kamu harus menjadi pengamat umat manusia dan memahami mengapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan dan mengatakan apa yang mereka katakan.

Buatlah dunia ini sebagai laboratoriummu, dan buatlah tokoh-tokoh yang hidup agar pembaca lebih mudah mengidentifikasi diri dengan tokohmu.

 

-Jia-