Writing

[Menulis] Premis

Sewaktu masih jadi editor inhouse, hal pertama yang ditanyakan editor kepada penulisnya sebelum menceritakan apa pun tentang novelnya adalah: “Premisnya apa?” Biasanya, sih, penulis yang dimaksud (apalagi kalau penulis baru), akan tertegun dengan mata memicing dan alis mengerut, minta dijelaskan, premis itu makhluk macam apa.

Well, itu juga yang saya lakukan dalam wawancara kerja di satu kafe di sebuah mal ketika calon atasan menanyakan apa yang sedang saya tulis dan apa premisnya. Bengong.

Jauh sebelum merancang outline dan menulis novelmu (atau juga cerpen), kamu sudah memulainya dengan premis. Barangkali kamu tidak tahu kalau itu namanya premis, tetapi ketika kamu muncul dengan ide seorang karakter mendapatkan konflik, dan apa yang dilakukannya menanggapi konflik tersebut, lalu apa akhirnya, bisa dibilang, itulah premis ceritamu.

Premise is a statement of what happens to the characters as a result of the core conflict of the story.

Setiap cerita memiliki premis. Hanya satu. Premis ini menggarisbawahi gagasan ceritamu, pondasi yang menyangga plot ceritamu.

Kata James N. Frey, tidak ada konsep paling kuat dalam menulis fiksi selain premis. Jika kau membuat struktur ceritamu dengan premis nan kuat dalam kepalamu, novelmu akan terfokus dengan baik dan juga dramatis, dan ceritamu akan menggenggam perhatian pembaca dari awal sampai akhir. Premis yang kamu buat di awal akan menjadi alasan utama pembaca membaca bukumu (atau membelinya).

Misalnya, sebagai pembaca, premis manakah yang membuatmu ingin membeli bukunya?

“Setelah kematian kedua orang tuanya, seorang bocah lelaki tinggal di lemari di bawah tangga rumah paman dan bibinya.”

Atau

“Anak lelaki 11 tahun mengetahui kalau dirinya adalah penyihir dan berusaha menghentikan kekuatan jahat kembali hidup.”

Premis yang mana yang memberikan petunjuk arah dan membuatmu lebih fokus menulis? Walaupun gagasan seorang anak tinggal di bawah tangga itu menarik, tetapi tidak menjadikannya novel yang menarik. Apa tujuan anak itu? Lalu, memangnya kenapa kalau dia tinggal di bawah tangga?

Premis kedua memberi petunjuk arah dan fokus untuk penulis. Apa pun yang akan kautulis akan menyesuaikan dengan premis tersebut. Kamu tidak akan tersesat karena ada jalan setapak bernama premis yang membawamu ke tujuan.

Ini adalah elemen esensial yang diperlukan untuk sebuah premis yang bagus.

  1. Karakter utama
  2. Konflik (apa yang mencegah karakter mendapatkan apa yang paling diinginkannya)
  3. Objektif/Tujuan (apa yang paling ingin dilakukan karakter; apa tujuan si tokoh dalam cerita ini)
  4. Musuh (siapa yang mencegah tokoh utama mendapatkan keinginan atau tujuannya)

Kamu yang sedang menulis atau sedang berencana menulis, apa premis novelmu?

~Jia

 

Writing

Narator yang Tidak Dapat Dipercaya

Hai teman, setelah berbulan-bulan, saya kembali! Semoga habis ini ngeblognya rajin lagi. Heuheuheu.

Beberapa buku asyik yang saya baca akhir-akhir ini melibatkan narator yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator). Sederhananya, narator ini (entah dalam sastra, film, maupun teater), kredibilitasnya dipertanyakan. Istilah ini digunakan kali pertama oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961).

68fbb8f3-27e3-4a97-bda7-d9b8d2a05ee4
Mbak Rachel ini enggak bisa dipercaya karena mabuk melulu (photo credit: http://www.bustle.com)

Kalau kata James N. Frey di bukunya How to Write a Damn Good Novel II, narator yang tidak bisa dipercaya ini enggak perlu terbelakang ataupun gila untuk tidak dipercaya. Narator ini bisa aja penuh prasangka.

Biasanya, narator yang tidak bisa dipercaya menggunakan POV 1. Ini adalah berbagai narasi tidak bisa dipercaya yang paling umum menurut William Riggan:

  1. The Picaro: narator yang melebih-lebihkan dan senang membual. Saya belum kepikiran contoh bukunya apa, sih, tapi kalau kata Wikipedia, prajurit dalam komedi “Plautus”, Miles Gloriosus.
  2. The Madman: si narator yang mengalami mekanisme pertahanan mental setelah mengalami perpisahan (yang traumatis) dan pengasingan diri, atau gangguan kejiwaan parah, misalnya skizofrenia atau paranoia. Contohnya: si Quentin Coldwater dalam serial The Magician karya Lev Grossman. Atau Elliot dalam serial Mr. Robot. Sarah Moorcraft, si ibu yang kehilangan salah satu anak kembarnya dalam buku The Ice Twins (eniwei, baca buku ini, deh, saya suka banget). Atau si Rachel Watson dalam The Girl on The Train.
  3. The Clown: seorang narator yang tidak menganggap narasi dengan serius dan mempermainkan harapan, konvensi, dan kebenaran si pembaca. Sepertinya, yang cocok buat ini adalah Amy Dunne di Gone Girl.
  4. The Naïf: narator yang persepsinya tidak matang ataupun terbatas. Contoh: Forrest Gump. Salva di buku Di Tanah Lada.
  5. The Liar: narator yang dengan sengaja menggambarkan dirinya dengan salah, biasanya untuk menutupi kekurangan atau sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, sih, Tanya Dubois dalam buku yang sedang saya baca, The Passenger (Lisa Lutz) kayak gitu orangnya. Atau si Libby Day dalam Dark Places (Gillian Flynn). Atau (katanya, karena saya belum baca), narator di buku We Were Liars.

23553419

Kalau melihat contoh-contohnya, kebanyakan genre yang menggunakan narrator yang tidak dipercaya adalah misteri dan thriller (atau mungkin karena buku-buku itulah yang saya baca—referensi bacaannya masih kurang, uy :().

Jadi, buat kamu yang berniat menulis thriller, mungkin narator POV 1 yang tidak bisa dipercaya bisa dijadikan pilihan.

~Jia

Kelas, Writing

Menulis Bagian Awal Novel: 9 Hal yang Sebaiknya TIDAK Dilakukan

Walaupun sudah enggak bekerja di satu penerbitan lagi, saya masih membantu beberapa penerbit dan penulis memoles naskah novel. Dari naskah-naskah yang saya terima, bagian yang paling menentukan adalah bab-bab awal. Paling tidak, tiga bab pertama. Tiga bagian ini bukan hanya membantu naskahmu diterima penerbit untuk diterbitkan, tetapi juga mengikat pembaca.

Berbeda dengan editor bayaran (seperti saya) yang dipaksa membaca sampai akhir, pembaca enggak akan repot-repot meneruskan baca kalau bab-bab awalnya enggak menarik. Enggak menarik, enggak majuin cerita, enggak ngasih petunjuk ini mau nyeritain apa, enggak jelas nyeritain siapa.

Nah, saya baru mengerjakan naskah yang fokus ceritanya muluuuuuuuuur banget sampai ke halaman 100. *fiuh*. Seratus halaman pertama ngalor-ngidul nyeritain macam-macam, padahal fokusnya bukan itu. Bagian awal atau perkenalan ini sebaiknya hanya 3-4 bab, enggak lebih dari 40-50-an halaman.

Gara-gara itu, saya jadi googling soal menulis bagian awal novel dan dapat artikel dari blog Natasha Lester. Ini adalah sembilan hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika menulis bagian awal novelmu. Kalau kamu pengin lebih lengkap, kamu bisa googling sendiri soal menulis bagian awal novel, tapi menurutku, enggak akan jauh-jauh beda dari yang ditulis Mbak Lester ini, sih.

  1. Backstory

Backstory adalah informasi tentang latar belakang karaktermu, bisa jadi latar belakang peristiwa dari ceritamu, atau latar belakang hubungan utama dalam cerita.

Pembaca ingin mengenal tokoh-tokoh dalam novel seperti kita mengenal orang sungguhan. Kita tidak mengenal semua hal tentang seseorang pada pertemuan pertama. Mencari tahu dan menemukan hal-hal menarik dari kenalan kita adalah bagian menyenangkan dari sebuah hubungan. Ga seru juga sih, ketemu sama calon pacar yang kita udah tahu luar-dalam soal dia. Apanya yang bikin penasaran?

Backstory melambatkan cerita. Gunakan itu ketika kamu membutuhkan momen untuk menurunkan ketegangan. Awal novelmu harus aksi yang terus maju.

2. Mimpi

Tidak ada yang lebih buruk ketika kau membaca sebuah bab, dengan mencekam, dan tiba-tiba si tokoh terbangun di bab dua dan mengatakan kalau semua itu hanyalah mimpi. Mimpi tidak bisa membuat pembaca membentuk koneksi dengan karakter-karaktermu ataupun kejadian-kejadian dalam cerita.

3. Deskripsi berlebihan

Pembaca tidak membutuhkan deskripsi mendetail tentang seting dan wilayah di tiga bab pertama. Sebar informasi soal ini lewat sudut pandang si karakter ketimbang memperlihatkannya dari mata segala tahu, karena paling tidak, kita akan mempelajari soal si tokoh dari caranya mendeskripsikan seting.

4. Gagal fokus

Hal-hal yang bisa menyebabkan kurang fokus antara lain:

  • kebanyakan tokoh
  • terlalu banyak peristiwa, misalnya pindah ke narasi lain terlalu cepat sebelum menguatkan untaian narasi sebelumnya.
  • pindah-pindah antara satu pov ke pov lain.
  • terlalu banyak lokasi/tempat

Kamu pengin pembaca kamu betah di tiga bab pertama daripada bikin mereka bosan dan disorientasi tanpa tahu harus fokus ke karakter mana dan kejadian-kejadian apa yang penting.

5. Membuat daftar belanjaan

Eh, apa-apaan kok nulis daftar belanjaan di novel? Gini contohnya:

Rambutnya yang sedikit panjang dan bergelombang selalu dia biarkan terurai. Poninya tebal, wajahnya bulat. Bibirnya kecil, selalu dilapisi dengan lipstik merah muda yang segar. 

Daripada menulis daftar sifat semacam itu, lebih baik informasi tersebut dimasukkan ke aksi. Contohnya gini:

Gadis itu itu menoleh, rambut panjangnya yang bergelombang terayun. Matanya menyipit saat dia mencari sumber suara, hingga membuat wajahnya yang dibingkai poni tebal tampak semakin imut. Bibirnya yang dipulas lipstik merah muda langsung membentuk garis lengkung begitu dia menyadari akulah yang memanggilnya.

(ini juga sejalan dengan konsep show don’t tell)

6. Tokohnya tidak melakukan apa pun

Mencuci piring, menatap jendela, memandang pantulan diri di cermin; tindakan-tindakan ini sebaiknya tidak ada di tiga bab pertama novelmu.

Pikirkan kehidupan nyata. Memangnya kamu mau memperhatikan orang mencuci piring? Males, kan? Jadi, kenapa pembaca mau?

Pastikan tiga bab pertama ini berisi hal-hal penting. Tindakan-tindakan yang akan berlanjut/berpengaruh pada cerita berikutnya. Ya, kecuali habis mencuci piring, alien tiba-tiba muncul di dapur dan dari situlah ceritanya bermula. Si mbak-mbak lagi cuci piring, alien muncul di dapur, kemudian si mbak diculik untuk menjadi tukang cuci piring di piring terbang. *eh*

7. Si tokoh sedang melamun di masa sekarang

PERLIHATKAN situasi mereka. Jika si tokoh berada dalam hubungan penuh kekerasan, perlihatkan ketika pasangannya melakukan kekerasan dan perlihatkan efek yang ditimbulkan kepada si tokoh. Jika mereka malu, dapatkah kamu memperlihatkan rasa malu itu kepada pembaca?

Jadi, bukan adegan si tokoh melamun sambil memikirkan hubungan abusive itu, yaps.

8. Flashback

Ini nanti aja. Jangan di tiga bab pertama. Pembaca butuh mengenal si tokoh pada masa sekarang sebelum meloncat ke masa lalu.

9. Menyuapi pembaca

Percayalah kepada pembacamu. Mereka enggak perlu tahu segalanya di tiga bab pertama. Bahkan, mereka enggak mau tahu segalanya. Alasan mereka membaca bukumu adalah mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena membaca tiga bab pertama yang keren.

Simpan informasi, kasih sedikit-sedikit. Pastikan ini menciptakan pertanyaan dramatis yang kepengin banget terjawab–di akhir buku!

Jadi, apakah bagian awal novelmu mengandung hal-hal itu? Kalau iya, sebaiknya revisi segera, sebelum dikirim ke penerbit. Jika tidak yakin, kamu bisa mengonsultasikan naskahmu via jiaeffendie@gmail.com
~Jia
Writing

8 Hal yang Sebaiknya Kaulakukan Sebelum Mengirim Naskah Novelmu ke Penerbit

Ingat, kalau kata Hemingway, the first draft of anything is shit. Jadi, jangan langsung kirim naskah ke penerbit begitu kamu selesai menulis. Pastikan naskah yang kamu setorkan sudah bersih. Bersih dari apa saja, sih? Salah ketik, logika bolong, karakter datar, deskripsi membosankan, dll dll. Kan sayang, sudah capai-capai menulis, tapi enggak ada satu pun penerbit yang mau mengadopsi naskahmu.

images-2

Jadi, ritual apa, sih yang harus dilakukan sebelum mengirim naskah ke penerbit? Yang pasti, tidak perlu gosok-gosok batu akik dulu biar dibantu jin di dalamnya.

  1. Peram naskahmu

Ketika kamu mengetik huruf terakhir dari karya masterpiece-mu, peram selama beberapa hari. Jika kamu “tahan” berpisah darinya, simpan selama seminggu atau lebih. Setiap hari menulis dan bergelut dengan karakter dan semua hal dalam naskahmu membuat kamu tidak berjarak dengannya, sehingga kamu tidak bisa melihat kesalahan-kesalahan kecil yang ada di dalamnya.

Memeram naskah juga membuatmu melupakan semua yang telah kautulis, jadi ketika kamu melakukan swasunting, buku itu menjadi seolah-olah ditulis oleh orang lain.

  1. Cetak naskahmu atau bacakan keras-keras

Sering kali, membaca di atas kertas membuatmu lebih teliti ketimbang menatap layar komputer. Bagi sebagian lainnya, mendengarkan teks keras-keras membuat kesalahan itu terasa.

Membacakan teks keras-keras bisa kamu lakukan jika kamu cukup sabar dan punya persediaan segalon air.

  1. Cari kata-kata yang sering bermasalah

Banyak penulis yang salah kaprah menuliskan kata bahasa Indonesia, atau tidak bisa membedakan di- sebagai preposisi dan di- sebagai imbuhan, atau tidak bisa memberikan imbuhan yang tepat untuk sebuah kata.

Di bawah ini, saya tuliskan kata-kata yang sering kali salah.

Benar/baku Salah/tidak baku
andal handal
adang hadang
analisis analisa
aktif aktiv
aktivitas aktifitas
antre antri
apotek apotik
apalagi apa lagi
astronaut astronot
batin bathin
beledu beludru
berengsek brengsek
beterbangan berterbangan
cedera cidera
cengkeram cengkram
cicip icip
daripada dari pada
di mana dimana
di sana disana
ekstrem ekstrim
energi enerji
familier familiar
frustrasi frustasi
hafal hapal
hipotesis hipotesa
imbau himbau
ingar hingar
impit himpit
izin ijin
jerembap jerembab
jadwal jadual
kacamata kaca mata
kantong kantung
ke mana kemana
kemari ke mari
khusyuk khusyu’
kreativitas kreatifitas
kuitansi kwitansi
lembap lembab
makhluk mahluk
menyontek (kata dasar sontek) mencontek
menerjemahkan menterjemahkan
memperhatikan memerhatikan
miliar milyar
nomor nomer
objek obyek
orisinal orisinil
paham faham
peduli perduli
personel personil
rapi rapih
risi risih
resek rese
respons respon
risiko resiko
serdawa sendawa
saksama seksama
sekadar sekedar
saraf syaraf
semringah sumringah
sopir supir
sirop sirup
sutra sutera
tampak nampak
telantar terlantar
telanjur terlanjur
telentang terlentang
tenteram tentram
ubah rubah
… dan masiiih banyak lagi

Lengkapnya, belilah buku EYD (Ejaan yang Disempurnakan), biasanya ada di rak-rak bahasa di rantai toko buku terbesar di Indonesia itu. Jika kamu belum punya EYD, Tesaurus, atau KBBI Edisi IV, tapi ada koneksi internet, kamu bisa mencarinya secara daring di laman KBBI atau kateglo. Jika tidak ada koneksi internet dan kamu tidak yakin apakah kata yang kamu tulis sudah benar, gunakan kata yang lain.

  1. Hapus atau ganti kata yang seriiing sekali kamu gunakan

Apa kamu tahu 10 kata yang paling sering kamu gunakan dalam naskahmu? (ini minus preposisi dan kata-kata penting lain). Kamu mungkin terkejut melihat kata yang sering sekali kamu gunakan. Inilah pentingnya memiliki KBBI dan Tesaurus. Kata yang terlalu sering muncul itu bisa kamu ganti dengan sinonimnya.

  1. Hapus semua spasi ganda

Seperti   ini, contohnya.

Ganggu, kan?

Jika kamu menggunakan Microsoft Word dan kesulitan (baca: malas) mencari satu-satu, gunakan find-and-replace. Ketik dua kali spasi di “find”, dan satu spasi di “replace”, lalu tekan enter. Ini biar kamu enggak usah menghapus spasinya satu per satu.

  1. Cari tanda baca bermasalah

Saya sering menemukan kalimat yang panjaaaaang sekali, dan dipisahkan dengan koma-koma-koma sampai saya koma membacanya. Padahal, kalimat tersebut sudah tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya, kamu memenggal kalimat-kalimat panjang itu. Ganti koma dengan titik.

Selain itu, hindari menggunakan terlalu banyak tanda seru. Kalimatmu tidak perlu dikasih pagar banyak-banyak.

  1. Format naskahmu sesuai persyaratan dari penerbit.
  • Kirim naskahmu dalam format Word (.doc atau .docx, jangan .rtf)
  • Ketik satu kali spasi setelah titik.
  • Gunakan font Times New Roman, 12, hitam. Dan jangan. Jangan-jangan-jangan pakai font Comic Sans apalagi font aneh-aneh lainnya.
  • Untuk memudahkan layouter/setter/penata letak, jangan membuat paragraf baru dengan menggunakan tombol “tab”. Lebih baik, gunakan penggaris di menu Word. Di ruler itu kan ada segitiga terbalik, tuh, geser bagian atasnya hingga membentuk paragraf baru. Atau, pilih semua teks (Ctrl+A), format paragraf menggantung dengan menggunakan Format > Paragraph. Di bawah “Indentation” dan “Left”, ketik .5. Di bawah “Special”, pilih “First line”
  • Gunakan page breaks di antara bab. Tempatkan kursor di bagian akhir bab, lalu klik “Insert > Break > Page Break”
  1. Jangan mengedit berlebihan

Kenapa? Segala yang berlebihan itu enggak baik kan, ya? Mengedit berlebihan malah membuat novelmu terlalu “diatur” dan terasa kaku.

Writing, Kelas

[Bandung] Belajar Menulis Fiksi di Kelas 101

11018346_368160933371259_4518733510190488381_n

Hai teman-teman,

Saya mau memperkenalkan kelas baru yang hits di Bandung. Namanya Kelas 101. Basically, ini adalah kelas yang memungkinkan kamu belajar apa pun. Dari menulis sampai makeup, soal fashion juga memasak. Kalau membaca di blognya, Kelas 101 ini berdiri karena banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu dari dasar, tapi tidak tahu harus belajar ke mana, terutama pengetahuan yang tidak bisa didapatkan dari sekolah formal.

Sampai sekarang, Kelas 101 baru mengadakan dua kelas. Pertama, kelas menulis blog travel. Pematerinya adalah travel blogger kenamaan; Mumun dan Vira Indohoy. Kelas keduanya adalah perawatan wajah dan makeup dasar dari Dessy Natalia alias Echy Art, makeup artist yang berpengalaman selama sebelas tahun dan sudah mengikuti berbagai seminar, juga menulis buku tentang makeup (salah satu bukunya, saya editornya. Hohoho).

Nah, kelas berikutnya, akan ada kelas menulis novel remaja bersama Rhein Fathia, kelas leather crafting, menerjemahkan, food photography, kerudung cantik, make up pesta, fashion style dan… kelas menulis novel dewasa bersama… saya.

Kelas ini akan berlangsung 4 kali pertemuan:

Sabtu, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Minggu, 24 Mei 2015

Kira-kira, materinya adalah tentang elemen-elemen fiksi, cara membuat outline/plotting, self-editing, dan tip menembus penerbit.

Kalau kamu berminat mengikuti kelas ini, silakan kirim tulisan singkat tentang apa yang kamu harapkan dari kelas ini (misalnya ingin belajar menulis cerpen, novel, genre tertentu, pengin tahu soal dunia penerbitan, dll) ke kelassatunolsatu@gmail.com atau mmlubis@gmail.com

Lalu-lalu-lalu, di hari Sabtu tanggal 23 Mei, akan ada juga Kelas Fashion Style 101 dengan tema “Good Look, Good Mood!” bersama Gunawan Widjaja. Di kelas ini, kita akan belajar bagaimana mengenali diri sendiri; mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, dan memilih fashion yang cocok untuk diri sendiri.

Nah, untuk informasi lebih lanjut, pendaftaran, tempat, dan biaya kamu bisa menghubungi FB Kelas 101, atau email kelassatunolsatu@gmail.com / mmlubis@gmail.com atau telp/sms/wa ke 08122330599

Cihuy, kan? Yuk ikutan!

Writing

[menulis] dialog

beberapa hari ini dapat email dari creative-writing-now yang menawarkan kelas menulis dialog yang asyik. terus, jadi nyari-nyari, gimana sih, dialog yang bagus itu? berapa banyak porsi dialog dalam novel? gimana menulis dialog yang efektif? dll dll.

dari pengalamanku membaca banyak novel (dan buku-buku panduan menulis), jadi tahu kalau fungsi dialog antara lain adalah untuk menciptakan suara masing-masing karakter, untuk memperlihatkan perkembangan dan kedalaman sifat si tokoh, memajukan cerita (mempercepat pace, terutama), menciptakan ketegangan, juga memperlihatkan emosi, sikap, dan tujuan/keinginan karakter.

jadi, dialog bukan sekadar chit-chats antartokoh.

kalau enggak ada dialog, novel kamu bisa jadi membosankan karena terlalu banyak narasi. tapiii, kalau kebanyakan dialog pun, novel kamu jadi berasa kayak naskah drama. naskah drama yang kacau pula! jadi, kita harus pintar-pintar membagi porsi antara narasi (dan deskripsi), adegan (aksi), dan dialog.

ini tip menyeimbangkan porsi narasi, adegan, dan dialog menurut gloria kempton di writerdigest.com

tanya dirimu sendiri:

  • apakah ceritamu bergerak terlalu pelan dan perlu dipercepat? (gunakan dialog)

  • apakah ini waktunya memberi pembaca latar belakang karakter agar mereka merasa lebih simpati kepada karakter-karakternya? (gunakan narasi, dialog, atau gabungan keduanya)

  • apakah kamu terlalu banyak menulis dialog? (gunakan adegan atau narasi)

  • apakah karaktermu terus-menerus memberi tahu karakter lain tentang hal-hal yang seharusnya hanya ada di kepala mereka? (gunakan narasi)

  • sebaliknya, apakah karaktermu selalu berada di kepalanya (melamun, berpikir, membuat dialog imajiner yang nggak perlu) ketika percakapan akan membuat ceritanya lebih efektif dan nyata? (gunakan dialog)

  • apakah karaktermu memberikan terlalu banyak detail tentang latar belakang karaktermu ketika mengobrol? (gunakan narasi)

***

Writing dialogue isn’t about replicating real-life conversations. It’s about giving an impression of them… and also of improving them.

kata monica wood di buku “the pocket muse”, ketika menulis dialog, hilangkan sapaan-sapaan karena kalimat sapaan biasanya nggak memajukan cerita ataupun memperlihatkan kedalaman karakter.

dialog dari penulis kurang berpengalaman sering kali seperti ini:

“Halo.”

“Mira, kamukah itu?”

“Ya, ini aku.”

“Ada apa?”

“Si Empus pipis di sofa lagi.”

dan bla bla bla… hingga membekukan momentum. ketika membuat adegan telepon berdering, tulislah langsung ke poin utamanya, karena pembaca pun tahu apa yang lazim dikatakan orang ketika mengangkat telepon.

Ronny mengangkat telepon dan mendengar suara Mira mencerocos kesal di ujung sana. “Aku udah nggak bisa ngurus dia lagi. Kamu buruan ke sini jemput dia.”

“Aku masih ujian, Mir. Nggak ada yang bisa ngurus dia di sini. Tolonglah, dua hari lagi.” Ronny mengiba.

“Pokoknya, kalau kamu nggak dateng hari ini, aku tinggalkan Empus di luar rumah,” ancam Mira.

nah, untuk menutup percakapan ini, alih-alih menggunakan sapaan lagi, gunakan aksi.

Ronny dan Mira berdebat sampai lima menit berikutnya, memutuskan siapa yang akan mengurus empus selama dua hari ke depan. Hingga akhirnya, Ronny menutup telepon, mengambil kunci mobil, dan menyetir ke rumah Mira.

 

***

untuk membuat dialog terasa nyata, coba ucapkan dialog yang sudah kamu buat dengan suara keras. jika terdengar kaku dan terlalu panjang, cobalah ubah kalimatnya.

dialog boleh menggunakan kata yang tidak baku (tapi jangan banyak-banyak juga, sih. usahakan buat dialog tetap asyik meski dengan kata-kata baku). dialog juga boleh menggunakan struktur kalimat bahasa daerah (jika cerita berlangsung di daerah tertentu atau kamu sedang berusaha menunjukkan kalau karakter A berasal dari daerah tertentu), dan menggunakan beberapa kosakata bahasa daerah/bahasa asing.

  1. Dialogue is set apart or identified with quotation marks. Words spoken.”
  2. Words spoken by a character in a story do not have to be in complete sentences
  3. People in conversations do not always speak in complete sentences or use proper grammar
  4. In a story, make sure your dialogue sounds like what a person would say in conversation.

(Terry W. Ervin II di http://www.fictionfactor.com)

***

penulisan dialog

meski sebagian besar dari kalian sudah tahu, enggak ada salahnya kalau dibahas, ya. soalnya, sering kali saya suka dapat naskah dan penulisan dialognya bermasalah. kan enak kalau editor nggak perlu mengganti semua titik di kalimat langsung jadi koma.

contohnya gini:

SALAH: “Aku tidak tahu harus gimana.” Katanya bingung.  | BENAR: “Aku tidak tahu harus gimana,” katanya bingung.  (gunakan koma sebelum tanda kutip jika kamu mau menambahkan keterangan).

SALAH: “Apa maksudmu?” Tanyanya. | BENAR: “Apa maksudmu?” tanyanya. (setelah tanda tanya, tanda seru dalam kalimat langsung, pakai huruf kecil).

SALAH BANGET: “Aku benci kamu!”. (setelah tanda seru atau tanda tanya nggak usah pakai titik lagi, karena mereka udah menutup kalimat).

terima kasih dan selamat menulis 🙂

love,

jia

bacaan tambahan:

How to Balance Action, Narrative and Dialogue in Your Novel

http://www.novel-writing-help.com/writing-dialogue.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://www.fictionfactor.com/guests/dialoguebasics.html

http://bubblecow.net/how-to-write-effective-dialogue-in-your-novel/

 

Cerpen

ketumbi

 

Tujuh hari yang lalu, aku jatuh ke sebuah sumur di hutan kecil belakang kampus.

Bagaimana aku bisa sampai jatuh, aku akan menceritakannya. Barangkali kau akan menganggap ceritaku tak masuk akal, tapi kau boleh percaya atau tidak… aku mengatakan yang sesungguhnya.

Tujuh hari lalu, seusai kuliah jam terakhir, aku membuka ponselku dan membaca sebuah pesan keji dari kekasihku. Perempuan manis yang kejam itu mendadak ingin berpisah dariku. Alasannya sungguhlah klise dan menyebalkan.

“Sayang, aku ingin berkonsentrasi dengan kuliahku dulu. Rasanya, kita tidak akan bisa sering bertemu. Daripada kamu galau kangen padaku terus menerus, lebih baik kita berpisah saja. Nanti, setelah aku lulus, barulah kamu cari aku lagi. Kita akan berpacaran lagi.” Aku bisa membayangkan bibir merah jambunya yang mungil mengatakan omong kosong itu, tak lupa mata bulan sabitnya menatapku penuh rayuan.

Alasan macam apa itu? Sungguh tidak masuk akal. Memangnya aku bocah SMA yang bisa dengan mudahnya percaya dengan alasan ingin berkonsentrasi pada studi?

Lalu, setelah menerima WhatsApp terkutuk itu, aku pun mengurungkan niatku berjalan ke gerbang kampus dan memutuskan untuk melangkah ke arah sebaliknya. Ke arah hutan belakang kampus. Kupikir, jika aku berada dekat-dekat pohon, hatiku yang panas ini akan dingin oleh rindangnya dedaunan.

Kami menyebutnya hutan. Luasnya sekitar delapan hektar dan ditanami berbagai macam vegetasi untuk penelitian, mengelilingi sebuah bukaan sebesar enam kali lapangan bola. Bukaan itu sering dipakai untuk bumi perkemahan mahasiswa baru, dan jarang sekali ada orang mau datang ke sana kecuali ada hubungannya dengan penelitian, atau bersembunyi. Seperti aku.

Laki-laki macam apa aku ini? Bersembunyi setelah dicampakkan kekasihnya? Bapakku pasti malu jika mendengar anak lelaki satu-satunya bersembunyi ke hutan setelah menerima pesan pendek dari kekasihnya yang meminta putus. Tapi, tanpa kejadian ini pun, bapak sudah malu kepadaku. Banyak hal yang tidak mampu kupersembahkan kepadanya. Alih-alih mengikuti keinginannya untuk kuliah Perminyakan biar aku cepat mendapatkan pekerjaan yang memberikan penghasilan besar, aku malah mendaftar kuliah Ilmu Perpustakaan. Bapak mencibir dan berhenti menanggung pendidikan dan biaya hidupku begitu aku diterima kuliah.

Mau kerja apa, kau? Aku ingat dia berkata. Kalau hanya ingin tahu bagaimana cara menggunakan kemoceng, tak usahlah kau kuliah. Aku tak pernah mendengar siapa pun kaya raya karena kerja di perpustakaan. Perpustakaan hanya tempat buangan buat orang-orang tercampakkan. Siapa yang masih datang ke perpustakaan? Para kutu buku itu hanya menghabiskan waktunya untuk berkhayal.

Tentu saja aku tak bisa menyangkal. Bukan karena aku setuju dengan ucapannya, tetapi karena aku tahu Bapak. Mau sampai berbusa pun mulutmu mencoba menjelaskan, akan percuma jika dia tidak menyediakan ruang untuk pengetahuan baru. Berkuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan adalah satu-satunya pembangkanganku. Dan karena itu, aku dicoret dari daftar anaknya.

Jadi, jika sekarang aku bersembunyi seperti pengecut, aku tidak perlu takut bapakku malu karena aku sudah bukan anaknya lagi. Aku bebas merana dan patah hati. Aku bebas meratap.

Gadis bermuka bulat dengan noda-noda hitam samar bekas jerawat di pipinya itu pertama kali mengganggu hatiku tiga tahun lalu. Kami sama-sama berbaris di tengah bukaan hutan yang dikelilingi tenda-tenda. Senior sedang meneriakkan sesuatu yang tidak penting, dan pada saat itulah seorang gadis terjatuh tak sadarkan diri. Kami semua menoleh ke sumber keributan. Dan di sanalah, berdiri di belakang gadis yang pingsan itu, gadisku bermuka bulat.

Aku melihatnya bergerak dengan slow-motion, berjongkok, mengibaskan poninya yang sudah terlalu panjang dan menghalangi matanya, memegangi kawannya yang pingsan, lalu bola matanya bergerak ke arahku. Ke mataku. Aku menatapnya tak berkedip, mengabadikan momen sepanjang sepuluh detik ini sebelum matanya kembali pada kawannya dan adegan slow-motion ini berubah menjadi hiruk pikuk.

Dia tidak cantik. Kau pun setuju denganku. Namun, ada sesuatu dengan bola mata hitam legamnya dan mata bulan bulan sabitnya yang membuatku tak bisa memalingkan pandangan. Kekagumanku berubah menjadi obsesi begitu perkuliahan dimulai. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah kutu buku yang rakus dan rendah hati. Kebahagiaannya adalah mencium aroma buku, dan laki-laki tercampakkan seperti aku tidak masuk dalam daftar kebahagiaannya.

Namun, aku tidak sepenuhnya lemah. Aku bukan anak bapak lagi. Aku adalah lelaki yang bisa membangkang. Mengapa aku tak bisa mendapatkan sang dewi buku? Tiga tahun aku bergerilya, hingga terang-terangan bersikap seperti pengemis cinta, menurunkan swahargaku[1] begitu rendahnya sampai ke inti bumi, membuat diriku seorang jelata yang tidak memiliki keistimewaan. Demi dia! Gadisku yang kurang ajar.

Belum sebulan hubungan kami, mendadak dia mengirimkan WhatsApp tanpa dosa, mengatakan bahwa ia ingin putus dariku. Konsentrasi dengan kuliah, ha! Bahkan semua orang pun tahu betapa omong kosongnya alasan itu. Dia begitu cerdas hingga dia bisa saja menghabiskan waktu hanya satu semester untuk seratus empat puluh SKS perkuliahan jurusan ini dengan IPK 4. Dia hanya menghabiskan waktunya saja di jurusan ini.

Tiga tahun usaha yang dikalahkan oleh sebaris pesan WhatsApp. Sudah selayaknya aku berjalan gontai seperti prajurit kalah perang. Apa lagi yang bisa kulakukan sehabis ini?

Aku melangkahkan kakiku mengikuti jalan utama kampus dan memasuki jalan setapak ke hutan hingga matahari terus bergeser ke barat dan kulitku tak lagi merasakan terik. Kerongkonganku mulai kering, dan kakiku mulai pegal, tapi aku tidak punya niat apa pun lagi selain terus berjalan. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan sesampainya di sana.

Jangan pertanyakan logika cerita ini dan apakah yang kukatakan masuk akal atau tidak. Aku ini pria patah hati. Barangkali aku hanya berhalusinasi, siapa tahu sejak tadi aku hanya berputar-putar di belakang gedung kuliahku, tidak berjalan sampai ke hutan. Tapi, anggap saja aku memang berjalan ke hutan. Karena itulah yang kupercayai. Kakiku menuju hutan, tidak ke mana-mana. Apalagi ke perempuan paling jahat sedunia itu.

Pada saat aku mempertanyakan kewarasanku sendirilah, aku terperosok ke dalam lubang. Lubang ini berada di jalur setapak, tertutupi oleh daun-daun kering waru yang besar. Seingatku, dahulu tak ada lubang di tengah jalur ini. Buat apa orang menggali lubang di tengah jalan setapak? Sekitar lima menit yang terasa bagai seumur bumi kemudian, bokongku jatuh berdebam di dasar lubang yang dihampari daun-daun kering.

Aku mengelus-elus pantatku yang terasa pedas. Mataku jelalatan meneliti keadaan di dasar lubang. Lubang ini seperti sebuah sumur kering. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi lumut tebal berwarna biru. Entah pengaruh zat apa hingga lumut itu berwarna biru. Cahaya mulai menyembunyikan diri dan pelan-pelan bergulir menjauh dari bibir sumur, dan aku ditelan kegelapan.

Aku menyeru ke bibir sumur, berharap seseorang mendengar teriakan keturunan Yusuf nan rupawan ini, tetapi aku hanya dibalas gema suaraku sendiri. Tanganku mencari-cari sesuatu yang bisa kujadikan pijakan untuk memanjat ke atas dan tidak menemukan apa pun kecuali lumut biru dingin yang bertekstur lembut seperti kue bolu.

Kampret! seruku.

Seekor kampret langsung melintas di atas langit malam yang mulai diterangi temaram sinar rembulan. Aku terbahak-bahak. Kebetulan macam apa itu, seekor kampret tiba-tiba melintas saat kupanggil? Bodoh sekali.

Bodoh sekali. Kenapa sejak tadi tak terlintas di pikiranku untuk mengeluarkan telepon genggam dan meminta bantuan seseorang? Kurasa patah hati bisa menurunkan IQ-mu hingga rendah sekali. Buru-buru, kuambil ponsel dan langsung mengumpat serta meninju dinding dengan kesal ketika melihat bar sinyal hanya berupa x berwarna merah.

Tinjuku yang tak seberapa kuat itu menggoyangkan batu bata hingga terlepas satu ke arah sebaliknya. Cahaya lemah menyeruak menyinari dasar lubang. Ini membuatku penasaran, dan aku sudah tidak lagi memikirkan mantan kekasihku yang tidak berperasaan itu.

Aku mengintip lewat lubang sebesar batu bata itu.

Kalian boleh menebak apa yang kulihat di sana.

Ayo tebak….

Bukan, rongga itu bukan lemari tempat penyimpanan emas. Kau salah besar.

RONGGA ITU RUANGAN BESAR PENUH EMAS PERMATA!

Aku berseru kesetanan. “Kaya raya! Aku akan kaya raya! Dan bapak juga gadis kurang ajar itu tidak bisa lagi meremehkanku. Aku akan menjadi raja di tempat ini dan semua orang akan tunduk pada perintahku!” Aku kembali tertawa terbahak.

Kali ini aku meninju dinding sumur dengan sekuat tenaga. Batu bata rapuh langsung berjatuhan, memperbesar lubang di dinding. Pemandangan yang kulihat semakin menarik saja. Ini seperti gua harta karun naga Smaug. Aku terkikik. Bedanya, aku yakin di tempat ini tidak ada naga. Para kurcaci itu sungguh malang. Mereka menghabiskan sebuah buku tebal dan tiga film dengan durasi panjang hingga bisa sampai ke istana harta karun Smaug. Sementara aku, hanya tinggal patah hati dan jatuh ke dalam lubang. Seperti Alice in Wonderland yang sangat beruntung.

Aku melempar ranselku terlebih dulu dan bergerak melata ke ruangan di seberang. Semakin masuk ruangan itu, semakin silau mataku. Hampir seluruh ruangan itu ditutupi oleh benda berkilauan. Ukurannya hanya sebesar kamarku, tetapi emas menggunung di sana. Koin-koin emas berjatuhan dari atap yang tidak terlalu tinggi, hingga membuat ruangan itu semakin rendah.

Saat seluruh tubuhku berhasil masuk, kulempar laptopku keluar ransel dan menggantinya dengan emas permata.

Aku tertawa puas.

Ranselku kini berat dengan logam mulia. Siapa bilang orang sepertiku tidak bisa tamak? Siapa pun bisa menjadi tamak ketika dihadapkan dengan seruangan penuh emas.

Sekarang, bagaimana caranya kembali ke peradaban?

Aku harus menemukan pintu. Kuketuk-ketuk dinding-dindingnya yang berlapis emas, berusaha menemukan sisi yang bisa didorong. Kudobrak setiap sisinya dengan lenganku, dan pada percobaan kesekian, tubuhku terlempar keluar.

Aku keluar dari sebuah pintu dan terjatuh di depan ranjang yang sangat kukenali. Ranjang di kamar kosku. Kupastikan aku masih membawa ransel berisi emas permata itu dan segera membukanya. Benda-benda berkilauan itu masih terdiam manis di dalamnya, dan aku tertawa lagi.

Ini benar-benar mukjizat. Aku tidak memercayai keberuntunganku. Kuambil permata paling indah dan cemerlang dari ranselku, memasukkannya ke dalam kotak, lalu menyembunyikan ranselku di dalam lemari terkunci. Aku harus menemui perempuan itu. Akan kuberikan permata terindah ini agar ia menyesal telah mencampakkan pemuda setampan dan sekaya aku. Setelah itu, aku akan mencampakkannya juga. Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun yang kuinginkan dengan semua permata yang kumiliki.

Langkahku lebar dan percaya diri ketika mendatangi rumah kos mantan kekasihku. Dia berada di kamarnya dan sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kaku dengan khusyuk. Gadis itu tampak kaget melihatku, tetapi dia segera menguasai diri setelah kelihatan berpikir bahwa wajar saja aku mendatanginya. Pasti aku ingin meminta kejelasan darinya.

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, aku memberikan kotak berisi permata sebesar bogem itu kepadanya.

Matanya membelalak ketika menerima kotak itu dariku. Namun, ekspresinya tak seperti yang kuinginkan waktu ia membuka kotaknya. Ia menjerit histeris dan melempar kembali hadiahku ke mukaku. Mulutnya yang merah jambu dan mungil itu menceracaukan semua makian kotor yang tidak layak keluar dari mulutnya yang manis.

“Kau jauh lebih hina daripada ketumbi[2] tahi ayam!” serunya, tanpa aku mengerti apa itu ketumbi.

Aku tidak peduli. Permataku masih banyak. Aku bisa melakukan banyak hal dengan permata-permata itu.

Pertama-tama, aku akan mendatangi induk semangku dan membayar kamar kosanku yang sudah menunggak dua bulan dengan sebongkah emas batangan. Kalau bisa, kubeli sekalian rumah kos-kosannya.

Namun, reaksi ibu kosku tidak jauh beda dari mantan kekasihku.

Begitu pun ketika aku pulang dan ingin memamerkan kekayaanku yang baru ini kepada Bapak.

Reaksi Bapak jauh lebih buruk dari mantan kekasih dan ibu kosku. Dia mengacung-acungkan golok sambil berteriak: Dasar anak tak tahu diuntung. Kenapa kau memberiku tahi? Anak kurang ajar!, kemudian terjatuh pingsan karena serangan jantung.

Terakhir, ketika aku mencoba membayar laptop baru dengan sebongkah emas. Mereka malah memanggil satpam.

Sekarang, tidak ada lagi yang mau berbicara kepadaku.

 

Antapani, 16 Mei 2014

 

*ditulis dalam rangka #tantangannulis satu jam dan bermain-main dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia bersama Nico Rosady, Erlin Natawiria, dan Andi @SuaraSuaraHujan

 

[1] Swaharga a rasa harga diri (kbbi)

[2] Ke.tum.bi n tahi yg penghabisan; — tahi ayam, ki orang yang sangat hina (kbbi)