Menulis Novel: Menggantung Pembaca di Tubir Jurang Kemudian Menyelamatkan Mereka

Salah satu kriteria cerita bagus adalah yang page-turner. Saat kamu baca, kamu tidak bisa berhenti. Setiap kamu mendapatkan informasi baru dari novel tersebut, ia menghadirkan pertanyaan lain di benakmu yang ingin segera kamu jawab (dengan cara membaca terus sampai habis).

Istilahnya, story question. Dalam setiap bagian, kita memberikan adegan atau informasi yang membuat pembaca bertanya-tanya, untuk kemudian dijawab di bagian berikutnya. Hal yang sama berlaku juga untuk serial TV. Pernah nggak sih, lagi maraton nonton serial TV, mata udah pedas karena udah berjam-jam menonton dan kita bertekad akan berhenti di akhir episode ini, tetapi gagal karena ending-nya bikin kita digantung di pinggir jurang! Kita mengintip bagian awal episode berikutnya, tetapi tetap nggak bisa berhenti karena bikin penasaran.

Terus, bagaimana sih membuat pembaca tertarik sama cerita kita? Buat mereka tergantung di bibir jurang akibat rasa penasaran, kemudian selamatkan mereka di bab berikutnya. Ini dia triknya:

Wonder

Buatlah pembaca bertanya-tanya dan mencemaskan nasib tokoh-tokohnya. Artinya, kita harus membuat pembaca peduli sama tokoh yang kita ciptakan. Caranya peduli? Perkenalkan tokoh-tokoh itu dengan baik, buat pembaca sedekat mungkin dengan si karakter, seburuk apa pun sifat dan kelakuannya.

Pivotal Moment

Mulai cerita dengan momen penting dalam hidup si tokoh. Misalnya: kematian seseorang, ujian, dilamar, dipecat, baru masuk sekolah, tiba-tiba diculik alien, hampir mati tenggelam, dll

Specific Details

Tulis detail spesifik yang bisa membuat pembaca bisa memvisualisasikan ceritamu. Kamu bisa menggunakan prinsip show, don’t tell.

Hold the Info

Cerita nggak akan asyik kalau kamu sudah memberitahukan semuanya di awal. Sebar informasi penting di sekujur cerita. Beri pembaca petunjuk-petunjuk penting yang mengarah ke ending. Kasih pembaca kesempatan untuk ikut menyelesaikan persoalan si tokoh.

Protagonist Goal

Sejak bagian awal cerita, kita harus menyampaikan tujuan utama si tokoh. Apa goal si karakter dalam cerita/konflik ini. Pembaca akan penasaran apakah tokoh berhasil mencapai tujuannya atau tidak.

Intriguing Character

Hindarilah membuat tokoh dan tujuan stereotip. Contoh: tokoh cowok playboy ganteng kaya raya bandel pinter tapi nggak pernah belajar yang jatuh takluk pada cewek alim wallflower pinter pendiam di luar radar itu SUDAH KEBANYAKAN DIPAKAI. Jadi, kamu bisa berhenti menulis cerita itu.

Unusual Situation

Mulai cerita dengan situasi yang tidak biasa.

Compelling Narative Voice

Tulis dengan narasi yang menarik. Kamu bisa memanfaatkan majas di sini. Tulis sebaik mungkin dengan bahasa Indonesia sebaik mungkin. Mengutip Windry Ramadhina dalam salah satu pembicaraan kami (dengan penyesuaian struktur kalimat), kita meminjam bahasa untuk mengekspresikan cerita di kepala kita. Jadi, kita harus menghargai bahasa.

Setelah menulis bagian awal (yang sangat penting, karena itu adalah gerbang yang membuat pembaca memutuskan apakah akan lanjut atau mencari novel lain), bagian berikutnya adalah cara menutup bab dengan asyik. Kalau dalam bahasa Inggris, istilahnya cliffhanger (makanya judul tulisan ini menggantung pembaca di bibir jurang).

Hal-hal di bawah ini adalah adegan atau narasi yang bisa kamu tulis untuk menutup babmu:

Pertanyaan Provokatif

Pertanyaan ini bisa berupa pertanyaan dalam benak si tokoh, pertanyaan naratif, atau pertanyaan antara tokoh-tokoh dalam cerita. Gaya ini paling cocok kalau si pembaca juga sudah dibuat bertanya-tanya.

Misalnya, cerita di bab 1, ada tokoh yang menghilang. Di akhir bab, kita bisa menulis: ke mana si tokoh? di mana si tokoh? apakah dia kabur ataukah diculik? kalau diculik, kira-kira siapa pelakunya? apa motif pelaku, dll dll.

Pernyataan akan adanya sebuah fakta baru atau tuduhan

Gunakan cliffhanger ini untuk mengonfrontasi tokoh lain dengan informasi yang menghancurkan atau mengumumkan berita yang bisa mengubah hidup. Contohnya: akhiri bab dengan dialog: “Aku hamil.”

Gaya ini biasanya menciptakan ketegangan emosional dan mengarahkan cerita pada komplikasi plot selanjutnya.

Deskripsi pembuka bab berikutnya

Ini adalah teknik misteri, biasanya digunakan untuk mengungkap adanya mayat di akhir sebuah bab. Tipe ini sering kali mengarah pada fase introspektif dalam cerita. Cliffhanger yang deskriptif menandai adanya awal sebuah garis cerita baru, atau ketika cerita berputar balik.

Tuntutan akan adanya aksi atau respons

Gaya ini menekankan pada kejadian dalam hidup tokoh yang nggak mungkin diabaikan. Contoh: tiba-tiba polisi muncul dan menyuruh mobil yang dikendarai si tokoh menepi. Mau tidak mau, si tokoh akan menghentikan mobilnya di bab berikutnya.

Kebutuhan akan adanya aksi bagus untuk mengarahkan cerita ke peristiwa utama.

Adegan ciuman, Hampir-ciuman, dan tamparan

Metode ini seringnya dipakai di genre romance untuk membantu meningkatkan ketegangan emosional antarkarakternya. Variasi lain dari gaya ini adalah terbongkarnya identitas palsu, atau hadiah yang ditolak.

Sebuah objek misterius atau benda yang hilang

Metode ini baik digunakan di awal klimaks akhir, tetapi oke juga dipakai di bagian tengah buku untuk menambah komplikasi. Contohnya: saat Beck di novel/serial You menemukan kotak rahasia milik Joe di loteng kamar mandi.

Foreshadowing

Kita dapat menggunakan metode ini ketika si tokoh sedang berada dalam persimpangan atau ketika perubahan besar dalam plot akan datang. Metode ini baik digunakan di tahapan mana pun dalam cerita.

Sebuah janji atau deklarasi

Biasanya, ini adalah niat si tokoh untuk melakukan aksi. Contoh: “Aku akan membalaskan dendam kematian ayahku!”

Biasanya, cliffhanger ini akan diikuti dengan katarsis emosional atau perasaan terpojok. Jenis ini selalu mengubah jalan hidup si tokoh.

Nah, apakah ceritamu sudah cukup menarik untuk menggantung pembaca di tubir jurang?

Coba, aku mau baca.

Advertisements

Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm

Yaw, tumben-tumbenan saya menulis dua post dalam dua hari berturut-turut. Biasanya nunggu berbulan-bulan baru inget, eh, udah lama nggak nulis. Setelah sebelumnya membahas basic plot point dalam novel romance, sekarang kita bahas caranya.

Ada beberapa metode menulis novel romance dan kita bebas mau pilih metode mana pun, tergantung yang paling cocok buat kita.

Bagaimana menciptakan plot romance yang kuat? Pertama-tama, kita harus memastikan bagaimana romansa diperkenalkan, dibangun, dan diselesaikan dengan cara yang masuk akal dan menarik secara emosional. Ada beberapa penulis yang memilih mengikuti three-act paradigm atau metode five-act structure. Ada yang menggunakan metode The Hero’s Journey.

Selain ketiga metode di atas yang ada di buku Plot Development for Romance Novels, ada juga metode DABGA (Denial, Anger, Bargaining, Guilt, Acceptance) yang saya dapatkan dari Christian Simamora waktu masih ngantor di GagasMedia.

Kita bahas satu-satu, ya.

Three-Act Paradigm

Continue reading “Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm”

Trik Menulis Novel Romance

Romance adalah genre novel yang paling populer. Menurut Romance Writers of America, industri fiksi romance menghasilkan 1.08 miliar dolar per tahun, hampir sama dengan genre novel misteri dan genre fiksi sains/fantasi digabungkan. Novel-novel romance secara reguler menempati daftar best seller di New York Times, Publishers Weekly, dan USA Today, serta memiliki pembaca setia.

Di Indonesia sendiri, genre ini mendominasi toko-toko buku dibandingkan genre-genre lain. Saya nggak punya datanya, tapi sekali lihat saja tiap ke toko buku, tiap melewati rak fiksi, pasti mayoritas isinya romance.

Saya membaca beberapa penelitian tentang novel romance ini 7 tahunan lalu dan ketika cari-cari lagi data terbaru, nggak banyak yang berubah soal perbandingan tingkat laku enggaknya genre novel. Romance selalu menempati peringkat atas dalam hal penjualan.

Nah, apakah itu berarti menulis novel romance mudah dan cetek? OH, TENTU TIDAK, KISANAK. Kemudian, karena romance itu laku, persaingannya juga jadi semakin ketat (baik bersaing diterima editor maupun bersaing diterima pasar)

Ciri Khas Novel Romance

Continue reading “Trik Menulis Novel Romance”

Gunakan Plot Twist Ini Untuk Membuat Ceritamu Lebih Seru!

Setelah lama nggak ngajar workshop, Sabtu (17/11) kemarin saya ngisi kelas kecil dalam rangka diskusi dan launching buku “Sirkus” karya Abi Ardianda. Ini adalah buku kumpulan cerpen pertama Abi. Waktu diminta ngisi kelas sama Abi, sebenernya masih bingung mau bahas apaan. Hahaha. Namun, setelah membaca cerpen-cerpennya dan baca komentar-komentar pembaca di IG Storiesnya Abi, baru kepikiran kalau bikin kelas plot twist aja. Iya, karena pembaca-pembacanya banyak yang kaget waktu baca ending cerpen-cerpennya. 

Sebenarnya, plot twist itu apaan, sih? Sepenting apa adanya plot twist dalam cerita? 

Intinya, plot twist adalah perubahan arah/pengembangan kisah yang tidak terduga dalam cerita.

Plot twist biasanya dipakai dalam cerpen, atau novel-novel misteri, thriller, detektif. Kita tidak selalu membutuhkan plot twist dalam cerpen, tetapi dalam genre yang saya sebutkan tadi, saya rasa plot twist penting banget.

Plot twist yang baik adalah yang bisa bikin pembaca memikirkannya terus-terusan, bahkan ketika udah menyelesaikan buku itu selama berhari-hari. Pernah kan ya, habis baca buku bengong karena kaget, terus nggak bisa move on dan enggan baca buku lain saking terikatnya sama cerita itu dan kagum pada kemampuan si penulis mengubrak-abrik kepala kita? Continue reading “Gunakan Plot Twist Ini Untuk Membuat Ceritamu Lebih Seru!”

7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah: Continue reading “7 Pilar Cerita Thriller”