Writing

7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah:

  1. Highstakes: dalam cerita thriller yang baik, selalu ada kehidupan yang dipertaruhkan, terkadang bisa jadi kehidupan semua manusia di muka bumi (ingat cerita-cerita soal “kiamat” dan si tokoh utama/hero harus menyelamatkan dunia). Dalam novel Pretty Girls, tentu ada kehidupan yang dipertaruhkan. Kita dibuat deg-degan apakah tokoh-tokoh utamanya akan bertahan hidup melawan si penjahat.
  2. Unity of Opposites. Saat kamu memiliki kesatuan yang berlawanan, si hero tidak bisa menghindar dari tantangan. Sering kali, pembaca bakalan bertanya: kenapa ga pergi aja sih dari situasi itu? Kenapa malah berlari menyongsong bahaya? Nah, unity of opposites ini adalah keadaan ketika si tokoh mau tidak mau harus menyelesaikan masalah itu. Contoh: Charlie dalam novel The Good Daughter (Karin Slaughter), malah menyongsong suara tembakan–bukan menghindarinya, dan itulah yang membuat peristiwa demi peristiwa berikutnya terjadi.
  3. Seemingly Impossible Odds. Buatlah situasi dalam cerita tang membuat si hero/pahlawan tampak tidak bisa menghindar/mengalahkan si penjahat. Dalam Pretty Girls, salah satu tokoh utamanya tertangkap dan sepertinya dia tidak bakal bisa melarikan diri dari sekapan si penjahat.
  4. Moral Struggle. Si tokoh berada dalam pertempuran hidup dan mati dengan kejahatan. Saat si tokoh yang saya sebutkan di nomor 3 disekap, kita tidak tahu apakah dia akan bertahan hidup atau tidak.
  5. Ticking Clock. Beri deadline. Si pahlawan harus diberi tenggat waktu, kalau tidak, usahanya akan gagal. Contoh: dalam novel Pretty Girls, adik si tokoh yang disekap punya waktu sedikit untuk menyelamatkan kakaknya.
  6. Menace. Si tokoh-tokoh “baik” harus selalu berada dalam keadaan yang mengancam nyawa. Sepanjang cerita, novel Pretty Girls bikin deg-degan terus. Informasi baru yang disuguhkan membuat pembaca melongo, dan saya sebagai pembaca berasa seperti si tokoh protagonisnya–dikejar-kejar dan selalu ketakutan.
  7. Thriller type character. Semua tokoh, baik protagonis maupun antagonisnya harus cerdas dan cerdik. Tokoh antagonis di Pretty Girls jahatnya keterlaluan, dan dia cerdik. Dia sudah melakukan kejahatan yang sama selama bertahun-tahun dan tidak tertangkap polisi. Dia tahu cara menghindari jeratan hukum.

Kalau kamu sedang menulis naskah thriller, coba baca lagi, apakah ceritamu sudah memiliki ketujuh pilar di atas?

 

Advertisements
Writing

4 Macam Sudut Pandang Orang Ketiga (PoV 3)

Empat tahun lalu, saya pernah menulis soal “Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel“, dan ternyata masih utang penjelasan soal PoV 3 *tutup muka*.

Entah kenapa, topik sudut pandang ini ternyata yang paling dicari di blog ini. Nah, biar lebih lengkap, saya akan mengulas lagi topik ini dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Hindari(2).png

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV (Point of View) atau Sudut Pandang. Siapa narator yang menceritakan kisah yang kamu tuliskan? Apakah ceritamu dituturkan oleh aku atau narator yang tidak ikut berperan dalam kisahnya?

Tanyakan kepada dirimu: “siapa yang bisa menceritakan kisah ini dengan cara paling baik?” Sudut pandang yang kamu pilih akan menentukan suara naratif dan itu hal yang krusial.

Apa saja, sih, sudut pandang dalam novel itu?

Secara umum, ada tiga jenis sudut pandang atau PoV, yaitu: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang kedua lebih sulit dituliskan dan jarang pula digunakan dalam novel, jadi kita tidak usah membahasnya dalam tulisan ini, ya.

PoV 1

Sudut pandang orang pertama bercerita dengan penutur aku. Pembaca hanya melihat apa yang dilihat oleh si narator yang biasanya tokoh utama (dalam beberapa kasus, ada juga penulis yang menggunakan narator aku untuk menceritakan kawan dekatnya. Misalnya: Sherlock Holmes diceritakan dari sudut pandang Watson atau Nick Carraway yang bercerita tentang Gatsby).

Sudut pandang orang pertama cocok untuk novel-novel yang tidak memiliki banyak tokoh dan konfliknya hanya berkisar pada satu tokoh saja, misalnya pada novel-novel romance. Sudut pandang ini membuat pembaca merasakan kedekatan dengan si tokoh karena merasa seperti sedang berbicara langsung dengan si tokoh. Selain itu, pembaca juga bisa ikut merasakan apa yang dirasakan si tokoh dan mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan olehnya, begitu juga hal-hal yang berkecamuk dalam benak si tokoh.

Namun, sudut pandang ini juga memiliki kelemahan. Ketika memilih sudut pandang orang pertama, kita tidak bisa mendatangi tempat-tempat atau adegan-adegan yang tidak didatangi atau dialami si tokoh utama (narator). Walaupun begitu, informasi atau peristiwa yang terjadi saat si tokoh tidak ada bisa disampaikan dalam dialog dengan tokoh lain.

Pagi sebelum kami resmi menjadi suami istri, aku sempat ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimana kalau dia bukanlah pasangan yang terbaik untukku? Bagaimana kalau ternyata anaknya selama ini hanya berpura-pura menyukaiku?

(si narator, aku, meragukan keputusannya menikah).

PoV 3

Sudut pandang lain yang sering dipakai dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga (kita menceritakan dia atau ia). Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah, kita bisa bercerita tentang semua tokoh yang memajukan cerita, seolah-olah narator berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti para tokoh. Namun, saat menggunakan sudut pandang orang ketiga, sering kali apa yang dipikirkan si tokoh tidak bisa diketahui oleh narator.

Malam sebelum pernikahannya diresmikan, Lara mengenang semua kegagalan percintaannya di masa lalu dan bercerita kepada sahabatnya, Jane. Namun, belum sempat bercerita banyak, Jane berkata agar Lara tidak perlu memikirkan masa lalu karena esok, semua patah hati yang pernah dirasakannya akan terbayar. Lara akan bahagia bersama pria itu.

Nah, PoV 3 ini ada macam-macam lagi.

sudut pandang.png

  1. Sudut Pandang Objektif

Sudut pandang objektif ini berarti narator berada di luar karakter dan penulis enggak tahu isi hati/isi pikiran si tokoh. Penulis adalah reporter atau pelapor. Biasanya, sudut pandang objektif digunakan saat ingin menciptakan aura misterius dari si tokoh–kita cuma bisa melihat dari luar. Kalau sering-sering menggunakan PoV jenis ini, biasanya pembaca cepat bosan karena mereka menginginkan kedekatan dengan si tokoh.

Gino terbangun pukul dua pagi. Dia berdiri dan menghampiri lemari obat, lalu mengambil beberapa butir pil dan menelannya tanpa air. Setelah itu, dia berpakaian dan mengambil pistol dari lemarinya. Pistol itu dia sembunyikan di balik saku jasnya. Dengan gegas, dia menuruni tangga menuju pintu depan, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah toko perhiasan.

Dari deskripsi di atas, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Gino. Namun, kita bisa mengira-ngira dari apa yang kronologinya. Mungkin dia berniat merampok toko perhiasan.

Menurut saya, sudut pandang jenis ini tidak akan cocok jika dipakai menulis romance, karena bukankah apa yang dicari pembaca romance adalah perasaan dan kedekatan dengan si tokoh?

2. Sudut Pandang Objektif yang Dimodifikasi

Salah satu cara untuk meraih kedekatan dengan pembaca adalah dengan menggunakan sudut pandang objektif yang dimodifikasi. Si narator tidak menyebut kalau dirinya tahu apa yang dipikirkan si tokoh, tetapi mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang ada dalam benaknya.

Aura terbangun dengan kelelahan. Mungkin dia bermimpi buruk, atau mungkin juga dia terkena flu. Semalam, saat dia berjalan-jalan dengan Martin, angin berembus sangat kencang dan dia tidak membawa jaket.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu

Saat narator mengungkapkan apa yang terjadi dalam kepala si tokoh, cerita itu ditulis dengan sudut pandang omniscient atau serbatahu. Sudut pandang ini sangat populer pada novel-novel di zaman Victoria. Perhatian utama novelis Victorian adalah
masyarakat. Cara terbaik untuk memahami masyarakat adalah dengan memiliki akses terhadap pikiran dan motif setiap tokoh.

Henry tiba pukul dua pagi dengan tubuh menggigil dan lemah (keadaan tubuhnya adalah sudut pandang Henry). Catherine menyapanya di pintu, berpikir kalau suaminya tampak seperti tikus yang habis tenggelam di got (pemikiran Catherine).

4. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Sudut pandang ini adalah POV paling mudah untuk penulis pemula. Sederhananya seperti ini: pengarang memiliki hak untuk memasuki kepala hanya tokoh-tokoh tertentu saja. Tokoh-tokoh terpilih ini, biasanya protagonis dan beberapa tokoh penting lainnya, disebut “viewpoint character”.

Contoh: novel The Good Daughter karya Karin Slaughter, atau Big Little Lies karya Liane Moriarty.

Nah, bolehkah kita mencampur beberapa sudut pandang dalam satu novel?

Boleh, kalau ada tujuannya. Kalau cuma buat keren-kerenan tapi malah membuat pembaca bingung, sebaiknya tidak. Human Acts karya Han Kang menggunakan tiga sudut pandang sekaligus (PoV 1, 2, dan 3), dan bisa tetap keren. Syaratnya, gunakan satu sudut pandang dalam satu bab atau satu bagian, jangan dicampur-campur agar tidak membingungkan.

Kemudian, jika kita sudah memilih menggunakan PoV 1, jangan sampai ada sudut pandang bocor (tiba-tiba menceritakan tokoh yang bukan narator)

Semoga penjelasan soal sudut pandang ini menyalakan ide di kepalamu, ya.

Selamat menulis.

 

Writing

4 Langkah Membuat Pembaca Terhanyut

istilah(1).png

Penulis fiksi yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca terhanyut ke dalam dunia rekaan yang diciptakan si pengarang. Tujuan orang membaca fiksi adalah untuk bersenang-senang, agar bisa berpindah sejenak dari realitas kehidupannya. Artinya, pembaca ingin melupakan dirinya dan dunianya sebentar dan menikmati kehidupan lain yang ditawarkan oleh cerita fiksi. Jika penulis tidak berhasil memindahkan pembaca, berarti ada yang salah dengan cara bertutur kita.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendeskripsikan sesuatu. Hampir semua buku panduan menulis mensyaratkan show, don’t tell. Contoh telling itu seperti ini:

Lora membuka pintu dan mendapati ruangan itu kotor.

Kita tidak tahu sekotor apa ruangan itu. Ada apa saja di sana, bagaimana keadaannya, bagaimana baunya, bagaimana perasaan Lora saat mendapati ruangan tersebut, dll. Ruangan itu kotor, dan ya sudah. Bandingkan dengan penjelasan ini:

Lora membuka pintu dan sontak mengerutkan hidung. Aroma sampah dan makanan basi menyeruak menyerbu penciumannya. Lalat-lalat berdengung-dengung di atas keresek hitam yang terburai isinya, memperlihatkan nasi basi yang warnanya sudah berubah oranye kehitaman.

Lebih terbayang?

Sip.

Begitu kamu sudah menguasai cara menulis showing dengan menyisipkan semua pancaindra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, peraba), langkah berikutnya adalah melibatkan pembaca secara emosi dengan tokoh-tokoh yang kamu ciptakan dalam novelmu.

Pertama. Buat pembaca bersimpati kepada tokohmu.

Kamu tidak perlu membuat tokoh supersuci, superbaik, supermanis, supercantik, superkaya, dan sejenisnya untuk membuat pembacamu bersimpati. Kita buat contohnya dari novel Carrie karya Stephen King saja, ya.

Stephen King memperkenalkan Carrie sebagai katak di antara angsa-angsa. Adegan pertama dalam novel ini bercerita tentang gadis-gadis SMA yang sedang mandi setelah pelajaran Olahraga dan Carrie adalah satu-satunya gadis yang tidak seperti yang lainnya. Dia buruk rupa: gemuk, berjerawat, dan objek perundungan. Di salah satu meja sekolahnya, ada grafiti bertuliskan: Carrie makan kotoran.

Penggambaran tersebut membuat pembaca bersimpati; kasihan, Carrie jelek dan dirisak.

Ada beberapa situasi yang akan menimbulkan simpati di benak pembaca, yaitu kesepian, tunaasmara (ceileh tunaasmara) atau tidak dicintai, dipermalukan, direpresi atau ditekan, dalam  bahaya, privasi terlanggar–pokoknya, apa pun yang membuat si tokoh menderita secara fisik, mental, maupun spiritual.

Simpati adalah pintu masuk yang akan mengundang pembaca terlibat secara emosional dalam cerita kita. Berikutnya,

buat pembaca mengidentifikasikan diri dengan si tokoh.

Identifikasi muncul ketika pembaca bukan hanya bersimpati dengan si tokoh, tetapi juga mendukung tokoh-tokoh kita ini mencapai tujuan dan keinginannya (wants and needs). Para pembaca ini juga memiliki keinginan kuat agar si tokoh mencapai keinginannya tersebut.

Dalam Carrie, pembaca mendukung keinginan Carrie untuk datang ke pesta prom walaupun ibunya yang tiran melarangnya.

Bahkan, ketika kamu menulis tokoh jahat yang sedang dipenjara sekalipun, kita bisa membuat pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu. Misalnya, selama di penjara dia disiksa dan diperlakukan dengan buruk. Walaupun pembaca tahu kalau dalam kehidupan sebelumnya dia sangat jahat, tetapi tetap saja, saat si penulis menggambarkan betapa buruknya dia diperlakukan, pembaca bisa mendukung keinginan si tokoh untuk melarikan diri. Caranya adalah, dengan memberi si tokoh tujuan mulia. Misalnya, dia ingin melarikan diri demi bisa bertemu anaknya dan dia sudah bertobat atas kelakuan jahatnya di masa lalu.

Ketiga, buat pembaca berempati

Meskipun merasa kasihan kepada tokoh yang mengalami kemalangan, pembaca mungkin tidak akan merasakan kesengsaraan tersebut. Namun, dengan berempati kepada si tokoh, pembaca akan merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Empati adalah emosi yang lebih kuat daripada simpati.

Contohnya: suami yang berempati saat istrinya melahirkan. Si suami bukan hanya bersimpati, tetapi dia juga menderita rasa sakit sungguhan.

Bagaimana penulis fiksi bisa membuat pembaca berempati?

Lakukan dengan kekuatan sugesti. Gunakan detail-detail yang memicu emosi. Dengan kata lain, kamu menciptakan dunia cerita sedemikian rupa hingga pembaca bisa menempatkan diri dalam keadaan si tokoh.

Langkah terakhir, memindahkan pembaca.

Saat pembaca sudah merasakan simpati, identifikasi, dan empati, pindahkan pembaca ke dalam semacam gelembung, hingga seolah-olah dia sudah berada dalam dunia fiksi dan melupakan dunia nyata.

Saat membaca, apa kamu pernah begitu terhanyut hingga harus diguncang dan diteriaki beberapa kali hingga akhirnya merespons?

Dunia nyata di sekeliling pembaca meluruh memudar. Ini adalah tujuan utama penulis fiksi: membawa pembaca ke satu titik saat dirinya benar-benar terserap di dunia fiktif bersama para tokoh dan universe mereka.

Bagaimana membuat membaca masuk gelembung dunia fiksi itu? Jawabannya adalah: konflik batin.

Konflik batin adalah badai yang berkecamuk dalam diri: keraguan, rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dll. Setelah bersimpati, mengidentifikasikan diri, berempati dengan si tokoh, pembaca juga akan ikut merasakan konflik batin si tokoh. Pembaca ikut memikirkan apa yang harus dilakukan agar si tokoh keluar dari konflik batin dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Pembaca terlibat secara aktif, seolah-olah, masalah si tokoh adalah masalah dirinya yang harus diselesaikan.

***

Nah, selanjutnya, agar si pembaca tetap terhanyut, buat suspense atau ketegangan terus meningkat.

Namun, itu bahasan yang lain lagi.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya!

 

Writing

Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Kelas, Writing

Menulis Bagian Awal Novel: 9 Hal yang Sebaiknya TIDAK Dilakukan

Walaupun sudah enggak bekerja di satu penerbitan lagi, saya masih membantu beberapa penerbit dan penulis memoles naskah novel. Dari naskah-naskah yang saya terima, bagian yang paling menentukan adalah bab-bab awal. Paling tidak, tiga bab pertama. Tiga bagian ini bukan hanya membantu naskahmu diterima penerbit untuk diterbitkan, tetapi juga mengikat pembaca.

Berbeda dengan editor bayaran (seperti saya) yang dipaksa membaca sampai akhir, pembaca enggak akan repot-repot meneruskan baca kalau bab-bab awalnya enggak menarik. Enggak menarik, enggak majuin cerita, enggak ngasih petunjuk ini mau nyeritain apa, enggak jelas nyeritain siapa.

Nah, saya baru mengerjakan naskah yang fokus ceritanya muluuuuuuuuur banget sampai ke halaman 100. *fiuh*. Seratus halaman pertama ngalor-ngidul nyeritain macam-macam, padahal fokusnya bukan itu. Bagian awal atau perkenalan ini sebaiknya hanya 3-4 bab, enggak lebih dari 40-50-an halaman.

Gara-gara itu, saya jadi googling soal menulis bagian awal novel dan dapat artikel dari blog Natasha Lester. Ini adalah sembilan hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika menulis bagian awal novelmu. Kalau kamu pengin lebih lengkap, kamu bisa googling sendiri soal menulis bagian awal novel, tapi menurutku, enggak akan jauh-jauh beda dari yang ditulis Mbak Lester ini, sih.

  1. Backstory

Backstory adalah informasi tentang latar belakang karaktermu, bisa jadi latar belakang peristiwa dari ceritamu, atau latar belakang hubungan utama dalam cerita.

Pembaca ingin mengenal tokoh-tokoh dalam novel seperti kita mengenal orang sungguhan. Kita tidak mengenal semua hal tentang seseorang pada pertemuan pertama. Mencari tahu dan menemukan hal-hal menarik dari kenalan kita adalah bagian menyenangkan dari sebuah hubungan. Ga seru juga sih, ketemu sama calon pacar yang kita udah tahu luar-dalam soal dia. Apanya yang bikin penasaran?

Backstory melambatkan cerita. Gunakan itu ketika kamu membutuhkan momen untuk menurunkan ketegangan. Awal novelmu harus aksi yang terus maju.

2. Mimpi

Tidak ada yang lebih buruk ketika kau membaca sebuah bab, dengan mencekam, dan tiba-tiba si tokoh terbangun di bab dua dan mengatakan kalau semua itu hanyalah mimpi. Mimpi tidak bisa membuat pembaca membentuk koneksi dengan karakter-karaktermu ataupun kejadian-kejadian dalam cerita.

3. Deskripsi berlebihan

Pembaca tidak membutuhkan deskripsi mendetail tentang seting dan wilayah di tiga bab pertama. Sebar informasi soal ini lewat sudut pandang si karakter ketimbang memperlihatkannya dari mata segala tahu, karena paling tidak, kita akan mempelajari soal si tokoh dari caranya mendeskripsikan seting.

4. Gagal fokus

Hal-hal yang bisa menyebabkan kurang fokus antara lain:

  • kebanyakan tokoh
  • terlalu banyak peristiwa, misalnya pindah ke narasi lain terlalu cepat sebelum menguatkan untaian narasi sebelumnya.
  • pindah-pindah antara satu pov ke pov lain.
  • terlalu banyak lokasi/tempat

Kamu pengin pembaca kamu betah di tiga bab pertama daripada bikin mereka bosan dan disorientasi tanpa tahu harus fokus ke karakter mana dan kejadian-kejadian apa yang penting.

5. Membuat daftar belanjaan

Eh, apa-apaan kok nulis daftar belanjaan di novel? Gini contohnya:

Rambutnya yang sedikit panjang dan bergelombang selalu dia biarkan terurai. Poninya tebal, wajahnya bulat. Bibirnya kecil, selalu dilapisi dengan lipstik merah muda yang segar. 

Daripada menulis daftar sifat semacam itu, lebih baik informasi tersebut dimasukkan ke aksi. Contohnya gini:

Gadis itu itu menoleh, rambut panjangnya yang bergelombang terayun. Matanya menyipit saat dia mencari sumber suara, hingga membuat wajahnya yang dibingkai poni tebal tampak semakin imut. Bibirnya yang dipulas lipstik merah muda langsung membentuk garis lengkung begitu dia menyadari akulah yang memanggilnya.

(ini juga sejalan dengan konsep show don’t tell)

6. Tokohnya tidak melakukan apa pun

Mencuci piring, menatap jendela, memandang pantulan diri di cermin; tindakan-tindakan ini sebaiknya tidak ada di tiga bab pertama novelmu.

Pikirkan kehidupan nyata. Memangnya kamu mau memperhatikan orang mencuci piring? Males, kan? Jadi, kenapa pembaca mau?

Pastikan tiga bab pertama ini berisi hal-hal penting. Tindakan-tindakan yang akan berlanjut/berpengaruh pada cerita berikutnya. Ya, kecuali habis mencuci piring, alien tiba-tiba muncul di dapur dan dari situlah ceritanya bermula. Si mbak-mbak lagi cuci piring, alien muncul di dapur, kemudian si mbak diculik untuk menjadi tukang cuci piring di piring terbang. *eh*

7. Si tokoh sedang melamun di masa sekarang

PERLIHATKAN situasi mereka. Jika si tokoh berada dalam hubungan penuh kekerasan, perlihatkan ketika pasangannya melakukan kekerasan dan perlihatkan efek yang ditimbulkan kepada si tokoh. Jika mereka malu, dapatkah kamu memperlihatkan rasa malu itu kepada pembaca?

Jadi, bukan adegan si tokoh melamun sambil memikirkan hubungan abusive itu, yaps.

8. Flashback

Ini nanti aja. Jangan di tiga bab pertama. Pembaca butuh mengenal si tokoh pada masa sekarang sebelum meloncat ke masa lalu.

9. Menyuapi pembaca

Percayalah kepada pembacamu. Mereka enggak perlu tahu segalanya di tiga bab pertama. Bahkan, mereka enggak mau tahu segalanya. Alasan mereka membaca bukumu adalah mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena membaca tiga bab pertama yang keren.

Simpan informasi, kasih sedikit-sedikit. Pastikan ini menciptakan pertanyaan dramatis yang kepengin banget terjawab–di akhir buku!

Jadi, apakah bagian awal novelmu mengandung hal-hal itu? Kalau iya, sebaiknya revisi segera, sebelum dikirim ke penerbit. Jika tidak yakin, kamu bisa mengonsultasikan naskahmu via jiaeffendie@gmail.com
~Jia
Writing

8 Hal yang Sebaiknya Kaulakukan Sebelum Mengirim Naskah Novelmu ke Penerbit

Ingat, kalau kata Hemingway, the first draft of anything is shit. Jadi, jangan langsung kirim naskah ke penerbit begitu kamu selesai menulis. Pastikan naskah yang kamu setorkan sudah bersih. Bersih dari apa saja, sih? Salah ketik, logika bolong, karakter datar, deskripsi membosankan, dll dll. Kan sayang, sudah capai-capai menulis, tapi enggak ada satu pun penerbit yang mau mengadopsi naskahmu.

images-2

Jadi, ritual apa, sih yang harus dilakukan sebelum mengirim naskah ke penerbit? Yang pasti, tidak perlu gosok-gosok batu akik dulu biar dibantu jin di dalamnya.

  1. Peram naskahmu

Ketika kamu mengetik huruf terakhir dari karya masterpiece-mu, peram selama beberapa hari. Jika kamu “tahan” berpisah darinya, simpan selama seminggu atau lebih. Setiap hari menulis dan bergelut dengan karakter dan semua hal dalam naskahmu membuat kamu tidak berjarak dengannya, sehingga kamu tidak bisa melihat kesalahan-kesalahan kecil yang ada di dalamnya.

Memeram naskah juga membuatmu melupakan semua yang telah kautulis, jadi ketika kamu melakukan swasunting, buku itu menjadi seolah-olah ditulis oleh orang lain.

  1. Cetak naskahmu atau bacakan keras-keras

Sering kali, membaca di atas kertas membuatmu lebih teliti ketimbang menatap layar komputer. Bagi sebagian lainnya, mendengarkan teks keras-keras membuat kesalahan itu terasa.

Membacakan teks keras-keras bisa kamu lakukan jika kamu cukup sabar dan punya persediaan segalon air.

  1. Cari kata-kata yang sering bermasalah

Banyak penulis yang salah kaprah menuliskan kata bahasa Indonesia, atau tidak bisa membedakan di- sebagai preposisi dan di- sebagai imbuhan, atau tidak bisa memberikan imbuhan yang tepat untuk sebuah kata.

Di bawah ini, saya tuliskan kata-kata yang sering kali salah.

Benar/baku Salah/tidak baku
andal handal
adang hadang
analisis analisa
aktif aktiv
aktivitas aktifitas
antre antri
apotek apotik
apalagi apa lagi
astronaut astronot
batin bathin
beledu beludru
berengsek brengsek
beterbangan berterbangan
cedera cidera
cengkeram cengkram
cicip icip
daripada dari pada
di mana dimana
di sana disana
ekstrem ekstrim
energi enerji
familier familiar
frustrasi frustasi
hafal hapal
hipotesis hipotesa
imbau himbau
ingar hingar
impit himpit
izin ijin
jerembap jerembab
jadwal jadual
kacamata kaca mata
kantong kantung
ke mana kemana
kemari ke mari
khusyuk khusyu’
kreativitas kreatifitas
kuitansi kwitansi
lembap lembab
makhluk mahluk
menyontek (kata dasar sontek) mencontek
menerjemahkan menterjemahkan
memperhatikan memerhatikan
miliar milyar
nomor nomer
objek obyek
orisinal orisinil
paham faham
peduli perduli
personel personil
rapi rapih
risi risih
resek rese
respons respon
risiko resiko
serdawa sendawa
saksama seksama
sekadar sekedar
saraf syaraf
semringah sumringah
sopir supir
sirop sirup
sutra sutera
tampak nampak
telantar terlantar
telanjur terlanjur
telentang terlentang
tenteram tentram
ubah rubah
… dan masiiih banyak lagi

Lengkapnya, belilah buku EYD (Ejaan yang Disempurnakan), biasanya ada di rak-rak bahasa di rantai toko buku terbesar di Indonesia itu. Jika kamu belum punya EYD, Tesaurus, atau KBBI Edisi IV, tapi ada koneksi internet, kamu bisa mencarinya secara daring di laman KBBI atau kateglo. Jika tidak ada koneksi internet dan kamu tidak yakin apakah kata yang kamu tulis sudah benar, gunakan kata yang lain.

  1. Hapus atau ganti kata yang seriiing sekali kamu gunakan

Apa kamu tahu 10 kata yang paling sering kamu gunakan dalam naskahmu? (ini minus preposisi dan kata-kata penting lain). Kamu mungkin terkejut melihat kata yang sering sekali kamu gunakan. Inilah pentingnya memiliki KBBI dan Tesaurus. Kata yang terlalu sering muncul itu bisa kamu ganti dengan sinonimnya.

  1. Hapus semua spasi ganda

Seperti   ini, contohnya.

Ganggu, kan?

Jika kamu menggunakan Microsoft Word dan kesulitan (baca: malas) mencari satu-satu, gunakan find-and-replace. Ketik dua kali spasi di “find”, dan satu spasi di “replace”, lalu tekan enter. Ini biar kamu enggak usah menghapus spasinya satu per satu.

  1. Cari tanda baca bermasalah

Saya sering menemukan kalimat yang panjaaaaang sekali, dan dipisahkan dengan koma-koma-koma sampai saya koma membacanya. Padahal, kalimat tersebut sudah tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya, kamu memenggal kalimat-kalimat panjang itu. Ganti koma dengan titik.

Selain itu, hindari menggunakan terlalu banyak tanda seru. Kalimatmu tidak perlu dikasih pagar banyak-banyak.

  1. Format naskahmu sesuai persyaratan dari penerbit.
  • Kirim naskahmu dalam format Word (.doc atau .docx, jangan .rtf)
  • Ketik satu kali spasi setelah titik.
  • Gunakan font Times New Roman, 12, hitam. Dan jangan. Jangan-jangan-jangan pakai font Comic Sans apalagi font aneh-aneh lainnya.
  • Untuk memudahkan layouter/setter/penata letak, jangan membuat paragraf baru dengan menggunakan tombol “tab”. Lebih baik, gunakan penggaris di menu Word. Di ruler itu kan ada segitiga terbalik, tuh, geser bagian atasnya hingga membentuk paragraf baru. Atau, pilih semua teks (Ctrl+A), format paragraf menggantung dengan menggunakan Format > Paragraph. Di bawah “Indentation” dan “Left”, ketik .5. Di bawah “Special”, pilih “First line”
  • Gunakan page breaks di antara bab. Tempatkan kursor di bagian akhir bab, lalu klik “Insert > Break > Page Break”
  1. Jangan mengedit berlebihan

Kenapa? Segala yang berlebihan itu enggak baik kan, ya? Mengedit berlebihan malah membuat novelmu terlalu “diatur” dan terasa kaku.

Writing

[writing] Show, Don’t Tell

Hai teman-teman,

show dont tellSesering apa sih, kamu mendengar orang-orang (penulis) mengatakan: “Show, don’t tell”, ketika sedang memberi tip menulis? Saya sih, sering. Hampir di setiap buku tentang cara-cara menulis, siapa pun yang menulisnya, selalu ada bagian itu. Barangkali si penulis buku itu tidak menyebutnya sebagai Show don’t tell, tetapi intinya sama: jangan cuma ceritakan, tapi tunjukkan. Buatlah para pembacamu membayangkan dengan jelas apa yang sedang kamu ceritakan, alih-alih cuma bercerita dengan cara seperti ini.

“Hari ini saya bangun, lalu ke kamar mandi, setelah itu mandi dan gosok gigi. Setelah berganti baju, saya pergi ke kantor.”

Bayangkan membaca novel sepanjang 300 halaman dengan cara bercerita seperti itu! Saya sih, ogah! Baru paragraf pertama aja udah pengin lempar. Atau, kalau kata pacar saya pas lagi sadis, lempar ke api unggun!

Tapi-tapi-tapi, gimana sih caranya menulis dengan cara mempertunjukkan dan bukan menceritakan, itu?

  • Deskripsikan.

Lukisan adegan secara mendetail. Di mana adegan itu terjadi, kemudian siapa saja yang terlibat dalam adegan tersebut. Seperti apa karakter-karakternya.

  • Gunakan kelima pancaindra (dan indra keenam?).

Sewaktu mendeskripsikan adegan yang kamu tulis, masukkan pula indra. Misalkan, apa yang dilihat karakter dalam adegan tersebut. Apakah dia menyentuh sesuatu? Bagaimana teksturnya? Apakah ada aroma tertentu? Seperti apa baunya? Atau dia mendengar sesuatu? Seseorang berbicara? Emosi apa yang dikandung oleh suara tersebut?

Tetapi, bukan berarti kesemua indra itu harus dimasukkan di dalam teks, ya… masukkan saja yang paling kuat.

  • Tulislah dengan spesifik, jangan samar-samar.
  • Tambahkan dialog di antara narasi. Tapiii, ini pun harus hati-hati. Jangan sampai kamu terus-terusan nulis dialog tapi kelupaan sama narasinya. Buatlah porsi narasi dan dialog seimbang, biar pembaca enggak bosan.

Coba bandingkan dua teks ini, mana yang menurutmu mengikuti prinsip show not tell?

Beberapa hari kemudian.

“Rangga, ayo berangkat. Nanti kamu terlambat,” seru Bu Ninis pada Rangga yang masih berada di kamar mandi. Namun, tak ada jawaban.

“Rangga, kamu lagi apa? Kok lama banget mandinya?” serunya lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi, Bu Ninis semakin heran.

Lagi-lagi Rangga tak menjawab.

“Rangga?”

“Kenapa, Mi?” tanya Pak Edwin yang tiba-tiba muncul.

“Ini, Pi. Rangga kok mandinya lama banget.”

“Rangga, ayo cepat, Nak. Nanti kamu terlambat,” Pak Edwin pun turut memanggil-manggil Rangga sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Sementara di dalam kamar mandi, Rangga terlihat tengah meringkuk. Memegangi dadanya. Rangga makin tak mengerti dengan keadaannya ini, terlebih ada sedikit bercak darah setiap kali ia terbatuk.

“Rangga?”

Saat mendengar lagi panggilan mami-papinya, ia memaksakan untuk membuka mata dan menegakkan tubuhnya, tapi sebelum itu, ia membersihkan bercak-bercak darah di lantai kamar mandi. Setelah memastikan tidak ada bekas, ia perlahan-lahan bergerak ke arah pintu lalu membukanya.

“Rangga, kamu kenapa? Kok pucat banget? Kamu sakit?” seru Bu Ninis kaget.

“Iya, Nak. Kamu kenapa?”

“Aku cuma kurang enak badan, kok.” seketika itu Rangga kembali terbatuk-batuk.

Lantas Bu Ninis meraih tubuh Rangga, menuntunnya ke ruang tengah. Diikuti Pak Edwin di belakang mereka. “Kamu duduk dulu,” Bu Ninis menyandarkan tubuh Rangga di sofa di ruang keluarga. “Kita bawa Rangga ke dokter saja, ya, Pi?” tanyanya kemudian.

“Biar Papi panggilkan Dokter Romi saja, Mi. Supaya Rangga bisa cepat diperiksa. Mungkin sekarang Dokter Romi belum berangkat, jadi bisa sekalian kita minta tolong dia memeriksakan keadaan Rangga.”

“Bukankah Dokter Romi spesialis penyakit dalam, Pi?”

“Kalau untuk sekadar penyakit umum, Papi yakin dia sudah mengerti betul.”

Bu Ninis diam sejenak sambil memandangi Rangga yang tengah bersandar lemas di sofa, lalu menoleh ke arah suaminya dan mengangguk.

*

Di dalam kamar, Dokter Romi tengah memeriksakan kondisi Rangga yang terbaring di tempat tidur sambil menempelkan stetoskop di dadanya. Sementara Pak Edwin dan Bu Ninis hanya memandangi dari belakang.

Rangga lantas mengerutkan dahi, melihat mimik muka Dokter Romi yang tiba-tiba berubah.

“Bagaimana, Dok?” tanya Pak Edwin pada Dokter Romi yang baru saja selesai memeriksakan kondisi Rangga.

“Sekarang Rangga sudah membaik, dia tidak apa-apa,” jawabnya singkat dengan tatapan yang menyembunyikan sesuatu. “Boleh kita berbicara di luar sebentar?”

Pak Edwin merasa heran. “Iya, Dok,” jawabnya sambil mengangguk.

“Memangnya ada apa sih, Mi? Kok Dokter Romi mukanya serius begitu?” Rangga pun tak kalah heran.

Maminya menggelengkan kepala sambil memasang raut wajah yang sama.

Tak berapa lama setelah itu, Papinya kembali masuk ke kamar lalu menghampiri istrinya dan Rangga, sedangkan Dokter Romi tampaknya sudah pulang.

“Ada apa, Pi?” tanya Bu Ninis.

Pak Edwin tak segera menjawab, ia tertunduk, seperti mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

“Pi?”

“Mi, kita harus membawa Rangga ke rumah sakit.”

“Lho?”

“Untuk memeriksa keadaan Rangga lebih jauh. Itu saran dari Dokter Romi.”

“Kapan, Pi?”

“Siang ini. Dokter Romi sudah mengatur jadwalnya. Papi ingin minta izin lebih dulu ke kantor.”

Bu Ninis pun mengangguk ragu. Ia bisa membaca dari sorot mata suaminya itu, seperti telah terjadi sesuatu. Ia lantas mengikuti suaminya yang segera keluar kamar, hanya Rangga yang masih tak mengerti apa yang terjadi.

*

“Bagaimana, Dok?” tanya Pak Edwin pada Dokter Romi setelah menjalani serangkaian pemeriksaan.

Dokter Romi sejenak tak menjawab. Hal ini membuat Rangga dan Maminya semakin bertanya-tanya.

“Setelah saya memeriksakan keadaan Rangga tadi pagi, saya merasa ada sedikit ada yang ganjil di dada Rangga, tapi saya belum bisa memastikan apa itu. Setelah pemeriksaan barusan, saya yakin…” Dokter Romi sejenak menghela nafas, “Rangga mengalami PJB.”

“PJB? Maksudnya penyakit jantung bawaan?”

“Iya. Itu tak lepas dari gejala-gejala yang Rangga alami, dan ada suara-suara bising di jantungnya. Pemeriksaan barusan semakin menguatkan dugaan saya.”

Astaghfirullah, Pi!” Bu Ninis kaget mendengar penjelasan Dokter Romi. Lantas ia menatap wajah Pak Edwin, seperti meyakinkan bahwa apa yang didengarnya ini tidaklah nyata. Sementara itu, Rangga masih terdiam, ia merasa seperti ada godam yang menghantam kepalanya.

“Apa itu tidak salah, Dok? Apa Dokter sudah benar-benar memastikannya?” tanya Pak Edwin lagi.

“Awalnya saya masih ragu, tapi setelah melihat hasil pemeriksaan, saya bisa memastikan kalau Rangga mengidap PJB.”

Seketika Pak Edwin dan Bu Ninis sama-sama memandangi wajah anaknya itu.

“Karena itu, saya menyarankan Rangga untuk bisa segera operasi. Kalau kalian setuju dan Rangga pun begitu, saya akan mengatur jadwalnya.”

Mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja Dokter Romi jelaskan. Begitu pun Rangga, ia masih terdiam sambil memasang tatapan kosong. Mendengar kata operasi, membuatnya dilimpahi beragam asumsi dalam benaknya. Benarkah ia menderita penyakit jantung? Rangga seperti mendapat mimpi buruk dan terjebak di dalamnya.

Ekspresi wajah Bu Ninis dan Pak Edwin berangsur-angsur berubah. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Benarkah anak mereka satu-satunya ini mengalami keadaan demikian? Apakah tidak salah? Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Operasi? Apa Rangga bisa kembali normal? Bermacam-macam tanya mulai menghantui mereka.

“Bagaimana?” Dokter Romi bertanya kembali untuk meyakinkan Pak Edwin dan Bus Ninis agar segera menangani Rangga melalui operasi. Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh.

Pak Edwin mengangguk. Sementara Bu Ninis langsung memeluk Rangga, mencoba menenangkan hati Rangga. Ia tahu, Rangga sama terpukulnya dengannya, bahkan lebih terpukul lagi.

Bandingkan dengan yang ini:

“Rangga, ayo berangkat. Nanti kamu terlambat.” Bu Ninis, ibu Rangga, berseru dari luar kamar mandi. Namun, yang dipanggil tidak memberikan jawaban.

Rangga sedang meringkuk di lantai kamar mandi ketika mendengar panggilan ibunya. Telapak tangan kirinya menekan dadanya keras-keras, sementara tangan kanan menutupi mulutnya, meredam suara batuk. Dia mendengar ibunya kembali memanggil namanya, tetapi dia tak punya suara untuk menyahut, sibuk meredakan nyeri yang menyerang dadanya.

“Rangga!” ketukan di pintu semakin menuntut. Pemuda itu kembali terbatuk, kali ini bercak darah tertinggal di telapak tangannya. Dia mencoba untuk bangun, menyangga tubuhnya pada wastafel lalu menatap wajah pucatnya di cermin ketika berhasil berdiri. Rangga menyalakan keran dan mencuci darah di tangan dan mulutnya, lalu menjawab panggilan ibunya dengan suara serak dan terdengar mirip erangan.

“Kamu enggak apa-apa?” suara Bu Ninis mulai terdengar khawatir.

“Rangga enggak apa-apa, Mi,” katanya sambil membuka pintu kamar mandi. Dia memaksa tubuhnya berjalan dengan tegak dan memasang senyum terpaksa di wajahnya. Namun, baru dia melangkah keluar dari kamar mandi, tubuhnya rubuh.

Sayup, Rangga mendengar Mami memanggil Papi dengan kepanikan yang tidak bisa ditutupi lagi, lalu suara parau Papi menelepon dokter.  Setelah itu, dia terbangun di tempat yang tidak dikenalinya.

Ruangan itu serbaputih. Dia berada di atas ranjang dorong kecil dikelilingi tirai-tirai sama putihnya. Dadanya masih terasa nyeri, seperti ada yang memukulinya berkali-kali dengan palu godam. Dia menarik napas, tetapi jantungnya seperti ditahan kuat-kuat dengan karet. Ketika dia mengembuskan napas, rasanya seperti ditembak katapel. Pandangannya buram. Lampu neon di tengah-tengah ruangan yang disekat-sekat tirai itu membuat matanya perih. Bau alkohol dan antiseptik menyengat hidungnya.

Tirai putih itu tersibak, memunculkan laki-laki berjas putih yang menyapanya dengan senyum hangat. Tangannya memegang papan penjepit kertas berisi berkas-berkas. Dua perawat dan kedua orangtuanya mengikuti di belakangnya.

“Kita pindah ke kamar perawatan, ya,” ujarnya sambil memberi isyarat kepada kedua perawat yang langsung menyetel ranjang dorongnya.

Rangga merasa pusing dan kembali memejamkan mata, merasakan ranjang berderak-derak memindahkannya entah ke mana.

Pemandangan yang dilihat Rangga kembali berubah saat dia membuka matanya lagi. Warna cat ruangan itu hijau pupus. Sofa untuk satu orang dengan warna senada diletakkan di pojok ruangan, bersebelahan dengan meja kecil yang penuh dengan kantong plastik dari sebuah minimarket. Maminya duduk tertidur di sofa itu, tampak lelah dan cemas.

“Mi,” ujarnya dengan suara lemah. Ibunya bergeming. “Mi,” ulangnya. Kali ini lebih keras, tetapi itu membuat tenggorokannya perih dan terbatuk. Mami langsung siaga ketika mendengar batuk-batuk anaknya. Dia mengucek mata dan buru-buru mendekati ranjang Rangga.

“Iya, Nak?”

“Rangga kenapa, Mi?”

Rangga tidak sanggup meneruskan lamunannya. Empat tahun berlalu sejak kejadian itu. Dia mengidap penyakit jantung bawaan. Lazimnya, penyakit ini diketahui sejak masih kanak-kanak atau bahkan sejak dalam kandungan, tapi pada dirinya, baru terdeteksi setelah dia beranjak remaja. Sebenarnya, gejala-gejalanya sudah mulai terlihat, tetapi masih bisa tertanggulangi, sehingga kedua orangtuanya tidak terpikir untuk memeriksakannya kepada dokter spesialis.

Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan masa lalunya itu. Semakin ia mengingat-ingat, semakin hatinya teriris. Sudah banyak hal yang dikorbankannya karena penyakit ini, termasuk dia. Seorang gadis yang menjadi alasannya kembali ke negara ini. Gadis yang memenuhi ruang dalam hati dan benaknya. Dia kembali menatap foto dalam genggamannya. Foto terakhir gadis itu sebelum Rangga pergi.

Vi, kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku tiba-tiba pergi? Supaya suatu saat, aku bisa bertemu kamu lagi. Dan sekarang menjadi kenyataan. Aku akan menemuimu, Vi.

Rangga menghela napas, lalu bangkit dari kursi yang didudukinya. Senyumnya mengembang, tangannya terangkat dan melambai.

Jemputannya sudah datang.

Sudah cukup terbayang?

Yuk menulis 🙂

ps:

eh tapi, selain show don’t tell, terkadang kita cukup pake “tell” aja untuk bagian-bagian tertentu dalam naskah kita. selain untuk memendekkan naskah, terkadang jika terlalu banyak deskripsi yang bertele-tele pun, pembaca akan bosan. pintar-pintar saja memilih adegan mana yang perlu deskripsi detail