7 Pilar Cerita Thriller

Hindari(1).png

Setahun ini,  saya rajin membaca novel thriller dan artikel-artikel tentang menulis cerita thriller. Selain karena memang suka, tahun ini bakal terbit proyek serial thriller bersama satu penerbit (sebagai developer dan editor) dan emang lagi nulis — yang belum selesai-selesai tea (semoga editorku tidak baca ini).

Dari semua novel thriller yang saya baca tahun ini, yang paling berkesan adalah karya Karin Slaughter. Namanya cocok banget sebagai penulis thriller, karena dua novel dia yang saya baca tahun ini mindblowing abis. Pretty Girls yang terbit tahun 2015 jadi best-seller di luar negeri, dan dulu saya bertanya-tanya kenapa enggak ada penerbit Indonesia yang membeli hak terjemahannya dan menjualnya di sini. Setelah saya baca, saya paham. Novel ini terlalu mengerikan dan graphic buat pembaca kita. Saya dikejar-kejar mimpi buruk dan dicengkam ketakutan selama dan setelah membaca buku ini.

Novel Mbak Slaughter ini, pas banget buat dijadikan contoh thriller yang bagus. Menurut James N. Frey di bukunya How to Write A Damn Good Thriller (iya, saya punya 3 buku Frey soal menulis), ada 7 pilar yang membuat cerita thriller itu bagus, dan itu adalah:

  1. Highstakes: dalam cerita thriller yang baik, selalu ada kehidupan yang dipertaruhkan, terkadang bisa jadi kehidupan semua manusia di muka bumi (ingat cerita-cerita soal “kiamat” dan si tokoh utama/hero harus menyelamatkan dunia). Dalam novel Pretty Girls, tentu ada kehidupan yang dipertaruhkan. Kita dibuat deg-degan apakah tokoh-tokoh utamanya akan bertahan hidup melawan si penjahat.
  2. Unity of Opposites. Saat kamu memiliki kesatuan yang berlawanan, si hero tidak bisa menghindar dari tantangan. Sering kali, pembaca bakalan bertanya: kenapa ga pergi aja sih dari situasi itu? Kenapa malah berlari menyongsong bahaya? Nah, unity of opposites ini adalah keadaan ketika si tokoh mau tidak mau harus menyelesaikan masalah itu. Contoh: Charlie dalam novel The Good Daughter (Karin Slaughter), malah menyongsong suara tembakan–bukan menghindarinya, dan itulah yang membuat peristiwa demi peristiwa berikutnya terjadi.
  3. Seemingly Impossible Odds. Buatlah situasi dalam cerita tang membuat si hero/pahlawan tampak tidak bisa menghindar/mengalahkan si penjahat. Dalam Pretty Girls, salah satu tokoh utamanya tertangkap dan sepertinya dia tidak bakal bisa melarikan diri dari sekapan si penjahat.
  4. Moral Struggle. Si tokoh berada dalam pertempuran hidup dan mati dengan kejahatan. Saat si tokoh yang saya sebutkan di nomor 3 disekap, kita tidak tahu apakah dia akan bertahan hidup atau tidak.
  5. Ticking Clock. Beri deadline. Si pahlawan harus diberi tenggat waktu, kalau tidak, usahanya akan gagal. Contoh: dalam novel Pretty Girls, adik si tokoh yang disekap punya waktu sedikit untuk menyelamatkan kakaknya.
  6. Menace. Si tokoh-tokoh “baik” harus selalu berada dalam keadaan yang mengancam nyawa. Sepanjang cerita, novel Pretty Girls bikin deg-degan terus. Informasi baru yang disuguhkan membuat pembaca melongo, dan saya sebagai pembaca berasa seperti si tokoh protagonisnya–dikejar-kejar dan selalu ketakutan.
  7. Thriller type character. Semua tokoh, baik protagonis maupun antagonisnya harus cerdas dan cerdik. Tokoh antagonis di Pretty Girls jahatnya keterlaluan, dan dia cerdik. Dia sudah melakukan kejahatan yang sama selama bertahun-tahun dan tidak tertangkap polisi. Dia tahu cara menghindari jeratan hukum.

Kalau kamu sedang menulis naskah thriller, coba baca lagi, apakah ceritamu sudah memiliki ketujuh pilar di atas?

 

Advertisements

One thought on “7 Pilar Cerita Thriller

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s