Ini Kata-Kata yang Sering Ditulis Salah dalam Draf Pertama Novel

find_replace.png

Saking seringnya mendapat naskah dengan kata-kata yang salah ini, hal pertama yang saya lakukan setiap kali mendapat naskah baru untuk diedit adalah membuka fitur find di ms.word, ketik kata-kata yang salah itu, lalu replace. Dan benar saja, hampir semua penulis melakukan kesalahan yang sama. Terutama, mereka yang baru menulis novel pertama.

Nah, sebagai bocoran, agar editor penerbitan bahagia saat membaca naskahmu, saya sarankan untuk melakukan swasunting atau self-editing sebelum kirim ke penerbit.

lho, ngedit kan kerjaannya editor? buat apa penulis ngurusin hal-hal remeh-temeh kayak penulisan kata yang benar?

Hei, dari semua profesi, penulis dan editor adalah garda depan penyelamat bahasa. Kalau penulis saja tidak berbahasa dengan baik, bagaimana dengan orang-orang lain yang tidak berkecimpung di bidang bahasa? Apalagi, kamu menulis dalam bahasa Indonesia. Gunakanlah bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Kalau pembaca terbiasa membaca tulisan dengan bahasa Indonesia yang benar, secara tidak langsung, itu akan berpengaruh sama kebiasaan mereka berbahasa.

Hari gini, enggak ada alasan enggak punya KBBI atau enggak punya buku EYD (sekarang PUEBI), karena kita bisa mengaksesnya dengan mudah. Internetan tiap hari, kan? Tinggal googling aja!

masa, dikit-dikit lihat kamus, dikit-dikit lihat kamus, novelku mau kapan selesainya?

Hei, janganlah malas, kisanak! Tulislah dulu novelmu itu sampai selesai, baru diedit. Jangan nulis sambil ngedit, ya enggak akan selesai-selesai. Kalau kamu serius pengin jadi penulis, kamu pasti berusaha.

oke-oke, bawel, jadi, kata-kata apa aja tuh yang sering salah?

1.Preposisi/Kata Depan

  • Preposisi yang menandai tempat. Misalnya di, ke, dari.
  • Preposisi yang menandai maksud dan tujuan. Misalnya untuk, guna.
  • Preposisi yang menandai waktu. Misalnya hingga, hampir.
  • Preposisi yang menandai sebab. Misalnya demi, atas.

Ingatlah saudara-saudaraku sekalian, kata depan ditulis terpisah, ya. Jadi, jangan sampai saya masih menemukan kata: dimana kemana disana disini disitu diatas dibawah dibagian diantara kesana kesini darimana darisitu, daaan sejenisnya.

2. Kata majemuk

Kata majemuk adalah gabungan dua kata yang memiliki makna baru.

Biasanya, yang suka salah itu ketika menulis:

terimakasih -> harusnya terima kasih

lagipula –> lagi pula

seringkali –> sering kali

kadangkala –> kadang kala

beritahu –> beri tahu

ibukota –> ibu kota

3. Kata-kata lainnya:

antri –> antre

familiar –> familier

jahil –> jail (jahil itu artinya bodoh, kalau yang dimaksud adalah suka mengganggu/nakal, pakai jail)

nafas –> napas

resiko –> risiko

sekedar –> sekadar

seksama –> saksama

sumringah -> semringah

respon –> respons

nelpon/telpon –> menelepon/telepon

melotot –> memelotot (ini kata dasarnya pelotot)

melesat –> memelesat

lembab –> lembap

terjerembab –> terjerembap

nomer –> nomor

(dan lain-lain, silakan tambahkan di komentar)

4. Penulisan nama tempat

Jadi, kawan-kawan, huruf perama unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi, ditulis dengan huruf kapital.

Contohnya:

Bukan kota Jakarta, melainkan Kota Jakarta

Jalan Thamrin, bukan jalan Thamrin

Sungai Thames, bukan sungai Thames

dan seterusnya.

5. Hal yang sama berlaku untuk kata ganti orang

Kalau kata “ibu”, “bapak” dan semacamnya ditulis barengan sama namanya, pakai huruf kapital.

Ibu Anna, Bapak Budi, Kak Sindi, Nek Lampir, dan lain-lain.

Kata ganti orang itu ditulis pakai huruf kecil kalau tidak digunakan sebagai sapaan.

Misalnya:

Dia berubah sejak menjadi ibu. (peran)

Dia tidak suka kepada Ibu. (kata ganti sapaan)

Lebih lengkapnya, silakan googling sendiri, ya.

Tip lain yang harus kamu lakukan sebelum kirim naskah ke penerbit, coba cari kata apa yang paling sering kamu gunakan, lalu ganti kata tersebut dengan sinonimnya.

Sudah, begitu aja, ya. Kalau butuh konsultasi lebih lanjut, silakan buka link ini.

 

 

 

Categories Uncategorized

Dicari, Naskah Bagus!

Apakah kamu (merasa) menulis bagus tetapi enggak ada penerbit yang menerima karena genre novelmu enggak populer? Ataukah naskahmu sepertinya dicuekin melulu cuma karena kamu penulis baru?

Ini adalah kabar gembira untukmu!

Bookslife.co menjawab kegelisahan tersebut. Bookslife adalah sebuah platform penerbitan digital yang memungkinkan pembaca membeli e-book dalam beberapa bagian dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan buku cetak. Bookslife membantu para penulis dengan memfasilitasi proses pengeditan, tata letak buku, hingga membuatkan desain cover.

Bookslife-Screenshot-Home.jpg

Pembaca bisa membeli setiap bagian buku dengan harga Rp 5000,- saja. Tebalnya kurang lebih 50-an halaman buku. Untuk setiap bagian buku yang terjual, penulis akan mendapatkan royalti sebesar 40%. Jauh lebih besar daripada royalti buku cetak yang biasanya cuma 10%-15% dari harga buku. Tentu saja, karena bookslife banyak memangkas biaya-biaya lain seperti ongkos cetak, biaya gudang, biaya distribusi, dll.

Pembaca bisa membeli buku-buku di bookslife dengan wallet bookslife. Kamu tinggal mengisi wallet ini dengan mentransfer sejumlah uang dengan minimal Rp 10.000 ke rekening yang ada di web bookslife.

simulasi penjualan

Jika kamu tertarik menerbitkan naskahmu di bookslife, kamu bisa langsung daftar di webnya dan upload naskah utuh (sudah selesai). Tim editor bookslife akan mereview naskahmu dan menerbitkannya dalam waktu 14 hari sejak naskah diupload.

Kamu juga bisa bergabung dengan agen naskah bookslife, yang salah satunya adalah (ehem) saya. Keuntungan bergabung dengan agen di antaranya:

  • naskah akan diedit terlebih dahulu sebelum dikirim ke bookslife,
  • proses upload setelah dikirim ke bookslife akan lebih cepat daripada upload sendiri,
  • naskah akan otomatis masuk ke editor’s choice, lebih sering dipromosikan,
  • royalti tetap 40%.

Jika kamu tertarik, silakan kirim naskahmu dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Genre bebas (romance, thriller, science fiction, horor, dll)
  2. Panjang halaman minimal 20 hlm A4, spasi 1, ukuran font standar 12 pt.
  3. Kirim naskah utuh beserta sinopsis lengkap (bukan blurb) dan biodata penulis
  4. Kirim naskah ke email jiaeffendie@gmail.com dengan subjek: [Bookslife] Judul Naskah – Nama Pengarang
  5. Bersedia merevisi naskah jika diperlukan

Saya akan segera membaca naskahmu dan mengabari tentang kelayakan terbit atau tidaknya. Sebagai bocoran, berikut yang menentukan soal kelayakan terbit:

  1. Sinopsis menjelaskan keseluruhan cerita sampai ke ending
  2. Bagian awal naskah asyik dibaca dan langsung memperlihatkan kira-kira cerita seperti apa yang kamu tawarkan (siapa saja tokohnya, kira-kira apa konflik yang dihadapi si tokoh)
  3. Semua tokoh yang ditampilkan ada fungsinya dalam cerita, bukan cuma sambil lalu yang kalau dihapus juga enggak ngaruh ke cerita
  4. Tidak ada plot dan logika bolong (kalaupun ada, masih bisa diperbaiki lah ya, bukan yang kalau bagian awalnya bolong keseluruhan cerita harus dirombak/tulis ulang)
  5. Kalimat disusun dengan rapi, minim salah kaprah kata (selalu cek kbbi kalau enggak yakin bagaimana sebuah kata ditulis)
  6. POV dan naratornya benar (lebih lanjut bisa baca ini)
  7. Seting bukan cuma tempelan dan penjelasannya bukan ala-ala wikipedia

Lebih jauhnya, bisa ubek-ubek blog ini soal tip-tip menulis.

Jadi, tunggu apa lagi, kirim naskahmu!

 

 

 

Categories Uncategorized

Kongres Persatuan Penulis Indonesia Satupena

Minggu lalu, saya menghadiri Kongres Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Solo. Ini adalah organisasi yang mewadahi penulis dari semua genre kepenulisan di seluruh Indonesia. Sekitar 120-an penulis dari berbagai penjuru Indonesia hadir dalam kongres yang digelar 27-29 April ini.

Tujuan utama Satupena adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penulis, peningkatan kapastias, penguatan profesi, dan melindungi hak atas karya serta kebebasan menulis. Menulis sejak 1999 dan berada dalam industri perbukuan sejak delapan tahun lalu, saya merasakan banget suka duka jadi penulis. Makanya, waktu tahu ada organisasi profesi seperti ini, saya senang.

“Di mata rantai perbukuan, banyak sekali pajak. Dari mulai menulis, kemudian ke penerbit, membeli bahan baku kertas sudah kena pajak, membeli tinta sudah ada pajak, kemudian mencetak, ada pajak, dikenakan ke penerbit. Perusahaan percetakan kena pajak. Buku ketika dijual ke pasaran, kena pajak, Ppn 10 persen, PPh 15 persen ke penulis ketika akan menerima royalti sudah dipotong 15 persen. Itu kenapa harga buku menjadi mahal, tetapi penerimaan para penulis buku sangat minim,” kata Imelda Akmal sewaktu memberi sambutan dalam pembukaan acara ini.

Iya, kan? Saya geregetan banget. Sejak dulu, saya berpikir kalau harus ada organisasi atau siapa pun yang menyampaikan ini ke pemerintah, untuk menurunkan pajak royalti. Mungkin pemerintah mikirnya kalau semua penulis itu sejahtera dan bukunya best-seller, ya, makanya enggak masalah kalau potongannya sampai 15%, atau bahkan 30% buat yang enggak punya NPWP.

Hal lainnya yang saya harapkan banget dari organisasi penulis seperti Satupena ini adalah, penulis ada yang ngebelain. Maksudnya, jika ada kasus-kasus terkait hukum/rebutan hak cipta dan semacamnya, ada lembaga yang bisa membantu. Selain itu, saya juga kepengin lebih banyak karya penulis Indonesia yang diterjemahkan di luar negeri. Caranya ya meningkatkan kualitas. Pas banget sama salah satu misi utama Satupena: meningkatkan kapabilitas dan membuat penulis lebih berdaya.

Misi lainnya adalah:

  • menyatukan penulis agar lebih berdaya
  • melindungi hak cipta dan kekayaan intelektual
  • melindungi kebebasan berekspresi
  • meningkatkan kapabilitas dan kesejahteraan penulis
  • merangsang tumbuhnya penulis baru
  • menciptakan ekosistem kepenulisan
  • menciptakan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

Pe-ernya masih banyak sekali, karena Satupena baru banget diresmikan saat kongres kemarin. Semoga kerja ini enggak berhenti di kongres, karena sia-sia aja sih 120 penulis berkumpul kemarin kalau enggak jadi apa-apa.

Kemarin ketemu banyak penulis hebat, dan obrolan-obrolan pas sarapan itu seru banget!

Categories Uncategorized

Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Mentoring & Editing Novel

Hai teman-teman,

Kamu memiliki ide cerita dan bingung mengembangkannya, punya novel utuh tetapi belum pede mengirim ke penerbit, atau bingung kenapa penerbit belum juga memberi kabar akan nasib naskahmu? Saya membuka kesempatan bagi kamu yang membutuhkan jasa editor/mentor menulis novel.

Silakan kirim sinopsis lengkap beserta biodata singkat ke posel: jiaeffendie@gmail.com dengan subjek:

  1. Mentoring: jika kamu baru punya ide cerita,
  2. Editing: jika kamu ingin naskahmu diedit/direvisi terlebih dahulu sebelum dikirim ke penerbit, untuk menambah kemungkinan naskah diterima,
  3. Review: jika kamu ingin tahu kenapa kabar naskahmu hilang tak tentu rimbanya dan kamu penasaran kenapa naskahmu dicuekin.

Jangan lupa tulis pengantar di badan email, ya.

Saya akan segera membalas surelmu dengan perkiraan biaya dan waktu pengerjaan. Jika kamu setuju dengan biaya dan persyaratannya, saya akan membedah dan mereview novelmu dan memberikan catatan-catatan terkait naskah tersebut, juga memberikan rekomendasi penerbit mana yang cocok untuk naskah itu.

~Jia

 

ps: jika kamu tinggal di Bandung, saya membuka kesempatan untuk bertemu langsung dan membahas outlinenya bersama-sama.

Categories Uncategorized

Brankas

Tuan Sidik duduk di depan meja makan rumahnya pada pukul 10.00. Di atas meja makan, terdapat seperangkat tea-set Inggris bermotif bunga-bunga. Cangkir-cangkir lain tertutup. Hanya ada satu cangkir terbuka, kosong. Tidak ada yang mengepul dari moncong poci.

Kautahu, ini bukan jam biasanya Tuan Sidik minum teh.

Jadi, Tuan Sidik hanya duduk di sana, dengan satu cangkir terbuka dan lima cangkir lain menelungkup di pisin mereka. Dan poci porselen yang tertutup, tidak berisi teh. Dia menunggu datangnya pukul empat. Dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain duduk di depan meja makan, di hadapan seperangkat cangkir teh peninggalan istrinya, untuk sebuah ritual yang dijalaninya sejak bertemu dengan seorang Inggris berpuluh-puluh tahun lalu.

Seharusnya, dia berada di depan meja kerjanya saat ini, menginput angka-angka. Dia baru akan sampai di rumah pukul tiga sore, menjerang air dan membuat teh. Teh melati kesukaannya. Kadang-kadang, jika suasana hatinya sedang sangat baik, dia akan menyeduh teh merek Inggris yang dibelinya di toko swalayan impor.

Sore kemarin sebelum dia mengemasi tas kerjanya, Pak Manager memanggil Tuan Sidik ke ruangannya, berkata kalau tidak ada tempat lagi untuknya. Perusahaan mereka telah membeli sistem keuangan baru yang bisa memangkas satu pekerjaan, lebih hemat, lebih cepat. Dan pegawai tua yang tidak ambisius seperti Tuan Sidik tentulah yang lebih dulu didepak. Pak Manager berkata kalau dia sangat menyesal memecat Tuan Sidik yang loyal. Waktu kerjanya di perusahaan ini bahkan lebih tua daripada umur Pak Manager sendiri. Namun, Tuan Sidik memang sudah terlalu tua. Seandainya perusahaan itu tidak membeli sistem keuangan baru pun, Tuan Sidik memang sudah harus pensiun.

Tuan Sidik memang akan pensiun, tapi itu baru tahun depan. Tuan Sidik belum menyiapkan apa yang akan dilakukannya jika pensiun tahun ini. Dia menyiapkan apa yang akan dilakukan untuk pensiun tahun depan.

Jangan salah, Tuan Sidik bukanlah seseorang yang kekurangan uang. Di rumah kecilnya yang hanya terdiri atas satu kamar, satu ruang tengah, satu dapur, dan satu kamar mandi, dia menyimpan sebuah brankas berisi harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Dia tidak memercayai bank. Dia hanya pergi ke sana untuk menukarkan uang di brankasnya yang sudah tidak berlaku lagi. Tuan Sidik pindah ke rumah yang lebih kecil setelah istrinya meninggal dua puluh tahun lalu. Merawat rumah besar dengan kebun sungguhlah merepotkan, jadi dia memilih pindah.

Tuan Sidik pergi ke kantor hanya untuk rutinitas. Bahwa dia bangun pukul setengah lima pagi untuk salat Subuh, menjerang air untuk mandi dan teh pagi, memasukkannya ke termos, berganti pakaian olah raga, berlari mengitari lapangan dekat rumahnya lima kali, pulang seraya mengeringkan keringat, mandi, membuat teh, kemudian berangkat tepat pukul tujuh pagi.

Dia selalu tiba di kantor pukul setengah delapan, setengah jam lebih cepat dari jam kantor. Dia bekerja dengan giat dan tekun hingga jam makan siang, makan menu yang hampir tidak pernah berubah di kantin kantor, bekerja dengan giat dan tekun hingga pukul 3, dan pulang tepat waktu. Menjerang air lagi setibanya di rumah, dan kembali minum teh.

Di lingkungan rumahnya, Tuan Sidik dikenal tidak suka bersosialisasi. Dia hanya akan muncul saat Ramadan, salat Tarawih setiap malam, tidak pernah absen. Dan dia adalah orang yang memberikan THR paling banyak untuk anak-anak di RT-nya yang mayoritas tidak mampu.

Salim adalah salah satu anak itu. Tahun ini usianya sembilan belas tahun. Sudah lulus SMA. Tuan Sidik tidak lagi memberikan THR untuk anak-anak di atas tujuh belas tahun atau sudah lulus SMA. Mereka seharusnya sudah mandiri, jadi tidak berhak lagi akan THR.

Namun, Salim sama sekali tidak mandiri. Orangtuanya yang tersisa cuma Bapak, meninggal seminggu lalu karena TBC. Bapak Salim mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga setiap subuh, dan demi menghangatkan diri, dia merokok. Sebenarnya, tidak menghangatkan diri pun, bapaknya Salim merokok. Sehari, dia bisa habis dua bungkus Dji Sam Soe, yang jika uangnya dia kumpulkan sejak Salim lahir, dia bisa membiayai anak itu kuliah. Namun, bapaknya Salim sama sekali tidak terpikir sampai ke sana.

Jadi, karena rokok dan udara dingin itu, TBC bapak Salim semakin parah, dan puncaknya, dia meregang nyawa. Meninggalkan Salim sendiri, mewariskan rumah yang hampir runtuh, dan pekerjaan sebagai tukang sampah, serta kebiasaan merokok.

Salim termasuk anak yang pintar, sama seperti banyak anak pintar lain yang terbentur biaya dan pola pikir orangtua yang kurang cerdas, dia pun putus sekolah saat SMA. Tidak apa-apa putus sekolah saat SMA, toh, dia bisa sekolah sampai SMA. Benar, tidak?

Namun, sebenarnya Salim ingin kuliah. Bukan demi gaya-gayaan seperti banyak orang-orang kaya. Dia ingin menjadi ilmuwan. Seperti Einstein, Newton, atau Hawking. Dan dia yakin dia bisa jika dia kuliah.

Akan tetapi, seperti yang kita semua sudah tahu, dia tidak memiliki biaya.

Tadi pagi, saat dia mendorong gerobak sampahnya di gang-gang sepanjang rumah, mengumpulkan sampah-sampah, dia melihat pintu rumah Tuan Sidik terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah lukisan abstrak berukuran 60×70 sentimeter menutupi dinding di seberang pintu.

Salim pernah membaca, lukisan abstrak semacam itu bisa berharga puluhan juta, jika dia tahu ke mana harus menjualnya. Jika nama pelukisnya cukup terkenal. Namun, tak mungkin orang yang tinggal di lingkungan kumuh seperti Tuan Sidik memiliki lukisan berharga puluhan juta, pikir Salim.

Dia mendorong gerobak sampahnya, tetapi pikirannya tak bisa lepas dari Tuan Sidik. Salim mengingat bahwa sejak kecil, dia selalu mendapatkan uang THR dari Tuan Sidik. Hingga tahun ini, tahun ini dia tidak akan mendapatkan apa pun. Dia sama sekali tidak punya uang untuk lebaran, apalagi untuk kuliah.

Salim pernah mendengar desas-desus kalau di rumahnya yang kecil itu, Tuan Sidik menyimpan sebuah brankas. Dia tahu Tuan Sidik hanyalah pegawai administrasi dengan gaji kecil, tidak mungkin dia bisa memberikan THR sebanyak itu untuk sekitar tiga puluhan anak di RT ini. Tuan Sidik pasti memiliki harta berlimpah. Dan di balik lukisan abstrak yang sepertinya bernilai jutaan rupiah itu, Tuan Sidik menyimpan semua uangnya.

Semalaman Salim memikirkan itu sambil mengasah golok. Dia tidak tahu untuk apa mengasah golok. Dia juga tanpa sadar menaruh linggis di salah satu sudut gerobaknya.

Keesokan paginya, tekad Salim sudah bulat. Dia akan mencuri isi brankas Tuan Sidik. Tuan Sidik sangat mudah ditebak karena jadwalnya selalu sama setiap hari. Dia akan membongkar pintu Tuan Sidik saat orangnya sedang lari pagi. Itu rencana yang cukup brilian.

Namun, satu hal yang dia tidak ketahui, bahwa pagi itu Tuan Sidik merasakan sakit tak tertahankan di dadanya, hingga dia absen lari pagi. Barangkali karena seharian kemarin semua rutinitasnya berubah, dan dia merasakan seluruh tubuhnya sakit.

Tuan Sidik berbaring di kegelapan kamarnya, merasakan nyeri berdenyut-denyut di dadanya saat dia mendengar kerosak di depan pintu. Dia tidak melakukan apa pun karena dia benar-benar tidak beminat melakukan apa pun. Bisa dibilang, dia kehilangan semangat hidup.

Kemudian, dia mendengar pintu depan terbuka.

Jantung Tuan Sidik berdentum-dentum. Ada seseorang di rumahnya, dan dia sedang menurunkan lukisan abstrak dari dinding. Kemudian, Tuan Sidik mendengar suara kesiap tertahan, seperti semburan kegembiraan yang diredam.

Orang itu menemukan brankasnya.

Namun, dia tidak akan bisa membukanya, karena hanya Tuan Sidik yang mengetahui kodenya.

Orang itu meninju pintu brankas, kesal.

Tuan Sidik mendengar suara kursi diseret dari meja, dan seseorang dengan tubuh ringan duduk di atasnya. Orang itu mengembuskan napas panjang lalu berjalan mondar-mandir, panik. Dia berjalan menuju kamar Tuan Sidik….

Tuan Sidik menahan napas.

Orang itu mengarahkan senter ke ruangan mencari stop kontak dan menyalakan lampu. Dia terkejut saat melihat Tuan Sidik berbaring di ranjang besinya. Dia berusaha menenangkan diri, tetapi malah semakin panik dan mengarahkan golok ke leher Tuan Sidik.

“Berapa kodenya?” desis orang itu, yang akhirnya dikenali Tuan Sidik sebagai Salim, anak si tukang sampah yang mati seminggu lalu.

“Tidak apa-apa di dalam sana,” ujar Tuan Sidik.

Ketenangan Tuan Sidik membuat Salim semakin panik.

“Berikan kodenya, atau aku akan menggorok lehermu!” Salim mengancam.

“Silakan saja, jika memang ini waktunya aku mati, aku harus mati sekarang.”

Golok tajam Salim mulai menyayat leher Tuan Sidik. Salim semakin panik melihat darah merembes dari luka tipis di leher Tuan Sidik. “Berikan kepadaku!” Dia mulai membentak.

“Baiklah, jika kau memaksa.”

“Delapan….”

Tuan Sidik malah tersenyum menggoda. Dia sungguh-sungguh tidak ingin hidup lagi, rupanya. Tampak begitu tenang di bawah todongan golok.

Salim menunggu Tuan Sidik menyebutkan semua kodenya, menghafalnya, dan pada angka terakhir, karena terlalu bersemangat, entah bagaimana Salim malah menebaskan goloknya ke leher Tuan Sidik, membuat darah membuncah menggelegak menyembur ke seluruh ruangan, ke wajah Salim, ke tangannya, panas di matanya, bau logam di mulutnya. Salim terduduk mundur, wajah Tuan Sidik masih tenang, tetapi dia mendengar suara grok-grok darah mengalir dari leher seperti sapi yang dipenggal. Tubuh Tuan Sidik terguncang-guncang, mengeluarkan darah yang tidak lagi menyembur, kemudian tidak bergerak lagi.

Salim menangis tersedu-sedu di sudut ruangan. Tidak mengerti apa yang baru saja dilakukannya.

Setelah sekitar lima menit, dia mulai tenang dan berdiri, berjalan ke brankas Tuan Sidik dan menekan kode yang tadi diberikannya.

Pintu brankas langsung terbuka.

Namun, tak ada tumpukan uang di sana. Tidak ada batangan-batangan emas.

Hanya ada sebuah bingkai foto tua. Seorang perempuan cantik mengenakan pakaian yang populer di tahun delapan puluhan, tersenyum melelehkan hati.

Salim menangis lagi.

Dia tidak tahu harus melakukan apa. Fajar sudah datang. Orang-orang pasti tahu pintu rumah Tuan Sidik rusak, dan jika dia tidak segera lari, dia akan tertangkap dan dipenjara sampai mati.

Dia tidak mau dipenjara sampai mati.

Lebih baik dia mati sekarang.

Ya, pikir Salim, lebih baik aku mati sekarang.

Dengan linggis yang dipakainya mendobrak pintu, Salim menusuk jantungnya, menekannya hingga tembus ke punggung.

Dia menderita, kesakitan selama beberapa saat sebelum meregang nyawa. Sempat berteriak karena tidak tahan dengan sakitnya, mengundang tetangga-tetangga untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Pagi itu, rumah Tuan Sidik penuh orang-orang. Para polisi. Wartawan. Tetangga yang menggeleng-gelengkan kepala.

Jika pikiran Salim cukup jernih, dia akan melihat kalau di bawah bingkai foto istri Tuan Sidik, ada lubang yang membuka ke kompartemen di bawah brankas.

Di sana, ada bergepok-gepok uang ratusan juta, dan dua kilogram emas batangan.

Barangkali, jika dia melihatnya, dia bisa berhasil melarikan diri di kota lain, dan hidup bahagia sampai beberapa tahun ke depan.

 

30 Juni 2016

 

 

Malam Tahun Baru dan Tujuh Pertanyaan

Pada malam tahun baru yang tidak ada kerjaan, saya goler-goleran di kasur sambil memikirkan apa yang sebaiknya saya lakukan. Kemudian, tercetuslah gagasan ini: bagaimana kalau mewawancarai para penulis #BlueValley, saja? Nanti, hasil wawancara itu akan ditulis di blog ini sambil pura-puranya semua penulis itu berkumpul di rumah Amaya sambil minum teh.

Eh tapi, jangan di rumah Amaya. Soalnya rumah itu ruang privat. Nah, bagaimana kalau para penulis ini berkumpul di Uno saja, kafe milik Dinda. Itu jenis tempat yang dewasa ini sering dikunjungi para penulis untuk menulis atau sekadar ketemuan.

Lalu, siapa yang wawancara mereka? Teman-temannya Miya cocok mungkin, ya? Bagaimana kalau Nana?

Lalu, dua puluh hari kemudian, saya tidak berhasil menemukan jawaban akan seting wawancara tersebut. Akhirnya, saya menuliskannya dengan cara seperti ini.

Saya bertanya kepada Bara, Erlin, Tia, Dyah, dan Robin mengenai sejumlah hal. Soal kehilangan, menulis, dan editor, dan ini jawaban mereka. Postingan ini akan cukup panjang 😀

Saat pertama mendapatkan tawaran menulis ini, apa yang kamu bayangkan soal kehilangan. Bagaimana interpretasi kalian tentang kehilangan?

Tia:

Kehilangan adalah sesuatu yang natural (seperti yang Saddam bilang ke Ian). Sesuatu yang pasti terjadi. Sesuatu yang enggak bisa dihindari. Sekali merasa memiliki, kehilangan pasti bakal mengikuti. Pandangan seperti itu bikin aku sulit memberi nilai lebih pada sebuah kehilangan dibanding dengan event-event lainnya dalam hidup.

Terlebih, sekitar setahun sebelum tawaran ini datang, ayahku meninggal dunia. Di momen itu, justru aku merasa lega. Setelah dua tahun menderita stroke (meski kondisi beliau bisa dibilang baik) dan tidak bisa berpikir dengan lurus lagi, aku lega beliau bisa lepas dari penderitaan tersebut. Apa aku menangis di pemakaman beliau? Tidak.

Jadi, ketika dapat tawaran yang langsung kupikirkan: kehilangan seperti apa yang ingin aku tulis. Karena kematian adalah kehilangan yang mutlak, kamu enggak bisa membuat yang mati hidup lagi. Kehilangan harta, bisa dicari lagi. Kehilangan kekasih, tinggal balas dendam atau cari yang lain. Akhirnya, aku pilih kehilangan yang punya dampak besar bukan hanya ke yang si hilang, tapi juga orang-orang yang ditinggalkan. Itu merupakan kehilangan yang lukanya begitu nyata dan menganga.

Buatku, kehilangan yang terjadi pada Prisma adalah luka yang enggak akan sembuh selamanya. Plus, luka itu akan tampak. Akan selalu diulang-ulang oleh orang lain kepada Prisma, Ian, Niko, dan mungkin Rory. Kalau suatu hari masalah itu selesai dan yang hilang dapat ditemukan, hubungan mereka pun mungkin enggak akan sama lagi. Ada rasa dikhianati. Ada rasa tidak percaya. Ada rasa benci karena tidak diabaikan, karena yang ditinggalkan berhenti mencari. Membayangkan aja bikin aku merinding.

Robin:

To be honest, langsung terpikir tentang pasangan yang meninggal. Saya adalah tipe penulis gampang galau. Memikirkan kehilangan membuat saya menjadi emosional. Mungkin karena pengalaman hidup saya pernah ditinggal oleh dua orang yang paling saya cintai. Kalau intepretasi saya sendiri lebih kepada a moment after. Bagaimana mengelola rasa sakit pasca kehilangan tersebut.

Bara:

Mungkin ini agak klise, tapi aku membayangkan hidup setiap manusia seperti satu gambar puzzle yang utuh. Setiap hal yang pernah ia alami menjadi kepingan yang membentuk keseluruhan dirinya. Di antara hal-hal itu adalah orang-orang yang berarti baginya: ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, tante, sepupu, pacar, dan lain-lain. Jika di suatu titik dalam hidup seseorang, salah satu dari orang-orang yang berarti itu pergi atau menghilang karena suatu sebab, rasanya seperti satu kepingan puzzle menghilang. Gambar hidup yang tadinya utuh menjadi tidak utuh. Berlubang. Tidak genap. Hidup yang tadinya seimbang menjadi timpang, dan manusia selalu melakukan pencarian untuk mengisi lubang dalam hidupnya.

Dyah:

Aku mencari cerita kehilangan yang paling dekat dan paling aku pahami. Dan di antara semua tema (kehilangan orang tua, anak, pasangan), aku merasa mungkiiiin paling bisa memahami kehilangan pasangan. Waktu itu, aku membuat konsep yang kehilangan pasangan justru cowok (Elang) sementara yang kehilangan orang tua adalah si cewek (Ayuni, walau dulu belum aku kasih nama Ayuni). Aku sempat membaca sedikit buku tentang grieving, jadi aku membuat si karakter cewek karena kehilangan ayahnya jadi nggak ingin meneruskan karirnya sebagai pattisiere. Dan aku membuat karakter Elang yang begitu romantis dengan istrinya malah menemukan istrinya menyimpan rahasia dengan cowok lain. Tapi akhirnya ide ini dicoret gara-gara terlalu standar dan aku nggak bisa mengembangkan ide ini menjadi lebih dalam lagi.

Erlin:

Saat mendapatkan tawaran menulis untuk serial ini, aku langsung ingat uakku yang meninggal beberapa bulan lalu (April 2016). Almarhum adalah sosok yang sangat dekat dengan keluarga dan saudara-saudaranya. Kepergiannya adalah salah satu kehilangan terbesar bagi kami. Untuk beberapa saat, kami berkabung. Tapi tak lama berselang, aku menyaksikan perubahan dari istri dan anak-anaknya. In a good way.

Dari sana aku menangkap bahwa kehilangan adalah salah satu momen menyakitkan yang dapat mengubah pribadi seseorang—entah untuk menjadi lebih baik atau buruk. Itu kembali lagi ke tiap-tiap orang dalam menyikapi kehilangan dalam hidupnya.

Apa kesulitan terbesar yang kamu alami saat menulis novel ini?

Robin:

Pertama adalah kesulitan menulis dari 2 sudut pandang (lelaki dan perempuan). Ini adalah kali pertama saya menulis novel dengan sudut pandang dari 2 gender yang berbeda. Berpikir dari sisi lelaki dan perempuan sama sekali tidak mudah. Kedua,  soal manajemen waktu dan persisten. Membagi waktu dan fokus untuk menulis sampai bisa menyelesaikannya hingga tuntas adalah tantangan luar biasa buat saya.

Erlin:

Kesulitan saat menulis Lara Miya cukup banyak. Ini kali pertama aku mengonsep cerita dengan unsur drama yang lebih dominan ketimbang romance-nya. Aku juga harus bisa membangun suasana sendu yang enggak kelewat cengeng. Terus ada Amaya yang memberikan pengalaman perdana bagiku untuk menuturkan kisah dari sudut pandang wanita yang usianya nyaris menyentuh kepala lima. Bikin stres, tapi memberiku banyak pelajaran dan pengalaman.

Dyah:

Waktu. Kurasa karena temanya sangat nggak familier bagiku (domestic drama), aku membutuhkan waktu lebih lama untuk riset soal beragam hal: mulai dari grieving itu sendiri, sindrom Asperger yang dimiliki Revaldi, masalah cicilan rumah sampai kue tradisional. Karena waktunya lumayan terbatas, jadi semoga aku nggak membuat kesalahan fatal dalam menulis ^_^

Tia:

Memasukkan diri ke situasi kehilangan. Kehilangan anak, seperti apa rasanya? Menghilangkan anak orang, seperti apa rasanya? Kehilangan harapan atas masa depan, seperti apa rasanya?

Bara:

Tenggat waktu. Aku mengerjakan naskah Elegi Rinaldo tepat selama 30 hari. Meskipun bukan hal baru bagiku (naskah Cinta dengan Titik aku tulis dalam tiga minggu) tetap saja tenggat waktu yang sangat singkat jadi sebuah kesulitan. Terlebih karena pada periode tersebut aku sedang melakukan hal lain. Jadi aku harus mengumpulkan fokus untuk berkonsentrasi mengerjakan Elegi Rinaldo. Hal-hal lain seperti ide, plot, dan penulisan secara umum tidak ada kesulitan yang sangat berarti.

Dengan kesulitan-kesulitan yang kamu alami saat menulis, apakah pernah terpikir untuk menyerah?

Bara:

Kalau perasaan ingin menyerah, sih, enggak ada. Yang ada malah perasaan menyerah sebelum memulai. Ha, ha, ha. Jia Effendie (Associate Editor Falcon Publishing, mentor proyek novel Blue Valley) mengajak aku menulis sejak pertengahan tahun 2016, tapi aku masih terus menimbang-nimbang dan baru memberi keputusan jelang Oktober. Pada periode menimbang-nimbang itu aku sempat ingin menolak ajakan Jia. Namun, akhirnya aku putuskan untuk mulai menulis. Aku menganggapnya sebagai tantangan. Tantangan untuk fokus mengerjakan satu naskah novel dalam waktu singkat, dan aku penasaran ingin melihat hasilnya.

Tia:

Menyerah sih enggak. Tapi masuk lagi ke situasi kehilangan (meski sadar betul kalau ngedit harusnya dalam kondisi sadar dan tidak terbuai cerita), itu berasa berat. Jadi, sempat agak lama menunda-nunda. Cari-cari alasan.

Alasan meneruskan, aku enggak suka mengerjakan sesuatu dan meninggalkannya begitu aja. Apalagi kalau menyangkut nasib orang lain (hahaha).

Aku tulis di ucapan terima kasih, salah satu momen yang bikin aku bergerak meneruskan. Inspirasinya dari komik yang kubaca, berjudul Kingdom. Berkisah mengenai seorang remaja yang ingin jadi jenderal pada masa Warring States Period di Tiongkok Kuno. Di salah satu bagian, ada momen ketika si karakter utama malah disuruh pergi sewaktu hendak menolong seorang jenderal besar. Keputusan hidup dan mati.

Dan kemudian aku sadar, si jenderal besar memilih keputusan itu bukan untuk si karakter utama sendiri, tapi demi masa depan negeri. Kematian dia memberi posisi kosong yang akan diisi orang lain, dan akhirnya nanti suatu hari si remaja itu. Aku seperti itu diteriaki, disuruh maju. Selain itu, momen tersebut juga mengajari aku bahwa kematian (atau kehilangan) memberi jalan tumbuh dan kehidupan untuk orang lain.

Jadi, balik lagi ke pandanganku tadi: kehilangan adalah siklus.

Dyah:

Tentu saja ada saat ingin menyerah, terutama setelah diberi tahu editor bahwa naskah harus direvisi sekitar 50%nya. Rasanya ingin banget membuang naskahnya terus terbang ke Hawaii buat having fun, hohoho. Namun, kemudian aku sadar bahwa ini pembelajaran baru buat aku. Bukan berarti aku ingin mengalaminya lagi, tetapi aku sadar bahwa nggak ada proses kreatif yang lurus-lurus aja. Setiap proyek penulisan itu unik dan masalahnya juga beda-beda. Dan kalau aku ingin terus bertahan jadi penulis, aku harus siap menghadapi beragam risikonya. Hanya dengan melampaui tantangan, seseorang bisa berkembang. Lagi pula, tanggung juga kalau naskah nggak diperbaiki. Terus naskah mau diapain? Jadi, ya, begitu. Meski sambil bercucuran air mata (lebay sih), aku merevisi naskah.

Robin:

Bukan menyerah, tapi memikirkan, ini biar cepat selesai dan mudah dikerjakan bagaimana, ya? Hahaha. Saya selalu menegaskan ke diri sendiri, apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan. Jadi, sesulit apapun, sepusing apapun, harus saya hadapi. Lagi pula, kalau enggak selesai, saya malah jadi kepikiran terus.

Erlin:

Aku cukup tertekan saat merampungkan draf satu. Jadi keinginan untuk menyerah atau mundur kadang muncul. Nah, yang membuatku akhirnya bertahan sampai garis akhir adalah rasa penasaran yang sangat besar. Aku penasaran bagaimana cerita ini berakhir di tanganku, meski aku tahu nanti revisinya pasti gila-gilaan.

(berikutnya: momen emosional para penulis saat menulis novel blue valley mereka dan bagaimana editor ideal menurut mereka)

 

Categories Uncategorized