Tentang Kembali Menulis

Rasanya, sudah lama sekali saya tidak mengeluarkan karya. Sampai-sampai, nggak ada lagi orang yang mengenali saya sebagai penulis *tutup muka* Buku terakhir saya yang terbit itu 2016, sementara dalam tiga tahun terakhir ini penulis-penulis baru yang usianya masih belasan dan awal 20-an produktif banget berkarya, melibas semua penulis pendahulunya yang malas dan banyak maunya seperti saya. Hahaha.

Hal paling penting yang harus dilakukan penulis: menulis.

Dan dengan berbagai ketakutan serta banyak mau yang bersarang di kepala, saya gagal memenuhi hal terpenting itu. Beberapa tahun terakhir, saya anggap menulis sebagai pekerjaan penuh beban. Saya pikir, dengan “level” saya, seharusnya saya menulis bagus. Ekspektasi saya terhadap karya saya tinggi sekali dan saya takut mendapatkan review buruk. Menjadi editor dan mengkritisi ratusan karya selama sepuluh tahun terakhir memupuk juga rasa takut itu. Namun, sesungguhnya, dengan tidak menulis, level yang saya anggap sudah tinggi, malah kembali ke nol karena saya tidak punya karya.

Penulis yang nggak punya karya itu apaan, sih?

Namun, saya menganggap tahun-tahun berhenti itu sebagai bagian dari proses. Lima tahun terakhir, hal-hal yang biasanya kujadikan amunisi dalam menulis malah hal-hal yang ingin kusembunyikan rapat-rapat. Perasaan-perasaan yang tidak ingin saya bagi karena terlalu menyakitkan. Saya tidak ingin tulisan saya membuat perasaan-perasaan negatif itu semakin muncul ke permukaan dan merajarela. Saya menekannya karena saya tidak ingin merasakannya. Saya ingin menyembunyikannya dan menganggapnya tiada.

Tahun-tahun itu saya bertanya-tanya, mengapa saya tidak bisa menulis. Sekarang, ketika saya merasa sedikit lebih jernih, saya tahu alasannya. Saya berhenti menulis karena saya ingin berhenti berpikir dan mengingat.

Tahun ini saya kembali menulis. Awalnya karena terpaksa. Karena sudah tanda tangan kontrak. Karena deadline sudah lewat. Karena alasan-alasan lain. Awalnya sulit dan menyebalkan. Setiap kali saya membuka file tersebut, saya tidak tahan membukanya lama-lama dan menutupnya lagi. Saya bahkan tidak bisa membacanya. Namun, saya harus menyelesaikannya. Saya harus menyelesaikan tulisan panjang pertama saya.

Saya mengulang prosesnya dari awal. Saya kenali lebih dalam tokoh-tokohnya. Saya wawancarai mereka. Saya buatkan biografi mereka. Kini, Gala dan Yarra seperti orang sungguhan di kepala saya. Kadang-kadang, saya membicarakan tokoh-tokoh ini dengan suami saya seolah-olah mereka kawan-kawan saya. Prosesnya jadi semakin mudah setelah saya kenal dengan mereka.

Kemudian, demi mempercepat proses menulis yang ohastagasudahlewatberapabulaninideadlinenya, saya memasukkan naskah ini di storial.co. Saya mengharapkan feedback. Saya membutuhkan perasaan naskah ini ditunggu pembaca hahahaha. Jadi, kalau saya enggak post, saya bakal merasa bersalah.

Pada akhirnya, meskipun saya nggak dapat tanggapan yang cukup dari pembaca dan viewnya juga segitu-segitu aja, saya menikmati prosesnya. Saya menikmati waktu saya menggambar unicorn untuk covernya (padahal sebenarnya saya ingin gambar di covernya itu Gala dan Yarra lagi lihat-lihatan dengan mata galak dan ada tali-tali marionette di telapak tangan mereka, terhubung dengan sebuah pengendali kayu di bagian atas cover–tapi saya nggak bisa menggambarnya).

Jadi, inilah persembahan terbaru dari saya. Terima kasih buat kamu yang sudah berlangganan dan membaca buku ini di storial.co. Doakan cepat selesai biar versi cetaknya segera terbit 😀

Buat yang belum baca, silakan klik tautan ini.

Dan plis, komen, like, dan review ya. Hatur nuhuuun.

Categories Uncategorized

Menulis Novel: Menggantung Pembaca di Tubir Jurang Kemudian Menyelamatkan Mereka

Salah satu kriteria cerita bagus adalah yang page-turner. Saat kamu baca, kamu tidak bisa berhenti. Setiap kamu mendapatkan informasi baru dari novel tersebut, ia menghadirkan pertanyaan lain di benakmu yang ingin segera kamu jawab (dengan cara membaca terus sampai habis).

Istilahnya, story question. Dalam setiap bagian, kita memberikan adegan atau informasi yang membuat pembaca bertanya-tanya, untuk kemudian dijawab di bagian berikutnya. Hal yang sama berlaku juga untuk serial TV. Pernah nggak sih, lagi maraton nonton serial TV, mata udah pedas karena udah berjam-jam menonton dan kita bertekad akan berhenti di akhir episode ini, tetapi gagal karena ending-nya bikin kita digantung di pinggir jurang! Kita mengintip bagian awal episode berikutnya, tetapi tetap nggak bisa berhenti karena bikin penasaran.

Terus, bagaimana sih membuat pembaca tertarik sama cerita kita? Buat mereka tergantung di bibir jurang akibat rasa penasaran, kemudian selamatkan mereka di bab berikutnya. Ini dia triknya:

Wonder

Buatlah pembaca bertanya-tanya dan mencemaskan nasib tokoh-tokohnya. Artinya, kita harus membuat pembaca peduli sama tokoh yang kita ciptakan. Caranya peduli? Perkenalkan tokoh-tokoh itu dengan baik, buat pembaca sedekat mungkin dengan si karakter, seburuk apa pun sifat dan kelakuannya.

Pivotal Moment

Mulai cerita dengan momen penting dalam hidup si tokoh. Misalnya: kematian seseorang, ujian, dilamar, dipecat, baru masuk sekolah, tiba-tiba diculik alien, hampir mati tenggelam, dll

Specific Details

Tulis detail spesifik yang bisa membuat pembaca bisa memvisualisasikan ceritamu. Kamu bisa menggunakan prinsip show, don’t tell.

Hold the Info

Cerita nggak akan asyik kalau kamu sudah memberitahukan semuanya di awal. Sebar informasi penting di sekujur cerita. Beri pembaca petunjuk-petunjuk penting yang mengarah ke ending. Kasih pembaca kesempatan untuk ikut menyelesaikan persoalan si tokoh.

Protagonist Goal

Sejak bagian awal cerita, kita harus menyampaikan tujuan utama si tokoh. Apa goal si karakter dalam cerita/konflik ini. Pembaca akan penasaran apakah tokoh berhasil mencapai tujuannya atau tidak.

Intriguing Character

Hindarilah membuat tokoh dan tujuan stereotip. Contoh: tokoh cowok playboy ganteng kaya raya bandel pinter tapi nggak pernah belajar yang jatuh takluk pada cewek alim wallflower pinter pendiam di luar radar itu SUDAH KEBANYAKAN DIPAKAI. Jadi, kamu bisa berhenti menulis cerita itu.

Unusual Situation

Mulai cerita dengan situasi yang tidak biasa.

Compelling Narative Voice

Tulis dengan narasi yang menarik. Kamu bisa memanfaatkan majas di sini. Tulis sebaik mungkin dengan bahasa Indonesia sebaik mungkin. Mengutip Windry Ramadhina dalam salah satu pembicaraan kami (dengan penyesuaian struktur kalimat), kita meminjam bahasa untuk mengekspresikan cerita di kepala kita. Jadi, kita harus menghargai bahasa.

Setelah menulis bagian awal (yang sangat penting, karena itu adalah gerbang yang membuat pembaca memutuskan apakah akan lanjut atau mencari novel lain), bagian berikutnya adalah cara menutup bab dengan asyik. Kalau dalam bahasa Inggris, istilahnya cliffhanger (makanya judul tulisan ini menggantung pembaca di bibir jurang).

Hal-hal di bawah ini adalah adegan atau narasi yang bisa kamu tulis untuk menutup babmu:

Pertanyaan Provokatif

Pertanyaan ini bisa berupa pertanyaan dalam benak si tokoh, pertanyaan naratif, atau pertanyaan antara tokoh-tokoh dalam cerita. Gaya ini paling cocok kalau si pembaca juga sudah dibuat bertanya-tanya.

Misalnya, cerita di bab 1, ada tokoh yang menghilang. Di akhir bab, kita bisa menulis: ke mana si tokoh? di mana si tokoh? apakah dia kabur ataukah diculik? kalau diculik, kira-kira siapa pelakunya? apa motif pelaku, dll dll.

Pernyataan akan adanya sebuah fakta baru atau tuduhan

Gunakan cliffhanger ini untuk mengonfrontasi tokoh lain dengan informasi yang menghancurkan atau mengumumkan berita yang bisa mengubah hidup. Contohnya: akhiri bab dengan dialog: “Aku hamil.”

Gaya ini biasanya menciptakan ketegangan emosional dan mengarahkan cerita pada komplikasi plot selanjutnya.

Deskripsi pembuka bab berikutnya

Ini adalah teknik misteri, biasanya digunakan untuk mengungkap adanya mayat di akhir sebuah bab. Tipe ini sering kali mengarah pada fase introspektif dalam cerita. Cliffhanger yang deskriptif menandai adanya awal sebuah garis cerita baru, atau ketika cerita berputar balik.

Tuntutan akan adanya aksi atau respons

Gaya ini menekankan pada kejadian dalam hidup tokoh yang nggak mungkin diabaikan. Contoh: tiba-tiba polisi muncul dan menyuruh mobil yang dikendarai si tokoh menepi. Mau tidak mau, si tokoh akan menghentikan mobilnya di bab berikutnya.

Kebutuhan akan adanya aksi bagus untuk mengarahkan cerita ke peristiwa utama.

Adegan ciuman, Hampir-ciuman, dan tamparan

Metode ini seringnya dipakai di genre romance untuk membantu meningkatkan ketegangan emosional antarkarakternya. Variasi lain dari gaya ini adalah terbongkarnya identitas palsu, atau hadiah yang ditolak.

Sebuah objek misterius atau benda yang hilang

Metode ini baik digunakan di awal klimaks akhir, tetapi oke juga dipakai di bagian tengah buku untuk menambah komplikasi. Contohnya: saat Beck di novel/serial You menemukan kotak rahasia milik Joe di loteng kamar mandi.

Foreshadowing

Kita dapat menggunakan metode ini ketika si tokoh sedang berada dalam persimpangan atau ketika perubahan besar dalam plot akan datang. Metode ini baik digunakan di tahapan mana pun dalam cerita.

Sebuah janji atau deklarasi

Biasanya, ini adalah niat si tokoh untuk melakukan aksi. Contoh: “Aku akan membalaskan dendam kematian ayahku!”

Biasanya, cliffhanger ini akan diikuti dengan katarsis emosional atau perasaan terpojok. Jenis ini selalu mengubah jalan hidup si tokoh.

Nah, apakah ceritamu sudah cukup menarik untuk menggantung pembaca di tubir jurang?

Coba, aku mau baca.

Dialog

Salah satu hal paling penting dalam sebuah novel adalah dialog. Dialog akan membantu menggerakkan cerita, menutupi atau mengungkapkan kebenaran, memperlambat atau mempercepat pace, juga menyebabkan atau bikin konflik selesai. Dialog juga akan membantu pembaca memahami karakter. Dengan fungsi sebanyak dan sepenting itu, jadi sayang nggak sih kalau menulis dialog yang tidak bagus?

foto: canva.com

Hindari menulis dialog yang plek-plekan sama kehidupan nyata

Ada yang pernah membuat transkrip wawancara? Pasti banyak kata-kata yang nggak penting atau struktur kalimatnya berantakan. Kamu akan mendengar beberapa orang mengucapkan “Ee … eee … ehh” berkali-kali atau “ngerti, kan?” atau “ya udah” atau hal-hal lain yang nggak sengaja terucap karena sudah kebiasaan. Itu wajar dalam ragam lisan, tapi nggak wajar dalam tulisan. Pembaca nggak mau terus-terusan baca “eh anu” dalam dialog.

Agar dialog yang kamu tulis nggak membosankan, kamu harus merapikan tuturan. Arahkan dialognya agar bisa menggerakkan cerita dan melukiskan si karakter. Hal-hal macam “Kamu sudah makan belum?” , kata “Halo” sebelum mengangkat telepon, atau “Ya udah”, bisa kamu pangkas sebanyak-banyaknya. Jika dialog tersebut tidak memajukan cerita, buang saja.

Jangan mengulang informasi

Informasi yang sudah kamu sampaikan di narasi, jangan sampai kamu tulis lagi di dialog. Buat apa? Pembaca sudah tahu informasi tersebut. Contoh: coba baca berita-berita di media online. Kebanyakan polanya kayak gitu biar artikelnya agak panjang. Setelah dibahas dalam bentuk dialog, si penulis artikel akan menuliskannya lagi di narasi (atau sebaliknya).

Sesekali, boleh pakai kode-kodean

Sering kali, kita mengatakan A dengan maksud B. Kita menggunakan kalimat-kalimat tertentu sebagai perisai untuk hal-hal yang tidak ingin kita bahas. Hal-hal seperti ini menarik perhatian pembaca karena membuat mereka ingin menguping.

Misalnya, tokohmu yang bernama Mira, baik di kehidupan nyata maupun dalam buku tidak akan secara gamblang mengatakan: “Hubungan kita membuatku stres dan tertekan.”

Alih-alih, ungkapkan dalam dialog-dialog seperti:

“Kerja aja terus. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Sebaiknya kamu makan dulu sebelum pulang. Aku tidak akan masak dan menungguimu pulang.”

“Terserah kamu. Aku mah bebas kamu cuekin juga.”

Tulis dialog yang ringkas

Salah satu cara membuktikan kalau dialog udah ditulis dengan baik adalah dengan membacanya keras-keras. Dialog yang terlalu panjang (apalagi nggak pakai titik koma) akan membuatmu terengah-engah dan nggak semua tokoh bisa mencerocos panjang lebar.

Kalau kamu kehabisan napas setelah berusaha membacakan dialog yang kamu tulis, ubah struktur kalimatnya, tambahkan tanda baca (titik dan koma) di tempat-tempat yang benar. Beri jeda dengan narasi adegan.

Jangan membuat pembaca bingung

Saya pernah menyunting sebuah naskah yang dialognya membingungkan. Sebut saja tokohnya Mawar dan Melati. Penulis tersebut menuliskan dialog Mawar dan Melati dalam satu baris tanpa memberikan keterangan, siapa yang sebenarnya sedang bicara.

Jika kita tidak akan memberikan attribution tag atau keterangan siapa yang sedang bicara, paling tidak pisahkan dialognya dengan baris baru.

Di bawah ini, saya menerjemahkan petikan dialog dari buku How to Write a Damn Good Novel karya James N. Frey.

“Hai,” kata Joe kepada Mary.

Mari mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya. “Hai,” katanya.

Joe memindahkan beban di kakinya dengan gugup. Dia yakin semua orang di kantin sekolah sedang memperhatikannya. “Sedang apa?” tanyanya.

“Membaca.”

“Oh. Baca apa?”

“Moby Dick.”

“Bagus?”

“Cuma cerita soal memancing.”

Joe duduk. Ia menyapu kerah kemejanya untuk menyeka keringat yang menetes di lehernya.

“Ah, aku mau menanyakan sesuatu kepadamu,” katanya.

“Ya?”

“Euh, apa kau sudah punya teman kencan untuk prom?”

“Aku nggak akan pergi ke prom.”

“Semua orang pergi ke prom. Kamu mau pergi denganku?”

“Hmm. Aku pikir-pikir dulu, ya?”

“Jangan pikir-pikir, lakukan saja! Aku akan membawa mobil ayahku dan aku bawa banyak uang.”

Dialog tersebut sudah dalam bentuk yang dramatis. Ia memiliki konflik inti karena ada keinginan yang bertolak belakang (si cowok pengin ngajak si cewek pergi ke pesta prom, ceweknya nggak mau). Namun, dialognya tetep kurang oke. Kenapa?

Pertama-tama, dialognya nggak menginspirasi karena langsung. Dialog langsung memperlihatkan apa yang ada di kepala si tokoh tanpa memberi kesempatan agar si tokoh bisa mempertunjukkan keberatan, kebohongan, tampak cerdas, dll.

Dialog yang baik mengekspresikan keinginan si karakter secara tidak langsung. Berikut adalah adegan yang sama tetapi ditulis dengan dialog tidak langsung.

“Aku harus duduk di sini. Ini adalah tugasku,” kata Joe.

“Oh ya?” kata Mary sambil mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.

“Ya. Sekolah membayarku satu setengah dolar sejam untuk belajar di kantin dan memperlihatkan contoh baik.”

“Duduk saja di mana pun kamu mau, ini negara bebas.”

Joe tersenyum kepadanya dan berkata, “Aku tahu masa depanmu.”

“Kok bisa?”

“Aku membaca kartu Tarot.”

“Aku nggak percaya Tarot.”

Joe mengeluarkan setumpuk kartu dari kantong dan mengocoknya. Dia menaruh kartu pertama di meja. “Kamu akan dijemput mobil Chevy Nova hijau pukul delapan malam.”

“Masa?”

“Seorang cowok tampan luar biasa yang mengendarai mobil itu akan mengenakan tuksedo putih.”

“Benarkah?”

“Dia akan membawamu ke pesta prom di gimnasium sekolah ini.”

“Wah, kartu-kartu itu bilang begitu?”

“Itu, dan satu hal lagi.” Joe menyingkirkan kartu-kartunya. “Aku tidak mau mengacaukan kejutannya.”

“Apa kau sedang mengajakku kencan?”

“Maukah kau pergi denganku?”

Adegannya sama, tapi feelnya beda. Contoh pertama membuat kita, oh, oke, dia diajak kencan. Dialog kedua bikin kita bersemangat karena tokoh cowoknya sok kepedean, dan itu membuat tokohnya jadi lebih menarik. Dialog yang asyik bisa memperlihatkan bagaimana sifat dan pemikiran tokoh-tokohnya.

Jadi, apakah kamu sudah menulis dialog yang asyik, ataukah novelmu hanya berisi dialog membosankan dan tidak ada narasi?

Baca juga: https://jiaeffendie.wordpress.com/2014/05/30/menulis-dialog/

Menulis Novel dengan Metode The Hero’s Journey

Apakah kamu pernah memperhatikan kalau hampir semua film dan buku yang digemari memiliki formula yang sama? Seorang hero (pahlawan/tokoh utama), sebuah petualangan, beberapa konflik, reward atau ganjaran/hadiah, lalu di tokoh utama kembali dan dielu-elukan (yang langsung kebayang di kepala saya adalah The Hobbit dan Lord of the Rings).

Joseph Campbell menyadari hal itu kali pertama pada 1949 dan membuat 17 tahapan dalam petualangan pahlawan mitologi. Kemudian, seorang penulis naskah bernama Christopher Vogler menyempurnakannya menjadi 12 dalam upaya memperlihatkan bagaimana seharusnya setiap film Hollywood ditulis. Jika ingin lebih lengkap, kamu bisa membaca bukunya yang berjudul The Writer’s Journey: Mythic Structure for Writers. Menurut Vogler, semua tokoh utama fiktif di genre apa pun akan mengikuti jalur yang sama.

Di tulisan ini, saya bakalan mengkhususkan step-by-step-nya untuk novel romance, meskipun kamu bisa menggunakannya untuk merencanakan genre novel apa pun. Oh iya, metode ini juga bisa kamu pakai untuk menganalisis novel favorit kamu.

Kuy!

Act One:

Continue reading “Menulis Novel dengan Metode The Hero’s Journey”

Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm

Yaw, tumben-tumbenan saya menulis dua post dalam dua hari berturut-turut. Biasanya nunggu berbulan-bulan baru inget, eh, udah lama nggak nulis. Setelah sebelumnya membahas basic plot point dalam novel romance, sekarang kita bahas caranya.

Ada beberapa metode menulis novel romance dan kita bebas mau pilih metode mana pun, tergantung yang paling cocok buat kita.

Bagaimana menciptakan plot romance yang kuat? Pertama-tama, kita harus memastikan bagaimana romansa diperkenalkan, dibangun, dan diselesaikan dengan cara yang masuk akal dan menarik secara emosional. Ada beberapa penulis yang memilih mengikuti three-act paradigm atau metode five-act structure. Ada yang menggunakan metode The Hero’s Journey.

Selain ketiga metode di atas yang ada di buku Plot Development for Romance Novels, ada juga metode DABGA (Denial, Anger, Bargaining, Guilt, Acceptance) yang saya dapatkan dari Christian Simamora waktu masih ngantor di GagasMedia.

Kita bahas satu-satu, ya.

Three-Act Paradigm

Continue reading “Cara Menulis Novel Romance dengan Metode Three Act-Paradigm”