Kongres Persatuan Penulis Indonesia Satupena

Minggu lalu, saya menghadiri Kongres Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Solo. Ini adalah organisasi yang mewadahi penulis dari semua genre kepenulisan di seluruh Indonesia. Sekitar 120-an penulis dari berbagai penjuru Indonesia hadir dalam kongres yang digelar 27-29 April ini.

Tujuan utama Satupena adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penulis, peningkatan kapastias, penguatan profesi, dan melindungi hak atas karya serta kebebasan menulis. Menulis sejak 1999 dan berada dalam industri perbukuan sejak delapan tahun lalu, saya merasakan banget suka duka jadi penulis. Makanya, waktu tahu ada organisasi profesi seperti ini, saya senang.

“Di mata rantai perbukuan, banyak sekali pajak. Dari mulai menulis, kemudian ke penerbit, membeli bahan baku kertas sudah kena pajak, membeli tinta sudah ada pajak, kemudian mencetak, ada pajak, dikenakan ke penerbit. Perusahaan percetakan kena pajak. Buku ketika dijual ke pasaran, kena pajak, Ppn 10 persen, PPh 15 persen ke penulis ketika akan menerima royalti sudah dipotong 15 persen. Itu kenapa harga buku menjadi mahal, tetapi penerimaan para penulis buku sangat minim,” kata Imelda Akmal sewaktu memberi sambutan dalam pembukaan acara ini.

Iya, kan? Saya geregetan banget. Sejak dulu, saya berpikir kalau harus ada organisasi atau siapa pun yang menyampaikan ini ke pemerintah, untuk menurunkan pajak royalti. Mungkin pemerintah mikirnya kalau semua penulis itu sejahtera dan bukunya best-seller, ya, makanya enggak masalah kalau potongannya sampai 15%, atau bahkan 30% buat yang enggak punya NPWP.

Hal lainnya yang saya harapkan banget dari organisasi penulis seperti Satupena ini adalah, penulis ada yang ngebelain. Maksudnya, jika ada kasus-kasus terkait hukum/rebutan hak cipta dan semacamnya, ada lembaga yang bisa membantu. Selain itu, saya juga kepengin lebih banyak karya penulis Indonesia yang diterjemahkan di luar negeri. Caranya ya meningkatkan kualitas. Pas banget sama salah satu misi utama Satupena: meningkatkan kapabilitas dan membuat penulis lebih berdaya.

Misi lainnya adalah:

  • menyatukan penulis agar lebih berdaya
  • melindungi hak cipta dan kekayaan intelektual
  • melindungi kebebasan berekspresi
  • meningkatkan kapabilitas dan kesejahteraan penulis
  • merangsang tumbuhnya penulis baru
  • menciptakan ekosistem kepenulisan
  • menciptakan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

Pe-ernya masih banyak sekali, karena Satupena baru banget diresmikan saat kongres kemarin. Semoga kerja ini enggak berhenti di kongres, karena sia-sia aja sih 120 penulis berkumpul kemarin kalau enggak jadi apa-apa.

Kemarin ketemu banyak penulis hebat, dan obrolan-obrolan pas sarapan itu seru banget!

Menulis Thriller

Beberapa bulan terakhir, saya getol banget baca thriller. Saya menganggap ini sebagai hobi baru. Eh tapi, pas saya posting cover-cover novel thriller ini di sosial media, sahabat saya bilang gini: kamu mah dari dulu emang sukanya cerita begituan.

Eh, iya ya?

Terus ingat-ingat lagi…

Iya juga. Cerpen-cerpen saya di Ya Lyublyu Tebya banyak banget yang ceritanya sok thriller. Terus, si Mera Berbie (Susuk Barbie) cerpen saya yang dibikin film sama SCTV, juga thriller. Waktu itu saya belum ngerti lah soal genre-genrean. Nulis ya nulis aja, enggak mikirin ini masuk genre apa. Hahaha.

Masuk penerbitan yang memfokuskan diri sama terbitan lokal membuat saya sadar kalau di Indonesia ini masih sedikiiiit banget penulis yang mau (atau bisa) menulis thriller. Alasannya, mungkin karena genre ini sulit. Risetnya ribet dan mahal. Pas terbit, eh ga laku-laku amat. Kan syedih.

Nah, beberapa tahun terakhir, saya benar-benar memperhatikan thriller dan menyadari kalau kita, penulis indonesia, BISA, KOK, NULIS THRILLER. Selama ini kita mikirnya kalau thriller harus ada pembunuhannya, harus ada polisi, penyidik, psikiater, pengadilan, ini itu yang kadang-kadang kita sebagai penulis enggak punya akses ke sana. Bingung cara tanya-tanyanya. Misalkan mau riset, langsung datang ke kantor polisi gitu? Enggak akan diketawain atau diusir gitu? Dan banyaaaak ketakutan lainnya.

Pada dasarnya, thriller adalah: karya fiksi yang menggetarkan jiwa (halah) atau thrills, terutama buku, kisah, drama, film yang sensasional dan menegangkan. (Frey, 2010). Bedanya dengan misteri: si pahlawan memiliki misi untuk menemukan pembunuh. Dalam thriller, kita bisa saja sudah tahu siapa pembunuhnya; si pahlawan atau tokoh utama memiliki misi untuk memerangi kejahatan.

Dari sekian banyak jenis thriller, ada banget thriller yang bisa kita tulis tanpa melibatkan polisi. Salah satunya adalah sub-genre domestic noir. Dari namanya, kamu mungkin bisa membayangkan apa saja judul-judulnya. Yap, di antaranya adalah Gone Girl. Bahkan, penamaan domestic noir ini dimulai gara-gara terbitnya Gone Girl. Selain itu, ada juga The Girl on The Train (Paula Hawkins), Behind Closed Doors (B.A. Paris),  The Passenger (Liza Lutz)daaan lain-lain lainnya.

Domestic Noir mengambil seting di rumah dan tempat kerja, dengan permasalahan umum seputar (tetapi tidak secara eksklusif) pengalaman perempuan, masalah hubungan dan dasarnya adalah pandangan feminis bahwa lingkup domestik itu menantang dan terkadang berbahaya bagi penghuninya (Julia Crouch, http://juliacrouch.co.uk/blog/genre-bender)

Segini, sudah terbayang kan ya kira-kira thriller macam apa yang bisa kita tulis?

Tapi, kamu masih bingung?

Tenang…

thriller

Berangkat dari banyaknya thriller yang saya baca tahun ini, saya dan storial.co akan bikin kelas menulis thriller.

Tertarik untuk ikutan? Yuk datang ke Kelas Nulis Storial #2 yang akan berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017!

P e n d a f t a r a n
Subjek: Daftar KNS #2
Identitas: Nama, No HP, Alamat
E-mail ke: contact@storial.co
Lampiran: sinopsis/ide cerita
Paling lambat: 29 April 2017

Biaya Pendaftaran: Rp200.000 (Meal dan Modul)

Silakan lakukan pembayaran ke:

BCA 5375030991 a.n Steve Wirawan

Berhubung kelasnya akan berlangsung selama lima jam, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 WIB, Kelas Nulis Storial #2 hanya akan menerima 25 peserta saja!

Oke, deh, kalau begitu, sampai jumpa di kelasnya tanggal 30 April, ya. Mari kita serbu toko-toko buku dengan novel thriller karangan kita!

~Jia

Mentoring & Editing Novel

MentoringmenulisNovel

Dear teman-teman penulis fiksi yang ingin mengirimkan naskahnya ke penerbit tetapi belum percaya diri, atau ingin mengirim naskah dalam keadaan rapi dan baik, saya membuka kesempatan untuk mentoring dan editing novel (berbayar) bersama saya secara online dan offline (khusus untuk domisili Bandung/bersedia bertemu di Bandung).

Kirim email berisi ide cerita kamu ke email jiaeffendie@gmail.com dengan subjek “review naskah” buat kamu yang penasaran apakah naskah kamu layak terbit atau ingin tahu kenapa naskahmu ditolak.

(ps: jangan berhenti menulis kalau dapat review buruk, ya :p)

Untuk kamu yang sudah punya naskah selesai dan mau mengirimkannya ke penerbit, tetapi belum pede dan ingin bantuan penyuntingan naskah dariku, kirim email berisi sinopsis novelmu ke jiaeffendie@gmail.com dengan subjek “editing”

Buat kamu yang baru berencana akan membuat novel dan baru punya ide cerita atau sinopsis, kirim ide cerita tersebut ke jiaeffendie@gmail.com dengan subjek “mentoring”. kita akan brainstorming soal calon novelmu itu.

Saya akan membedah dan mereview novelmu dan memberikan catatan-catatan terkait naskah tersebut juga memberikan rekomendasi penerbit mana yang cocok untuk naskah itu.

Yuks, ditunggu emailnya 🙂

Brankas

Tuan Sidik duduk di depan meja makan rumahnya pada pukul 10.00. Di atas meja makan, terdapat seperangkat tea-set Inggris bermotif bunga-bunga. Cangkir-cangkir lain tertutup. Hanya ada satu cangkir terbuka, kosong. Tidak ada yang mengepul dari moncong poci.

Kautahu, ini bukan jam biasanya Tuan Sidik minum teh.

Jadi, Tuan Sidik hanya duduk di sana, dengan satu cangkir terbuka dan lima cangkir lain menelungkup di pisin mereka. Dan poci porselen yang tertutup, tidak berisi teh. Dia menunggu datangnya pukul empat. Dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain duduk di depan meja makan, di hadapan seperangkat cangkir teh peninggalan istrinya, untuk sebuah ritual yang dijalaninya sejak bertemu dengan seorang Inggris berpuluh-puluh tahun lalu.

Seharusnya, dia berada di depan meja kerjanya saat ini, menginput angka-angka. Dia baru akan sampai di rumah pukul tiga sore, menjerang air dan membuat teh. Teh melati kesukaannya. Kadang-kadang, jika suasana hatinya sedang sangat baik, dia akan menyeduh teh merek Inggris yang dibelinya di toko swalayan impor.

Sore kemarin sebelum dia mengemasi tas kerjanya, Pak Manager memanggil Tuan Sidik ke ruangannya, berkata kalau tidak ada tempat lagi untuknya. Perusahaan mereka telah membeli sistem keuangan baru yang bisa memangkas satu pekerjaan, lebih hemat, lebih cepat. Dan pegawai tua yang tidak ambisius seperti Tuan Sidik tentulah yang lebih dulu didepak. Pak Manager berkata kalau dia sangat menyesal memecat Tuan Sidik yang loyal. Waktu kerjanya di perusahaan ini bahkan lebih tua daripada umur Pak Manager sendiri. Namun, Tuan Sidik memang sudah terlalu tua. Seandainya perusahaan itu tidak membeli sistem keuangan baru pun, Tuan Sidik memang sudah harus pensiun.

Tuan Sidik memang akan pensiun, tapi itu baru tahun depan. Tuan Sidik belum menyiapkan apa yang akan dilakukannya jika pensiun tahun ini. Dia menyiapkan apa yang akan dilakukan untuk pensiun tahun depan.

Jangan salah, Tuan Sidik bukanlah seseorang yang kekurangan uang. Di rumah kecilnya yang hanya terdiri atas satu kamar, satu ruang tengah, satu dapur, dan satu kamar mandi, dia menyimpan sebuah brankas berisi harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Dia tidak memercayai bank. Dia hanya pergi ke sana untuk menukarkan uang di brankasnya yang sudah tidak berlaku lagi. Tuan Sidik pindah ke rumah yang lebih kecil setelah istrinya meninggal dua puluh tahun lalu. Merawat rumah besar dengan kebun sungguhlah merepotkan, jadi dia memilih pindah.

Tuan Sidik pergi ke kantor hanya untuk rutinitas. Bahwa dia bangun pukul setengah lima pagi untuk salat Subuh, menjerang air untuk mandi dan teh pagi, memasukkannya ke termos, berganti pakaian olah raga, berlari mengitari lapangan dekat rumahnya lima kali, pulang seraya mengeringkan keringat, mandi, membuat teh, kemudian berangkat tepat pukul tujuh pagi.

Dia selalu tiba di kantor pukul setengah delapan, setengah jam lebih cepat dari jam kantor. Dia bekerja dengan giat dan tekun hingga jam makan siang, makan menu yang hampir tidak pernah berubah di kantin kantor, bekerja dengan giat dan tekun hingga pukul 3, dan pulang tepat waktu. Menjerang air lagi setibanya di rumah, dan kembali minum teh.

Di lingkungan rumahnya, Tuan Sidik dikenal tidak suka bersosialisasi. Dia hanya akan muncul saat Ramadan, salat Tarawih setiap malam, tidak pernah absen. Dan dia adalah orang yang memberikan THR paling banyak untuk anak-anak di RT-nya yang mayoritas tidak mampu.

Salim adalah salah satu anak itu. Tahun ini usianya sembilan belas tahun. Sudah lulus SMA. Tuan Sidik tidak lagi memberikan THR untuk anak-anak di atas tujuh belas tahun atau sudah lulus SMA. Mereka seharusnya sudah mandiri, jadi tidak berhak lagi akan THR.

Namun, Salim sama sekali tidak mandiri. Orangtuanya yang tersisa cuma Bapak, meninggal seminggu lalu karena TBC. Bapak Salim mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga setiap subuh, dan demi menghangatkan diri, dia merokok. Sebenarnya, tidak menghangatkan diri pun, bapaknya Salim merokok. Sehari, dia bisa habis dua bungkus Dji Sam Soe, yang jika uangnya dia kumpulkan sejak Salim lahir, dia bisa membiayai anak itu kuliah. Namun, bapaknya Salim sama sekali tidak terpikir sampai ke sana.

Jadi, karena rokok dan udara dingin itu, TBC bapak Salim semakin parah, dan puncaknya, dia meregang nyawa. Meninggalkan Salim sendiri, mewariskan rumah yang hampir runtuh, dan pekerjaan sebagai tukang sampah, serta kebiasaan merokok.

Salim termasuk anak yang pintar, sama seperti banyak anak pintar lain yang terbentur biaya dan pola pikir orangtua yang kurang cerdas, dia pun putus sekolah saat SMA. Tidak apa-apa putus sekolah saat SMA, toh, dia bisa sekolah sampai SMA. Benar, tidak?

Namun, sebenarnya Salim ingin kuliah. Bukan demi gaya-gayaan seperti banyak orang-orang kaya. Dia ingin menjadi ilmuwan. Seperti Einstein, Newton, atau Hawking. Dan dia yakin dia bisa jika dia kuliah.

Akan tetapi, seperti yang kita semua sudah tahu, dia tidak memiliki biaya.

Tadi pagi, saat dia mendorong gerobak sampahnya di gang-gang sepanjang rumah, mengumpulkan sampah-sampah, dia melihat pintu rumah Tuan Sidik terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah lukisan abstrak berukuran 60×70 sentimeter menutupi dinding di seberang pintu.

Salim pernah membaca, lukisan abstrak semacam itu bisa berharga puluhan juta, jika dia tahu ke mana harus menjualnya. Jika nama pelukisnya cukup terkenal. Namun, tak mungkin orang yang tinggal di lingkungan kumuh seperti Tuan Sidik memiliki lukisan berharga puluhan juta, pikir Salim.

Dia mendorong gerobak sampahnya, tetapi pikirannya tak bisa lepas dari Tuan Sidik. Salim mengingat bahwa sejak kecil, dia selalu mendapatkan uang THR dari Tuan Sidik. Hingga tahun ini, tahun ini dia tidak akan mendapatkan apa pun. Dia sama sekali tidak punya uang untuk lebaran, apalagi untuk kuliah.

Salim pernah mendengar desas-desus kalau di rumahnya yang kecil itu, Tuan Sidik menyimpan sebuah brankas. Dia tahu Tuan Sidik hanyalah pegawai administrasi dengan gaji kecil, tidak mungkin dia bisa memberikan THR sebanyak itu untuk sekitar tiga puluhan anak di RT ini. Tuan Sidik pasti memiliki harta berlimpah. Dan di balik lukisan abstrak yang sepertinya bernilai jutaan rupiah itu, Tuan Sidik menyimpan semua uangnya.

Semalaman Salim memikirkan itu sambil mengasah golok. Dia tidak tahu untuk apa mengasah golok. Dia juga tanpa sadar menaruh linggis di salah satu sudut gerobaknya.

Keesokan paginya, tekad Salim sudah bulat. Dia akan mencuri isi brankas Tuan Sidik. Tuan Sidik sangat mudah ditebak karena jadwalnya selalu sama setiap hari. Dia akan membongkar pintu Tuan Sidik saat orangnya sedang lari pagi. Itu rencana yang cukup brilian.

Namun, satu hal yang dia tidak ketahui, bahwa pagi itu Tuan Sidik merasakan sakit tak tertahankan di dadanya, hingga dia absen lari pagi. Barangkali karena seharian kemarin semua rutinitasnya berubah, dan dia merasakan seluruh tubuhnya sakit.

Tuan Sidik berbaring di kegelapan kamarnya, merasakan nyeri berdenyut-denyut di dadanya saat dia mendengar kerosak di depan pintu. Dia tidak melakukan apa pun karena dia benar-benar tidak beminat melakukan apa pun. Bisa dibilang, dia kehilangan semangat hidup.

Kemudian, dia mendengar pintu depan terbuka.

Jantung Tuan Sidik berdentum-dentum. Ada seseorang di rumahnya, dan dia sedang menurunkan lukisan abstrak dari dinding. Kemudian, Tuan Sidik mendengar suara kesiap tertahan, seperti semburan kegembiraan yang diredam.

Orang itu menemukan brankasnya.

Namun, dia tidak akan bisa membukanya, karena hanya Tuan Sidik yang mengetahui kodenya.

Orang itu meninju pintu brankas, kesal.

Tuan Sidik mendengar suara kursi diseret dari meja, dan seseorang dengan tubuh ringan duduk di atasnya. Orang itu mengembuskan napas panjang lalu berjalan mondar-mandir, panik. Dia berjalan menuju kamar Tuan Sidik….

Tuan Sidik menahan napas.

Orang itu mengarahkan senter ke ruangan mencari stop kontak dan menyalakan lampu. Dia terkejut saat melihat Tuan Sidik berbaring di ranjang besinya. Dia berusaha menenangkan diri, tetapi malah semakin panik dan mengarahkan golok ke leher Tuan Sidik.

“Berapa kodenya?” desis orang itu, yang akhirnya dikenali Tuan Sidik sebagai Salim, anak si tukang sampah yang mati seminggu lalu.

“Tidak apa-apa di dalam sana,” ujar Tuan Sidik.

Ketenangan Tuan Sidik membuat Salim semakin panik.

“Berikan kodenya, atau aku akan menggorok lehermu!” Salim mengancam.

“Silakan saja, jika memang ini waktunya aku mati, aku harus mati sekarang.”

Golok tajam Salim mulai menyayat leher Tuan Sidik. Salim semakin panik melihat darah merembes dari luka tipis di leher Tuan Sidik. “Berikan kepadaku!” Dia mulai membentak.

“Baiklah, jika kau memaksa.”

“Delapan….”

Tuan Sidik malah tersenyum menggoda. Dia sungguh-sungguh tidak ingin hidup lagi, rupanya. Tampak begitu tenang di bawah todongan golok.

Salim menunggu Tuan Sidik menyebutkan semua kodenya, menghafalnya, dan pada angka terakhir, karena terlalu bersemangat, entah bagaimana Salim malah menebaskan goloknya ke leher Tuan Sidik, membuat darah membuncah menggelegak menyembur ke seluruh ruangan, ke wajah Salim, ke tangannya, panas di matanya, bau logam di mulutnya. Salim terduduk mundur, wajah Tuan Sidik masih tenang, tetapi dia mendengar suara grok-grok darah mengalir dari leher seperti sapi yang dipenggal. Tubuh Tuan Sidik terguncang-guncang, mengeluarkan darah yang tidak lagi menyembur, kemudian tidak bergerak lagi.

Salim menangis tersedu-sedu di sudut ruangan. Tidak mengerti apa yang baru saja dilakukannya.

Setelah sekitar lima menit, dia mulai tenang dan berdiri, berjalan ke brankas Tuan Sidik dan menekan kode yang tadi diberikannya.

Pintu brankas langsung terbuka.

Namun, tak ada tumpukan uang di sana. Tidak ada batangan-batangan emas.

Hanya ada sebuah bingkai foto tua. Seorang perempuan cantik mengenakan pakaian yang populer di tahun delapan puluhan, tersenyum melelehkan hati.

Salim menangis lagi.

Dia tidak tahu harus melakukan apa. Fajar sudah datang. Orang-orang pasti tahu pintu rumah Tuan Sidik rusak, dan jika dia tidak segera lari, dia akan tertangkap dan dipenjara sampai mati.

Dia tidak mau dipenjara sampai mati.

Lebih baik dia mati sekarang.

Ya, pikir Salim, lebih baik aku mati sekarang.

Dengan linggis yang dipakainya mendobrak pintu, Salim menusuk jantungnya, menekannya hingga tembus ke punggung.

Dia menderita, kesakitan selama beberapa saat sebelum meregang nyawa. Sempat berteriak karena tidak tahan dengan sakitnya, mengundang tetangga-tetangga untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Pagi itu, rumah Tuan Sidik penuh orang-orang. Para polisi. Wartawan. Tetangga yang menggeleng-gelengkan kepala.

Jika pikiran Salim cukup jernih, dia akan melihat kalau di bawah bingkai foto istri Tuan Sidik, ada lubang yang membuka ke kompartemen di bawah brankas.

Di sana, ada bergepok-gepok uang ratusan juta, dan dua kilogram emas batangan.

Barangkali, jika dia melihatnya, dia bisa berhasil melarikan diri di kota lain, dan hidup bahagia sampai beberapa tahun ke depan.

 

30 Juni 2016

 

 

Malam Tahun Baru dan Tujuh Pertanyaan

Pada malam tahun baru yang tidak ada kerjaan, saya goler-goleran di kasur sambil memikirkan apa yang sebaiknya saya lakukan. Kemudian, tercetuslah gagasan ini: bagaimana kalau mewawancarai para penulis #BlueValley, saja? Nanti, hasil wawancara itu akan ditulis di blog ini sambil pura-puranya semua penulis itu berkumpul di rumah Amaya sambil minum teh.

Eh tapi, jangan di rumah Amaya. Soalnya rumah itu ruang privat. Nah, bagaimana kalau para penulis ini berkumpul di Uno saja, kafe milik Dinda. Itu jenis tempat yang dewasa ini sering dikunjungi para penulis untuk menulis atau sekadar ketemuan.

Lalu, siapa yang wawancara mereka? Teman-temannya Miya cocok mungkin, ya? Bagaimana kalau Nana?

Lalu, dua puluh hari kemudian, saya tidak berhasil menemukan jawaban akan seting wawancara tersebut. Akhirnya, saya menuliskannya dengan cara seperti ini.

Saya bertanya kepada Bara, Erlin, Tia, Dyah, dan Robin mengenai sejumlah hal. Soal kehilangan, menulis, dan editor, dan ini jawaban mereka. Postingan ini akan cukup panjang 😀

Saat pertama mendapatkan tawaran menulis ini, apa yang kamu bayangkan soal kehilangan. Bagaimana interpretasi kalian tentang kehilangan?

Tia:

Kehilangan adalah sesuatu yang natural (seperti yang Saddam bilang ke Ian). Sesuatu yang pasti terjadi. Sesuatu yang enggak bisa dihindari. Sekali merasa memiliki, kehilangan pasti bakal mengikuti. Pandangan seperti itu bikin aku sulit memberi nilai lebih pada sebuah kehilangan dibanding dengan event-event lainnya dalam hidup.

Terlebih, sekitar setahun sebelum tawaran ini datang, ayahku meninggal dunia. Di momen itu, justru aku merasa lega. Setelah dua tahun menderita stroke (meski kondisi beliau bisa dibilang baik) dan tidak bisa berpikir dengan lurus lagi, aku lega beliau bisa lepas dari penderitaan tersebut. Apa aku menangis di pemakaman beliau? Tidak.

Jadi, ketika dapat tawaran yang langsung kupikirkan: kehilangan seperti apa yang ingin aku tulis. Karena kematian adalah kehilangan yang mutlak, kamu enggak bisa membuat yang mati hidup lagi. Kehilangan harta, bisa dicari lagi. Kehilangan kekasih, tinggal balas dendam atau cari yang lain. Akhirnya, aku pilih kehilangan yang punya dampak besar bukan hanya ke yang si hilang, tapi juga orang-orang yang ditinggalkan. Itu merupakan kehilangan yang lukanya begitu nyata dan menganga.

Buatku, kehilangan yang terjadi pada Prisma adalah luka yang enggak akan sembuh selamanya. Plus, luka itu akan tampak. Akan selalu diulang-ulang oleh orang lain kepada Prisma, Ian, Niko, dan mungkin Rory. Kalau suatu hari masalah itu selesai dan yang hilang dapat ditemukan, hubungan mereka pun mungkin enggak akan sama lagi. Ada rasa dikhianati. Ada rasa tidak percaya. Ada rasa benci karena tidak diabaikan, karena yang ditinggalkan berhenti mencari. Membayangkan aja bikin aku merinding.

Robin:

To be honest, langsung terpikir tentang pasangan yang meninggal. Saya adalah tipe penulis gampang galau. Memikirkan kehilangan membuat saya menjadi emosional. Mungkin karena pengalaman hidup saya pernah ditinggal oleh dua orang yang paling saya cintai. Kalau intepretasi saya sendiri lebih kepada a moment after. Bagaimana mengelola rasa sakit pasca kehilangan tersebut.

Bara:

Mungkin ini agak klise, tapi aku membayangkan hidup setiap manusia seperti satu gambar puzzle yang utuh. Setiap hal yang pernah ia alami menjadi kepingan yang membentuk keseluruhan dirinya. Di antara hal-hal itu adalah orang-orang yang berarti baginya: ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, tante, sepupu, pacar, dan lain-lain. Jika di suatu titik dalam hidup seseorang, salah satu dari orang-orang yang berarti itu pergi atau menghilang karena suatu sebab, rasanya seperti satu kepingan puzzle menghilang. Gambar hidup yang tadinya utuh menjadi tidak utuh. Berlubang. Tidak genap. Hidup yang tadinya seimbang menjadi timpang, dan manusia selalu melakukan pencarian untuk mengisi lubang dalam hidupnya.

Dyah:

Aku mencari cerita kehilangan yang paling dekat dan paling aku pahami. Dan di antara semua tema (kehilangan orang tua, anak, pasangan), aku merasa mungkiiiin paling bisa memahami kehilangan pasangan. Waktu itu, aku membuat konsep yang kehilangan pasangan justru cowok (Elang) sementara yang kehilangan orang tua adalah si cewek (Ayuni, walau dulu belum aku kasih nama Ayuni). Aku sempat membaca sedikit buku tentang grieving, jadi aku membuat si karakter cewek karena kehilangan ayahnya jadi nggak ingin meneruskan karirnya sebagai pattisiere. Dan aku membuat karakter Elang yang begitu romantis dengan istrinya malah menemukan istrinya menyimpan rahasia dengan cowok lain. Tapi akhirnya ide ini dicoret gara-gara terlalu standar dan aku nggak bisa mengembangkan ide ini menjadi lebih dalam lagi.

Erlin:

Saat mendapatkan tawaran menulis untuk serial ini, aku langsung ingat uakku yang meninggal beberapa bulan lalu (April 2016). Almarhum adalah sosok yang sangat dekat dengan keluarga dan saudara-saudaranya. Kepergiannya adalah salah satu kehilangan terbesar bagi kami. Untuk beberapa saat, kami berkabung. Tapi tak lama berselang, aku menyaksikan perubahan dari istri dan anak-anaknya. In a good way.

Dari sana aku menangkap bahwa kehilangan adalah salah satu momen menyakitkan yang dapat mengubah pribadi seseorang—entah untuk menjadi lebih baik atau buruk. Itu kembali lagi ke tiap-tiap orang dalam menyikapi kehilangan dalam hidupnya.

Apa kesulitan terbesar yang kamu alami saat menulis novel ini?

Robin:

Pertama adalah kesulitan menulis dari 2 sudut pandang (lelaki dan perempuan). Ini adalah kali pertama saya menulis novel dengan sudut pandang dari 2 gender yang berbeda. Berpikir dari sisi lelaki dan perempuan sama sekali tidak mudah. Kedua,  soal manajemen waktu dan persisten. Membagi waktu dan fokus untuk menulis sampai bisa menyelesaikannya hingga tuntas adalah tantangan luar biasa buat saya.

Erlin:

Kesulitan saat menulis Lara Miya cukup banyak. Ini kali pertama aku mengonsep cerita dengan unsur drama yang lebih dominan ketimbang romance-nya. Aku juga harus bisa membangun suasana sendu yang enggak kelewat cengeng. Terus ada Amaya yang memberikan pengalaman perdana bagiku untuk menuturkan kisah dari sudut pandang wanita yang usianya nyaris menyentuh kepala lima. Bikin stres, tapi memberiku banyak pelajaran dan pengalaman.

Dyah:

Waktu. Kurasa karena temanya sangat nggak familier bagiku (domestic drama), aku membutuhkan waktu lebih lama untuk riset soal beragam hal: mulai dari grieving itu sendiri, sindrom Asperger yang dimiliki Revaldi, masalah cicilan rumah sampai kue tradisional. Karena waktunya lumayan terbatas, jadi semoga aku nggak membuat kesalahan fatal dalam menulis ^_^

Tia:

Memasukkan diri ke situasi kehilangan. Kehilangan anak, seperti apa rasanya? Menghilangkan anak orang, seperti apa rasanya? Kehilangan harapan atas masa depan, seperti apa rasanya?

Bara:

Tenggat waktu. Aku mengerjakan naskah Elegi Rinaldo tepat selama 30 hari. Meskipun bukan hal baru bagiku (naskah Cinta dengan Titik aku tulis dalam tiga minggu) tetap saja tenggat waktu yang sangat singkat jadi sebuah kesulitan. Terlebih karena pada periode tersebut aku sedang melakukan hal lain. Jadi aku harus mengumpulkan fokus untuk berkonsentrasi mengerjakan Elegi Rinaldo. Hal-hal lain seperti ide, plot, dan penulisan secara umum tidak ada kesulitan yang sangat berarti.

Dengan kesulitan-kesulitan yang kamu alami saat menulis, apakah pernah terpikir untuk menyerah?

Bara:

Kalau perasaan ingin menyerah, sih, enggak ada. Yang ada malah perasaan menyerah sebelum memulai. Ha, ha, ha. Jia Effendie (Associate Editor Falcon Publishing, mentor proyek novel Blue Valley) mengajak aku menulis sejak pertengahan tahun 2016, tapi aku masih terus menimbang-nimbang dan baru memberi keputusan jelang Oktober. Pada periode menimbang-nimbang itu aku sempat ingin menolak ajakan Jia. Namun, akhirnya aku putuskan untuk mulai menulis. Aku menganggapnya sebagai tantangan. Tantangan untuk fokus mengerjakan satu naskah novel dalam waktu singkat, dan aku penasaran ingin melihat hasilnya.

Tia:

Menyerah sih enggak. Tapi masuk lagi ke situasi kehilangan (meski sadar betul kalau ngedit harusnya dalam kondisi sadar dan tidak terbuai cerita), itu berasa berat. Jadi, sempat agak lama menunda-nunda. Cari-cari alasan.

Alasan meneruskan, aku enggak suka mengerjakan sesuatu dan meninggalkannya begitu aja. Apalagi kalau menyangkut nasib orang lain (hahaha).

Aku tulis di ucapan terima kasih, salah satu momen yang bikin aku bergerak meneruskan. Inspirasinya dari komik yang kubaca, berjudul Kingdom. Berkisah mengenai seorang remaja yang ingin jadi jenderal pada masa Warring States Period di Tiongkok Kuno. Di salah satu bagian, ada momen ketika si karakter utama malah disuruh pergi sewaktu hendak menolong seorang jenderal besar. Keputusan hidup dan mati.

Dan kemudian aku sadar, si jenderal besar memilih keputusan itu bukan untuk si karakter utama sendiri, tapi demi masa depan negeri. Kematian dia memberi posisi kosong yang akan diisi orang lain, dan akhirnya nanti suatu hari si remaja itu. Aku seperti itu diteriaki, disuruh maju. Selain itu, momen tersebut juga mengajari aku bahwa kematian (atau kehilangan) memberi jalan tumbuh dan kehidupan untuk orang lain.

Jadi, balik lagi ke pandanganku tadi: kehilangan adalah siklus.

Dyah:

Tentu saja ada saat ingin menyerah, terutama setelah diberi tahu editor bahwa naskah harus direvisi sekitar 50%nya. Rasanya ingin banget membuang naskahnya terus terbang ke Hawaii buat having fun, hohoho. Namun, kemudian aku sadar bahwa ini pembelajaran baru buat aku. Bukan berarti aku ingin mengalaminya lagi, tetapi aku sadar bahwa nggak ada proses kreatif yang lurus-lurus aja. Setiap proyek penulisan itu unik dan masalahnya juga beda-beda. Dan kalau aku ingin terus bertahan jadi penulis, aku harus siap menghadapi beragam risikonya. Hanya dengan melampaui tantangan, seseorang bisa berkembang. Lagi pula, tanggung juga kalau naskah nggak diperbaiki. Terus naskah mau diapain? Jadi, ya, begitu. Meski sambil bercucuran air mata (lebay sih), aku merevisi naskah.

Robin:

Bukan menyerah, tapi memikirkan, ini biar cepat selesai dan mudah dikerjakan bagaimana, ya? Hahaha. Saya selalu menegaskan ke diri sendiri, apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan. Jadi, sesulit apapun, sepusing apapun, harus saya hadapi. Lagi pula, kalau enggak selesai, saya malah jadi kepikiran terus.

Erlin:

Aku cukup tertekan saat merampungkan draf satu. Jadi keinginan untuk menyerah atau mundur kadang muncul. Nah, yang membuatku akhirnya bertahan sampai garis akhir adalah rasa penasaran yang sangat besar. Aku penasaran bagaimana cerita ini berakhir di tanganku, meski aku tahu nanti revisinya pasti gila-gilaan.

(berikutnya: momen emosional para penulis saat menulis novel blue valley mereka dan bagaimana editor ideal menurut mereka)

 

Book of The Year!

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Alvin ini, lalu terinspirasi untuk menulis juga. 2016 adalah tahun yang lumayan berat buat keluarga saya. Pertengahan tahun, kami pernah sampai harus menjual buku-buku demi bisa makan *nangis sambil makan nasi pakai garam*. Maka, enggak ada anggaran buat beli buku. Untungnya (yeah, selalu ada untung di antara cobaan), saya masih bisa membaca buku dan beberapa buku itulah yang menghidupi kami hingga bertahan melewati 2016 dengan selamat.

Sepanjang tahun ini, bisa dibilang, saya hanya mendapatkan pekerjaan mengedit dan menerjemahkan dari satu penerbit saja. Entah kenapa, lamaran ke penerbit lain dicuekin melulu (yak malah curcol). Kehidupan membaik saat saya mendapatkan order menerjemahkan buku tebal dan berkenalan dengan penerbit baru yang menerbitkan Blue Valley Project. Jadi ya, walaupun terseok-seok, tahun kedua menjadi freelancer sudah lebih baik daripada sebelumnya.

Buku-buku di bawah tidak saya urutkan berdasarkan rating atau yang paling saya sukai, ya, dan dari 43 judul buku yang saya baca selama 2016, ini adalah 8 buku terbaik:

  1. Caraval – Stephanie Garber

Buku ini baru akan terbit secara resmi Januari 2017, tetapi silakan tengok Goodreads dan sudah ada berapa review di sana. Ya, ini salah satu buku belum terbit yang udah populer banget di kalangan pembaca. Di websitenya disebutkan kalau hak terjemah Caraval sudah dibeli oleh 25 negara dan hak adaptasi filmnya juga sudah dibeli. Wow!

caraval

Membaca fakta-fakta itu, saya juga jadi semakin tercengang ketika membaca novelnya. Iya, buku young adults ini emang sekeren itu. Ini buku kelima Garber, tetapi buku pertamanya yang berhasil mendapatkan kontrak penerbitan. So guys, jangan takut akan penolakan. Nulis aja terus. Nulis yang bagus.

Mengambil seting antah berantah di zaman Victoria, Caraval bercerita tentang sebuah wahana permainan layaknya Dufan, tetapi kamu sebagai peserta, ikut dalam sandiwara yang dimainkan oleh permainan Caraval itu. Scarlett, tokoh utamanya, sudah 7 tahun menulis surat kepada Legend, Master Caraval, agar dia dan para pemainnya datang ke pulau tempatnya tinggal. Suratnya terus dicuekin hingga waktunya Scarlett dijodohkan oleh sang ayah yang ringan tangan. Scarlett menganggap kalau perjodohan itu adalah upaya melarikan diri dari sang ayah yang kejam, tetapi Donatella, adiknya, berpendapat lain. Bagaimana kalau lelaki yang dijodohkan kepadanya itu sama jahatnya dengan ayah mereka?

Seminggu sebelum pernikahan, Scarlett menerima surat dari Legend beserta 2 tiket untuk 4 orang untuk mengikuti Caraval. Scarlett ragu. Dia ingin pergi, tetapi dia juga ingin menikah. Donatella gemas sendiri. Untungnya, ada Julian, pelaut yang lagi berkunjung ke Pulau Trisda, yang tahu letak digelarnya permainan Caraval.

Scarlett tidak tahu kalau permainan Caraval ruwet banget, dan Donatella hilang, dijadikan bahan permainan Caraval. Dia harus menemukan adiknya dan kembali ke Trisda tepat waktu untuk pernikahan. Namun, rencana tidak selalu semulus itu.

Dari halaman pertama, kamu akan disuguhi twist demi twist, terus melongo ketika tahu fakta-fakta terbaru. Sampai buku ditutup, masih geregetan, dan kamu akan berteriak pengin segera baca buku keduanya!

2. Dark Matter – Blake Crouch

dark-matter

Waktu saya dapat buku ini, pertanyaan pertama adalah: penulisnya siapa, sih? Namanya enggak banget. Sama seperti Caraval, saya dapat buku ini sebelum bukunya terbit secara resmi, dan di Goodreads udah banyak banget reviewnya, termasuk orang-orang yang ngasih rating bintang lima.

Bab pertama masih enggak memberi petunjuk apa pun. Namun, semakin kamu baca, kamu akan dibawa ke sebuah rollercoaster emosi dan kepala kamu akan dibuat pening karena berpikir. Saya enggak akan cerita gimana plotnya, karena bakalan spoiler, tetapi intinya: novel ini perpaduan science fiction, thriller, dan romance.

Saya bacanya pelan-pelan banget, karena tiap nemu sesuatu yang mengejutkan, saya harus istirahat dulu sambil memikirkan soal hidup. Halah. Dan pertanyaan paling besar ketika membaca novel ini adalah: Bagaimana kalau kita enggak sendirian. Kalau semesta yang kita ketahui ini terdiri atas berbagai probabilitas semesta lain yang mungkin. Bagaimana kalau di semesta lain saya sudah jadi novelis pemenang nobel? *yeah, ngayal boleh aja sih, Mbak*

Pokoknya, kalau udah nemu bukunya, beli langsung!

3. Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi – Yusi Aveanto Pareanom

raden-mandasia

Saya minjem buku ini dari partner reaterary. Iya PINJEM. Tapi tenang, saya akan segera beli, kok.

Ini adalah satu-satunya buku Indonesia tahun ini yang saya kasih bintang lima di Goodreads. Saya bacanya agak telat beberapa bulan dari bulan kelahirannya, dan untungnya ga baca review apa pun di GR, jadi bebas dari ekspektasi. Dan ini, adalah jenis novel fantasi yang ingin saya tulis, juga jenis novel fantasi Indonesia yang seharusnya ada dan diterjemahkan ke berbagai negara.

4. A Monster Calls – Patrick Ness

a_monster_calls

Patrick Ness menulis novel ini dari ide yang dimiliki Siobhan Dowd, seorang penulis yang meninggal karena kanker. Ini adalah salah satu novel yang melatarbelakangi dibuatnya serial Blue Valley. Monster yang mendatangi Conor setiap malam adalah ketakutan Conor akan penyakit kanker ibunya. Walaupun saya tahu benar akan seperti apa endingnya, tapi tak urung saya menangis sesenggukan semalaman waktu selesai baca. Pedih banget.

5. My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry – Fredrik Backman

20161202_090459

Waktu ngedit A Man Called Ove tahun lalu, saya bilang ke editornya kalau buku ini pasti seru juga, dan ternyata mereka sedang mereview novelnya. Pas dapat copyright, eh saya dong yang diminta menerjemahkan. Yay!

Ini kisah tentang Elsa, anak cewek 7 tahun yang agak pedantik dan sok tahu. Iyalah, anak dari seorang dokter pemimpin sebuah rumah sakit dan bapak seorang pedantik, tentu saja dia bakalan agak aneh. Apalagi, dia punya nenek yang nyentrik. Serius lah nyentriknya, si nenek yang lagi dirawat di rumah sakit tiba-tiba ngajak Elsa ke kebun binatang malem-malem, meloncati pagar, terus melempari satpam dan polisi pakai kotoran monyet waktu mereka ketahuan. Demi apa? Biar Elsa enggak ingat kalau siang harinya dia dibully teman-temannya di sekolah. Biar Elsa mengenang kalau hari itu, dia dan nenek pergi ke kebun binatang.

Ini juga novel yang jadi ide awal dibikinnya proyek Blue Valley. Entah kenapa, tahun 2015 dan awal 2016 saya banyak banget baca buku tentang anak-anak yang ditinggal meninggal orang yang disayanginya.

Judulnya panjang banget, ya? Itu karena misi Elsa di buku ini adalah memberi pesan kepada orang-orang kalau nenek minta maaf sama mereka. Fredrik Backman ini juara banget lah bikin karakter nyentrik. Setelah Ove, di buku ini dia bikin berbagai karakter kuat yang emang manusia banget. Di sini, kamu bakal kesal banget sama tetangga yang namanya Britt-Marie, tetapi di akhir cerita, kamu tahu kenapa orangnya kayak gitu. Dan oh, Backman juga membuat buku khusus soal Britt-Marie ini.

PS: waktu nerjemahin buku ini, ada bagian yang bikin saya nangis di Starbucks. *iya, saya suka ngantor di starbak dipati ukur*

6. The Girl on The Train – Paula Hawkin

Filmnya lagi tayang di CGV Blitz sekarang!

the-girl-on-the-train-165x250

Ini adalah novel domestic-noir yang bikin saya belajar soal unreliable narrator. Serius, dari awal, kamu bakal meragukan sama apa pun omongan Rachel. Jangankan kita pembacanya, tokoh-tokoh lain juga ragu sama dia. Susah buat simpati sama si tokoh utamanya. Ga mungkin omongannya benar, soalnya dia mabuk melulu. Apa yang dia pikirkan juga bikin kita bertanya-tanya: ini racauan saat mabuk atau benaran terjadi?

7. Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

2015-12-30 17.38.41

Kamu tinggal baca aja review saya ini: https://jiaeffendie.wordpress.com/2016/01/01/tanah-yang-menumbuhkan-kebahagiaan/

8. Room – Emma Donoghue

room

Saya pernah dapat reading copy-nya waktu kerja di Atria tahun 2011. Saya baru baca halaman awal-awal, terus mental melulu. Padahal, saat itu buku ini ngetop banget. Dan akhirnya saya (Penerbit Atria) enggak beli hak terjemahannya–karena ngereviewnya aja gagal. Hahaha. Saat itu, saya mengira kalau ini novel yang dituturkan oleh anak autis. Tidaklah saya mengira kalau ini cerita tentang penyekapan :((

Pas filmnya keluar, saya mulai baca bukunya–bukan dari file word reading copy yang dulu, tentunya, karena filenya entah ada di mana. Saya baca diseling sama nonton filmnya, dan memutuskan kalau saya jauuh lebih suka bukunya. Eh, cuma seminggu setelah baca ini–dan stres karena membayangkan gimana rasanya terkurung bertahun-tahun sama anak yang cuma tahu sepetak ruangan kecil itu seumur hidupnya–saya dihubungi editor untuk mengedit terjemahannya.

8+ Blue Valley Series

blue-valley

Novel-novel ini saya masukkan ke dalam plus karena pengalaman mengonsep, menunggu naskah masuk, membaca, mengedit dan segalanya, sih. Ini adalah proyek serial paling seru yang pernah saya garap. Dan semoga tahun depan bakalan ada proyek serial yang lebih seru lagi.

Dan, itulah Book of the Year versi saya. Share di komentar dong, buku terbaik apa saja yang kamu baca tahun ini!

Salam,

Jia

Pemenang #tantangannulis #BlueValley

Hai teman-teman,

Terima kasih telah berpartisipasi dalam #tantangannulis #BlueValley. Di luar dugaan, ternyata yang ikutan banyak sekali, ya. Saya mengira paling cuma 20-an orang, eh ternyata sampai 65 blog yang ikutan! #syenang

Di balik kesenangan itu, muncullah kebingungan, karena tulisan yang bagus kok banyak. Terus saya jadi mumet menentukan pemenang. Ada yang sesuai banget sama tema, tapi nulisnya biasa aja. Ada yang ceritanya baguuus banget, tapinya kurang sesuai sama yang saya inginkan. Terus bingung. Berasa pengin menangin semuanya!

Jadi, saya minta bantuan Falcon Publishing buat nambah pemenangnya. 1 paket novel #BlueValley yang dijadikan hadiah itu adalah jatah saya sebagai editor. Namun, membaca banyak tulisan bagus, saya minta Falcon buat nambah 5 novel lagi buat 5 pemenang. Jadi, totalnya 6 orang. Yay!

Dan pemenangnya adalah….

Mailaulia: https://mailaulia.wordpress.com/2016/12/01/a-lot-can-happen-in-a-year-cerita-tentang-patah-hati-dan-hal-lain-di-tahun-2016/

Selamat, kamu dapat 1 paket novel Blue Valley!

Saya milih tulisan ini karena paling sesuai dengan tema. Maila menuliskan apa yang hilang darinya, apa yang terjadi dalam hidupnya setelah kehilangan itu, dan yang paling penting, apa yang dia lakukan untuk menghilangkan duka akibat kehilangan itu. Kebanyakan tulisan yang masuk hanya bercerita tentang kehilangannya semata, tetapi tidak mengungkapkan apa yang terjadi sama si tokoh karena kehilangan itu. Duka macam apa yang dirasakannya. Perubahan macam apa yang terjadi dalam hidupnya. Apa yang dia lakukan untuk bangkit dari keterpurukan. Lalu, apakah dia berhasil bangkit. Maila menulisnya dengan lengkap. Persis seperti yang saya inginkan ada dalam novel-novel Blue Valley: tokoh-tokohnya dikasih cobaan, jatuh terpuruk, lalu bangkit.

Nah, karena banyak tulisan lain yang bagus dan menginspirasi, saya menambah 5 pemenang lain yang masing-masing akan mendapatkan 1 buku Blue Valley random (enggak bisa milih, ya, sedikirimnya), dan mereka adalah:

  1. http://nurannissa.blogspot.co.id/2016/12/sungkawa-naya.html
  2. http://www.storial.co/book/evanescencia/1
  3. http://www.storial.co/book/sorrowful-summer
  4. https://boemisayekti.wordpress.com/2016/12/03/tantangan-nulis-blue-valley/
  5. http://rizkidarmadi58.blogspot.co.id/2016/12/his-story.html

Selamat kepada para pemenang, silakan email alamat lengkapmu (alamat Indonesia, ya) ke: jiaeffendie@gmail.com

Sampai jumpa dalam #tantangannulis berikutnya!

Salam hangat,

Jia